Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
The Past


__ADS_3

Keramaian, malam yang tak pernah berujung, dan lalu lintas yang padat. Adalah tiga hal yang paling tak kusukai dari jakarta. Orang-orang tetap terlihat berkerumun di setiap sudut kota bagian manapun, bercerita tentang segala macam kejadian selama sehari sampai tak ingat waktu. Jalanan tak pernah benar-benar kosong, seakan tidak mengijinkan seorang pun berada dalam keadaan tenang dan sepi. Kota ini sudah begitu sejak pertama kali aku membuka mata dan menatap dunia, walaupun tentu dulu tak separah sekarang.


Aku dan Sean baru saja menghabiskan panekuk madu dengan taburan raspberi yang kami pesan dari salah satu restoran sebagai menu sarapan sekaligus makan siang kami. Dan kini kami sedang bersantai di ruang keluarga, menghabiskan akhir pekan dengan bermalas-malasan sebelum Ben kembali dari rumah Nino. Aku berbaring dengan kepala berada di pahanya dan memainkan ponsel sementara dia duduk bersandar di sofa sambil menonton acara televisi yang menceritakan kehidupan pebisnis amerika, Jeff Bezos.


"Kau pasti sedang berpikir cara menggodaku nanti malam." tuduh Sean.


Aku mendongak menatapnya dan tertawa menanggapi ucapannya, lalu kembali menatap layar ponsel. Belum lama kami kembali dari hotel, dan dia sudah menggodaku lagi.


"Apa yang kau rencanakan untuk malam ini?" tanyanya lagi.


"Tidak ada." gumamku tak acuh tanpa mengalihkan pandangan dari ponselku. Aku sedang sibuk memilih foto yang akan dimuat di situs WE Fashion's Style besok pagi. Aku tak menyangka mereka akan bekerja secepat itu, bahkan tidak mengajakku ikut serta dalam proses pemotretan.


"Sayang." panggil Sean.


Suaranya yang terdengar berat dan serius membuatku menghentikan kegiatanku, lalu menoleh padanya. "Hm."

__ADS_1


Sean diam. Matanya mengecil seolah sedang berpikir untuk mengeluarkan isi kepalanya. Tak lama kemudian dia berdeham. "Boleh aku bertanya sesuatu?"


Aku menautkan alis karena heran dengan ucapannya yang tiba-tiba. Merasa dia akan menanyakan sesuatu yang serius, aku bangkit dan duduk menghadapnya. Mataku menatap matanya. "Apa?" tanyaku.


Sean terlihat menghela napas. Raut wajahnya yang gelisah membuatku semakin penasaran dengan apa yang mengganggu pikirannya. Tidak biasanya Sean ragu-ragu seperti ini. Dia bukan tipe pria yang sulit mengungkapkan sesuatu. Aku masih menunggunya beberapa saat sampai dia bersuara. "Jangan tersinggung dengan pertanyaanku, oke?" gumamnya memperingatkan. Keningku berkerut, namun segera mengangguk.


"Apa yang membuatmu memaafkan mantan suamimu berkali-kali?" Aku membulatkan mata dan tersenyum geli karena kupikir dia akan menanyakan hal lain. Mulutku baru saja akan menjawabnya, tapi segera kutahan karena Sean berbicara lagi. "Dengar... aku tak bermaksud mengatakan kau bodoh. Aku hanya tidak mengerti jalan pikiranmu. Dia mengkhianatimu berkali-kali, tapi kau selalu memaafkannya."


Aku terdiam sejenak. Tanganku meraih tangannya dan membawanya ke pangkuanku. Bibirku melengkung menandakan bahwa aku tak keberatan dengan pertanyaannya. Lagi pula, aku sudah melupakan rasa sakit akibat perceraianku dulu. "Cinta." kataku memulai. Mataku menatap dalam pada matanya yang biru. Menuntut agar dia melihat kejujuran yang akan kusampaikan.


Sambil memegang perutku yang terasa melilit akibat tertawa, aku menatap Sean yang juga sedang tertawa geli. Aku memekik pelan karena dia baru saja menyentil keningku. "Bersyukurlah karena aku menyelamatkanmu hari itu." gumamnya di sela-sela tawanya.


Aku memajukan wajah dan mencium bibirnya. "Terimakasih, Warner." ucapku dengan sungguh-sungguh. Sean mengangguk.


