Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Wild Movement


__ADS_3

Pasta bolognese yang kubuat ternyata lebih baik daripada yang kubayangkan, dan aku senang menyaksikan Sean tampak sangat menyukai pasta buatanku. Well, ini percobaan dapur pertama yang pernah kulakukan seumur hidup. Maksudku, aku benar-benar melakukannya sendiri. Memasak sesuatu untuknya. Bukankah itu sesuatu yang patut untuk di banggakan? Kami berdua setuju bahwa aku mungkin bisa menjadi ibu rumah tangga yang baik dan melakukan kegiatan yang sering di kerjakan wanita kebanyakan.


Kami makan malam dengan suasana yang hangat dan intim sambil menikmati pemandangan kota pada malam hari melalui dinding kaca. Aku dan Sean mengobrol dan menertawakan banyak hal, saling menggoda dan merayu, membuatku merasa seakan kami benar-benar seperti suami-istri pada umumnya, meskipun aku sendiri tidak terlalu antusias dengan gagasan itu.


Setelah puas bercakap-cakap kami membereskan semuanya, lalu dia mengejutkanku dengan mengatakan bahwa dia akan memberiku kesempatan untuk mengikatnya di ranjang. Detik itu juga aku merasakan seluruh darahku berkumpul menjadi satu di kepala, antusiasme yang tinggi membakarku, dan berjanji akan membuatnya benar-benar puas malam ini. Kupastikan dia tidak akan kecewa dengan isi kepalaku yang liar.


"Sekarang aku menyesal karena menyetujui ide gilamu." gumam Sean, menarik kedua lengannya untuk mengetes kekuatan ikatanku.


Mulutku melengkung tinggi-tinggi ketika aku menyelesaikan ikatan di pergelangan kaki kirinya ke sudut ranjang, kemudian bergeser untuk mengikat kaki kanannya ke sisi ranjang yang lain.


"Jika kau berniat untuk membunuhku atau meninggalkanku disini dalam terikat, sebaiknya kau menghentikan rencanamu, Franda. Orang-orangku akan segera mencariku dan mereka akan menghabisimu." katanya bercanda. "Kau tahu aku siapa, bukan?"


"Aku tahu." balasku seraya menyeringai, berniat sedikit menggodanya. "Tapi aku istrimu, Sean. Siapa yang akan percaya bahwa aku berniat membunuhmu?"


Dia memundurkan kepalanya, sementara alisnya bertaut. "Franda..."


"Aku berjanji tidak akan menyakitimu, Samson." kataku meyakinkannya. "Aku mencintaimu, dan aku yakin kau pasti menyukai ini."


Sean mengangkat alisnya menatapku. "Kau tahu berapa harga barang-barang itu, bukan? Dasi itu?" tanyanya seraya mendorong dagu, menunjuk dasi di pergelangan kaki kanannya yang sedang kuikat ke sudut ranjang, rautnya gelisah dan tampak tidak nyaman dengan posisinya. "Jika dasiku rusak setelah ini..."


"Dasimu akan baik-baik saja," aku terdiam sejenak, memperhatikan kembali semua ikatanku, dan memastikan bahwa Sean akan baik-baik saja. "Apa aku mengikatmu terlalu kuat?"

__ADS_1


Dia mengembuskan napas putus asa. "Tidak," sahutnya, lalu memperhatikan setiap gerak-gerikku selagi aku mengitari ranjang.


Semua lampu sudah kupadamkan dan tirai sengaja kubiarkan terbuka agar cahaya bulan bisa masuk dan menambah suasana hangat malam ini, sementara pintu yang mengarah ke balkon juga terbuka lebar, memberikan jalan bagi angin malam yang sejuk merambat masuk ke dalam kamar kami.


"Apa kau bisa melepaskan diri?" tanyaku sambil mengamati tubuhnya yang terbaring indah dan tidak berdaya, membuatku berdenyut dan basah. Berhasil mengendalikan seseorang seperti Sean merupakan hal yang patut untuk dibanggakan, dan hanya aku satu-satunya wanita yang bisa melakukan itu padanya.


Sean mencoba menarik ikatannya beberapa kali, namun berujung dengan menggeleng frustasi. "Tidak, tapi kau akan membukanya ketika aku memintamu." gerutunya.


"Aw, kenapa aku harus melakukannya? Kurasa kau belum menyadari situasimu sekarang, ya." balasku genit. Aku berdiri di tepi ranjang, menatap sekilas pada kejantanannya yang indah selagi tanganku bekerja menurunkan gaunku dengan perlahan hingga mendarat di lantai.


