Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Its hard


__ADS_3

Franda keluar dari kamar mandi setelah hampir sejam berendam untuk menenangkan diri. Ia melihat Nino sedang mengumpulkan pecahan kaca meja yang dihancurkannya tadi. Franda cuek, Ia berjalan keluar kamar dan meninggalkan suaminya disana yang menatap sedih padanya.


"Mbak, aku mau makan spaghetti. Bisa tolong buatkan?" kata Franda meminta tolong pada Mbak Ika yang kebetulan sedang berada didapur saat Ia turun.


"Sebentar ya, Bu." jawab Mbak Ika, langsung menyiapkan bahan spaghetti yang akan dimasaknya.


Franda duduk diruang keluarga, menyalakan tv dan menonton sembari menunggu Mbak Ika memasak makanannya. Ia tidak benar-benar menonton, pikirannya melayang jauh meskipun matanya menatap tv yang menayangkan acara komedi didepannya. Pandangannya teralih ke ponsel yang berdering disampingnya.


"Ya?" katanya setelah mengangkat telepon.


"Kau baik-baik saja?" tanya Sean, ternyata pria itu yang menelepon.


"Ya, aku baik-baik saja. Aku minta maaf untuk tadi, aku tidak tahu kenapa dia bisa ada disitu" Franda meminta maaf saat teringat Nino yang datang dan mengacaukan makan siang mereka.


"Tidak apa-apa... Kau sudah berbaikan dengannya?" tanya Sean penasaran.


"Tidak, aku justru semakin kesal dengannya. Bagaimana bisa dia ingin menceraikanku dengan alasan tidak bisa memberiku anak, aku tidak mengerti jalan pikirannya" Franda menjawab dengan wajah kesal.


"Kau harus mengerti perasaannya juga, mungkin dia merasa bersalah karena membohongimu selama ini." kata Sean bijak, Ia memang sangat ingin bersama Franda tapi Ia juga tidak ingin melihat wanita itu sedih. Sean sangat mengerti kalau Franda begitu mencintai suaminya.


"Ahh, sudahlah! Aku bosan membicarakannya terus menerus. Apa yang kau lakukan hari ini? Apakah ada kasus baru, detektif Sean?" tanya Franda bercanda, Ia tidak mengetahui bahwa Sean bukan seorang detektif sungguhan seperti yang diketahuinya selama ini.


"Tidak, aku tidak mengambil pekerjaan apapun setelah kau memintaku mengurus masalahmu. Aku harus fokus pada satu hal agar dapat menyelesaikannya dengan baik." jawab Sean berbohong, satu-satunya orang yang dibantunya adalah Franda walaupun yang melakukannya adalah orang suruhannya.


"Wah, sepertinya aku mendapat pelayanan ekslusif darimu, hm?" kata Franda sambil menoleh kearah suaminya yang berjalan mendekat dan menggumamkan sesuatu.


"Sean, aku akan menghubungimu nanti. Ada sesuatu yang harus kulakukan, bye!" Franda melanjutkan dan menutup sambungan telepon.


"Kau berbicara dengan pria direstoran itu? Sepertinya kalian sangat dekat" kata Nino yang sudah duduk disamping Franda.


"Bukan urusanmu!" jawab Franda ketus.

__ADS_1


"Well, itu akan menjadi urusanku ketika istriku mencoba membalas pengkhianatanku." ucap Nino santai.


"Jangan samakan aku denganmu, kau pikir aku akan melakukan hal rendahan sepertimu? Hah, tidur dengan sekretarismu saat istrimu menunggumu dirumah!" Franda menatap sinis pada Nino.


"Jangan membahasnya lagi, aku tidak akan melupakan kesalahanku meskipun kau tidak mengingatnya." Nino menunduk dan memejamkan mata.


"Aku tidak akan melupakannya!" bentak Franda, suaranya membuat Mbak Ika yang sedang memasak terkejut.


"Mbak, bisa tinggalkan kami berdua?" kata Nino pada asisten rumah tangga itu, Ia tidak ingin pertengkaran mereka dilihat oleh siapapun.


"Tapi, Pak..." Mbak Ika belum menyelesaikan kata-katanya ketika Nino kembali bersuara.


"Tinggalkan saja, saya yang akan menyelesaikannya nanti." perintahnya tegas, dan Mbak ika langsung pergi. Nino menatap Franda yang tak senang dengannya.


"Sayang, aku lelah jika harus seperti ini terus. Aku tidak tahu harus melakukan apa agar kau memaafkanku, aku tidak ingin kita bertengkar setiap hari. Apa yang harus kulakukan, Sayang?" tanya Nino memelas, wajahnya menunjukkan ekspresi sangat tertekan.


"Kau pikir aku tidak lelah? Kau pikir aku sedang menikmati sakit hatiku karena perbuatanmu? Kau mengatakannya seolah-olah aku sedang bermain marah-marahan denganmu." Franda kembali mengamuk.


"Aku tidak bisa menahannya ketika melihat wajahmu yang menjijikkan itu!" Franda membuang muka kesal ketika mengatakan itu.


