Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Before the big wave


__ADS_3

"Mom, apa kau tahu dimana kawanan kucing jenis Birman menetap sebelum kota kita dipenuhi bangunan?" Aku sedang menuangkan susu ke dalam mangkuk sereal sementara mendengar celotehan yang keluar dari mulut Ben.


Aku menunduk dan menatap wajahnya yang menggemaskan. Pertanyaan anakku membuatku terdiam sejenak sambil membayangkan kucing-kucing berbulu tebal itu berkeliaran di hutan, dipenuhi lumpur yang mengotori bulu-bulu putih dan mulus mereka.


Aku mengangkat bahu. "Di hutan, mungkin. Atau kita sudah menggusur mereka, tapi kurasa itu lebih baik karena Stormy tentu saja tidak ingin repot-repot mengetahui berapa harga sampo yang digunakannya untuk keramas. Belum lagi di tambah biaya ke salon dan kebutuhan lainnya." kataku, lalu mengerdipkan mata.


Wajah Ben jelas-jelas cemberut karena aku menyindir binatang peliharaannya yang baru beberapa hari lalu dia beli bersama Sean. Bibirnya menggerutu tanpa suara sebelum dia berbicara, dan aku terkikik melihat tingkahnya yang menggemaskan. "Mereka tidak mengeluh karena kita telah mengambil tempat tinggal mereka, dan kau bahkan selalu mengusir Stormy dari kamarmu, mom."


Mulutku terbuka lebar mendengar ucapannya yang seakan mengatakan aku bersikap kejam terhadap kucingnya. "Hei, dia mengacaukan kamarku dan merusak gaun tidurku!"


Ben mengelus bulu-bulu lebat Stormy dan berkata dengan ekspresi tanpa berdosa. "Kurasa itu bukan gaun, mom. Itu hanya selembar kain aneh yang kau jadikan sebagai penutup dadamu." Well, dia tidak salah. Aku memang menggunakan gaun tidur itu, namun tidak cukup untuk menutupi perutku yang buncit.


Aku menyerahkan mangkuk sereal milik Ben. "Informasimu terlalu detail, honey." Ben meraih mangkuk itu dari tanganku dan beranjak ke meja makan sementara aku memasukkan kotak seral kabinet dan berderap ke arah kulkas.


Aku memandangi isi kulkas selama beberapa saat sambil menaruh susu ke dalamnya, kemudian aku mendengar suara Miss Diana berbicara padaku dari dekat kompor. "Apa yang kau cari?"


"Pisang."


"Oh, kita kehabisan pisang. Darren belum mengisi rak buah padahal aku sudah mengatakannya berkali-kali, anak itu sibuk meniup Bugatti Mr. Fancy-Fancy Things-mu." gerutunya sambil mengaduk sup.


Aku tertawa, "Dan sekarang kau sudah tahu apa itu Bugatti, hm, kemajuan yang cukup berarti." gumamku menyindirnya selalu melangkah menuju meja konter dapur sambil meraih semangkuk serealku.


"Ya, aku bersyukur karena mulut besar Darren sedikit membantuku tentang mobil-mobil yang terparkir di basement. Kau tahu? Aku bahkan nyaris pingsan saat dia mengajakku melakukan tour singkat dan menjelaskan tentang semua mobil. Apa kau pernah tahu berapa harganya?"


Aku mengangkat bahu dan menyuapkan sesendok sereal ke mulutku. "Kau tahu aku tidak pernah peduli dengan mobilnya, Miss. Sama sekali tidak menarik bagiku."

__ADS_1


Miss Diana menatapku sambil menyeringai. "Ya, karena dia sendiri lebih menarik bagimu." Sekarang dia menggeleng-gelengkan kepala. "Aku sudah lupa kapan terakhir kali aku melihat lehermu bersih." katanya sambil menunjuk ke arah leherku yang masih terdapat jejak mulut Sean, lalu kembali mengaduk supnya.


Aku tertawa pelan, menyuapkan sesendok sereal lagi. "Dia suamiku, wajar saja jika aku tergila-gila padanya."


"Aku yakin kalian sedang menggosipkanku."


Aku tersentak saat tiba-tiba mendengar suara Sean dari belakangku dan aku menoleh. Dia tampak sudah siap untuk berangkat ke kantor. Aku terpana dengan penampilannya yang maskulin, setelan tiga lapis yang membungkus tubuhnya benar-benar sempurna dalam menonjolkan otot-otot dada dan lengannya yang keras. "Maaf, aku tidak membangunkanmu. Kupikir kau membutuhkan istirahat lebih lama." gumamku seraya memutar kursi menghadapnya, lalu merapikan dasinya.


