Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Happy but...


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku mendekati salah satu bangku panjang di barisan terdepan. Memandangi lukisan mural 'Perjamuan Terakhir' yang tergambar di dinding di belakang altar untuk waktu yang cukup lama, mendadak merasa tidak yakin dengan apa yang akan kulakukan.


Hingga kemudian aku menurunkan tubuhku dan duduk di bangku panjang itu. Aku mencoba menenangkan diri dengan berkali-kali menarik napas, dengan kedua tangan saling meremas gelisah selagi memandangi lukisan itu. Tapi saat aku menunduk dan menatap bagian depan kemejaku yang dipenuhi oleh noda darah Franda, aku tahu kenapa aku datang ke tempat ini.


"Aku... sudah sangat lama sejak terakhir kali aku berbicara pada-Mu. Jadi aku mengerti, jika Kau mungkin sudah melupakanku."


Emosiku kembali bergejolak dan tenggorokanku tercekat oleh rasa sakit yang menghujam dadaku. Pikiranku nyaris lumpuh oleh ketakutan.


"Tapi, jika Kau mengingatku, Kau mungkin tahu kenapa aku berada disini." Aku berlutut dengan mendongakkan kepala, menutup mata dan menangkup kedua tanganku diatas pangkuanku.


"Kumohon, selamatkan dia."


***


Franda menjalani dua operasi malam ini. Aku menunggu selama enam jam di luar ruangan operasi dengan gelisah, takut, dan panik, sementara para dokter berusaha untuk mengeluarkan peluru yang bersarang di punggungnya, serta melakukan tindakan bedah untuk memperbaiki pembuluh darahnya yang robek.


Setiap menitnya terasa seperti mimpi buruk bagiku membayangkan bagaimana lemahnya kondisi Franda dan rasa sakit yang harus ditanggungnya karena menyelamatkanku. Aku berharap akulah yang ada di meja operasi dan menggantikannya menahan semua rasa itu. Tapi Franda sudah mengorbankan dirinya untukku, dan tidak ada yang bisa kulakukan untuk mengubah kenyataan itu.


Ini sama sekali bukan akhir yang kubayangkan akan terjadi, bahkan begitu jauh dari semua yang sudah kurencanakan untuknya, atau untuk kami berdua. Setiap detik aku menyesali keputusan yang kubuat, serta semua masalah yang terjadi dalam hidupku telah membawanya ke dalam situasi ini.

__ADS_1


"Sean!"


Aku mendongak dan mendapati Edward dan Dean sedang berjalan ke arahku. Mereka tampak cemas, namun sama sekali tidak terkejut saat melihatku, aku yakin Erick atau salah satu rekannya pasti sudah memberitahu mereka tentang kematian palsuku.


Tidak banyak yang bisa kupikirkan pada saat-saat seperti ini. Aku tahu Edward pasti marah karena aku melibatkan Franda dalam kasus ini, well, meskipun secara tidak langsung namun tetap saja pada akhirnya dia yang harus menahan kesakitan akibat perbuatanku, dan aku tidak akan melawan jika Edward ingin memukul. Dia pantas marah dan aku pantas untuk mendapatkan pukulannya.


Aku berdiri untuk menyambut mereka. Dean yang berjalan di depan memelukku pertama kali. "Aku bersyukur kau baik-baik saja." gumamnya pelan sambil menepuk-nepuk punggungku, ada kelegaan yang bisa kutangkap dari nadanya.


Aku hanya merespon dengan anggukan di bahunya, kemudian aku beralih pada Edward. Tatapannya tampak dingin tapi dia tetap membalas pelukanku. "Bagaimana keadaan adikku?" tanyanya datar.


Sekarang aku tahu bahwa Edward benar-benar marah padaku, dia tidak pernah sedingin ini sebelumnya mengingat aku cukup mengenalnya dengan baik. Tentu saja sulit baginya untuk menerima apa yang terjadi, dan aku paham kenapa dia begitu marah. Aku pun marah pada diriku sendiri karena tidak bisa melindungi Franda.


