
...Sean Danial Warner POV...
"Dia yang menciumku, Franda. Kalau kau memperhatikan lebih jelas, kau akan melihat bagaimana aku sudah mencoba untuk menghindar tetapi aku masih masih belum beruntung karena sandaran kursi menahan kepalaku sehingga dia melakukannya.
Franda menarik napas kasar dan bahunya berguncang. "Tetapi itu sama sekali tidak mengaburkan bagaimana cara wanita itu berbicara dan menatapmu. Dia selalu berusaha untuk menyentuhmu, merangkulmu, dengan gaya menggoda yang sepertinya sudah biasa terjadi diantara kalian." Air mata Franda mulai menitik. "Sialan, katakakan padaku siapa wanita itu, Sean."
Aku memalingkan wajah dan mengeraskan rahang. "Tidak."
Hening berderak diantara kami selama beberapa saat. Aku membekap mulut rapat-rapat sementara Franda bernapas dengan gemetar. Tetapi karena tekadku yang kuat untuk mempertahankan Franda, aku pun melemah. Franda butuh kejujuran dariku, dan aku harus memberikannya. Cepat atau lambat masalah ini memang pasti akan menyerang kami dan kami harus menghadapinya. "Dia Yolanda Riyadi." gumamku dengan napas tercekat.
Franda terkesiap mendengar ucapanku yang mendadak. "Dan, ya? Siapa dia? Apakah dia kekasihmu?"
Aku mengumpat lirih. "Tidak, itu tidak mungkin."
"Jadi, siapa dia sebenarnya?" desak Franda padaku. "Kenapa dia terlihat begitu tertarik padamu dan kau gugup saat melihatnya?"
Alisku berkerut dan kepalaku benar-benar terasa sakit. Aku memandang Franda, sekali lagi memohon padanya untuk berhenti bertanya karena aku takut akan melukai hatinya apabila mengungkapkan kebenarannya walaupun dia seharusnya tak perlu merasa seperti itu karena aku hanya menginginkannya. "Franda. Bisakah kita tidak membahas orang lain? Aku hanya ingin membahas tentang kita. Kumohon."
__ADS_1
Franda berjalan dan hendak keluar dari kamar, tetapi aku menahannya. Sebelum dia semakin hancur dan meninggallanku. Aku mengerahkan keberanianku dan akhirnya mengucapkan apa yang ingin dia dengar dariku. "Aku berhutang budi pada Om Riyadi, dan dia ingin aku menikahi putrinya karena dia sedang sakit keras. Itulah kenyataannya."
Kedua mata Franda menatapku tak percaya. Aku menarik tubuhnya ke dalam dekapanku dan mencium keningnya. "Tapi dia bukan siapa-siapa, Franda. Kau segalanya bagiku. Kau segalanya."
Franda tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Aku sudah menyakitinya dengan ciuman Yola di bibirku, dan sekarang menambahnya dengan kebenaran bahwa Papa Yola memintaku menikahi putrinya. Hatinya sudah pasti hancur, aku juga gila saat mengetahui mantan suaminya masih menginginkan Franda sampai saat ini.
Aku masih mendekap tubuh Franda dengan erat. Bibirku menempel di puncak kepalanya, aku mencium aroma rambutnya, tubuhnya, sedalam mungkin ke dalam dadaku. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Franda. Aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya. Tapi aku harus mulai dari mana, Franda?"
Aku mendengar Franda menarik napas di dadaku. Aku merasakan dia menghirup aroma tubuhku, yang membuatku merasa sedikit lega namun masih bercampur cemas. "Itulah masalahnya, Sean." gerutunya kemudian. Demi Tuhan, aku gembira bisa mendengar suaranya yang bisa meredamkan waswas dalam diriku. Tapi kali ini dia mengeluh, tidak apa-apa, aku akan menerimanya. Aku masih sangat bersyukur dia mau membagi kekhawatirannya padaku. Franda memang wanita yang luar biasa, dia mencoba bersikap dewasa dalam menghadapi segala hal denganku. "Tuhan menghadapkanmu pada kenyataan yang sulit. Kau tak mungkin bisa menghindar begitu saja jika memang orangtuanya sedang sakit."
Franda mendorong dadaku dengan lembut. Kemudian dia menengadah menatapku dengan kedua tangannya yang mencengkeram resah lenganku. "Sekarang aku yang bertanya padamu, Sean. Apa yang harus kulakukan? Aku tidak mungkin bersaing dengan gadis yang sedang berjuang mendapatkan suamiku untuk mewujudkan keinginan orangtuanya."
Akhirnya aku memilih membungkam mulut Franda dengan ciumanku. Aku tahu dia senang ketika aku berbisik di mulutnya. Aku juga begitu, aku juga candu setiap kali napas kami bertemu. Ibu jariku mengusap pipinya, lalu menunduk untuk mendaratkan ciumanku di bibirnya. Aku menciumnya amat lama, dengan lidahku, dengan bibirku, bahkan dengan napasku. Sampai dia tenang, sampai air matanya berhenti. Tapi nyatanya tak mau berhenti.
"Franda..." desahku serak di bibirnya. "Apa yang kau takutkan? Aku suamimu, aku milikmu. Kau yang akan bersamaku sekarang dan selamanya."
"Tapi dia sangat menginginkanmu, Sean. Kau pasti pernah menatapnya dengan cinta sampai kalian menghabiskan waktu bersama. Demi Tuhan... aku bisa melihatnya, Sean. Kau pernah tertarik padanya."
