Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 48


__ADS_3

Tiga hari berlalu, kini Franda sudah diperbolehkan pulang dengan catatan harus tetap bedrest di rumah selama seminggu penuh. Hubungan sepasang suami istri yang seharusnya bahagia karena menantikan kelahiran anak mereka kini justru memburuk. Franda menolak untuk mendengar penjelasan apapun dari suaminya, karena dia sudah mendengarnya dirumah sakit. Berulangkali Nino mencoba membujuk istrinya agar memaafkannya namun semua usahanya sia-sia, tidak ada respon dari sang istri.


"Tolong tinggalkan aku sendiri!" ucap Franda begitu mereka berdua masuk ke kamar sepulang dari rumah sakit.


Nino menghela napas, tangan kanannya menepuk tengkuknya yang terasa berat berulang kali. "Sayang, beri aku kesempatan untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya."


"Pergilah, aku tidak ingin mendengarkan apapun sekarang!" Franda berjalan ke walk in closet untuk mengganti pakaiannya, meninggalkan Nino yang bersandar pada tembok disamping pintu.


Nino berjalan mengikuti istrinya, dipandanginya wanita hamil yang sedang kesulitan membuka resleting gaun hamilnya, Nino tersenyum simpul. Dihatinya berharap Franda akan meminta bantuannya. Harapan tinggal harapan, alih-alih meminta tolong, Franda justru menggunting gaunnya lurus dari bawah sampai ke atas, dan melepas layaknya kemeja.


"Siapa yang selalu membelikanku pakaian bodoh seperti ini!" gerutunya sambil melempar kasar gaun yang bernasib menyedihkan itu ke pojok ruangan.


Nino membulatkan matanya, seumur hidup baru kali ini dirinya melihat Franda seperti itu, tingkahnya bukan menakutkan, melainkan menggemaskan saat wajahnya berkerut dan mulutnya tak berhenti menggerutu. Nino hampir terbahak namun langsung ditahannya dengan menutup rapat mulutnya.


"Ada yang lucu?" tanya Franda sinis.


Nino menggeleng cepat, "Kau cantik saat merajuk." jawab Nino, masih berusaha merayu istrinya.


"Bukankah wanitamu lebih cantik?"


"Sayang, jangan begini. Aku tidak ada hubungan apapun dengan Jenny, aku kesana untuk bertemu Papanya yang sedang sakit. Jenny juga memintaku membawamu kesana karena orangtuanya ingin meminta maaf padamu... Percaya padaku, hm?" Nino memohon, wajahnya dibuat sesedih mungkin.


Franda membanting kasar pintu lemari pakaian, dan langsung beralih memandang suaminya dengan tatapan mematikan.


"Apa aku harus percaya padamu sekarang? Mau apapun alasannya, kau tetap berlari kesana dan memeluknya. Aku tidak butuh penjelasan apapun darimu, katakan saja kalau kau mencintainya! Kau bersyukur aku sedang hamil sekarang, kalau tidak sudah ku pastikan kau mati di tanganku!"


Franda mendekati Nino, dengan kasar merogoh kantong suaminya dan mengambil ponsel serta dompet lelaki tampan itu.


"Mulai hari ini aku yang mengatur keuanganmu, tidak ada credit card ataupun debit. Alihkan kepemilikan perusahaan atas namaku dalam waktu satu minggu. Tidak ada tawar-menawar, lakukan kalau kau ingin ku maafkan!"


Nino terperangah, matanya membulat memandang istrinya yang sibuk memeriksa ponselnya.


"Ini, jangan sekali-kali berhubungan dengannya lagi." Franda melempar ponsel Nino tepat didada lelaki itu, untungnya dengan sigap di tangkap olehnya Nino.


"Satu lagi, tinggalkan kunci mobilmu di meja rias, kau bisa menggunakan mobil lamaku kalau mau." lanjut Franda.

__ADS_1


"Sayang, bagaimana bisa kau melakukan ini padaku? Kau membuatku miskin dalam sehari! Aku akan menurutimu soal perusahaan, tapi aku tidak bisa menggunakan mobil apimu!" keluh Nino, tidak sanggup rasanya harus menggunakan mobil merah menyala milik istrinya.


"Aku tidak perduli, kau bisa menggunakan taksi kalau tidak mau memakainya."


Franda berbaring dengan santai di ranjang setelah memakai salah satu t-shirt suaminya yang terasa nyaman dengan perutnya yang menggembung.


.


Seminggu berlalu sejak kepulangan Franda dari rumah sakit, keadaannya semakin membaik. Masalah dengan Nino juga sudah mulai mereda meskipun Franda belum sepenuhnya memaafkan suaminya. Nino menuruti semua perintah istrinya demi mandapatkan maaf, termasuk menggunakan mobil lama Franda meskipun beberapa kali di tertawakan oleh teman-temannya, salah satunya Jack yang kemarin ditemuinya di showroom pria itu.


