Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
She's Going Crazy


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


"Ya, bagaimana Joe? Baiklah, jangan mengganggu mereka, cukup awasi dari jauh."


Hatiku lega karena baru saja mendapat kabar dari Joe, salah satu orangku yang saat ini sedang mengawasi Franda. Aku sengaja membiarkannya menghabiskan waktu bersama Mia dan Denise semata-mata aku tidak mau membuatnya merasa di batasi. Franda bukan tipe wanita yang bisa di atur, dia wanita yang mandiri dan bebas. Mengawasinya diam-diam saat dia berada di luar lebih baik dari pada memaksanya duduk diam di rumah.


Duduk di sofa di dalam kamar, aku menunggunya sambil memeriksa beberapa berkas yang berkaitan dengan pekerjaan. Sesuatu yang tak mungkin kulakukan jika Franda berada disini sekarang. Dia akan melototiku dan mengomel tak habis-habis jika aku membawa pekerjaan ke dalam kamar. Aku sendiri tidak masalah dengan peraturan yang dibuatnya karena dengan begitu kami bisa menghabiskan malam tanpa harus menunda.


Aku menghela napas lalu mengangkat kepala menatap jam yang sudah menunjukkan angka dua belas lebih lima puluh menit tengah malam. Sejujurnya aku gelisah dan khawatir, tapi aku berusaha tenang dan percaya pada Franda. Lagi pula, ada Joe yang terus mengawasinya dan setengah jam lalu dia mengatakan Franda masih berada di bar bersama beberapa teman perempuan. Aku tidak tahu pasti siapa mereka, yang jelas dua di antaranya adalah Mia dan Denise.


Masih dengan suasana hati yang tak menentu, aku berderap keluar kamar untuk mengambir air minum di dapur. Sepanjang perjalanan ke dapur aku memikirkan Franda. Dalam hati aku tertawa geli membayangkan dia yang mabuk berat seperti dulu ketika aku menemaninya ke klub. Franda pasti akan sangat kacau dan gila. Tapi aku tak keberatan dengan kekacauan yang dibuatnya karena memang sesekali kita perlu merasakan hidup dengan cara yang berbeda.


Aku berhenti di dapur dan mengambil gelas dari kabinet atas lalu menuang air dan langsung meminumnya. Kemudian aku kembali melangkah menuju ke arah kamar namun telingaku samar-samar menangkap suara orang tertawa dari arah pintu masuk rumah dan aku pun berbelok.


Mataku melotot dan aku melongo melihat Franda, Mia, dan Denise yang tertawa sambil menggumamkan sesuatu yang tak bisa kumengerti. Aku berpikir apa yang mereka minum, dan sebanyak apa sampai mereka sekacau itu.


"Panda, kenapa wajahmu ada dua?" tanya Mia, Franda tertawa sementara Denise menanggapi.


"Ya, wajahmu juga ada dua, oh, tiga, tidak... empat? Ya Tuhan, terlalu banyak Mia." Lalu mereka tertawa bersamaan.


Aku menyandarkan bahu pada dinding sementara mata dan bibirku tersenyum mengamati mereka. Ini adalah hiburan versi terbaru untukku, melihat tiga wanita mabuk terduduk di depan pintu dan mengatakan hal-hal yang tak masuk akal.

__ADS_1


Denise menggeleng beberapa kali sambil menepuk-nepuk kepalanya lalu menggumam. "Kenapa ruangan ini berputar?" Setelahnya dia melemas dan pingsan, lalu tak lama Mia ikut rubuh di sebelahnya.


Aku masih sempat tertawa sekali lagi kemudian bergerak untuk membawa Mia dan Denise terlebih dahulu ke kamar Mia. Namun saat aku kembali untuk membawa Franda ke kamar, dia tidak ada disitu. Aku berbalik, mataku menatap sekeliling ruang tamu dan ruang keluarga, Franda tidak ada.


"Franda?" panggilku sembari berjalan ke arah dapur. Seketika itu aku terbahak.


Franda sedang bersimpuh di depan kulkas yang terbuka sambil memakan es krim. Matanya terpejam sementara tangannya tak berhenti menyendok es krim dan memasukkan ke dalam mulut. Dia terlihat kacau sekaligus menggemaskan. Rambutnya berantakan dan mulutnya penuh es krim yang meleleh di sekitar bibirnya.


Tak mau membiarkannya lebih lama, aku menghampirinya. Mengambil es krim dari tangannya lalu menaruhnya di tempat cucian piring. Kemudian aku mengangkat tubuhnya sementara kakiku menutup pintu kulkas.


