
Nino terdiam membeku mendengar bisikan istrinya. Ia sama sekali tidak menyangka Franda akan mengatakan itu. Kesalahannya memang tidak bisa dimaafkan kali ini, tapi tetap saja sulit baginya menerima kata-kata yang diucapkan Franda.
"Aku akan menyiapkan semuanya dan aku tidak akan meminta apapun darimu. Maaf aku tidak bisa melanjutkan ini, aku yakin pasti akan sulit bagi kita berdua. Kau akan terus merasa bersalah padaku, dan aku akan terus mencurigaimu. Kehidupan kita tidak akan seperti dulu, semuanya sudah berubah saat kau berbohong dan memilih wanita lain untuk menemanimu." Franda terdiam lalu menarik diri dari Nino yang belum bereaksi.
"Aku akan pulang kerumah Ayah dan Ibu hari ini, kau tidak perlu mengejarku kesana, tidak sampai aku memintamu bertemu."
Franda meninggalkan Nino yang masih membeku, menyambar tas dan kunci mobilnya nya yang berada disofa lalu langsung keluar dan melajukan mobilnya menuju butik.
Franda sudah memberitahu Mbak Ika dan Adi kalau beberapa hari kedepan Ia akan menginap dirumah orangtuanya, Ia juga memberitahu mereka untuk menghubunginya jika memerlukan sesuatu dirumah.
Sepanjang perjalanan ke butik Franda mengemudikan mobilnya sambil menangis, Ia masih belum percaya dengan semua yang terjadi selama sebulan ke belakang. Kehidupan pernikahannya yang selalu bahagia, setidaknya begitulah yang terlihat dimatanya selama ini, sampai sebulan yang lalu Ia mengetahui tentang kebohongan suaminya. Franda merasa seperti orang bodoh sampai Ia tidak sanggup membayangkannya.
Sampai dibutik Franda langsung berjalan masuk keruangannya. Kedatangan Franda mengundang pertanyaan dikepala beberapa karyawannya saat melihat sang bos datang dengan keadaan yang bisa dibilang aneh, penampilannya yang lain dari biasanya membuat heran siapapun yang mengenalnya. Franda memakai dress berwarna merah maroon dengan tinggi sedikit diatas lutut, rambutnya mengembang karena belum sempat disisir sedikitpun, wajahnya tanpa make-up sama sekali, hanya kaca mata hitam yang sedikit membantunya, Ia menggunakan benda itu juga untuk menutupi mata sembabnya, lalu memakai sandal bulu rumahan yang tidak pernah Ia pakai keluar.
"Kau baik-baik saja?" tanya Dhea, kali ini Ia berbicara bukan sebagai karyawan Franda, melainkan teman.
Dari awal mengenal Dhea, Franda tidak pernah menyukai Dhea memanggilnya Ibu, Ia lebih suka menjadi teman bagi Dhea, namun Dhea menolak. Lalu Franda meminta Dhea untuk menjadi temannya saat Ia membutuhkan, dan Dhea tahu saat ini Franda membutuhkan seorang teman.
"Hm." jawab Franda tanpa membuka mulut. Ia duduk bersender dikursi kerjanya sambil memejamkan mata.
__ADS_1
"Tidak ingin mengatakan sesuatu?" tanya Dhea lagi, mencoba melihat reaksi Franda.
"Aku akan bercerai." Franda menjawab singkat, namun Dhea dapat melihatnya menelan ludah seperti memaksa memakan sesuatu.
"Ok. Aku yakin kau memikirkannya dengan baik." ucapan Franda cukup mengejutkan Dhea, tapi Ia sangat paham jika Franda memutuskan sesuatu, tidak ada siapapun yang menghentikannya. Dhea merasa bertanya pun akan percuma.
"Aku minta maaf, ini semua terjadi karena aku yang memberitahumu, aku tidak menyangka akan seperti ini akhirnya. Kuharap kau baik-baik saja setelah ini." kata Dhea melanjutkan dengan menunduk dan nada menyesal.
"Hey, jangan berkata seperti itu! Aku pasti akan baik-baik saja, hanya membutuhkan waktu untuk menerima semua ini. Aku justru ingin berterimakasih padamu karena memberitahuku. Aku tidak akan tahu sampai kapanpun jika kau tidak mengatakannya, jadi jangan merasa bersalah." jawab Franda sambil menatap wajah Dhea yang tertunduk dan menggenggam kedua tangan Dhea.
