
Aku melompat turun bahkan sebelum mobil benar-benar berhenti sempurna, meninggalkan Pritta yang berusaha menghentikanku. Hatiku sedikit tenang melihat mobil Porsche yang tadi ditumpangi suamiku baru saja menjauh dari lobby. Setidaknya suamiku pasti berada dikantornya dan aku harus menemuinya sekarang sebelum kemarahannya semakin menjadi-jadi.
Aku tak peduli lagi pada orang-orang yang menatap heran padaku. Tentu saja mereka heran melihat istri bos mereka berlari dengan high heels seperti orang gila sementara belum lama suaminya lewat. Dengan napas tersengal-sengal dan tangan gemetar aku menekan tombol lift berulang kali.
"Mam, tolong perhatikan langkahmu. Kau sedang hamil." Oh, Tuhan. Aku bahkan melupakan kehamilanku.
Pritta menahan tubuhku yang setengah limbung. Dengan tatapan iba, dia berusaha menenangkanku. "Tenanglah, Mam. Tuan hanya terkejut."
"Ya," desisku. "Tentu saja dia terkejut. Dia baru kembali setelah seminggu lebih kami berpisah, dan aku memberinya sambutan paling mengerikan."
Aku mengelus tengkukku yang tiba-tiba merinding. Membayangkan kemarahannya yang terjadi beberapa waktu lalu membuatku ketakutan setengah mati. Entah apa yang bisa menyelamatkanku kali ini, Sean benar-benar akan mencincang habis tubuhku. Oh, aku berharap semoga kabar kehamilanku bisa sedikit mengurangi amarahnya.
Tanganku masih gemetar berdiri menunggu didepan lift yang tak kunjung membuka. Tanpa sadar jariku meremas gaun yang kukenakan. Aku terus bergerak gelisah sementara Pritta sibuk menyuruh orang yang melihat kami agar segera menjauh. Sial, mereka pasti bahagia menyaksikan diriku yang kesetanan.
Setelah lift membuka, aku langsung menghambur kedalam, menekan tombol dengan tak sabar. "Pritta, kenapa dia bisa ada disini? Bukankah seharusnya masih di jepang?" tanyaku. Mungkin dia mengetahui sesuatu. Tapi dia menggeleng.
__ADS_1
"Aku tidak tahu, Mam. Aku hanya memberitahu Dave kalau Anda pingsan tadi." Gadis itu terlihat sama takutnya denganku. Wajahnya memucat dan kakinya bergerak gelisah. Aku semakin takut suamiku akan melimpahkan kemarahan pada gadis baik itu. Kesalahanku jelas tak termaafkan dan dia berhak marah, tapi jika dia menghukum orang lain atas perbuatanku tentu lebih menyakitkan bagiku.
Lift berhenti tepat di lantai 11. Lantai dimana ruangan suamiku berada. Kemudian tiba-tiba saja aku seakan kehabisan napas saat akan membuka pintu ruangan suamiku. Aku mundur beberapa langkah, berniat berbalik dan menunggunya dirumah saja. Jangan sampai orang lain melihat pertengkaran kami, apalagi karyawannya.
"Anda tidak masuk, Nyonya?" Aku berpaling pada Selena, sekretaris suamiku yang selalu terlihat menawan. Bahkan dalam balutan setelan trouser suit yang membungkus tubuh rampingnya.
Belum sempat aku menjawab, pintu ruang kerja suamiku terbuka. Aku kembali gemetar melihat pria yang begitu kucintai berdiri tak jauh dariku. Wajahnya mengeras. Kilat matanya menggelap menatap tajam padaku. Tidak ada lagi tatapan hangat dan lembut dari matanya yang sebiru lautan. "Sean," desisku, nyaris berbisik. Ingin sekali rasanya aku menghambur dan memeluknya, tapi nyaliku menciut saat dia membuang muka dan berbicara pada Selena.
"Suruh Dave ke ruanganku sekarang dan jangan biarkan siapapun masuk selain dia." perintahnya pada Selena.
Aku meremas tangan dan menelan ludah. Suamiku yang tampan benar-benar marah dan tak meresponku sedikitpun. Dia langsung masuk, membanting pintu dengan keras sampai jantungku nyaris melompat keluar. Tubuhku melemas. Beruntung Pritta menahanku lagi sebelum aku benar-benar tersungkur. "Mam, Anda baik-baik saja?"
