
Di kamarku aku sedang menarik hak tinggiku dari ujung tumit yang memerah. Dengan rasa lelah bercampur tenang aku ikut serta menanggalkan gaunku berserta perhiasan yang kugunakan lalu meletakkan kedua benda itu pada dua lemari yang berbeda di walk in closet. Dengan menarik napas lega, aku bersyukur bisa melalui hari ini dengan baik. Menyelesaikan semua urusan butik dan menyerahkan semua tanggungjawab pada Denise sementara aku fokus menjaga kehamilanku. Sean memintaku untuk istirahat sampai bayi di kandunganku lahir enam bulan lagi.
Kakiku yang kurus melenggang menuju ranjang dan aku sedikit terhuyung sewaktu menurunkan bokongku pada tepian ranjang. Telapak tanganku bertumpu di atasnya sementara aku menghirup aroma lavender yang menyeruak di kamarku.
Untuk sejenak aku bersinggasana di atas ranjang sementara masih berpakaian dalam, selanjutnya bangkit kembali untuk berderap menuju meja rias yang terbuat dari kayu walnut.
Aku meraih sehelai tisu basah lalu menyapukannya pada bagian sekitar mata sehingga mataku kembali ceria tanpa goresan hitam yang menantang. Pada saat dimana aku ingin melakukan sapuan pada bibirku untuk menghapus lipstik disana, tiba-tiba bahuku tersentak. Tersengat arus listrik. Mengerikan.
Rasa lelah yang kurasakan seolah sirna sementara gairahku kembali dipacu oleh cambukan. Aku selalu beranggapan bahwa Sean adalah ramuan rahasia nenek moyang yang mampu melenyapkan kelelahan wanita wanita yang mendamba seperti diriku. Saking ampuhnya ramuan itu, bahkan aku dapat memastikan diri mampu melakukan banyak gerakan seandainya dia berhasil menggodaku.
Rambutku lantas terjatuh ke kiri ketika aku mendongakkan wajah untuk menatap jam yang masih menunjukkan pukul tak lebih dari delapan. Atau aku hendak memastikan bahwa malam memang belum berakhir secepat ini. Akan ada gempa bumi terlebih dahulu di rumahku sebelum akhirnya aku mampu memejamkan mata dan tertidur.
Dengan napas terengah punggungku meliuk sewaktu melesak dari kursi. Sadar akan kondisiku yang tidak mengenakan pakaian, aku bergegas melangkah sempoyongan mengambil jubah tidurku yang terbuat dari sutra. Bahuku pun kembali tersentak suamiku di luar kini mengetuk pintu lebih keras. Dengan tangan gemetar aku langsung menyimpul tali pengikat jubahku sebagai pertahanan terakhir agar suamiki tak terlalu tergoda untuk melihat apa yang kumiliki di dalamnya.
Sekarang aku menjilat bibirku yang mengering sementara melangkah ke pintu kamar dengan perasaan was-was. Aku sempat mendongak karena napasku hampir habis sementara aku memegang kenop. Bersama dengan satu embusan napas, aku menekan benda besi itu lalu menarik pintunya ke dalam.
Pintu terlanjur terbuka dan aku berupaya menahan ledakan dari dalam diriku ketika wajah tampan dan menawan Sean menantangku serta aroma tubuhnya yang lebih kuat dan menggiurkan dari sebelumnya menyerangku. Mengelilingiku dan memabukkanku dalam sekejap tarikan napas.
Dia maju selangkah dan aku terkesiap kehilangan setengah napasku. Dengan keadaan hati yang hancur lebur aku merelakan indraku mendengar suaranya yang serak dan begitu dalam. Ada kewaspadaan saat mendengarnya sekaligus ketenangan seolah suaranya bagai dahaga kala menyesap kafein di tengah-tengah kepenatan.
__ADS_1
Aku lalu dengan sadar membiarkan si pria brengsek berpengalaman itu menggumam serak di depanku. "Jubah yang indah untuk malam yang indah, istriku yang lemah dan selalu tersipu,"
"Bagaimana kabarmu? Juga kabar bayiku yang berada didalam sana?"
Aku berdeham serak untuk mengembalikan ketenangan diriku. Dengan bibir yang masih gemetar, aku tersenyum dan menjawab sapaannya. "Kami baik-baik saja." jawabku. Sebelah tanganku mendorong pintu sementara sebelah tanganku yang lain menyentuh pundaknya.
Sean melemparkan tabletnya ke arah sofa lalu mencium bibirku sekali. Jemarinya dengan anggun menyisipkan rambut yang menempel di wajahku ke belakang telingaku sementara mulutnya berbicara. "Kau terlihat lelah, sayang." dengkurnya, membuat dua sudut bibirku terangkat.
