Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The Mission


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Setiap tahun, perusahaanku selalu mengadakan perayaan besar-besaran di ballroom Interfellar, salah satu gedung pencakar langit termegah yang ada di pusat kota Jakarta. Pamanku menyukai pesta yang meriah, jadi kami selalu mengundang hampir semua orang yang terkoneksi dengan kami, dan juga setiap perusahaan rekanan untuk datang, ditambah awak media. Angka yang cukup banyak. Meriah... seperti yang kukatakan.


Dan temanya selalu putih. Dekorasi putih, mawar putih, lampu gantung dan perabotannya, semuanya. Ini seperti menghadiri sebuah pesta pernikahan dengan sentuhan futuristik. Sangat aneh.


Biasanya ini bukan acara yang kunantikan atau hal yang akan membuatku gugup hanya dengan memikirkannya. Seperti perasaan adrenalin yang berpacu saat kau akan melakukan sesuatu yang kau sukai atau semacamnya. Tahun-tahun sebelumnya, biasanya pamanku atau Dave-lah yang mengisi podium untuk berpidato, sementara aku hanya hanya menyambut beberapa tamu penting. Rekanan bisnis yang paling berpengaruh, serta pejabat pemerintah daerah. Namun sekarang aku yang harus menggantikan posisi mereka karena keduanya terjebak dalam keadaan yang tidak menguntungkan. Pamanku sakit, sementara Dave dalam pelarian.


Semua peristiwa ini membuatku tidak nyaman. Terutama setelah Rudi memaparkan padaku rencana interpol di pesta malam ini. Sebenarnya yang harus kulakukan cukup mudah. Aku hanya perlu menyinggung sedikit soal Dave pada saat sesi wawancara berlangsung, melihat reaksi yang mungkin timbul atas informasi yang kuberikan.


Jika dia memang orang yang kami cari,


dia pasti akan bertindak. Itulah petunjuknya.


"Kau tentunya tidak datang untuk berkomentar soal tema pesta, bukan?" suara Dean menarik pikiranku kembali.


Dia memberi isyarat kepada orang-orang disekitar kami untuk pergi, kemudian menunggu hingga mereka meninggalkan sudut ruangan sebelum dia sendiri maju untuk mendekatiku.


"Disamping itu, kau tahu betul filosofinya."


Aku mengangkat bahu. "Tentu. Putih, lambang kemakmuran, bagian pertama buku panduan keluarga Warner..."


"Jangan bersikap sinis, kau tahu Ayah tidak bisa hadir malam ini. Dan karena kau ada disini, maka akan menjadi tugasmu untuk berbicara pada mereka nanti. Karena itu tidak seharusnya kau datang sendirian, dimana kakak ipar?"


Sejujurnya aku belum bertemu dengannya sejak kemarin dia kembali ke Jakarta. Dia merajuk karena aku mengabaikannya selama dua minggu terakhir dan dia memilih untuk menginap di rumah kakaknya. Aku membiarkannya, mencoba memberinya waktu seperti yang dia minta. Tapi setelah hari ini, jika dia masih belum mau bicara padaku, aku mungkin harus memikirkan alternatif lain untuk membujuknya.


"Franda harus ke WE Fashion's Style hari ini untuk mengecek beberapa hal tentang Paris Fashion Week minggu depan. Mungkin dia tidak sempat datang." Lihat, sekarang aku mulai mengarang alasan untuknya.


"Apa kau sadar apa artinya itu? Dia lebih memilih untuk mengabaikanmu." Jelas sekali Dean mengakannya untuk mengomporiku. Entah kenapa dia begitu gigih jika menyangkut memperburuk suasana hatiku.


Tapi saat ini aku sedang tidak ingin menanggapinya.

__ADS_1


"Memangnya apa yang akan kukatakan di depan orang-orang itu? Aku tidak terbiasa tampil didepan mereka, kau saja yang melakukannya."


Aku sudah tahu ini akan terjadi. Pamanku telah telah mengatakan padaku sebelumnya, bahwa aku harus menggantikan posisinya untuk berbicara di depan para tamu dan awak media sebelum acara pesta dimulai. Faktanya, ini juga merupakan bagian dari rencana Interpol. Tapi setidaknya aku harus memainkan peranku dengan baik di depan Dean, supaya dia tidak curiga.


"Ayah tidak lagi berpindato sejak dua tahun lalu, ini waktunya regenerasi. Aku sih bisa saja menggantikannya, tapi kemampuanku belum sebaik Dave atau kau. Dan di antara kalian, hanya kau yang berdiri disini, jadi kau yang harus melakukannya, Kak. Kau lebih mahir, aku yakin hal semacam ini tidak sulit bagimu, bukan?"


Aku meliriknya. "Apa itu sarkasme?"


"Tidak, ini pujian. Lebih baik kau bersiap sekarang, acara-nya akan segera dimulai."


***


"... jadi perusahaan kami akan menerapkan sistem keamanan yang lebih mutakhir untuk peluncuran program digital terbaru yang akan dilakukan akhir bulan ini, kami berharap ini bisa menjadi solusi yang lebih baik kedepannya."


"Terimakasih untuk kedatangannya, dan semoga kalian menikmati pestanya."


