
"Dika, tutup telingamu! Jangan dengarkan apapun yang ku katakan, dan jangan mengatakan apapun tentang kejadian tadi!" kata Franda tegas pada supirnya begitu mobil meninggalkan kawasan rumah sakit. "Mia, jangan membocorkan ini pada siapapun, biar aku yang membongkarnya kalau pun harus!" lanjut Franda sembari menatap tajam pada adiknya, mengingatkan agar tidak lancang mencampuri urusannya.
Mia mengangguk cepat, bisa di lihatnya kemarahan kakaknya yang begitu luar biasa. Tatapannya seperti pedang yang mampu membunuh siapapun.
Franda diam beberapa saat, berusaha mencerna kembali apa yang di lihatnya tadi. Ingin sekali Ia berpikir positif namun tidak bisa. Pandangannya menatap kosong pada jalanan melalui kaca mobil di sampingnya.
Franda bersuara setelah cukup lama diam. "What am I supposed to do now?" tanya Franda, air matanya mulai menganak sungai.
Rasa sakit yang mendera kini lebih parah dari pada saat pertama kali mengetahui suaminya berkhianat. Tidak ada yang masuk di akalnya mengenai alasan Nino melakukan itu, meskipun sudah menerka-nerka dari tadi. Kenapa harus melakukannya lagi, dengan orang yang sama pula. Apakah selama ini mereka berpura-pura putus? Apakah selama ini mereka masih menjalin hubungan diam-diam dibelakangnya? Berbagai macam pertanyaan setan mulai merasuki pikirannya. Ia tidak tahu harus melakukan apa untuk menghadapi ini.
Franda menatap perut buncitnya, mengelus dengan lama, "Kita akan baik-baik saja, Mommy akan menjagamu. Kita bisa melewati ini berdua, bantu Mommy dengan menjadi anak yang baik." kata Franda sambil tersenyum, percaya bahwa bayi di kandungannya bisa mendengarnya.
Suasana hening menyelimuti perjalanan mereka, semuanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Mia tidak berani bersuara sama sekali, Ia khawatir kemurkaan Franda yang masih tersimpan akan meluap tiba-tiba jika Ia membuka mulut. Dirinya merutuki kebodohan Nino yang berani melakukan itu lagi, Mia yakin kali ini kakak iparnya itu tidak akan lolos dengan mudah. Sekali mungkin khilaf, dua kali itu namanya bunuh diri. Mia bukan tidak mengenal Franda, wanita itu mungkin tidak akan membunuh untuk balik menyakiti, tapi caranya membalas dendam tidak mungkin sanggup ditahan lawannya, kakaknya itu akan berubah menjadi sangat kejam jika seseorang berani mengusik ketenangannya.
"Sudah sampai, Bu!" kata Dika begitu memarkirkan mobil di halaman rumah.
Franda dan Mia langsung turun tanpa menanggapi. "Mia, ingat tutup mulutmu!" ucap Franda tegas sesaat akan masuk. Mia hanya mengangguk.
Keduanya berjalan masuk, Mia menghempaskan dirinya di sofa ruang keluarga sementara Franda langsung masuk ke dalam kamarnya. Dilemparnya tas tangan yang dibawanya ke meja rias dengan asal, hingga menjatuhkan beberapa benda diatasnya. Franda tidak perduli.
Franda berbaring dan menarik selimut, Ia memikirkan semua uang telah terjadi sampai hari ini. Peristiwa menyakitkan yang berusaha keras di lupakannya sejak setahun lalu kini kembali menghantamnya, meruntuhkan apa yang di bangunnya selama ini, kepercayaan pada suaminya yang susah payah di kembalikannya kini tak bersisa, hanya rasa benci yang tertinggal. Berkali-kali Franda mengingatkan dirinya agar tidak menangis. Apa yang terjadi tidak pantas untuk di tangisinya lagi, cukup sekali dirinya membuang air mata demi laki-laki tidak tahu diri seperti Nino.
__ADS_1
Franda menyadari kali ini tidak mungkin semudah sebelumnya, kalau dulu Ia bisa meminta bercerai tanpa memikirkan apapun, sekarang berbeda, ada anak tidak berdosa yang akan menanggung beban akibat ulah orang dewasa disini. Franda tidak mau anaknya tumbuh tanpa kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya, apalagi susah payah Ia mendapatkannya. Franda tidak ingin keegoisannya dalam mengambil keputusan berdampak buruk pada anaknya nanti. Semuanya harus dipikirkan baik-baik.
.
Franda terbangun saat jam menunjukkan pukul 4 sore, kepalanya terasa pusing. Pandangannya buram ketika dirinya memaksa berdiri, ruangan kamarnya terasa berputar, sedetik kemudian Franda tumbang tak sadarkan diri di lantai.
