Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 40


__ADS_3

Ibu memanggil Miss Diana, "Miss, tolong jauhkan ini." katanya sambil memberikan nasi goreng yang ada dimeja, lalu mendekati Franda dan Nino yang masih berada didepan wastafel.


Ibu tersenyum dan menepuk lengan Nino yang terlihat sangat khawatir, "Istrimu tidak apa-apa, jangan khawatir." ucapnya menenangkan.


Nino langsung membawa Franda yang lemas ke kamar setelah memuntahkan seluruh isi perutnya, meninggalkan Ibu, Mama, dan Mia yang meneruskan sarapan mereka. Wanita itu terlihat sangat tidak berdaya. Ia berbaring sambil memijat pelipisnya, rasa mual yang baru dialaminya sangat menguras tenaga.


Nino mengambil minyak kayu putih dimeja rias dan mengoleskan ke kepala dan hidung istrinya, "Kau baik-baik saja? Kita bisa ke rumah sakit kalau kau mau." ucap Nino menyarankan.


Franda menggeleng lemah, "Aku hanya mual, tidak perlu kerumah sakit." jawabnya sembari memejamkan mata.


Nino menarik selimut dan menutup tubuh Franda sampai sebatas dada, "Aku akan mengambil air hangat kebawah sebentar." ujarnya, sebenarnya Ia ingin bertanya pada Ibu dan Mama tentang apa yang terjadi pada istrinya, karena tadi kedua wanita tua itu tersenyum sumringah saat melihat Franda mual.


Nino berjalan menuruni tangga dan langsung menuju meja makan, "Apa yang terjadi?" ucapnya tanpa basa-basi.


Ibu dan Mama lagi-lagi tersenyum, membuat Nini semakin bingung, "Pergilah ke apotek, beli testpack." kata Ibu.


Nino mengernyit, Ia tidak tahu apa itu testpack. "Apa itu?" tanyanya dengan raut wajah bingung.


Mia tertawa mendengar pertanyaan kakak iparnya itu, "Kau bodoh sekali kakak ipar, apa saja yang kau lakukan selama ini? Begitu saja kau tidak tahu, hahahaha." kata Mia sambil tertawa mengejek.

__ADS_1


Mama menghentikan Mia yang mengejek Nino dengan memegang tangannya. "Itu alat untuk mengetes kehamilan." kata Mama Rossa, jawabannya membuat Nino semakin bingung.


"Untuk apa?" tanyanya lagi, belum sadar kemana arah pembicaraan mereka, lalu kemudian wajahnya berubah, "Apakah Franda hamil?" lanjut Nino.


Ibu dan Mama tersenyum padanya, "Kita belum tahu, apa salahnya memastikan. Pergilah dan beli alat itu." kata Ibu.


Nino terdiam sejenak, tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari Ibu dan Mama. Bagaimana jika Franda benar-benar hamil? Kalaupun itu benar bagaimana bisa istrinya hamil? Bukankah selama ini hasil tes menunjukkan bahwa Nino tidak bisa memiliki keturunan? Haruskah dirinya bersyukur atau justru mencurigai Franda?. Berbagai macam pertanyaan menumpuk dikepalanya, menyerang rasa percaya dirinya yang mulai goyah.


.


Mia, Ibu, dan Mama sedang menemani Franda yang masih lemas dikamar, rasa mualnya sudah hilang namun energinya belum kembali sepenuhnya. Mereka mengobrol ringan sembari menunggu Nino yang sedang membeli testpack ke apotek.


Nino masuk kedalam kamar dan menyerahkan tiga buah testpack berbeda merek yang baru saja dibelinya pada Ibu, "Ini, Bu. Aku membeli tiga supaya lebih meyakinkan." katanya.


Ibu tersenyum dan mengeluarkan testpack itu dari dalam kantong plastik lalu memberikannya pada anaknya, "Ini testpack, coba gunakan dikamar mandi. Baca petunjuk dibungkusnya sebelum menggunakannya." kata Ibu sambil tersenyum.


"Aku tidak hamil, Mom! Untuk apa aku menggunakan ini?" ucap Franda menolak, Ia tahu apa kegunaan testpack itu tapi tidak mungkin dirinya hamil mengingat kondisi Nino yang sulit memberikan keturunan untuknya.