Aku membawanya ke kamar seraya tersenyum mendengar mulutnya yang terus berbicara. "Mana es krimku? Hm... kau mengambil es krimku." katanya sambil menusuk-nusuk pipiku dengan telunjuknya.


Franda tertawa dalam gendonganku. Sebelah tangannya mengusap pipiku. "Sean? Kau Sean? Suamiku?" Aku menunduk menatapnya. Rupanya dia belum sadar aku yang membawanya.


"Ya, aku suamimu." jawabku. Franda langsung mencium bibirku dengan rakus. Aku membiarkannya menikmati bibirku sementara aku juga membersihkan es krim yang tersisa di sekitar mulutnya. Aroma alkohol masih tercium namun sedikit tertutupi oleh aroma es krim yang tadi di makannya.


Sampai di kamar aku membaringkan tubuhnya, membuka sepatunya, lalu melucuti bajunya. Kakiku berderap ke lemari untuk mengambil baju ganti dan langsung melekatkan ke tubuhnya. Franda tertawa halus menatapku yang sedang menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


"Kau sangat tampan, Sean." gumamnya. Tangannya menarik kausku, sampai aku terbaring di atasnya. Wajahku yang tepat berada di depan wajahnya langsung menjadi sasaran serangan bibirnya. Franda menciumku sementara tangannya berusaha menarik lepas kausku.


Tanganku bergerak menangkup wajahnya, membuatnya kecewa karena aku menghentikannya. Kucium bibirnya sekali. "Kau sedang mabuk, Franda." kataku lembut dan pelan. Aku tidak mungkin menidurinya dalam keadaan tak sadar seperti itu walaupun aku sangat menginginkannya.

__ADS_1


Franda mendengus. "Aku tidak mabuk, siapa yang mengatakan kalau aku mabuk?" Dia menarik leherku dan menciumku lagi. "Aku merindukanmu, babe." lanjutnya menggodaku dengan sengaja membusungkan dadanya sementara kakinya melilit pinggulku.


Aku tersenyum. Mataku naik ke rambutnya yang berantakan lalu merapikannya dengan jemariku. "Tidurlah. Besok kau tidak akan ingat apa yang terjadi malam ini. Jadi, percuma saja."


Dengan matanya yang nyaris tertutup dia menggodaku lagi. "Tapi aku menginginkannya."


"Tidak." sergahku. "Kau harus istirahat."


Mulut Franda memberengut, lilitan kakinya melemah seiring gairahnya yang kupatahkan. "Kau jahat." Tiba-tiba dia menangis dan tangisnya perlahan mengencang. Aku ingin membujuknya namun dengan gerakan mendadak dia mendorongku dan bergeser ke tepi ranjang.


Franda muntah.


Aku dengan sigap meraih rambutnya dengan sebelah tangan sementara sebelah tanganku yang lain memijat tengkuknya. Sebenarnya aku merasa jijik melihat muntahannya, tetapi aku juga tidak mungkin membiarkannya seperti itu. Setelah dia merasa tenang, aku turun ke bawah untuk mengambil air minum dan memberikan padanya. Franda tidak mengatakan apa-apa lagi karena dia langsung tertidur.


Sebelum ikut berbaring dan memeluknya, aku beranjak dari ranjang untuk membersihkan bekas muntahannya. Aku tidak mengira akan melalukan hal seperti ini dalam hidupku, tetapi aku bersyukur karena setidaknya aku bisa merasakan hidup normal seperti orang lain.


Melihat kekacauan pasanganku, berusaha mengerti dan menikmati prosesnya. Mencintai bukan hanya menuntut, tetapi juga menerima setiap keadaan yang mungkin tidak sesuai dengan pemikiranmu. Secara bergantian melayani satu sama lain. Memperlakukan pasanganmu seperti dia memperlakukanmu. Dan aku dengan senang hati melakukan ini untu Franda.


Aku menginjinkan Franda untuk minum bukan karena aku tidak menyayanginya, justru sebaliknya. Aku sangat mencintainya. Dia terlalu banyak menanggung beban. Aku mengetahui itu dengan jelas meskipun dia tidak mengatakannya. Franda masih terbayang-bayang dengan masa lalunya yang pahit. Kepergian orangtuanya, masa kecilnya yang berat, dan juga perceraiannya.


Tiga hal itu terus saja menghantuinya sampai sekarang, membuatku takut jika suatu hari nanti dia tak sanggup lagi menahannya dan membuatnya hancur kembali. Aku tidak sanggup membayangkan itu terjadi padanya dan aku harus terus membantunya melupakan semua kejadian tak menyenangkan itu.

__ADS_1


__ADS_2