Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Pengantin Tidur!


__ADS_3

"Sungguh melelahkan! Ini bahkan lebih menyiksa dibanding saat menikah dengan Nino dulu, huh!" aku bermonolog sambil menghempaskan tubuhku diranjang king size hotel tempatku menginap. Akhirnya aku bisa kabur dari ballroom setelah berkali-kali merengek pada Sean, sementara dia masih sibuk menerima ucapan selamat dari teman-teman dan rekan kerjanya yang tak bisa kuhitung jumlahnya.


Kakiku benar-benar sakit, aku tidak sanggup bertahan lebih lama disana. Lagipula tidak ada satupun diantara teman-temannya yang kukenal, jadi untuk apa aku membuang waktu melayani mereka dengan senyum yang terus kupaksakan. Entah berapa ratus orang yang diundangnya, mereka terus berdatangan tanpa henti, satu pergi, muncul lagi yang lainnya, aku bahkan tidak sempat mengisi perutku sama sekali.


Aku terbangun saat merasakan ada yang menepuk wajahku, perlahan kubuka mata, aku tersenyum begitu melihat Ben sedang membangunkanku dengan tangan mungilnya. "Ben, dengan siapa kesini?" kutarik tubuh gempalnya masuk ke pelukanku, aku bangun dan mendapati Ibu tersenyum padaku disisi ranjang. "Mommy merindukanmu, Ben!" ku hujani pipi putraku yang menggemaskan itu dengan ciuman sampai dia protes dengan logat anak-anaknya.


"Mom, stop! Ben sudah besar, Mom! Sebentar lagi mau punya adik." aku terkejut bukan main mendengar ucapannya. Darimana dia tahu bahasa seperti itu, bicaranya bahkan belum benar-benar fasih.


"Ben, siapa yang mengajarimu berkata begitu? Adik mana yang kau maksud, Sayang?"


"Tentu saja adiknya, kau tidak berpikir untuk menunda kehamilan, bukan?" suara Mia yang baru keluar dari kamar mandi membuatku mengalihkan pandangan, aku heran kenapa dia jadi senang sekali mengurusiku sekarang.


"Mia, kau benar-benar cocok menggantikan peran Ibu. Mom, serahkan tugasmu padanya, dia akan melakukan semuanya dengan baik, kau bisa cuti dan nikmati masa tuamu, Mom!" kataku datar.


"Ya, dan aku akan terus merecoki urusan rumah tanggamu seperti Ibu-ibu lainnya!" mataku membulat mendengar jawabannya.


"Ya, Tuhan! Kenapa Kau mengirim gadis ini pada kami?" aku menggeleng tak percaya, sementara Mia dan Ibu terkekeh mendengar keluhanku.


Kulangkahkan kakiku menuju walk in closet kecil untuk mengambil pakaian ganti, lalu keluar dan langsung membelakangi Mia.


"Beritahu Sean agar tidak membelimu gaun dengan resleting di belakang. Ini penting sebelum kau menghajarnya hanya karena barang seperti ini." aku tidak menanggapi ocehan Mia, gadis itu tidak akan berhenti jika terus dilayani. Ocehannya yang tidak ada habisnya hanya membuatku semakin pusing.


"Kau harus bersiap, suamimu sudah menunggu." aku tertegun mendengar ucapan Ibu, sejenak mencerna maksud ucapannya.


Ah, suami! Aku teringat statusku sudah berubah beberapa jam lalu, "Ya, Tuhan! Apa aku terlalu lama meninggalkannya, Mom? Jam berapa sekarang?" aku tersadar kalau aku melupakan Sean sejak tadi, bagaimana bisa aku melakukan ini dihari pernikahanku. Astaga, Franda! Kau benar-benar pengantin wanita terburuk didunia!


"Jam 3, Sean menunggumu dibawah. Bersiaplah dan temui dia."


Dengan cepat aku masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri, hanya berselang 15 menit aku keluar kembali, tidak ada waktu untuk berlama-lama menikmati ritual berendam di air hangat karena Sean sudah ku telantarkan sejak tadi. Aku berharap dia tidak marah atau merajuk, sungguh tidak lucu jika kami bertengkar dihari pertama kami menikah. Wait, kenapa aku mencemaskannya? Aku tidak mencintainya, kan? Aaah...

__ADS_1


"Ben, Mommy tinggal sebentar ya." pamitku pada putra kesayanganku, Ben terlihat kecewa, dia belum puas bermain denganku.


"Where?"


"Mommy mau menemui uncle Sean sebentar, Ben main dengan Granny dan aunty Mia dulu, ok?"


