
Suara dentuman high heels-ku menarik perhatian setiap orang yang melihatku berjalan menuju ruangan suamiku di lantai 11. Aku melangkah penuh percaya diri sambil membalas sapaan mereka dengan senyuman. Dibelakangku, Pritta dengan setia mengikuti kemanapun aku melangkah. Gadis itu tak melepaskanku sedetikpun selama aku berada diluar rumah. Matanya selalu awas melirik kesana-sini seperti seorang detektif yang sedang mencari tahu sesuatu.
Ketika aku tepat berada di depan pintu ruangan Sean, aku berhenti sejenak untuk menyapa Selena. Wanita anggun dan molek yang terperangkap dengan berkas-berkas dan jadwal suamiku. Dia terlihat sangat cantik dengan kemeja satin berwarna peach dan rok pendek berwarna putih. Rambutnya yang lurus dikuncir kuda, serta riasan yang tidak terlalu mencolok namun tetap menantang dan semakin menambah keseksiannya. Sejenak aku merasa kalah saat menurunkan pandangan dan menatap perutku yang mulai membesar.
Mengangkat kembali pandanganku, aku menyapanya sambil tersenyum. "Hai, Selena." sapaku riang dan tulus. Dia memalingkan wajah dari laptop di hadapannya dan berdiri menghadapku. Bagian tengah alisku berkerut saat melihat wajahnya yang tiba-tiba kaku.
"Anda datang, Nyonya?" tanyanya dengan nada gugup. Membuatku semakin curiga ketika mataku menangkap lirikannya ke arah pintu ruangan suamiku berada. Aku penasaran dengan apa yang membuatnya gugup.
"Ya, aku ingin makan siang dengan suamiku." Mataku menatap menyelidik padanya. Dia menelan ludah, bibirnya bergetar dan kedua tangannya saling meremas didepan perutnya. Matanya berulang-kali melirik ke arah pintu ruangan Sean.
Mencoba menghilangkan pikiran buruk yang mulai menyerang otakku, aku berbicara lagi. "Kau baik-baik saja, Selena?" Selena tersentak. Mulutnya membuka namun dia tidak mengatakan apapun.
Belum sempat aku mendengar jawabannya, suara pintu di belakangku membuatku membalikkan badan. Wajahku seketika panas dan dadaku berdebar keras saat melihat seorang gadis cantik keluar dari sana dengan tergesa-gesa. Dia kelihatan sedang berbahagia dan tak menyadari keberadaanku. Gadis itu terus melenggang tanpa menoleh. Dari penampilannya aku bisa melihat dia bukan salah satu karyawan disini. Karyawan mana yang menggunakan gaun super ketat dengan warna merah menyala di siang hari.
Dengan segala pikiran buruk yang menerjang kepalaku, aku melangkah cepat lalu membuka pintu ruangan Sean dan menutup kembali dengan kasar. Aku melayangkan tatapan tajam pada Sean yang sedang terkejut melihat kedatanganku sekaligus suara benturan pintu yang kubanting.
"Siapa wanita tadi?" tanyaku dengan suara bergetar menahan amarah. Wajah Sean mendadak berubah cerah saat mendengar pertanyaanku. Dia berjalan mendekat sambil tersenyum simpul.
Ketika sudah berada tepat di depanku, dia menarikku ke dalam pelukannya. Detik itu juga tubuhku meleleh dan luluh padanya. Aku bahkan terpejam menikmati aroma tubuhnya yang selalu menenangkan. Astaga... sadarlah, Franda.
__ADS_1
Aku membuka mata lalu melepaskan diri darinya. Wajahku mendongak untuk menatap ke dalam matanya dan aku berbicara. "Jawab aku, Sean. Siapa wanita itu?" tanyaku sekali lagi.
Sean baru akan menjawab namun urung dilakukannya karena ponselnya berdering di atas meja kerjanya. Dia membalikkan badan, maju dua langkah dan meraih ponselnya dari sana.
"Bagaimana, Dave?" Aku sedikit tenang mengetahui lawan bicaranya adalah Dave. Mataku memperhatikan wajahnya yang memberengut sementara Dave mengatakan sesuatu di ujung sambungan telepon.
Sean hanya diam mendengarkan lalu beberapa saat kemudian dia memutuskan sambungan telepon dan buru-buru kembali mendekat padaku. Sebelah tangannya mengusap pipiku sementara tangannya yang lain memegang pangkal lenganku. "Sayang, maaf aku harus pergi. Ada sesuatu yang terjadi di lokasi pembangunan mall. Aku akan menjelaskan padamu tentang Yola nanti di rumah. I love you, Sayang." Sean berbicara panjang dan tak memberiku kesempatan untuk mengeluarkan suara. Dia mencium keningku lalu bergerak meninggalkanku yang bahkan belum menangkap semua kalimatnya dengan baik.
