
Jika kalian berpikir penampilan The Price pada Malam Tahun Baru adalah satu-satunya kesempatan yang kami dapatkan sebagai band ecek-ecek, maka kalian salah. Karena tawaran berikutnya datang dari Jason. Crystal, adik perempuannya akan menikah bulan depan, dan setelah mendengar cerita Jason yang berlebihan soal band kami, Crystal dengan antusias meminta kami ikut berpartisipasi dalam pesta pernikahannya.
Sejujurnya aku masih sangsi. Tapi karena kami memiliki waktu yang cukup untuk latihan, kupikir tidak ada salahnya menghibur wajah-wajah penuh harap teman-temanku yang lain. Jadi, aku pun setuju. Tapi untuk melakukan itu tetap ada harga yang harus dibayar.
Selama seminggu aku mesti rela berpisah dengan Sean, karena dia tidak mungkin meninggalkan perusahaan dalam waktu lama agar tragedi kasus Dave tidak terulang lagi. Dan, seperti yang selalu terjadi, Sean tidak mungkin hanya seminggu di Jakarta. Ini sudah hari ke sebelas dan dia masih belum muncul.
Setelah perjalanan lambat yang membuat frustasi karena terjebak dalam antrian lalu lintas yang tak terujung, akhirnya aku dan Mia tiba di bekas pabrik sepatu yang di sewa Taylor untuk studio latihan. Maggie dan Matthew sudah berada di sana, berdiri di anak tangga melingkar dari pintu masuk dengan ekspresi kesal yang sama.
"Biar kutebak, kita sedang menunggu Taylor?"
Maggie meringis. "Tepat."
"Sudah berapa lama kalian disini?"
"Dua puluh delapan menit," kata Matthew, menunjuk ke jam tangannya.
"Percaya padaku, dia menghitung," imbuh Maggie. "Aku mendapat laporan terkini tiap menit. Rasanya seperti berdiri di ambang pintu bersama CNN."
Angin keras menerpa, meniup tetesan hujan ke pintu masuk. Aku mulai menggigil lalu membenamkan kedua tanganku lebih dalam ke saku. "Seharusnya kami sampai disini lebih cepat, tapi lalu lintas nya mengerikan."
"Tidak masalah, Non. Tidak ada juga yang kalian lewatkan. Sam juga terlambat, tapi itu tidak mengherankan... Oh, akhirnya," Matthew mengumumkan, memandang ke balik bahuku. Aku menoleh dan melihat Taylor berlari melewati genangan air menuju kami. "Ketinggalan jam di rumah, ya?"
"Ma-a-a-aff!" oceh Taylor. "Franda, kenapa selalu menawan?" Dia memelukku sekilas, kemudian beralih kepada Mia. "Mia, hei, kau juga tampak keren dengan baju kurung itu." komentarnya sambil terkekeh memandangi adikku yang mengenakan kostum kelinci, lengkap dengan hoodie berkuping. Mia cuek. Kemudian dengan cepat Taylor membuka kunci pintu ganda. Sambil bertepuk tangan, dia menyeringai kepada kami. "Siap memasukkan barang, teman-teman?"
Taylor tertawa namun Matthew berjalan kembali keluar menuju mobilnya, menggumamkan hal-hal yang tidak patut dikatakan sambil melakukannya. Mia meringis. "Matthew, si Bajingan Penyindir mulai beraksi." ketus Mia.
Maggie tak terima dan langsung menyembur adikku, berusaha membela suaminya. "Mulutmu juga sama tajamnya, bahkan lebih!"
Mia mengedikkan bahu. "Aku tidak tersinggung."
Saat semua barang sudah turun dari mobil dan berpindah ke lantai satu, Sam datang. Kami masing-masing meraih satu peralatan lalu berjalan menuju lorong tinggi beratap baja yang berdebu, kemudian menuju pintu baja berpaku berat ke dalam ruang latihan Taylor.
Aku melihat nampan dengan lukisan mawar yang sudah mulai pudar di atas peti teh yang tertutup, menyimpan ketel yang sangat penting, mug-mug random, kopi, teh, dan kantong gula yang tampak tidak meyakinkan. Lampu-lampu kecil digantung di sekeliling ruangan dan beragam lampu meja bertudung menerangi lantai.
