
"Dhea, kau yakin mau pulang sendiri?" Franda Dan Dhea sudah keluar dari ruangan Sean, keduanya baru saja menginjak akan berpisah karena Dhea mengatakan akan pulang sendiri menggunakan taksi.
"Ya, aku ingin mampir ke supermarket sebentar, pulanglah duluan." ucap Dhea. "Dika sudah menunggumu," Dhea menunjuk mobil Franda yang sudah menunggu di depan lobby gedung berlantai 46 itu.
"Baiklah, aku pulang." Franda langsung berjalan dan masuk ke mobilnya.
Dhea menatap Franda dengan sedih, Ia merasa kasihan pada wanita kepala tiga itu. Franda pasti akan sangat kacau kali ini, pikir Dhea. Alih-alih pulang dan mampir ke supermarket, Dhea kembali masuk ke dalam lift, menekan angka 46 sebagai tujuannya, lantai teratas dari gedung tersebut.
Setelah hampir 8 menit berada di dalam lift khusus yang mengantarnya, Franda tiba di lantai teratas gedung pencakar langit tersebut. Keluar dari lift, dirinya langsung masuk ke ruangan mewah berdinding kaca, menampilkan pemandangan kota jakarta sejauh yang bisa di lihatnya.
"Kak! Kenapa kau memberitahunya?" seru Dhea pada Sean, yang tampak sedang bersantai di salah satu sofa sambil memegang segelas wine di tangan kanan.
Sean menoleh, tidak terkejut sedikitput dengan kedatangan adik sepupunya itu. "Bisakah kau duduk dulu sebelum menyerangku?" ucap Sean malas, adik sepupunya ini pasti akan mencercanya habis-habisan.
Dhea menghempaskan bokongnya pada sofa disamping Sean, tas tangan yang menempel di bahunya dilempar begitu saja, mendarat sempurna di sebuah meja kaca.
__ADS_1
"Katakan padaku, kenapa kau memberitahu Franda? Dia bisa gila saat melihat foto-foto itu!"
Sean menghela napas, menyentuh bibir gelas dengan gerakan memutar telunjuknya, "Sudah seharusnya dia tahu kelakuan suaminya. Aku tidak bisa berdiam diri dan membiarkannya terus di bodohi oleh b*jingan itu."
"Tapi, Kak, itu bukan urusanmu. Biarkan dia mengetahuinya sendiri, kau tidak harus terlibat dalam urusan rumah tangga orang lain. Apapun yang dilakukan Nino dibelakang Franda tidak ada hubungannya denganmu, jangan masuk ke tempat yang bukan wilayahmu." semprot Dhea.
"Aku mencintainya! Mana mungkin aku membiarkannya ditipu terus-menerus, Franda tidak akan pernah tahu karena mereka sangat pintar menutupinya." Sean berdiri, berjalan ke arah tembok kaca, pandangannya tertuju pada gedung lain yang lebih rendah. Meneguk sedikit wine digelasnya.
Dhea ikut bangkit dan mendekati kakaknya, "Kak, bukan begitu caranya mencintai. Kau tidak bisa merusak rumah tangga orang lain dengan mengadu domba seperti itu!"
"Aku tidak mengadu domba! Yang ku tunjukkan semuanya fakta, tidak ada kebohongan. Aku hanya ingin dia membuka mata dan melihat siapa sesungguhnya suaminya itu. Aku kasihan padanya, dia begitu memuja b*jingan itu tanpa tahu kebusukannya!" ucap Sean menggebu-gebu. Hatinya begitu sesak kala mengetahui Franda, wanita yang dicintainya diam-diam sejak kuliah dulu bahkan sampai detik ini, terus disakiti oleh Nino. Sean tidak akan membiarkannya kali ini, Sean harus mendapatkan Franda, Ia tidak akan membiarkan Nino menyakitinya lagi.