Tepat di depan pintu, aku mendengar dia berbicara pada Pritta. "Pritta, jaga istriku baik-baik, kalau perlu dengan nyawamu."
Yola. Aku penasaran dengan gadis itu. Dia terlihat sangat cantik dan aku yakin usianya tidak lebih dari 25 tahun, kutebak mungkin sekitar 22 atau 23 tahun. Aku membayangkan kembali penampakan gadis itu sambil mendudukkan bokongku di kursi suamiku.
Merasa bosan berada didalam ruangan Sean, aku melangkah keluar lalu mengatakan pada Pritta untuk menemaniku makan siang di salah satu restoran siap saji tak jauh dari gedung Warner Enterprise. Sambil melangkah aku membayangkan sedang menggigit satu gigitan besar burger double beef dengan tambahan keju mozarella. Oh, Tuhan... liurku nyaris saja menetes.
Dengan suasana hati yang mulai membaik, aku melangkahkan kaki jenjangku keluar dari lift menuju basement di ikuti Pritta yang berjalan di belakangku. Aku berjalan dengan anggun dan penuh percaya diri, tidak ada keraguan dalam setiap langkahku. Aku seakan memamerkan pada tembok dan tiang-tiang penyangga besar betapa indah lekuk tubuhku sekalipun perutku mulai membuncit. Aku tersenyum geli menyadari tingkahku yang konyol dan bodoh.
Begitu Pritta melajukan mobil meninggalkan gedung tempat tinggalku, tanganku terjulur ke shopper bag Gucci milikku lalu mengeluarkan cermin kecil dari sana. Sebelah tanganku sibuk membenarkan riasanku dan memoles bibirku dengan lipstik dengan warna merah menyala, kontrak dengan gaun model A-line berwarna hitam yang kukenakan sementara sebelah tanganku yang lain memegang cermin tepat di depan wajahku. Aku begitu menikmati kegiatanku sampai dering ponsel berteriak mengangguku.
Tanganku menjulur meraih ponsel dari dalam tas tanpa mengalihkan pandanganku dari cermin. Ketika aku menariknya keluar, sudut bibirku terangkat mendapati nama suamiku yang menelepon. "Ya, sayang." Aku menjawab sambil membenarkan posisi duduk lalu menyandarkan tubuhku. Mataku menatap ke arah luar sementara telingaku menangkap suara Sean yang seksi.
__ADS_1
"Apakah kau masih di kantor, sayang?" tanyanya lembut membuatku merasa lebih dicintai.
Sembari menatap jalanan, aku pun menjawab. "Tidak." lirihku. "Aku dan Pritta sedang diperjalanan. Kami akan makan siang di restoran tak jauh dari rumah." sambungku lagi. Baru saja mulutku tertutup, mataku menangkap gerobak bakso diseberang jalan. Seketika liurku menggenang didalam mulut.
Dengan cepat aku meminta Pritta untuk menepi. "Pritta, stop!" seruku, membuat Pritta tersentak dan menepikan mobil hinggan berhenti di pinggir jalan.
"Ada apa, ma'am?"
"Aku ingin memakan bakso itu." gumamku seraya menunjuk gerobak bakso di seberang jalan. Pritta memutar kepalanya mengikuti arah telunjukku.
Dia terlihat ragu-ragu saat berbicara. "Tapi... Aku tidak yakin Tuan menginjinkannya, ma'am." dengkurnya.
Aku tertawa halus. Aku tahu dia takut terkena masalah jika membiarkanku memakan makanan seperti itu. Tetapi aku tak peduli, mulutku sudah penuh liur. Dengan santai aku pun menjawab. "Oh, come on, Pritta. Suamiku tidak akan tahu jika kau tidak mengatakannya." gumamku tanpa sadar aku belum memutuskan sambungan telepon.
Setelah beberapa saat berdebat, akhirnya Pritta luluh. "Baiklah, saya akan membelinya. Tunggu sebentar."
"Tidak perlu." tolakku cepat sebelum dia keluar. "Kau disini saja. Aku akan turun dan membelinya." Aku melihat Pritta ingin melarang, tapi pintu mobil sudah terlanjur terbuka.
Aku turun dan berjalan, namun baru beberapa langkah tubuhku tiba-tiba melayang dan terhempas di aspal. Aku belum menyadari apa yang terjadi karena tiba-tiba semuanya menjadi gelap.
__ADS_1