
Aku baru saja kembali dari kantor untuk memeriksa beberapa laporan bersama Denise dan langsung naik menuju ke kamarku dengan perasaan tenang. Ketika aku membuka pintu kamar, mataku langsung berhadapan dengan sesosok tubuh berkekuatan besar dan penuh kendali. Membuatku goyah, terkejut, dan terpesona sekaligus. Jantungku berpacu sementara bagian tubuhku menangis diserbu perasaan mendamba.
Saraf-sarafku menegang, membuatku bingung seakan aku tidak pernah berhadapan dengan manusia itu. Bibirku kering dan mataku pedih. Membutuhkan waktu yang sedikit lama bagiku untuk menyadarkan diri sehingga aku bisa mengayunkan kaki kedepan.
Mataku masih rakus dan panas menyaksikan dirinya. Membayangkan keindahan yang tersimpan di balik setelan yang dia kenakan seketika membuat darahku mendidih. Tubuhnya keras dan tinggi, dengan dada bidang dan bahu yang kokoh, serta desakan tertahan yang bersembunyi dibalik celana panjangnya.
Aku menelan ludah dan menggelengkan kepala untuk mengusir pikiranku yang kotor. Namun mulut seksi dan menawan itu melengkung indah, menyiratkan sinyal-sinyal pertempuran yang dahsyat. Astaga... tubuhku bahkan gemetar mengingat setiap saat mulutnya yang penuh itu meniup dan menyentuh kewanitaanku, membelaiku dan melesatkan sentakan dengan lidahnya yang ahli. Sialan! Dia membuatku merinding.
Hatiku ingin berteriak dan mengatakan aku membenci hal ini. Aku tidak pernah suka ditaklukkan terutama dengan cara seperti ini, tetapi... Demi Tuhan, aku tidak bisa mengelak bahwa aku menyukai perasaan dikendalikan oleh dirinya.
Aku ingin dia segera membopongku dan meleburkanku dimanapun dia ingin meniduriku. Mr. Fancy-Fancy Thing ini benar-benar lezat dan menggiurkan. Menyaksikan bagaimana Sean Danial Warner mengintip dari bahunya serta memutar tubuh adalah penampakan paling indah yang pernah ada di muka bumi.
Ketika wajahnya menghadapku aku tidak bisa berhenti menatapnya. Aku terkesiap saat dia bergerak dengan indah dan jantan mendekatiku. Kedua tangannya terulur menyentuh pipiku, membuatku semakin terbakar. "Apa kau baik-baik saja?" suara halus dan serak itu menggema di telingaku.
Apakah sebelumnya aku pernah bersumpah tentang dirinya? Aku bersumpah bahwa aku tidak akan melepaskannya sedikitpun. Aku ingin selalu hancur akibat desakannya yang kuat. Aku ingin selalu menjerit melawan hasratnya. Aku ingin selalu menangis karena pemberiannya. Aku ingin dia selalu membuatku mencapai puncak berkali-kali. Aku ingin selalu merasakan getaran nikmat saat dia menumpahkan gairahnya di tubuhku yang paling dalam sehingga aku nyaris mati merasakan alirannya.
Aku mengerjap dan meraup udara sebanyak mungkin seolah aku baru saja mendapatkan kesempatan untuk menghirupnya. Sekujur tubuhku benar-benar habis dihisap oleh dirinya. "Ya, aku baik-baik saja." Aku mencoba tenang, tapi suaraku jelas-jelas bergetar.
"Franda, ada apa?" Detik itu juga aku langsung menjatuhkan tas di tanganku dan langsung menyerbu mulutnya dengan mulutku.
__ADS_1
"Aku menginginkanmu, Sean." bisikku di mulutnya, lalu dengan rakus menciumnya lagi. Tanpa sadar aku baru meremas tengkuknya kuat-kuat, membuatnya meringis. Tapi aku tidak peduli, karena dia sendiri pun tahu bahwa aku sedang membutuhkannya.
Sean tidak pernah keberatan dengan apapun yang kulakukan padanya, dia akan tetap menerima semua serbuanku dengan perasaan bahagia yang meluap-luap. Sean mencintaiku sebanyak aku mencintainya. Dan aku tahu cinta di antara kami tidak akan pernah berkurang, malah bertambah setiap harinya.
***
"Thank you, husband." dengkurku serak dengan napas tersengal-sengal.
Aku terbaring lemas di sebelahnya. Kedua mataku terpejam sementara kewanitaanku masih berdengung panas merasakan nikmat dari sisa-sisa gelombang pelepasanku yang panjang.
Sean mencium keningku sekilas, lalu mengusap wajah dan area di sekitar leherku dan dadaku yang penuh keringat dengan handuk yang baru saja diambilnya dari dalam lemari. "Apa yang membuatmu berubah menjadi buas seperti ini, Franda?" gumamnya bergurau, aku bisa menebak dari suaranya bahwa dia sedang tersenyum saat ini.