Nino melangkah masuk ke dalam rumah di ikuti dua pengacaranya untuk menandatangani berkas pengalihan kepemilikan perusahan, mengganti namanya dengan istrinya.


Lelaki tampan 34 tahun itu berjalan menuju kamarnya setelah lebih dulu mengantar kedua pengacara itu ke ruang kerjanya.


"Sayang, pengacaraku sudah menunggu. Kau sudah siap?"


Franda kebingungan, untuk apa pengacara suaminya menunggu. Dirinya melupakan tuntutannya pada Nino minggu lalu. Matanya menyipit dan kedua alisnya menyatu.


"Pengacara? Untuk apa?" tanyanya.


Franda langsung teringat dengan ucapannya hari itu, dirinya tidak menyangka Nino akan menanggapinya serius. Padahal dengan menyita mobil dan semua kartu ajaib suaminya saja sudah cukup baginya.


"Hahaha, kau benar-benar melakukannya?" Franda terbahak.


Kini gantian Nino yang bingung, "Maksudmu, kau hanya bermain-main?"


"Tidak juga, aku serius dengan ancamanku, tapi tidak tertarik dengan ladang uangmu itu." jawab Franda santai, pandangannya beralih ke ponsel yang sejak tadi dipegangnya, kembali berselancar memenuhi keranjang belanja di salah satu situs belanja online.


Entah kenapa sejak hamil wanita itu senang sekali berbelanja, bukannya membeli barang-barang penting melainkan tas, sepatu, ataupun pakaian yang harganya membuat jiwa kaum sederhana meronta-ronta.


Nino mendekat, "Lalu ini bagaimana? Aku masih membutuhkan maafmu, Sayang..."


"Aku sudah memaafkanmu." kata Franda tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel pintarnya.


"Kau serius?" tanya Nino tak percaya, ditahannya kedua pangkal lengan istrinya.

__ADS_1


Franda mengangguk.


"Sayang..."


Franda menatap tajam suaminya yang terus menerus mengoceh padahal sedari tadi dirinya malas menanggapi ucapan lelaki itu.


"Kau mau aku menambah hukumanmu?"


Nino menggelemg cepat, "Aku akan menyuruh mereka pulang." katanya, lalu langsung berlari keluar untuk menemui dua pengacaranya di ruang kerja.


Franda tertawa begitu Nino keluar dari kamar, ketakutan lelaki itu sangat jelas terlihat. Sebenarnya Franda sudah memaafkan suaminya, hanya saja Ia ingin memastikan suaminya jera dan tidak akan berhubungan lagi dengan Jenny atau perempuan manapun.


Pengakuan Nino dirumah sakit cukup membuatnya lega, meski tetap rasa kecewanya tidak bisa dihilangkan begitu saja. Kenyataan Papa Jenny yang meninggal hari itu membuat Franda sedikit melunakkan hatinya, terlebih saat mendengar Nino mengatakan bahwa Jenny juga memintanya datang karena kedua orangtuanya ingin meminta maaf, hati Franda tersentuh dengan itu.


"Sayang, kau benar sudah memaafkanku?" Nino langsung menyerang istrinya untuk memastikan ketika kembali ke kamar.


Franda mengangguk, "Jangan coba-coba mengulanginya lagi, akan ku cincang habis burungmu!" tatapan mematikan kembali diterima Nino, kedua tangannya refleks menutupi bagian inti tubuhnya.


"Aku tidak akan berani, Sayang. Aku berjanji akan setia padamu selamanya. Tidak ada wanita lain selain kau, Sweety!" Nino tersenyum manis pada istrinya, senyum paling memabukkan yang dimilikinya.


"Stop smiling at me, we are not good yet!" kata Franda ketus.


Nino tetap saja tersenyum, suasana hatinya cerah seketika saat istrinya telah memaafkan kesalahannya. Seminggu tidur diruang kerja hampir membuatnya gila, Franda sama sekali tidak mengijinkannya masuk ke kamar kecuali untuk mandi dan mengganti pakaian. Tidak ada kesempatan sama sekali untuk berdekatan dengan Franda.


"Sayang, berarti malam ini aku sudah boleh kembali tidur dikamar?" Nino bertanya dengan wajah berharap.


"Hmm... di sofa!" jawab Franda singkat.


Lagi-lagi jawaban tidak mengenakkan keluar dari mulut istrinya. Nino melemas, rasa senangnya yang baru saja mekar langsung kuncup kembali.


"Sayang, aku merindukan Ben! Bolehkah aku menyapanya nanti malam?" Nino belum menyerah, berusaha sekali lagi tidak ada salahnya.


"Tidak!" Franda menjawab tanpa melirik sedikitpun pada suaminya, fokusnya tetap pada ponselnya. Sesekali Ia tersenyum ceria ketika melihat salah satu barang yang disukainya.


"Sayang, bagaimana kalau memelukmu?"

__ADS_1


__ADS_2