Sementara yang lain menyiapkan peralatan, aku membuat teh, kegiatan yang dengan bercanda disebut Taylor sebagai "Aksi Menyelamatkan Muka Sang Vokalis", karena menjadi penyanyi di suatu band biasanya berarti berdiri dengan waktu tak terbatas sementara anggota band lainnya mempersiapkan peralatan mereka.
Taylor minta perhatian kami. "Baik, seperti biasa, Jason kita sama bergunanya dengan kentut saat angin ribut dan belum memberi kita pencerahan tentang apa yang diinginkan adiknya soal lagu-lagu yang harus kita mainkan. Jadi, aku memilih Love Train dan When I Fall In Love sebagai lagu untuk dansa pertama, sisanya kau dan Sam yang memilih. Kalian bisa?" Taylor bertanya padaku.
__ADS_1
"The O'Jays dan Nat King Cole?" Aku mengangguk. "Tidak masalah."
"Jenius!" Taylor menjentikkan dua jarinya memujiku. "Baiklah, kalau begitu kita mulai dulu yang ada. Mia, kudengar kau bisa memainkan saksofon, bagaimana kalau kau bergabung sementara Jason-mu yang lambat itu berusaha menemukan tempat ini?" Taylor berjalan ke arah peti peralatan dan mengeluarkan saksofon dari sana. Selamat mencoba, Taylor!
"Pertama," Apa kubilang, adikku bakal protes. Mia melipat tangan di depan dada. "Dia bukan Jason-ku. Kedua, aku tidak pernah menyentuh saksofon sejak lulus kuliah. Ketiga..."
"Mia," Sam memotong. "Kau terlalu serius, Nak. Kita hanya main-main dan tidak ada salahnya mencoba, bukan? Bakat tidak akan hilang dengan mudah dari seseorang."
Untuk pertama kalinya dalam penglihatanku, Mia menyerah begitu saja. Dengan raut tepaksa dia meraih saksofon dari tangan Taylor dan langsung mencoba memainkan bunyi-bunyian acak. Aku sudah tahu kemampuannya mengendalikan benda itu, dan seketika riuh tepuk tangan menggema di seantero ruangan.
"Kita sudah siap! Love Train. Hitung kapan mulainya, Matt." dengkur Taylor.
Matthew memakai earphone sementara Sam dan aku melakukan hal yang sama, mengamatinya menunggu ketukan. "Dua, tiga, empat..."
Pukul sebelas lewat sepuluh kami istirahat sejenak, dan tepat saat itu Jason datang membawa sekotak besar donat, membuat semua yang hadir bersukacita dan melupakan keterlambatannya. Ketika Mia yang perutnya sangat kecil mampu menghabiskan lebih banyak makanan daripada Taylor dan Matthew sekaligus, menyelundupkan donat kedua dari kotak, Jason mengomel dengan lantang. "Padahal kukira kau akan menjaga berat badanmu, love."
O-o. Jason yang malang...
Ada banyak hal yang sudah kuhafal tentang adikku sejak pertama kali dia terlahir ke dunia, namun yang paling penting yaitu mengenali tanda-tanda bahaya saat dia marah. Sial bagi Jason, dia masih harus mengasah keterampilannya soal ini. Sementara dia meledek Mia, anggota band yang lain perlahan terdiam sambil menunggu konsekuensi yang tidak akan terelakkan.
"Oh, begitu? Jadi, kau punya hak untuk melontarkan komentar diskriminasi dan menyinggung karena apa? Karena kau pelawak? Oh, tunggu... kita tidak mungkin menyebutmu begitu, bukan?"
Jason mengeluarkan tawa gelisah. "Waduh, Mia, kau tidak bisa diajak bercanda, ya?"
Taylor dan Sam meringis saat Maggie dan Matthew memasang wajah cemas. Jason tinggal sejarah.... Siapkan dirimu untuk serangan kedua Mr. Parker.
Merasa tersulut, Mia berkacak pinggang dan bersiap maju untuk perang. "Oh, aku bisa menerima lelucon, Jason. Aku sedang melihat salah satunya!"
"Nah, tunggu dulu..."