Aku menutup pidatoku, kemudian memasang senyum terbaikku untuk ribuan pasang mata yang kini tengah melihatku dengan tatapan sinis. Kilatan lampu kamera semakin intens seiring rentetan pertanyaan dari para reporter yang saling bersahutan. Hanya terdengar pertanyaan-pertanyaan membosankan, yang sama sekali tak ada kaitannya dengan rencana kami, salah satunya adalah tentang kasus Mia.


"Paman anda sempat mengisyaratkan akuisisi dengan Kemilau Co., perusahaan startup yang baru berdiri, apa itu benar?"


"Kami... kurasa para pemegang saham masih mendiskusikan hal itu."


Keringat dingin mulai mengalir menuruni pelipisku. Ini tidak berjalan sesuai rencana. Mereka seharusnya menanyakan tentang kasusnya. Aku mengedarkan pandangan ke arah kerumunan besar orang yang ada memenuhi ruangan ballroom. Dan saat itulah aku melihatnya.


Franda. Berdiri di antara orang banyak. Tak mungkin melewatkannya, walau dia berada di tengah kerumunan besar seperti itu sekalipun. Dia tersenyum tipis saat menyadari aku telah melihatnya. Dan hanya seperti itu, semua perasaan yang menggangguku seolah meluap begitu saja. Hatiku diliputi kehangatan hanya dengan melihatnya.


"Bagaimana dengan kasus tuntutan kontrak dari The Great Holdings?" Aku mendengar salah satu reporter koran lokal mengajukan pertanyaan.


Akhirnya, ini dia.


"Baik, semakin menemui titik terang. Malahan direktur keuangan yang sempat menghilang, David Boseman, dia sudah ditemukan. Dan dia memberi banyak bukti yang sangat berguna untuk kasus ini."

__ADS_1


"Bukti seperti apa?"


"Sesuatu yang amat penting, dan aku tidak bisa menyebarluaskan ke media, kalian harus menunggu pers release-nya." Aku memberi isyarat kepada MC untuk menutup sesi wawancara, sebelum beranjak dari podium dan mengambil jalur memutar untuk berjalan meninggalkan panggung. Mengabaikan suara-suara yang masig berdengung di telingaku.


"Kau disini?" Aku menarik Franda menjauhi kerumunan, segera setelah kehebohan dengan para reporter mulai mereda. Ada sebuah taman buatan kecil yang dekat dengan beranda. Kesanalah aku membawanya.


"Kukira kau yang memintaku untuk datang," Dia berkata, sebaris senyum mengembang di bibirnya.


"Benar," Aku membalas senyumnya. "Jadi, kau sudah memaafkanku?"


Dia memberiku tatapan datar tapi membiarkanku menariknya mendekat, secara spontan dia merapatkan dirinya padaku, lalu melingkarkan kedua tangannya di bahuku. Aku suka bagaimana dia bereaksi tiap kami berdekatan seperti ini, seolah kami memang diciptakan untuk satu sama lain.


"Mungkin." gumamnya, lalu menghela napas. "Aku menyadari, caramu mengabaikanku memang merupakan kesalahan besar," Dia berhenti sejenak, memandang di kejauhan.


"Tapi bukan berarti aku akan selamanya marah padamu. Setidaknya, setelah hari ini kau akan tahu harus melakukan apa jika kita berjauhan lagi."


Aku menyapukan telunjukku ke sepanjang garis wajahnya, dan berhenti di dagunya lalu kugerakkan jamariku untuk membuatnya mendongak menatapku. Seperti biasa, dia gemetar dengan mata penuh permohonan. "Maafkan aku, aku hanya tidak ingin kau ikut memikirkan masalah disini, karena kau akan khawatir jika aku menceritakan semuanya padamu."


"Sebesar apa masalahnya?" Dia berbisik, kedua mata cokelat-nya bergantian mengamati ekspresiku.


Aku tidak menjawabnya. Sebaliknya menyusuri wajahnya dengan pandanganku. Meresapi luapan perasaan cinta yang mengalir deras dalam diriku saat ini. Dan menyadari, dia mungkin tak akan pernah mengerti, betapa pentingnya dia bagiku.


"Berbagilah denganku, Sean." katanya lagi, nada suaranya terdengar menuntut tak sabaran. "Bukankah memang seharusnya begitu sebagai pasangan? Saling berbagi? Kau tidak akan tahu bagaimana aku melewati dua minggu ini tanpa memikirkanmu. Kau sangat egois, apa kau tahu itu?"


"Aku masih bisa menyelesaikannya sendiri, Franda." kataku, nyaris menggeram. "Aku hanya tidak ingin membuatmu khawatir. Kenapa kau tidak bisa melihatnya?"


Kedua mata cokelat-nya tampak terguncang mendengar perkataanku. Aku menyambutnya saat dia mulai membenamkan wajahnya di dadaku. Merapatkan pelukanku saat kurasakan tubuhnya gemetar, dan dia menangis.


"Berjanjilah... kau tidak akan melakukannya lagi." gumamnya terputus-putus di sela-sela isak tangis.


Aku menunduk dan mengucap puncak kepalanya. "Aku berjanji."

__ADS_1


__ADS_2