Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Back


__ADS_3

Franda duduk dimeja makan sambil menguyah makanannya, terus menatap suaminya yang tersenyum sembari menyuapinya. Tidak tahu kenapa Franda tiba-tiba ingin bersikap manja pada pria yang sangat dicintainya itu. Pernikahan yang sudah berjalan hampir 7 tahun itu tidak mengurangi rasa cintanya sedikitpun.


"Aku sudah kenyang!" kata Franda menolak makanan yang disuapi suaminya, Ia sudah menghabiskan setengah porsi spaghetti dipiring.


"Ya sudah kalau begitu naiklah ke kamar. Aku akan menyusul setelah membereskan ini." kata Nino sambil berjalan membawa piring, Ia membuang spaghetti sisa kemudian mencuci semua peralatan yang digunakannya saat memasak tadi.


Nino berbalik setelah selesai dan melihat Franda masih duduk ditempat tadi dengan wajah tersenyum manis.


"Kenapa tidak ke kamar, Sayang?" tanya Nino.


"Aku mau kau menggendongku, aku lupa kapan terakhir kali kita melakukannya." jawab Franda dengan mata menerawang dan mengetuk-ngetuk kepala dengan telunjuknya seakan berusaha mengingat sesuatu.


"Naiklah!" Nino langsung membungkuk agar istrinya naik ke punggungnya.


Franda langsung menghambur ke punggung suaminya dan melingkarkan tangannya dileher Nino.


"Sayang, love you!" kata Franda, Ia mencium tengkuk suaminya.


"Aku juga sangat mencintaimu!" balas Nino, Ia tersenyum dan terus menaiki tangga satu persatu.


"Sayang..." panggil Franda.


"Hmm?"


"Apakah kita bisa melakukannya lagi?" tanyanya, Ia memikirkan hubungan pernikahannya sangat yang rumit saat ini.


Nino menarik napas sebelum menjawab, Ia sudah menurunkan Franda diranjang.


"Sayang, aku tidak tahu harus mengatakan apa. Aku serahkan semuanya padamu, aku tidak ingin kau melakukannya karena diriku. Lakukan semua yang membuatmu bahagia dan aku akan mengikutimu!" jawab Nino, Ia berusaha tenang dan berharap jawabannya tidak memicu amarah istrinya lagi.


"Kau tidak ingin bersamaku? Kau tidak ingin aku memaafkanmu? Kau benar-benar ingin kita berpisah?" tanya Franda yang mulai terpancing dengan jawaban Nino yang tidak menyenangkan baginya.

__ADS_1


"Sayang, dengarkan aku! Perhatikan apapun yang ku ucapkan!" Nino terdiam sebentar.


"Aku sudah sangat bersalah padamu, aku minta maaf untuk itu. Aku berbohong dan berselingkuh, aku menjeratmu dalam pernikahan yang tidak sehat selama ini, aku membuatmu menderita akibat kebodohanku, aku tidak ingin kau tersiksa saat bersamaku, Sayang..." Ia terdiam lagi, mencoba merangkai kata-kata berikutnya.


"Aku sangat ingin bersamamu, aku tidak tahu akan seperti apa hidupku jika kita benar-benar berpisah, membayangkannya saja aku tidak berani... Tapi aku tak ingin membuatmu tidak nyaman, aku akan terlihat lebih menyedihkan jika terus memaksamu bersamaku! Kau paham, Sayang?" kata Nino menjelaskan dengan panjang agar istrinya mengerti.


"Aku tidak merasa tersiksa! Sudah ku katakan berkali-kali jangan menebak isi hatiku! Kenapa kau sangat menyebalkan!" Franda mulai berang dengan suaminya.


"Sayang... Aku tidak menebak isi hatimu, kau sendiri yang mengatakan seperti itu saat kau akan meninggalkanku! Harus kuakui itu memang benar, kita tidak akan bisa seperti dulu. Aku meminta maaf padamu, Sayang..." Nino menunduk, matanya mulai panas menahan tangis.


"Kau menangis?" tanya Franda mengangkat wajah suaminya yang agar melihatnya.


"Sayang, aku minta maaf... Aku..." Nino tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Pria itu menangis, menjatuhkan tubuhnya disamping ranjang dan memeluk paha istrinya.


"Aku sangat menyesalinya, kebodohanku yang membuat kita seperti ini, bahkan aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri. Kenapa aku melakukannya padamu?" Nino sangat merasa bersalah, rasa sesak didada yang selalu ditahannya kini tumpah bersama air matanya yang mengalir deras. Ia memukul dadanya sendiri dengan kencang.


Franda yang tidak tega melihat suaminya seperti itu langsung menghentikan tangan Nino, Ia turun dari ranjang dan memeluk Nino, Ia juga ikut menangis bersama suaminya.