"Aku muak dengan sikap bodohmu untuk semua hal, sikap cengengmu pada urusan kita, sifatmu yang tidak bisa diandalkan. Aku berusaha menyembunyikan semuanya dari mereka, dan untuk apa? Supaya kau bisa mencampakkannya kembali ke wajahku karena menurutmu meledekku akan membuatmu tampak seperti jagoan?"
Untuk pertama kalinya, ekspresi Jason tidak menciut oleh kata-kata Mia. Amarah sungguhan kini berkelebat di matanya. "Dan kau yang selalu mengambil keputusan, kan? Membuatmu merasa penting? Kau menganggap dirimu lebih tinggi dan agung, Miss Es Balok, tapi sebenarnya sama sekali tidak."
"Baik. Diluar. Sekarang!"
Kami menonton dalam keadaan terguncang Mia menarik kaus Jason lalu menggiringnya keluar dari pintu menuju lorong berdebu pabrik sepatu.
__ADS_1
"Ya ampun, habis dia sekarang." kata Taylor sementara kami semua beranjak ke pintu untuk menguping. "Aku belum pernah menyaksikan si judes Mia semarah itu."
Kami bisa mendengar nada tidak terima Mia bergema di sepanjang lorong, diikuti dentum berat suara Jason. Selama lima menit penuh pertarungan kedua pihak yang tidak mau kalah itu saling membalas, semakin keras hingga, setelah bentakan terakhir dari Mia, terjadi keheningan.
"Mia membunuhnya." kata Maggie, kekhawatiran terdengar di antara tawanya.
Kami menunggu. Masih tidak mendengar apa-apa. "Mungkin aku harus kesana." usulku.
Taylor membuka mulut untuk menyahut, namun pintu perlahan-lahan mulai terbuka dan kami semua buru-buru kembali ke tempat semula.
Perubahan pada diri adikku begitu dramatis. Hilang sudah ketersinggungannya yang membara, digantikan senyum damai. Saat masuk, kami menyadari Jason berjalan... tanpa kurang suatu apapun... di belakang Mia. Dan mereka bergandengan tangan....
"Yah, sudah beres," Mia tersenyum sambil menepuk-nepuk tangan Jason. "bukan begitu, Sayang?"
Jason tampak jelas terguncang, mengangguk sambil melamun.
Sementara kami mengawasi mereka dengan mulut mengaga lebar, Mia lalu menarik tengkuk drummer kami ke arahnya untuk ciuman penuh gairah. Matthew dan Taylor bersiul sementara Sam, Maggie, dan aku bertepuk tangan.
Ketika mulut mereka terpisah, Mia menyibakkan rambut. "Ada pertanyaan? Tidak? Bagus! Mari kita berlatih kembali."
Pukul tujuh malam, kami melambaikan tangan kepada pasangan berbahagia itu di pabrik sepatu lalu kembali ke rumah Taylor dan Sam. Yang lain masih tercengang mengingat perkembangan tak terduga ini.
"Aku tidak pernah menduganya," kata Taylor sambil menawarkan semangkuk besar nachos dan keju.
"Aku sudah tahu." sahutku seraya mengambil segenggam dari mangkuk. "Apa kalian pikir aku tidak mengenali adikku?"
Sam mengiyakan. "Aku pun sama. Tapi aku tidak mengira mereka akan bermesraan seperti itu."
"Itulah Mia kita," Matthew tertawa. "Tidak pernah melakukan sesuatu setengah-setengah." senyumnya semakin dalam ketika menangkap tatapanku.
Kami masih mengobrol selama beberapa waktu lalu tiba-tiba Taylor berbicara sambil menoleh ke belakangku. "Kalau ini, aku sudah menduga."
Tanpa diminta, kami semua mengikuti arah pandangannya. Dan seketika aku memekik kegirangan, menghamburkan nachos di tanganku dan langsung berlari kencang ke pintu.
Dengan perasaan senang yang membuncah aku melompat, memanjat tubuh besar suamiku dan melilitkan kakiku di pinggangnya. Aku menciumi seluruh sudut wajahnya yang begitu kurindukan selama sebelas hari ini.
Dia tertawa. "Aku juga merindukanmu, Franda." katanya sambil memelukku.
__ADS_1