"Kau dan kejantananmu." sahutku tanpa malu-malu menyentuh miliknya yang baru saja menyenangkanku.
Aku menggerakkan tubuhku menyamping dan mengangkat kepapa hingga aku bisa mencium bibirnya yang seksi itu. "Jangan bilang kau tidak menikmatinya ya, Samson." cetusku dengan nada ringan. "Kau bahkan meledakkan dirimu berkali-kali." Aku meraih handuk dari tangannya dan gantian mengusap wajah dan dadanya. Dia terkekeh pelan.
"Kau membuatnya terdengar seakan aku adalah wanita gila yang hanya menginginkan tubuhmu. Well, itu tidak sepenuhnya salah, aku memang menggilai tubuhmu, tapi jauh daripada itu aku mencintaimu, Warner. Kau harus mengingat itu di kepalamu." Aku menggerutu menambahkan.
Sekarang, makhluk seksi itu tertawa hingga membuat dadanya berguncang-guncang pelan. "Franda, aku tahu kau mencintaiku dan aku akan mengingat kenyataan itu selamanya." Sean menurunkan satu tangannya mengusap perutku, sementara satu tangannya yang lain menyapukan rambut yang menutupi wajahku, lalu berpindah menopang kepalanya.
__ADS_1
"Aku penasaran bagaimana wajah anak kita nanti, kurasa dia akan mirip denganmu." katanya dengan bibir tersenyum dan matanya menatap ke dalam mataku.
Sambil menikmati kilatan di matanya yang sebiru samudra itu, aku pun menjawab. "Benarkah? Aku malah berharap dia mirip denganmu." sahutku, jujur mengatakan apa yang ada di pikiranku.
Dia meraih leherku untuk menyambut ciuman singkatnya di bibirku. "Franda," Ibu jarinya dengan lembut mengusap pipiku. "Aku lebih menginginkan dia mencuri kecantikan dan kelembutanmu. Aku ingin anak-anak kita memiliki lebih banyak bagian dari dirimu."
"Aw," aku mengerang bahagia. "Aku jadi berpikir ingin cepat-cepat kembali ke rumah hutan. Kita mendapatkannya disana dan mungkin saja anak-anak yang lain akan segera menyusul jika kita tinggal disana."
"Franda," gumamnya resah. "Tidak harus jauh-jauh kesana untuk membuat perutmu menggembung. Kita hanya perlu melepaskan pakaian. Tapi itu bukan masah besar jika kau memang menginginkannya, kita bisa kembali ke sana kapan saja kau mau."
Tanganku bergerak naik untuk menyusur rambutnya yang gelap dan tebal. "Sean... aku menyukai tempat itu dan aku ingin menghabiskan sisa hidupku di tempat itu. Apa kau keberatan jika aku memintamu pindah kesana?" tanyaku hati-hati, berharap dia tidak keberatan. Tapi aku tahu untuk pindah kesana banyak hal yang harus kami pikirkan, terutama masalah perusahaan.
"Di rumah hutan aku bisa merasakan ketenangan dan kedamaian, disana aku merasa menjadi diriku sendiri. Tidak ada tekanan, hanya ada perasaan bahagia. Aku tergila-gila dengan tempat itu, Sean. Semenjak disini aku selalu meluangkan waktu untuk membayangkannya. Aku membayangkan selimut dan seprai yang selalu berantakan karena ulahmu. Aku membayangkan malam-malam kita yang hangat dan pagi kita yang selalu tenang."
"Sshhh," Sean menutup mulutku dengan tiga jarinya yang kuat dan panjang. Kepalanya mengangguk samar. "Aku akan mewujudkannya untukmu, Franda. Aku akan mewujudkan mimpimu itu. Beri aku waktu memastikan bahwa orang-orang yang bekerja denganku adalah orang-orang yang jujur, sehingga kejadian tak terduga seperti sebelumnya tidak akan terjadi lagi. Aku juga menginginkan kedamaian seperti yang kau inginkan."
Ketika aku masih terpana dengan janjinya, dia mengerdip nakal padaku gambar kupu-kupu beterbangan di perutku. "Franda, apa kau juga membayangkan saat aku mendesakmu di salah satu pohon yang tumbang?"
Aku gemetaran, terlalu goyah untuk membayangkan kegiatan liar itu menari-nari di benakku. "Hm..." gumamku lirih.
__ADS_1
Sean tersenyum genit. Dia bangkit dan mundur sedikit dariku, tetapi kedua tangannya masih bertopang di ranjang, di kedua sisi kakiku. "Sayang sekali kau belum pernah merasakannya, karena sebenarnya aku sangat ingin melakukan hal itu padamu." Mulutnya terbuka sedikit untuk menghirup udara. "Teruslah membayangkannya, karena hal itulah yang pertama kali akan kita lakukan begitu kita kembali kesana. Selamat malam, Franda."
Sean berayun mundur dan bergerak ke arah kamar mandi, sementara aku terbaring bergeming dan merinding.