Ibu memegang lengan Franda, "Tidak ada salahnya memastikan. Ayo, Ibu akan membantumu." kata Ibu sambil menarik Franda yang masih menatap bingung pada Nino.

__ADS_1


Ketakutan Franda dan Nino sama, memiliki anak memang sesuatu yang sangat mereka inginkan namun jika mengingat hasil tes kesuburan mereka rasanya tidak mungkin Franda akan hamil bersama Nino, sudah 7 tahun pernikahan mereka namun tidak sekalipun ada tanda-tanda kalau Franda sedang mengandung.


Franda masih berada dikamar mandi menunggu selama beberapa menit sampai hasilnya terlihat, sementara Ibu sudah sejak tadi meninggalkannya disana. Ia mondar-mandir di kamar mandi sambil sesekali melirik ke arah testpack diatas meja. Setelah hampir lima menit Franda mendekat dan memegang salah satu dari tiga testpack didepannya. Tangannya bergetar saat memegang benda yang menunjukkan garis dua itu, Ia menutup mulutnya tak percaya, lalu menangis karena rasa bahagia yang kini dirasakannya.


Franda terisak pelan dikamar mandi, Ia tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Rasa khawatir dengan Nino yang akan berpikiran buruk padanya menguap seketika, perasaan bahagia lebih mendominasi otaknya sekarang, tidak ada ruang untuk memikirkan hal lain. Franda melihat 2 testpack lain yang juga menunjukkan hasil yang sama, Franda hamil.


Wanita itu keluar dari kamar mandi dan langsung menghambur ke pelukan suaminya yang masih berdiri disamping ranjang, Ia seperti tidak menyadari keberadaan tiga wanita lain dikamarnya, "Sayang... We made it! We made it!" ucapnya sambil menunjukkan testpack lalu menciumi pipi Nino.


Nino diam terpaku, tidak beraksi apapun saat melihat benda itu ditangannya. Ia tidak tahu harus merasa senang atau tidak, hal ini sulit untuk dipercayainya. Kenapa Franda bisa hamil padahal setahu Nino dirinya tidak bisa memiliki keturunan, lantas anak siapa yang dikandung istrinya? Ia menatap kosong pada istrinya, pikirannya melayang jauh pada kecurigaan akan kehamilan istrinya.


Franda yang melihat sikap diam suaminya mulai khawatir, Ia tahu apa yang dipikirkan oleh Nino sekarang, "Bisa tinggalkan kami sebentar?" katanya pada Ibu, Mama, dan Mia.


Mereka mengangguk dan berlalu pergi. Memberikan waktu pada Franda dan Nino untuk berbicara, ketiganya sangat paham dengan sikap diam yang ditunjukkan Nino, kenyataan Franda hamil setelah tujuh tahun pernikahan dan hasil tes kesuburan Nino tentu menjadi pertanyaan besar.


"Sayang, aku hamil. Kita akan memiliki anak yang kita tunggu selama ini." ucap Franda sambil tersenyum setelah Ibu, Mama, dan Mia keluar dari kamar mereka.


Nino tersenyum menatap istrinya setelah cukup lama terdiam, air matanya mulai menetes, Ia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Pikiran buruk yang sebelumnya berkecamuk di kepalanya telah hilang sejak melihat testpack yang diberikan Franda, sikap diamnya ternyata bukan karena tidak percaya pada istrinya, namun karena rasa bahagianya yang tak bisa diungkapkannya. Nino memeluk erat Franda.


"Sayang, aku tidak bermimpi bukan?" tanyanya sambil menatap istrinya.

__ADS_1


Franda tersenyum, lalu menggeleng, "Aku hamil, benar-benar hamil. Kita akan memiliki anak!" katanya dengan meyakinkan suaminya.


Nino menciumi seluruh wajah Franda, tidak sesenti pun dilewatkannya. Rasa haru dan bahagia akan kehamilan istrinya tidak bisa disembunyikannya, di dalam hatinya Nino tidak perduli sekalipun Franda berselingkuh dan mengandung anak laki-laki lain, yang terpenting adalah wanita itu hamil sebagai istrinya. Gila, bukan? Entah kenapa Nino memikirkan sesuatu seperti itu, yang jelas mereka berdua sedang berbahagia dengan kehamilan Franda yang sudah dinantikan selama tujuh tahun ini.


__ADS_2