"Oke. Sekarang, lanjutkan ucapanmu."

__ADS_1


Aku berdeham sekali, mencoba kembali serius. "Nino cinta pertamaku. Dia pria pertama yang hadir dalam kehidupan pribadiku. Aku selalu merasa dia yang terbaik sampai aku menikah dengannya dan menghabiskan waktu selama bertahun-tahun bersamanya. Tidak ada pernikahan yang mudah, Sean. Akan selalu ada masalah yang datang dan mengguncang, namun kami selalu berhasil melewatinya."


Aku berhenti sejenak. Membuang pandangan ke arah gedung di sekeliling tempat tinggal kami sambil mengingat masa-masa ketika aku masih menikah dengan Nino. Hatiku terenyuh membayangkan betapa bahagianya diriku dulu sampai tidak menyadari sesuatu telah mengancam kehidupan rumah tanggaku. Aku begitu terbuai akan sikap manis yang selalu ditunjukkan Nino di hadapanku hingga membuatku lengah.


Pikiranku masih melayang jauh sementara wajahku mulai terasa panas menahan air mata. Aku tersenyum getir, bibir dan sekujur tubuhku gemetar. Aku baru saja tersadar bahwa ternyata aku belum benar-benar melupakan rasa sakit hatiku. Luka yang dulu kini kembali terasa menyakitkan. Mataku terpejam dan aku menelan ludah pahit, sepahit kenyataan yang mengguncang hidupku di masa lalu.


Aku tersentak saat Sean tiba-tiba menarikku ke dalam dekapannya lalu berusaha menenangkanku dengan mengusap pelan punggungku. Aku menangis di dadanya dan meluapkan semua perasaan yang kutahan selama ini. Kehidupanku memang jauh lebih bahagia ketika aku menikah dengan Sean, tapi itu tak bisa menutupi kenyataan bahwa aku pernah terluka sebelumnya. Menyembuhkan rasa sakit di hati tidak semudah ketika aku berjuang mengembalikan kondisi tubuhku akibat kecelakaan beberapa bulan lalu. Ini berkali-kali lipat jauh lebih sulit.


Masih berada dalam dekapannya, aku pun melanjutkan. "Kami adalah tim yang hebat menyangkut penyelesaian masalah, setidaknya itu yang terlihat dari sudut pandangku. Semuanya terlihat begitu sempurna... begitu luar biasa. Sampai aku mengetahui Nino berbohong untuk pertama kalinya setelah tujuh tahun kami menikah dengan menutupi hasil tes kesuburannya dariku selama lima tahun. Dan berselang beberapa hari setelah itu, aku juga mengetahui dia mengkhianatiku."


"Hantaman bertubi-tubi datang menyerangku tanpa peringatan. Semuanya begitu cepat dan mendadak sampai aku tidak tahu harus melakukan apa. Aku tidak memiliki persiapan untuk menghadapi situasi seperti itu. Lagi pula, siapa yang akan mempersiapkan diri menerima pengkhianatan. Tak seorang pun akan melakukannya."


"Sampai aku memilih memaafkan dan menerimanya kembali meskipun aku tahu bahwa keadaan tidak akan pernah sama lagi, tapi tidak ada salahnya mencoba. Aku ingin memberi kesempatan pada kami untuk memperbaiki apa yang sudah rusak, mengembalikan sesuatu pada tempat yang seharusnya, menata ulang pernikahan yang sudah kami jalani selama bertahun-tahun."


"Dalam pengamatanku, kami berhasil. Hatiku bersorak gembira karena bangga terhadap usaha kami berdua dalam memperbaiki diri. Kebahagiaan kami semakin sempurna ketika pada akhirnya aku hamil setelah tujuh tahun pernikahan. Bayangkan saja, tujuh tahun lamanya aku menunggu saat-saat itu terjadi dalam hidupku. Tapi itu tak berlangsung lama. Aku mendapati dia masih berhubungan dengan wanita itu. Percayalah, aku ingin sekali berlari menjauh dan meninggalkannya hari itu. Tapi aku memaafkannya lagi karena merasa anakku membutuhkannya."

__ADS_1


"Dan disitu kesalahan terbesarmu." Aku mendongak, seketika wajahku memberengut menatap Sean.


__ADS_2