Pandangan Sean seketika langsung mengarah ke tubuhku, memperhatikan pakaian dalam berenda berwarna merah yang kukenakan, dan aku bersumpah melihatnya menelan ludah saat dia mengamati penampilanku. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat indah.


Sean menggeram, "Franda, ternyata kau benar-benar sudah merencanakannya, hm?" ucapnya dengan suara berat.


Ketika sudah merasa nyaman dengan posisiku, aku memajukan kedua tanganku menyusuri pahaya dengan perlahan, dan terus bergerak naik hingga nyaris menyentuh kejantanannya.


"Sial, Franda! Aku benar-benar ingin menghancurkanmu sekarang." dengkurnya, memandangiku dengan tatapan tak berdaya.


Dalam hati aku bersorak gembira karena menyukai situasi ini. Sean Danial Warner, pria tampan yang digilai oleh setiap wanita, saat ini sedang terbaring frustasi di hadapanku, wajahnya yang merah menyerah pada sentuhan telapak tanganku. Tapi aku tidak akan melepaskannya sampai dia mengatakan 'kode keamanan' yang akan menyelamatkan dirinya dari aksi gilaku.


Aku tersenyum, lalu menggerakkan tanganku perlahan menyentuh kejantanannya, sementara mataku mengamati wajahnya. "Hm... sudah kubilang kau akan menyukainya."

__ADS_1


Sean berusaha melepaskan ikatan dengan menarik-narik tangannya, meski dia sendiri tahu bahwa itu tidak akan menghasilkan apapun. "Kuberitahu kau satu hal, ini adalah keputusan paling bodoh yang pernah kubuat dalam hidupku, Franda." gerutunya, rautnya tampak benar-benar tersiksa, namun kejantanannya mengatakan jawaban yang berbeda, yang membuatku semakin bersemangat menggodanya. "Kau akan menyesali ini."


"Well, kita lihat saja nanti." Aku menyeringai sekilas, sebelum menurunkan kepalaku mencium puncak kejantanannya. Kedua mataku terus memandangi wajahnya yang frustasi karena tidak bisa melakukan apapun padaku. "You need to relax, baby." gumamku pelan sambil mengusap otot perutnya yang keras.


Sean mengerang, mendongakkan kepala ke atas. "Aku benar-benar tidak percaya aku melakukan ini." ucapnya sambil menggoyangkan kepala.


Aku menolehnya, dan dengan cepat mengingatkannya. "Pumpernickel, ingat?" sahutku, lalu meniup pelan area di sekitar kejantanannya, membuatnya mengalihkan pandangan ke arahku lagi.


"Ah, Franda..." Dia mengerang saat aku tiba-tiba membenamkannya ke dalam mulutku. "Aku melakukan ini hanya karena kau yang memintanya, itu sangat seksi, sayang..." Suaranya terdengar lebih berat dan dalam dari sebelumnya.


"Shhh, diamlah! Kau terlalu berisik, akui saja kalau kau menyukainya." Aku menggelamkan kejantanannya ke dalam mulutku lagi, sampai dia menggeram dan mengerang berkali-kali sementara kaki dan tangannya bergerak-gerak gelisah.


Merasa cukup puas menyapa bagian tubuhnya yang keras itu, perlahan aku melepaskan satu per satu pakaian dalamku, lalu bergerak naik hingga duduk di atas pinggulnya. Selama beberapa saat, aku mengusap perutku yang membesar sambil tersenyum mengamati wajahnya yang menggemaskan menahan gairah.


"Bagaimana? Nikmat, bukan?" tanyaku seraya mengerdipkan mata dengan genit. Sean tidak membalas, dia hanya menggeram pelan tanpa mengalihkan tatapannya dariku.


Kemudian aku menggerakkan tanganku lebih ke atas sampai ke dadaku. "Apa kau ingin menyentuhnya?" gumamku lagi, dengan liar meremas dadaku.


Sean bergerak-gerak gelisah di bawahku, kaki dan tangannya berusaha melepaskan ikatan sementara aku menggodanya dengan mengusap otot dadanya yang keras dan sempurna, lalu aku merunduk untuk menciumnya, tapi gerakanku tertahan oleh perutku yang membesar. "Sialan,"


Untuk pertama kalinya sejak Sean terbaring di atas ranjang malam ini, aku mendengar dia tertawa seraya mengamatiku meletakkan dua bantal di bawah kepalanya. "Aku bisa menciummu jika kau melepaskan ikatan itu, Franda."

__ADS_1


"Dalam mimpimu, Warner!"


__ADS_2