Dhea memijat pelipisnya, kepalanya mulai pusing menghadapi sikap keras Sean. "Bagaimana kalau Franda justru menjauhimu karena masalah ini? Aku tidak mau usahaku membantumu sia-sia. Kau memintaku berada di sisinya dan mendampinginya di butik agar kau bisa memantaunya, tapi kau juga yang menghancurkannya seperti ini. Franda bukan wanita yang mudah ditaklukkan, aku yakin dia pasti akan memecatku besok, dan kalau itu terjadi sudah dipastikan kau akan kehilangan kesempatanmu!" balas Dhea dengan mengancam.
"Jangan terlalu berlebihan, Franda tidak mungkin menjauhiku karena ini. Aku yakin dia akan berterimakasih karena telah memberitahunya." ucap Sean dengan keyakinan penuh.
__ADS_1
"Hah, kau benar-benar tidak mengenalnya, Kak! Franda tidak semudah itu! Aku yang setiap hari berurusan dengannya, aku tahu jelas bagaimana sifat wanita pujaanmu itu. Berkali-kali disakiti oleh suaminya pasti meninggalkan bekas yang sulit untuk dihapus. Anggap saja mereka bercerai setelah ini, apa kau pikir kau akan mendapatkannya dengan mudah? Oh, tidak! Kau harus bekerja lebih keras lagi nanti."
"Aku sudah bekerja keras selama ini, kau pikir aku tidak kesulitan menahan diri untuk menjauhinya? Apa kau pikir mudah bagiku melihatnya bersama pria lain meskipun itu suaminya? Aku tahu ini bukan salahnya, ini murni kesalahanku karena terlalu mencintainya sejak dulu dan tidak pernah menghilangkannya dari hatiku, tapi aku tidak bisa menahannya lebih lama lagi, aku harus bersamanya kali ini, apapun yang terjadi."
Kedua alis Dhea tertaut mendengar penuturan Sean, sungguh kakaknya ini adalah pria luar biasa. Pintar dalam urusan bisnis tapi bodoh dalam hal percintaan, usia matangnya tak cukup membuatnya mampu mengendalikan diri pada perasaan. Rasa cintanya pada Franda membuatnya buta, bahkan Sean tidak tahu bagaimana cara mendekati wanita dengan baik. Sean memilih memendam perasaannya sendiri selama ini, menunggu saat yang tepat untuk mendapatkan Franda.
Wajah tampan, kesuksesan, dan kehidupannya yang mewah tentu saja membuat para gadis mengantri, berebut mencari perhatiannya, namun tak satupun yang bisa menggantikan posisi Franda di hatinya. Beberapa kali Sean berhubungan dengan wanita, mencoba membuka diri dan melupakan Franda yang sudah bahagia bersama Nino, namun selalu berakhir hanya dalam hitungan bulan.
"Aku tidak tahu lagi harus mengatakan apa padamu, Kak. Kita tunggu dan lihat apa yang akan terjadi besok, semoga Franda tidak menjauhimu dan membuat usahaku membantumi sia-sia. Aku ingin istirahat." Dhea berjalan meninggalkan Sean, menuju salah satu kamar disana, kamar miliknya yang Ia tempati selama ini tanpa diketahui oleh Franda.
Dhea tidak pernah menceritakan apapun tentang Sean pada Franda, sebisa mungkin Ia menutupi fakta bahwa Sean yang memintanya bekerja dengan Franda, menjaga dan mengawasinya. Perihal butik yang semakin terkenal juga tak lepas dari campur tangan Sean, pria itu selalu membantu Franda melalui Dhea.
Sean berbalik, mengisi kembali gelasnya dan menenggak habis wine yang baru dituangnya. Pikirannya mulai berkelana, ucapan Dhea sebelumnya mulai mempengaruhi isi kepalanya. Apakah Franda akan marah padanya setelah ini, apakah wanita itu akan menjauh seperti yanh dikatakan Dhea.
"Arrrgghh!"
__ADS_1