Nino sangat sakit hati mendengar kata-kata istrinya namun Ia memaklumi sikap istrinya seperti itu juga karena dirinya. Nino hanya tertunduk dan tidak mengatakan apapun.


Franda yang menyadari itu melirik kearah suaminya, Ia mulai menyesali kata-katanya yang keterlaluan.


"Aku minta maaf." katanya datar.


"Tidak apa-apa, aku memang pantas mendapatkannya." jawab Nino masih tertunduk dan mencerna seluruh rangkaian kejadian yang menyebabkan pertengkaran mereka yang disebabkan oleh dirinya sendiri.


Franda semakin merasa bersalah setelah mendengar itu. Ia menghadap suaminya, menaikkan kakinya sebelah kesofa dan meraih tangan Nino.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, aku hanya belum bisa menerima semua ini. Selama menikah denganmu aku tidak pernah membayangkan hal ini terjadi pada kita, aku selalu percaya kau akan menghormatiku sebagai istrimu dan kau pasti menjaga dirimu dari wanita manapun, aku hanya tidak menyangka kau akan melakukannya, Sayang..." kata Franda, Nino bisa mendengar istrinya sangat sedih saat ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, maafkan suamimu yang bodoh ini, aku benar-benar menyesalinya, Sayang." Nino mengelus wajah Franda dengan ibu jarinya.


"Sudahlah, aku tidak ingin membicarakannya sekarang. Bisakah kau menyiapkan spaghetti-ku? Aku benar-benar lapar..." kata Franda.


"Dengan senang hati" jawab Nino tersenyum dan langsung kedapur menyelesaikan masakan yang tadi ditinggalkan Mbak Ika.


Franda terus mengamati suaminya yang sedang fokus memasak, pemandangan itu sedikit membuatnya tersentuh. Kesalahan yang dilakukan Nino seakan menguap saat melihat bagaimana Ia menuruti permintaan dirinya, bagaimanapun selama ini Nino selalu memanjakan Franda, tidak sedikitpun berubah meski Ia telah berkhianat dibelakang tanpa disadari oleh istrinya.


Franda sangat menyadari Nino bahwa sungguh-sungguh dalam mencintainya, namun Ia tidak bisa menerima pengkhianatan yang dilakukan pria itu begitu saja, Franda belum bisa memastikan langkah apa yang harus diambilnya terhadap pernikahan mereka. Bertahan ataupun berpisah akan sama sulitnya bagi mereka, tidak ada pilihan yang mudah untuk diambil.


Franda menarik napas dalam, Ia berjalan mendekati suaminya dan memeluk dari belakang.


"Aku menyukai saat kita seperti ini, bolehkah aku berharap akan seperti ini selamanya?" kata Franda. Ia bersender manja dipunggung suaminya, menikmati tubuh yang selalu hangat itu.


"Sayang, kau bicara apa? Tentu saja kita akan terus seperti ini!" jawab Nino sambil terus fokus memasak, Ia tidak ingin merusak momen dengan menanggapi serius kata-kata istrinya.


"Aku tidak bisa percaya padamu begitu saja, aku belum mampu memaafkanmu dan melupakan semuanya, tapi aku juga tidak siap harus kehilanganmu, entahlah aku bingung dengan diriku sendiri." kata Franda pelan, diikuti tarikan napas dalam lagi.


"Sayang, jangan menyiksa dirimu karena kesalahanku. Aku yang bersalah, aku akan mengikuti apapun yang kau katakan." Nino berbalik, tangannya menangkup wajah istrinya yang terlihat mungil di telapak tangannya yang besar.


"Kau masih berhubungan dengannya? Apakah dia menghubungimu?" tanya Franda ragu, Ia sudah siap jika Nino mengucapkan sesuatu yang menyakitinya.


"Tidak, hanya satu kali saat aku memintanya berhenti bekerja. Dia juga tidak menghubungiku setelah itu. Sayang, Jenny benar-benar merasa bersalah, dia memintaku untuk mempertemukanmu dengannya tapi aku tidak mau" kata Nino jujur.


"Kenapa?" Franda penasaran.


"Aku tidak ingin menambah masalah, Sayang. Kau pasti tidak akan nyaman bertemu dengannya, dan juga aku mengkhawatirkanmu kalau-kalau kau tidak bisa menahan diri untuk tidak memukulnya. Aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu" Nino menjelaskan, namun tentu saja Franda tidak akan percaya dengan mudah.


"Kau yakin karena khawatir padaku, dan bukan sebaliknya?" Franda bertanya mengungkapkan kecurigaannya.


"Sayang, percaya padaku! Aku hanya mengkhawatirkanmu, aku tidak masalah kalau kau memakinya tapi akan berbeda saat kau memukulnya. Jenny bisa saja tidak terima dan menuntutmu, dan aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Jadi, jangan berpikiran yang aneh-aneh!" kata Nino sambil menyentil kening istrinya.

__ADS_1


"Aww, sakit!" Franda balas memukul dada suaminya, pelan namun cukup terasa. Keduanya tertawa setelah itu.


__ADS_2