Aku berjinjit untuk mencium bibirnya lalu menggelengkan kepala. Sambil tersenyum dan menatap birunya lautan di matanya, aku pun berkata. "Sekarang tidak lagi. Sumber kekuatanku sudah kembali." gumamku, lalu menciumnya beberapa kali lagi sampai dia terkekeh geli dengan tingkahku.
Dengan sebelah tangan di pinggangku, dia mengusap pipiku dengan sebelah tangannya yang lain. "Apakah urusan butikmu sudah selesai semua?" tanyanya sembari mencubit kecil pipiku.
"Hm, ya. Aku sudah menyerahkan semuanya pada Denise."
Dengan jari telunjuknya, dia menyentuh pucuk hidungku seraya berucap. "Good girl." desisnya, lalu kembali berseru. "Hei, kenapa kau tidak mau bekerja sama denganku? Kau tahu? Bisnismu akan lebih menggila jika bergabung dengan Warner Enterprise." gumamnya semangat sekaligus memamerkan dirinya.
Aku menggeleng cepat. Entah sudah berapa kali dia menawarkan hal itu padaku, tetapi selalu menolaknya. Dengan menghembuskan napas berat, aku menarik diri dari kendalinya dan berbicara sambil berjalan kembali ke meja rias. "Sudah cukup kau menguasai diriku. Aku tidak mau kau mencampuri kesenanganku yang lain." Gumamku tanpa menoleh padanya.
Jemariku mengambil sehelai tisu basah baru dan mengusapkan di sekitar bibirku sementara telingaku menangkap kalimat protes yang keluar dari mulutnya. "Kau terlalu berlebihan, Franda." ucapnya berat, lalu dia melanjutkan kembali. "Aku hanya memberimu peluang untuk membuat bisnismu lebih maju, bukan mencampurinya."
__ADS_1
"Terimakasih, Sean." aku memalingkan wajah sekilas dan melemparkan senyum padanya. "Tapi itu tidak perlu. Aku sudah melakukannya bertahun-tahun dan aku bangga dengan pencapaianku. Sekarang saja orang-orang mengira butikku lebih terkenal karena aku menikah denganmu, padahal aku yang jungkir balik mengembangkannya sejak dulu." Aku kembali menghadap ke cermin dan melanjutkan membersihkan wajahku.
Aku mendengar Sean menghembuskan napas berat. Tapi kubiarkan. Aku sungguh tidak mau dia menginterupsi seluruh kehidupanku. Menikah bukan berarti aku akan mengalah dengan semua hal. Tidak seorangpun yang bisa mengganggu bisnisku, termasuk suamiku sekalipun. Aku menghabiskan terlalu banyak waktu dan tenagaku disana dan aku tidak ingin siapapun mengklaim keberhasilan atas usahaku.
"Aku benci saat kita bertengkar seperti ini."
Aku tergelak dan tertawa halus. Jemariku meraih tisu basah yang kotor dari meja rias dan melemparnya ke dalam tong sampah kecil di bawah meja. Kakiku berderap mendekatinya dan berdiri tepat dihadapannya. "Ini bukan pertengkaran, babe. Kau tahu? Ini dinamakan negosiasi. Saat salah satu pihak berbicara dan pihak lain mendengarkan, sampai kesepakatan tercapai." Aku mengangkat kedua tangan dan menyentuh pundaknya. Mengusapnya perlahan lalu turun ke dadanya. Jemariku perlahan membuka kancing kemejanya sampai terbuka seluruhnya.
Seketika napasku mendadak tertahan di tenggorokan saat mendapati dadanya yang mulus dan berotot. Sekujur tubuhku gemetar sementara aku menelan liurku sendiri. Dengan tangan gemetar, aku menyentuh dadanya. Bisa kudengar geraman tertahan di mulutnya. Ketika aku menaikkan pandangan untuk menatap wajahnya, Sean sedang mendongak dan terpejam. Bibirku tersenyum penuh kemenangan dan hatiku bersorak gembira.
Tak ingin menyiksanya lebih lama, aku memindahkan tanganku dari dada ke pipinya. Aku menciumnya sekali dan berbisik. "Mandi sambil bercinta pasti menyenangkan, babe." kataku setengah mendesah di telinganya.
Aku tertawa ketika melihat dia membuka mata dan bersemangat. Seringai paling brengsek yang dimilikinya segera dikeluarkannya sembari menaik-turunkan kedua alisnya.
"Tapi... kau harus menurunkan semangatmu sedikit, sayang. Aku tidak mau dokterku mengomelimu lagi saat kunjungan berikutnya."
Sean tersenyum dan membuka mulutnya. "Bukan masalah besar, sayang. Aku justru khawatir kau yang tak bisa menahan diri."
Mataku membulat seketika, namun kemudian aku tertawa pelan dan membalas kalimat sindirannya. "Kita lihat saja nanti." kataku setengah berbisik.
__ADS_1