Aku menghela napas, lalu menggelengkan kepala. "Mereka sedang memindahkannya ruang pemulihan, aku belum bisa menemuinya. Dokter bilang operasinya berhasil tapi Franda masih koma, dan tubuhnya bereaksi lambat terhadap obat-obatan. Entahlah, John, aku..."


Aku memajukan tubuhku dan memeluknya dengan erat untuk menyatakan permintaan maaf karena telah menyakiti adiknya sekaligus meminta dukungannya. Aku memejamkan mata, meluapkan emosi yang telah kutahan selama beberapa jam ini. Rasa panas mulai menjalari wajahku dan aku merasa sedikit tenang saat Edward membalas pelukanku. "Aku tidak bisa kehilangannya, John. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan..."


"Mr. Warner?"


Aku menarik diri dari Edward dan berbalik menghadap seseorang yang memanggil namaku, seorang dokter yang baru saja keluar dari ruang pemulihan sedang berdiri di hadapan kami, masih mengenakan seragam operasinya.


"Bagaimana kondisinya?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"Detak jantungnya sedikit lemah tapi stabil, responnya terhadap obat-obatan masih belum terlalu bagus, namun tubuhnya tidak menolak. Dia sedang berjuang bersama... maaf aku baru sempat mengatakannya, istri anda sedang hamil empat minggu saat ini. Jadi, dia sedang berjuang dengan anak kalian."


Seketika aku merasakan sakit yang sangat luar biasa menghujam dadaku. Seharusnya ini adalah kabar yang membahagiakan, namun kenyataan bahwa aku nyaris kehilangan dua nyawa yang paling kuinginkan berada di dekatku adalah sesuatu yang menyakitkan. Aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika salah satu dari mereka tidak bisa bertahan.


"Panda wanita yang kuat," tukas Edward sembari meremas pelan pundakku. "Dia akan segera sadar, bukan?" tanyanya pada dokter itu.


"Kita akan mengetahuinya setelah malam ini. Kami masih harus memantau kondisinya untuk memastikan tidak ada komplikasi atau pendarahan di bagian dalam."


Aku menelan ludah lalu menghembuskan napas berat. "Bisakah aku melihatnya sekarang?" kataku sambil melangkah maju.


Dokter itu menganggukkan kepalanya. "Hanya satu orang, lima belas menit, lalu kami akan memindahkannya ke ruang isolasi sementara waktu untuk memastikan prosedur penanganan yang lebih intensif. Anda bisa menemuinya sebentar." gumam dokter itu lalu memberi isyarat agar aku mengikutinya masuk ke ruang pemulihan.


Franda sedang terbaring di ranjang, ditutupi selimut, selang menyatu dengan tangannya untuk mengalirkan obat-obatan yang dibutuhkan oleh tubuhnya. Dia terlihat begitu pucat, begitu rapuh, dan lemah.


Dengan hati-hati aku mengangkat sebelah tangannya, lalu menciumnya dan membawanya ke sisi wajahku. Aku menahan tangannya dengan satu tanganku sementara satu tanganku yang lain mengusap perutnya dengan lembut.


Aku tidak sanggup lagi menahan diriku untuk tidak menangis dihadapannya. "Kembalilah, Franda. Kembalilah padaku." bisikku di sela-sela isak tangis.


Aku berharap dia membuka mata lalu membalas ucapanku, namun aku tahu itu tidak mungkin terjadi, setidaknya untuk saat ini. Dia sudah pernah mengalami hal ini, tapi sekarang akulah yang menyebabkan semuanya. Aku masih belum bisa percaya kenapa aku begitu jahat padanya, atau kenapa dia begitu bodoh membiarkan dirinya terluka untuk menyelamatkanku.


Beberapa pikiran terlintas di kepalaku. Kalau boleh berangan-angan, aku ingin kembali ke masa lalu saat dia memintaku untuk meninggalkannya. Jika aku tahu hal ini akan terjadi, maka aku akan meninggalkannya saat itu juga. Setidaknya Franda tidak perlu menanggung rasa sakit seperti ini.

__ADS_1


"Maafkan aku, Franda. Kumohon, kembali padaku, sayang." bisikku untuk terakhir kalinya sebelum aku meninggalkan ruang pemulihan.


__ADS_2