Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Pecah Telor!


__ADS_3

Kudengar derap langkah Sean keluar dari kamar mandi, aku merinding melihat tubuh kekarnya yang begitu tegap dan berotot, mengirimkan sinyal-sinyal menggoda dan menggelitik. Aku teringat pada rasa bibirnya yang manis saat kami berciuman, Sean punya dekapan yang hangat, tapi juga punya tekanan bibir yang menghanyutkan. Sean tahu kapan harus memberiku napas, dan kapan membawaku lagi ke tepi kenikmatan.


Demi Tuhan, aku selalu mendambakan bibirnya membelaiku dan membuat tersengal-sengal setelah ciuman kami terlepas. Aku menunduk dengan pipi yang panas, kenapa pikiran kotorku datang menyerang tanpa tahu malu begini. Astaga, aku benar-benar sudah gila!


Sean mendekat keranjang setelah mengenakan setelan piyama merah maroon-nya, serasi dengan yang kugunakan sekarang. Dia mengikuti posisiku yang bersandar pada kepala ranjang, menarikku ke dalam pelukannya, mengurungku dengan posesif.


"Sudah berapa lama kau mengalami itu?" Sean bertanya tentang gejala panik yang menyerangku tadi siang, aku yakin dia sangat terkejut melihatku seperti itu, aku saja tidak pernah mengharapkan Sean akan melihatku dalam keadaan setengah gila begitu. Pasti memalukan.


Aku membenamkan wajahku di dadanya, berusaha mencari kekuatan dengan menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam. "Setahun lebih." jawabku sambil memejamkan mata, masih menikmati nuansa citrus yang menguar, memanjakan penciumanku. Aku benar-benar mulai kecanduan dengan aroma tubuhnya.


Kurasakan Sean mempererat pelukannya, napasnya terdengar berat, entah apa yang membebaninya sekarang, "Apakah sangat menyakitkan?" Sean bertanya dengan hati-hati, mungkin tidak ingin membuatku tak nyaman dengan pertanyaannya.


Aku mendongak sebentar untuk melihat wajahnya, lalu menggeleng, "Tidak sakit, hanya saja aku merasa gelisah, tidak nyaman, dan takut. Rasanya lebih menyiksa dibanding seseorang memukul kepalaku."


"Separah apa sampai kau merasa begitu?"


"Aku merasakan sesak, napasku seakan terputus, terkadang aku merasa tercekik, kemudian gelisah, dan takut mati. Yang paling menyiksa adalah kesulitanku menghadapinya. Aku belum lulus dalam terapiku untuk yang terparah. Aku bisa dengan mudah menenangkan diri saat panic attack-ku tidak terlalu parah, tapi masih kesulitan jika yang datang seperti tadi."


"Berarti kau sering merasakannya selama setahun ini?" Aku mengangguk.

__ADS_1


"Apakah setelah kita menikah kau mengalaminya selain hari ini?" Aku mengangguk lagi. Sean meremas pangkal lenganku, sampai aku merasa sedikit sakit akibat cengkramannya.


"Kenapa kau menyembunyikannya dariku?"


"Aku tidak mau kau melihatku seperti itu. Kau sudah melihatnya sendiri, aku seperti orang kerasukan. Aku sadar, benar-benar sadar, tapi aku kesulitan mengontrol diriku, otakku tidak bisa bekerja dengan baik. Kepanikan membuatku terlihat seperti orang gila."


Sean menunduk, menyingkirkan anak rambut dari wajahku dan mengangkat daguku dengan jari telunjuknya. Sekelebat perasaan sedihku muncul karena aku belum mencintai pria tampan yang menemaniku ini. Sikapnya yang penuh perhatian membuatku merasa lebih digilai lagi. Sean mencium bibirku singkat, "Jangan merasakannya sendiri lagi, katakan padaku jika panic attack itu menyerangmu. Berbagilah denganku, aku akan dengan senang hati menemanimu."


Tangan Sean menangkup wajahku dan kedua ibu jarinya mengusap bibirku. Pelan-pelan aku memejamkan mata, deru napas Sean menerjangku sampai aku merasa sebentar lagi akan basah. Aku masih berusaha menahan diri, sampai Sean melirih, "Aku akan membantumu melupakannya."


Tubuhku menegang, aku membuka mulut, dan tanganku gemetar karena daya tarik sensual dan panas dari tubuh Sean saat dia menyentuhku. Tarikan napasku mulai berat dan tersengal, aku merinding merasakan sentuhannya pada tubuhku. Sean merapatkan tubuhnya padaku, dia mendongakkan wajahku dan memiringkannya untuk menerima sapuan bibirnya. Ketika mulut kami beradu dengan lembut dan manis, dadaku memberat. Sean semakin liar membujuk agar aku menerima sapuan lidahnya.