Kebetulan sekali disaat bersamaan Ibu yang akan membawakan buah untuk Franda masuk ke kamar, buah ditangannya terjatuh begitu saja, wanita tua itu langsung menghambur sambil berteriak memanggil siapapun yang bisa mendengarnya.
Miss Dianaa yang mendengar teriakan Ibu langsung berlari cepat dan menghampiri mereka, "Ada apa, Bu?" tanyanya dengan napas terengah-engah. Panik langsung menderanya begitu melihat Franda yang terbaring di lantai.
"Cepat panggil Dika untuk membantu!" perintah Ibu sambil menarik kepala putrinya yang tengah hamil itu ke pangkuannya. "Panda, wake up! What happen to you? Wake up, sweety!" Ibu yang panik berusaha membangunkan Franda sambil menepuk pelan pipi anaknya.
Dika, Mbak Ika dan Miss Diana masuk ke kamar Franda, membantu Ibu menaikkan tubuh hamil Franda yang sudah membesar ke ranjang.
"Ada apa, Mom?" tanya Mia dengan wajah bantal, belum menyadari kakaknya yang pingsan.
"Telepon kakak iparmu, katakan Franda pingsan. Kita harus membawanya kerumah sakit, Ibu takut terjadi sesuatu..." belum sempat Ibu menyelesaikan kata-katanya, terdengar suara Mia yang berteriak.
"Mom!... Darah siapa itu?"
Semua orang mengikuti telunjuk Mia yang mengarah ke lantai, tidak ada yang menyadari itu sebelumnya.
__ADS_1
"Oh, God! No... Panda, Sweety..." Ibu semakin panik begitu melihat darah sudah mengalir di sepanjang kaki Franda.
Semua orang terdiam beberapa saat, tidak ada yang tahu harus melakukan apa. Rasa panik yang menyerang membuat otak mereka kosong seketika.
"Kenapa kalian diam saja? Cepat bawa Panda ke mobil!" bentak Mia pada tiga orang pekerja dirumah kakaknya itu.
Dengan susah payah mereka membopong tubuh Franda turun dan masuk ke mobil.
"Mom, biar aku yang membawanya ke rumah sakit, tinggal dirumah dan jangan memikirkan apapun. Panda pasti baik-baik saja!" ucap Mia langsung melompat kedalam mobil setelahnya.
Mia mengirimkan pesan teks pada Nino saat berada di dalam mobil. Waktu terasa begitu lama sekarang, Mia yang tidak sabar terus memaksa Dika yang membawa mobil agar lebih cepat, "Cepat sedikit, aku bisa mati kalau terjadi sesuatu padanya!" bentak Mia pada sang supir. Dirinya langsung merasa bersalah saat teringat kejadian di rumah sakit tadi siang, Franda tidak akan mengalami ini jika dirinya tidak menyarankan untuk memeriksa kandungan disana.
Hampir sejam menempuh perjalanan yang mulai macet karena jam pulang kerja, akhirnya mereka sampai di rumah sakit, Mia langsung berteriak memanggil petugas rumah sakit agar membantu mereka.
.
Nino muncul dengan wajah panik dan langsung menyerang Mia dengan pertanyaan. "Apa yang terjadi?" tanyanya dengan wajah pucat.
Mia menatap tak suka pada kakak iparnya itu. "Ini gara-gara kau, Panda melihatmu memeluk j'alangmu itu dirumah sakit tadi siang!" jawab Mia sinis. "Bisa-bisanya kau melakukan itu saat istrimu sedang hamil anakmu, dimana otakmu?" lanjut Mia membentak, memancing perhatian setiap orang yang mendengarnya.
Nino terdiam mendengar ucapan Mia, Ia tidak menyangka istrinya akan melihatnya bersama Jenny. Rasa bersalah langsung menyerangnya seketika, lagi-lagi dirinya menyakiti Franda meskipun tidak berniat melakukannya, terlebih sekarang ada calon anak mereka yang mungkin akan menjadi korban. Semua yang dilihat Franda hanya salah paham, dirinya memang tidak berhubungan dengan Jenny lagi, namun tadi malam wanita itu menghubunginya tiba-tiba dan mengatakan Papanya ingin bertemu. Jika Franda melihatnya memeluk Jenny, sudah jelas istrinya akan salah paham.
__ADS_1
Nino meremas rambutnya dan memukul tembok rumah sakit dengan tinjunya. Penyesalannya sangat dalam sekarang, kenapa sampai istrinya melihatnya bersama Jenny, dan kenapa juga Ia datang dan memenuhi permintaan Jenny, sementara pada waktu yang sama istrinya akan melakukan memeriksakan kandungan. Kenapa dirinya lebih memilih menemui Jenny dan keluarganya dibanding menemani istrinya kerumah sakit. Well, nasi sudah menjadi bubur, berdoa semoga tidak terjadi apa-apa pada Franda dan kandungannya adalah hal yang bisa di lakukan sekarang.