Dengan keberanian yang kupaksakan, aku membuka pintu dan berjalan mendekati suamiku yang duduk di kursi meja kerjanya sambil menatap layar laptop. "Sean." ucapku dengan suara bergetar. Aku bisa merasakan mataku berair, buram menatap suamiku yang tetap diam. Sekujur tubuhku mendadak dingin.
"Sean..." panggilku lagi, kali ini suaraku lebih keras namun tetap bergetar. Dia masih diam, belum mau mengalihkan wajah dari laptop dihadapannya.
__ADS_1
Sampai tadi pagi aku masih sangat yakin kalau diriku adalah samudra berbahaya baginya. Aku akan menjadi pusaran besar yang bersiap untuk menenggelamkan dirinya kapan saja. Sean tidak akan bisa melawan arus derasku. Dia hanya bisa mengikuti aliran arusku saja sementara berharap dia akan tiba di palung samudraku. Aku menariknya dan dia akan kehilangan kontrolnya. Dia akan melupakan apa saja dan menghamburkan dirinya padaku.
Dan sekarang mendadak aku merasa gugup dengan kepercayaan diriku. Aku meremas gaun sementara menunggunya mengangkat kepala dan menatapku. Kepercayaan diriku yang tinggi menguap begitu melihat raut kegusaran yang tak mampu ditutupinya. Aku tahu dia sedang menahan diri untuk tidak membentakku. Rahangnya mengeras sementara dua jarinya menekan bolpen kuat-kuat sampai kedua jari itu memutih.
Dengan jari-jari saling meremas didepan dada, aku terpejam menarik napas sekali lagi lalu maju beberapa langkah sampai aku tepat berada disampingnya. Aku mulai tidak sabar menghadapi sikap diamnya. Jika wanita lain akan melarikan diri dari kemarahan seseorang, itu tidak akan terjadi padaku. "Sean, aku..." belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, dia memutar kepala dan menatapku penuh api.
"Apa?" cetusnya dingin. Kilat di matanya seakan menusuk jantung sampai tembus melukai hatiku. "Kau apa, Franda? Apakah kau ingin mengatakan bahwa kau bersenang-senang dengannya selama aku pergi?" Aku sontak memundurkan kepala dan menyipitkan mata. Jantungku berdegup cepat merespon tuduhannya yang sangat tak masuk akal. Bisa-bisanya dia menuduhku begitu seakan-akan aku wanita murahan.
"Apa maksudmu?" kataku sinis, membalas tatapan matanya yang tajam.
Dia tersenyum menyeringai. Mengejekku dengan mengibaskan tangannya tepat didepan wajahku. Sean berbalik membelakangiku, memasukkan sebelah tangannya ke saku celana sementara sebelah tangannya yang lain meninju pelan meja kerjanya berkali-kali. "Tidak usah mengelak, Franda. Aku melihatmu berpelukan dengan mantan suamimu. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya jika aku tidak datang. Apa kau akan menciumnya?" katanya sambil menelengkan kepala.
Baru saja aku membuka mulut untuk menjawabnya, suara pintu terbuka menahan ucapanku. Aku berpaling menatap Dave yang berderap mendekat. "Dave, tinggalkan kami sebentar." Dave menatap kami bergantian, tak lama setelah itu dia mengangguk dan berbalik meninggalkan kami.
Aku terpejam menunduk, menarik napas lagi. Kuberanikan diri untuk berjalan ke hadapannya. Aku mendongak, memandang wajah tampan yang kurindukan seminggu ini. Suamiku selalu tampan, bahkan ketika marah seperti ini pun dia masih terlihat tampan. "Bisakah kita membicarakannya baik-baik?" kataku pada akhirnya.
__ADS_1
Dia mendengus. Seringai di sudut bibirnya kembali terlihat. Dia masih mengejekku tanpa berniat melihat ke arahku. Mencoba berusaha lagi, tanganku terangkat untuk meraih wajahnya dan memaksanya agar menatapku. Suamiku yang begitu kukasihi, membuat hatiku sakit dengan penolakannya. Dia sama sekali tidak peduli dengan usahaku untuk menjelaskan sesuatu padanya.
Sean meraih beberapa map dari meja kerjanya, dan berlalu meninggalkanku yang mematung putus asa. Dalam sekejap, air mata yang sejak tadi kutahan akhirnya tumpah. Tubuhku berguncang. Kedua tanganku menutup wajahku yang terasa sangat panas. Sungguh tidak ada yang lebih menyakitkan dibandingkan ini. Suamiku menghindar dan tak mau mendengar apapun dari mulutku. Dia tidak memberiku kesempatan untuk berbicara sama sekali.