Dia mencium keningku sekilas, kemudian membungkuk untuk mencium perutku. Kedua tangannya ikut mengusap pelan disana. "Ada meeting penting dengan investor dari Singapura pagi ini." kata Sean, menegakkan tubuhnya kembali.


"Sarapan?"


Sean menggeleng. "Kopi saja." Dia duduk di kursi sementara aku berjalan untuk membuatkan kopi.


"Ya, jangan sampai kelelahan. Ingat kandunganmu, sayang." Aku mengangguk dan tersenyum padanya.


Sementara aku menungguku membuat kopi, Sean membuka tabletnya dan memeriksa beberapa pekerjaan disana. Aku memperhatikannya dari tempatku berdiri, menyaksikan pria seperti Sean duduk tenang adalah hiburan tersendiri bagiku.


Terkadang aku mengumpat dalam hati kepada diriku sendiri yang tak bisa menahan hasrat tiap kali aku memandanginya. Panas tubuhnya benar-benas terasa menyengatku saat jarak kami berdekatan. Aku merasa gila karena tidak pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya, bahkan dengan mantan suamiku pun perasaanku tidak sekuat ini.


Sean berbalik menghadapku, lalu berdiri dan berjalan menghampiriku. Dia begitu anggun. Kedua tangannya memelukku dari belakang dab telapak tangannya yang lembut mengusap perutku. Ini adalah kegiatan yang paling disukainya semenjak aku hamil.


"You distracting me." Aku protes saat tangannya mulai nakal memanjat ke dadaku.


Dia terkekeh. "Kau terlalu mudah terpancing, Franda." bisiknya di telingaku.

__ADS_1


Aku berbalik menghadapnya. Tatapannya sangat membakar dan aku selalu goyah jika ditatap seperti itu. Aku mendongak dan balas berbisik di telinganya. "Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan sekarang, tapi kau perlu tahu bahwa kehadiranmu di dekatku adalah sesuatu yang harus kuantisipasi. Kau terlalu kuat, keras, menggiurkan dan gila-gilaan."


Geraman rendah bergetar di tenggorokannya. "Hm, kau wanita yang sangat cerdas, Franda. Kau melihat ke dalam mataku, menembus sampai ke dalam diriku."


Mulutku yang gemetar mengucapkan perpisahan sebelum dorongan untuk menariknya kembali ke kamar semakin besar. "Kembali ke tempat dudukmu dan aku akan segera membawakan kopi untukmu." Dengan kedua tangan aku membalikkan tubuhnya lalu mendorong menjauh dariku.


Senyumnya yang menawan sempat menerjangku sekilas sebelum dia benar-benar melangkah.


Aku berderap bergabung bersamanya dengan segelas kopi di tanganku. "Here you go." kataku, meletakkan kopi di hadapannya.


Sean mengalihkan pandangannya dari tablet, dengan mulutnya yang melengkung indah dia menatapku. "Terima kasih, malaikatku."


Aku membalas senyumnya dengan sungguh-sungguh. "Aku melakukannya karena aku mencintaimu, Warner. Kau beruntung karena hanya kau satu-satunya pria yang mendapatkan perhatian itu dariku."


"Benarkah? Kau membuatku merasa istimewa, Franda."


"Kau memang istimewa untukku, dan kuharap kau merasakan hal yang sama."


"Tuhan tahu bagaimana aku memujamu, Franda," balasnya serak dan tegas, sampai ujung kakiku mengerut karena senang. Dua detik kemudian suaranya berubah tenang dan santai. "Kau tahu? Aku sangat ingin menghembuskan napas di helaian rambutmu untuk mengeringkannya, tapi aku tahu aku tidak mungkin bisa melakukannya tanpa berpikir untuk menyentuhmu. Kegiatan itu sudah pasti akan melenceng sangat jauh, dan aku tidak sampai hati kalau kau harus keramas lagi sementara rambutmu sendiri belum sering."


Aku tertawa. Tergoda pada kehangatan selera humornya, membuatku semakin mencintainya. Aku lanjut memakan sereal milikku sementara Sean menikmati kopinya sambil memandangi tablet.


Hatiku merasa tenang dan nyaman dengan situasi kami saat ini. Sungguh, momen kecil seperti inilah yang selalu kuinginkan saat bersama Sean. Tidak ada hiruk-pikuk, hanya ada kedamaian. Tapi jauh didalam hati aku juga menyadari bahwa akan selalu ada saat-saat dimana masalah datang menerjang kami.


Seperti sesuatu yang tidak pernah kuduga akan terjadi dalam hidupku setelah hari ini. Sesuatu yang berpotensi menghancurkan semuanya, hubungan pernikahanku, dan diriku sendiri.

__ADS_1


__ADS_2