"Sean..." Desahku. Takjub, gemetar.


"Katakan padaku apa yang kau inginkan, Franda!"


Aku tak berdaya, aku mendamba, aku ingin lebih. Air mataku mengalir karena rasa nikmat yang kudapat. Sean membenamkan wajahnya dibawah dadaku dan lidahnya membelai perutku dengan lembut. Aku diserbu kenikmatan yang mengguncang jiwaku, tubuhku bergetar dan bagian diantara kedua kakiku sudah basah. Sean menciumku dibawah sana tanpa henti, aku sudah nyaris gila. Desakan untuk mengarahkan wajahnya ke bagian tubuhku yang basah sudah tak tertahankan lagi. Dengan sekali sentak, jari Sean melepaskan penutup tubuhku yang terakhir, aku sudah terbuka sepenuhnya.


Sikap Sean yang mendominasi meluluhlantakkan pertahananku. Sekarang aku ingin menguasai tubuhnya yang keras itu, dan ingin tubuh berototnya menindih dan mendesakku tanpa ampun sampai aku menjerit. Aku benar-benar kalah pada sentuhannya, pada kelembutannya, aku bersumpah akan menyerahkan diriku padanya.

__ADS_1


Kedua tanganku menangkup wajah Sean, rambut wajahnya yang kasar menggelitik telapak tanganku, mengirimkan sensasi menyenangkan dan menggetarkan. Mataku menatap sepasang matanya yang sebiru laut, "Aku ingin kau berjanji padaku sekarang, Sean... Bisakah kau berjanji tidak akan mengkhianatiku? Aku ingin kau berada didekatku sesulit apapun keadaanmu, aku ingin kau menceritakan segala hal padaku terlebih dahulu. Aku ingin selalu menjadi yang pertama bagimu. Bisakah kau berjanji hal itu?"


Sean mendadak menatapku tak percaya, seolah-olah aku masih meragukan ketulusannya, tapi beberapa detik kemudian dia kembali melembut, "Franda, aku menikahimu untuk membuatmu bahagia. Jika suatu saat kita bertengkar, satu hal yang bisa kupastikan, bukan wanita lain yang menjadi penyebabnya. Aku berjanji akan menjaga hatiku untukmu seperti selama ini. Aku berjanji."


Aku menarik tengkuk Sean, mencium bibirnya, tersentuh karena ucapannya yang sangat berarti dan penuh pengertian. Jemariku bergerak menyisiri rambutnya yang halus dan lembut, meremasnya dengan pelan, "Aku milikmu, Sean! Aku ingin menghabiskan malam yang panas dan panjang bersamamu."


Dari sentuhannya Sean mempertegas bahwa aku adalah hadiah yang dikirimkan padanya, "Kau memang hadiah yang dikirimkan untukku, Franda, dan aku sangat suka hadiah yang kudapat. Aku sudah membuka bungkusnya, sekarang biarkan aku menikmatinya agar aku bersyukur dengan hadiahku."


Aku menatap dengan resah, dan penuh gairah, sampai mataku pedih. Sean terlalu tampan, terlalu lembut, terlalu hangat, menjadi sosok indah kuinginkan. Mulutnya yang beberapa saat lalu sempat menyapa kewanitaanku dibalik segitiga berendaku, membuatku gila. Tubuhku sudah terlalu berdenyut, sudah terlalu sakit, ingin segera bersentuhan dengan mulutnya, dengan sekujur tubuhnya. Ah, Demi Tuhan...


"Franda..." dedis Sean, menindihku dengan gerakan mendadak dan kasar membuat tubuh tersentak, bibirnya menciumi leherku dengan manis dan lembut, kemudian berubah menjadi liar. Belaian bibir dan lidahnya meninggalkan jejak panas di kulitku, ditambah dengan sensasi dari rambut-rambut tipis yang menghiasi wajahnya. Aku merasa seperti disurga, dalam kenikmatan yang mencoba terus membujukku.


"Kulitmu halus, aromamu lembut..." Sean menggeram disela-sela ciumannya, "Franda, kau membuatku ingin menghancurkan tubuhmu yang indah dengan segenap tenaga..."


Aku merinding, tertantang menjawab ucapannya, "Aku milikmu, Sean! Aku menunggu kau meremukkan tulang-tulangku..."


***


Komen, komen, komen!

__ADS_1


Like, like, like!


__ADS_2