Tangis Nino semakin menjadi ketika mendengar istrinya sudah memaafkannya. Hati istrinya begitu besar, wanita itu tetap memilih bersamanya meskipun dia telah mengkhianatinya, hal itu membuat Nino semakin merasa bersalah.


"Sayang, kau ingat janjiku saat menikah denganmu? Aku berjanji akan tetap bersamamu dalam keadaan apapun, aku sudah berjanji pada Tuhan... Kita akan memulai lagi semuanya, aku memaafkanmu karena kau suamiku. Aku akan bersamamu melewati ini, jadi lupakan semuanya." Franda menangkup kedua pipi suaminya dan menghapus airmata Nino. Ia tersenyum dengan tulus.


Franda sudah memutuskan akan tetap bersama Nino, Ia dapat melihat penyesalan terdalam suaminya saat ini. Nino tetaplah suami yang dicintainya meskipun pada kenyataannya pria itu telah berselingkuh, namun hal itu tidak tidak membuat Franda sanggup untuk meninggalkannya. Ia juga tidak bisa menutup mata atas cinta yang diberikan Nino selama ini, Franda menganggap apa yang dilakukan oleh Nino adalah karena suaminya juga manusia yang bisa melakukan kesalahan, dan Ia juga manusia yang sudah seharusnya memaafkan kesalahan.


"Tapi bagaimana dengan memiliki anak? Kita tidak akan mendapatkannya... Kau tidak akan bisa memilikinya denganku, Sayang..." ucap Nino.


"Hentikan bicara tentang anak, aku tidak ingin kita memikirkannya. Masih banyak waktu untuk mencobanya, atau kita bisa mengadopsinya nanti." kata Franda dengan tenang.


"Kau yakin?" tanya Nino tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.


Franda mengangguk. "Aku tidak keberatan jika harus hidup tanpa anak darimu, aku menikah denganmu karena menginginkanmu, bukan karena aku menginginkan anak. Meskipun aku tidak bisa berbohong kalau aku sangat ingin merasakan menjadi seorang Ibu, tapi aku tidak mempermasalahkannya selama aku denganmu." Franda tersenyum tulus. Senyumnya membuat Nino juga tersenyum.

__ADS_1


"Kau tahu, aku sangat beruntung memiliki istri sepertimu. Sekali lagi, maafkan aku... Maafkan kesalahanku, Sayang!" Nino menciumi tangan istrinya.


"Sudahlah, jangan mengulanginya lagi. Aku tidak akan sebaik ini kalau kau melakukannya lagi, satu kali masih bisa dihitung khilaf tapi kalau dua kali itu namanya penyakit, dan aku tidak ingin kau memiliki penyakit itu... Jaga dirimu dari wanita manapun, kau hanya milikku, Sayang." Franda sedikit mengancam dan memperingati suaminya.


"Aku berjanji, Sayang!" kata Nino dengan yakin, Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan istrinya.


"Aku pegang janjimu!" ucap Franda sambil menatap suaminya, Nino mengangguk.


"Mandilah, aku ingin menelepon Ibu sebentar" lanjutnya. Mereka berdiri dan berpelukan sebentar.


Nino berjalan ke kamar mandi sementara Franda menelepon Ibu.


"Halo, Sweety!" suara Ibu Marissa terdengar saat dering pertama berhenti.


"Mom! Aku menelepon ingin mengabari kalau aku sudah memutuskan akan kembali bersama Nino." kata Franda tanpa berbasa-basi.


"Oh, dear... Are you sure?" tanya Ibu yang penasaran diujung sana.


"Ya, kami akan memulainya lagi. I'm sorry, but I can't leave him..." kata Franda berharap ibunya mengerti dirinya.


"Oh, come on! Itu hidupmu, kau yang berhak menentukannya. Datanglah kesini bersamanya besok untuk makan malam." jawab Ibu tanpa banyak bertanya, Ia tahu Franda pasti akan bercerita padanya nanti.


"Baiklah, kami akan kesana besok... Mom, tolong katakan pada yang lain agar mereka tidak memojokkan Nino besok." pinta Franda.


"Baiklah, ibu akan menyampaikannya pada mereka. Kau sudah makan?" tanya wanita itu dari sambungan telepon.


"Sudah, tadi Nino memasak untukku" jawab Franda sambil tersenyum ceria seolah Ibunya dapat melihatnya.


"Baiklah kalau begitu, sampaikan salam Ibu padanya. Jangan lupa datang besok." ucap Ibu kembali mengingatkan Franda.


"Ok, Mom! We'll see you tomorrow, bye!" Franda langsung mematikan telepon setelah mendengar jawaban ibunya.

__ADS_1


__ADS_2