__ADS_1
Aku membuka mata dan membiarkan Franda menatapnya. Apapun yang pernah terjadi antara aku dan Yola di masa lalu, aku tidak ingin itu mempengaruhi pernikahanku dengan Franda. Aku selalu merasa hidup dengan Franda, aku selalu tenang saat berada di dekatnya. Franda-lah yang kubutuhkan, bukan siapapun. Aku menyentak wajah Franda dengan jemariku yang masih berada di tulang pipinya. "Franda, lihat aku. Lihatlah ke dalam diriku seperti yang selalu kau lakukan saat menatapku. Apa kau melihat cinta? Apakah kau melihat hasrat? Itu semua karena dirimu dan hanya untukmu. Aku bersumpah bahwa aku hanya akan mencapai puncak di dalam tubuhmu dan selamanya di dalam tubuhmu."
Ibu jariku menyapu air matanya yang mengalir panas, lalu dia melepaskan cengkeraman dari lenganku untuk memeluk tubuhku. Aku merasa aman dan nyaman ketika Franda memelukku, Kuharap dia juga merasakan hal yang sama. Franda bersuara serak dan gundah di depan jantungku yang berdebar untuknya. "Aku cemburu padanya, Sean. Dia punya wajah yang cantik dan usianya masih sangat muda, tubuhnya juga begitu sempurna. Aku mungkin punya cinta yang besar untukmu, tapi dia bisa memberimu sesuatu yang lebih menjanjikan dari pada sekedar cinta. Dia bisa membuatmu lebih bahagia dengan apa yang melekat di tubuhnya."
Lengan Franda melilit tubuhku dengan kencang, dan aku harap dia selalu melakukannya. Aku memang pernah berhubungan dengan wanita di masa lalu, tapi rasanya tidak seperti saat aku bersama Franda. Perasaanku pada mereka bahkan belum mencapai setengah dari cintaku untuk Franda. "Aku mungkin bisa memelukmu sekarang, Sean. Tapi aku tak tahu bagaimana ke depannya. Aku akan memperjuangkanmu dari wanita-wanita di luar sana, tapi aku belum tentu sanggup menahanmu ketika orangtua wanita itu memaksamu. Aku mungkin bisa berakhir ditinggalkan dan menjanda untuk kedua kalinya."
Cukup sudah. Kegamangan itu harus menyingkir dari hati Franda sekarang. Dia harus merasa bebas mencintaiku, karena aku sendiri membebaskan hatiku untuk dicintainya. Aku mengulurkan tangan ke belakang, menangkap pergelangan tangan Franda lalu menariknya ke depan tubuhku. Aku menggenggam tangannya dengan segenap jiwaku. Mata Franda buram, tapi dia tetap menatap dalam ke mataku. "Franda... Demi Tuhan, aku tidak membutuhkan wanita lain yang memiliki tubuh yang sempurna karena kau pun memilikinya. Aku tidak membutuhkan wanita muda karena kau sudah memberiku segalanya."
"Yang membuatku gila dan sangat bergairah sekarang bukan karena Yola yang memiliki wajah dan tubuh yang sempurna. Tapi karena dirimu, Franda. Kau menerimaku dengan tingkahmu, dengan wajahmu, dengan tubuhmu, dan dengan hatimu. Kau memahamiku, menyesuaikan diri denganku, tak menyerah menghadapiku. Kau tak hanya membutuhkan tubuhku untuk menyenangkanmu, tapi kau juga butuh hatiku. Kau menginginkan segala yang kupunya. Baik buruknya diriku. Bukankah itu pantas disebut cinta sejati, Franda?"
Aku berlutut perlahan di hadapan Franda. Tangannya yang masih kugenggam kuarahkan ke dekat bibirku. "Yola bukan apa-apa untukku. Kenyataan bahwa aku menjanjikan sesuatu pada orangtuanya di masa lalu tidak akan mengubah apapun yang terjadi pada kita. Kau yang hidup dan mengisi seluruh hatiku, Franda. Gairahmu yang mengalir di nadiku, cintamu yang menyiksa di dadaku. Semua yang kuinginkan dan butuhkan ada padamu, Franda." Aku memejamkan mata, membawa tangan Franda ke bibirku, dan aku menciumnya dengan keras, juga resah, juga bahagia, dengan segala perasaan yang kumiliki untuk Franda.
Aku baru ingin membuka mata, ingin menatap mata Franda yang cokelat dan indah. Tetapi dia langsung ikut berlutut dan melilitkan lengannya di leherku. Aku menjaga tubuhnya yang berpangku di atas pahaku, sementara dia menunduk menatapku dengan penuh cinta. Kedua tangannya membelai erat tengkukku. "Sean..." desahnya lirih.
Dia semakin menunduk sampai helaian rambutnya yang beraroma segar menutupi sebagian wajah kami. "Kau benar-benar punya cinta yang luar biasa, Sean. Aku yakin walaupun aku tidak punya apa-apa di dunia ini, asalkan bersamamu, aku akan tetap hidup. Bersamamu, bersama cinta-cintamu."
Aku mengerdip sebelum membuka mulut untuk menerima belaian lidahnya. "Kalau memang begitu, kaulah yang memiliki cintaku itu, Franda. Selamanya."
__ADS_1
Di mulutku, Franda langsung mengerang penuh gairah. "Ya Tuhan, betapa beruntungnya aku, Sean."