"Lollipop?" hah! Aku tergelak, bayi ini sungguh pintar memanfaatkan situasi.


"Deal! Nanti Mommy bawakan lollipop!" aku langsung menciumnya begitu dia tersenyum, sungguh menggemaskan.


"Mom, aku kebawah sebentar." kataku pada Ibu, tak lupa melabuhkan ciuman dipipi keriputnya.


Ibu mengelus lenganku sambil tersenyum, "Lama juga tidak apa-apa, temani dia dan mulailah belajar menerima posisimu ketika bersamanya." kata ibu, aku mengangguk dan balas tersenyum. Kudekap tubuh tua itu sebelum aku keluar.


Langkahku berderap melewati lorong hotel, berjalan santai sambil mengeluarkan ponsel dari clutch bag gucci-ku.


"Di lounge." aku menatap sekeliling dan mematikan telepon begitu melihat Sean sedang duduk bersama Edward. Mereka terlihat santai, Sean juga sudah mengganti setelan tuxedo-nya. Hah, tentu saja dia menggantinya, siapa juga yang akan menggunakan itu saat pengantin wanitanya kabur dan enak-enakan tidur selama berjam-jam.


"Maaf, aku ketiduran." ucapku, aku sungguh merasa bersalah karena meninggalkannya terlalu lama.


Sean tersenyum, tidak terlihat kesal sama sekali, "Apa tidurmu cukup?" katanya sambil mengelus punggungku, aku meleleh mendapat perlakuan seperti itu. Dulu aku juga sering merasakannya saat bersama Nino, namun kali ini rasanya berbeda, lebih menghanyutkan.


Ah, Nino! Dia tidak hadir dipernikahanku. Aku memang tidak mengharapkan kedatangannya meskipun aku mengundangnya, jangan sampai dia mengacau dan membuatku malu. Aku sangat mengenal mantan suamiku itu, dia tidak akan membiarkanku hidup dengan tenang setelah aku meninggalkannya dan menikah dengan Sean.


"Ya, lumayan." jawabku.


"Berarti kau sudah siap untuk malam ini." Aku tersentak, jantungku berdegup kencang, kata-kata yang terlontar dari mulutnya begitu asing, mengingatkanku pada sesuatu yang sudah lama hilang dari hidupku.


"Y-ya." aku menjawab kikuk, tanganku meremas pinggiran sofa, berusaha membuang rasa gugup sekaligus kesal. Ya, aku kesal pada Edward, kakakku itu menaikkan alisnya berkali-kali untuk menggodaku, dia tahu aku sedang menyembunyikan kegelisahanku. Menyebalkan!

__ADS_1


"Baiklah, Sean, karena pengantimu sudah datang, tidak ada lagi alasan untukku berlama-lama disini. Aku percayakan adikku padamu, kuharap kau bisa menjinakkannya."


"Sialan kau, Ed! Kau pikir aku binatang buas yang akan menerkamnya?"


"Kau lebih mengerikan dari binatang buas, Panda! Hahaha... Sean, hati-hati dengannya. Kelakuannya sama seperti namanya... Panda, terlihat lucu dan menggemaskan, namun aslinya mematikan, dia bisa men..."


"Ed, stop! Kau bisa membuatku kembali menjadi janda tepat dihari pernikahanku!" bentakku pada Edward, mulutnya itu benar-benar kurang ajar. Aku sungguh ingin menjahit bibirnya agar dia berhenti mengoceh. Astaga, kenapa semua orang senang sekali menggodaku!


"Thank's, John!" aku mengalihkan perhatian pada Sean, menatap heran padanya. Belum hilang kekesalanku pada Edward, datang lagi ucapan Sean yang lebih mengagetkanku.


"John? Kenapa kau memanggilnya begitu?" John adalah panggilan Ed dari teman-teman dekatnya. Tunggu, apakah mereka berteman dekat? Aku menatap Sean lalu beralih ke Edward yang sudah berjalan menjauh, melambaikkan tangan tanpa menoleh ke belakang. Sialan!


"Ya, aku sudah lama berteman dengan Ed!" Sean sudah mengerti maksud pertanyaanku.


"Jadi..."


"Ya, tepat seperti yang kau pikirkan!"


"Sialan! Kenapa tidak mengatakannya?"


"Simpan marahmu sampai besok, ada sesuatu yang lebih penting untuk dilakukan."


Pernikahan macam apa ini?!


***


Komen, komen, komen!


Like, like, like!

__ADS_1


__ADS_2