"Tetap saja, aku merasa seperti mengadu domba kalian..." kata Dhea yang kemudian dipotong oleh Franda.
"Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, Dhea. Aku bukan anak kecil yang melemparkan kesalahan pada orang lain!" kata Franda dengan tegas.
"Kau mau kemana? Jangan melakukan hal yang aneh-aneh!" tanya Dhea yang mulai khawatir. Ia takut Franda akan melakukan sesuatu yang buruk.
"Dhea! Kurasa kau mengenalku dengan baik! Aku tidak kemana-mana, hanya ingin mengunjungi orangtuaku. Aku membutuhkan ketenangan sekarang, dan rumahku adalah tempatnya. Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, kau bisa menemuiku disana jika kau mau." kata Franda menjelaskan pada Dhea.
"Baiklah, aku akan mengurus segala sesuatu disini. Kabari aku jika membutuhkan sesuatu."
__ADS_1
"Harusnya aku yang mengatakan itu, hah!" jawab Franda lalu tersenyum pada karyawan sekaligus sahabatnya itu.
.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan dibutik, Franda langsung melajukan mobilnya kerumah orangtuanya. Ia akan tinggal disana untuk menenangkan diri selama beberapa hari. Segala keperluannya sudah diurus oleh Dhea. Franda tidak perlu membawa apapun ketika harus tinggal dengan orangtuanya meskipun untuk waktu yang lama, karena barang-barangnya masih banyak disana. Dhea hanya perlu menyiapkan beberapa barang yang nanti sore akan dikirimnya kerumah orangtua Franda.
Ibu Marissa sedang duduk diteras sambil membaca buku resep masakan italia yang beberapa hari dibelinya. Ia menatap ke depan gerbang dan melihat mobil BMW Franda masuk, wanita itu heran karena Franda datang tanpa pemberitahuan, tidak seperti biasanya. Dan Ia semakin terkejut dengan penampilan anak perempuan kesayangannya itu yang aneh. Selama ini Franda selalu menjaga penampilannya, memiliki usaha dibidang Fashion mengharuskan Franda berpenampilan menarik untuk meyakinkan orang-orang.
Franda masih terlihat sama seperti tadi saat ia ke butik, hanya saja rambutnya kini sudah diikat dan menggulung dikepalanya.
"Mom!" seru Franda saat melihat Ibunya yang juga melihatnya, memperhatikan lebih tepatnya.
"What's wrong?" tanya Ibu Marissa tanpa basa-basi saat Franda memeluknya erat. Ibu Marissa adalah perempuan keturunan campuran Indonesia dan Amerika, jadi dirumah mereka sudah biasa berbicara dengan bahasa inggris.
"Nothing! Let me do this for a while!" jawab Franda yang belum mau melepas pelukan Ibunya, membuat wanita yang berusia 63 tahun itu semakin yakin bahwa putrinya tidak baik-baik saja.
Setelah beberapa menit Franda melepaskan pelukannya dan tersenyum pada Ibunya. Melihat dari dekat sambil mengagumi kecantikan wanita itu yang sepertinya tidak akan hilang meskipun keriput sudah tampak disana-sini.
"Ok. But I know you are not good at all." Ibu Marissa tidak bertanya lagi setelah itu, Ia akan menunggu sampai Franda sendiri yang bercerita.
__ADS_1
Dirumah mereka Franda adalah anak kesayangan. Semua orang memanjakannya termasuk kedua kakak dan adiknya. Keadaan masa kecil Franda yang sulit saat ditinggalkan kedua orangtuanya yang meninggal akibat kecelakaan membuat semua orang dirumah mereka memperlakukan Franda dengan sangat baik agar Ia tidak merasa sendiri, kakad dan juga adiknya tidak pernah cemburu karena mereka mengerti alasan Ayah dan Ibu menyayangi Franda.
Setelah berbicara sebentar Franda dan Ibu Marissa masuk kedalam rumah. Franda langsung berbaing saat berada dikamarnya, menikmati ranjang yang ditempatinya selama Ia berada dirumah itu, dan Ia langsung tertidur.