
Aku keluar dari lift dan setengah berlari meninggalkan mereka, tentu saja mereka tetap mengekor seperti anak kucing yang tidak rela kehilangan induknya. Aku tidak peduli, aku ingin masuk ke mobilku sekarang dan kabur. Melarikan diri dari masalah yang akan menyerang sebentar lagi.
Aku merasa ada yang menarik tanganku saat aku akan masuk ke mobilku, "Aku ingin berbicara padamu," kata salah satu dari mereka.
"Hei, Man! Tolong jangan kasar padanya." ucap yang lainnya.
No, perang akan benar-benar pecah kali ini. Aku tahu mereka pasti akan ribut seperti sebelumnya, dan berakhir dengan wajah lebam dan bibir berdarah setelahnya. Sungguh, aku muak setiap saat harus menghentikan mereka. Dua pria ini tidak akan berhenti sebelum puas menghancurkan lawan mereka, tidak memikirkanku sama sekali yang ketakutan setiap melihat mereka berkelahi.
"Aku tidak ada urusan denganmu, kau tidak mendengar yang dikatakannya tadi? Berhenti mengganggunya!" bentak pria yang memegang tanganku, sengaja menyulut amarah lawannya dengan mengulang perkataanku di bar tadi.
Sang lawan tersenyum sinis, dimasukkannya kedua tangannya ke saku, kakinya menendang lantai beberapa kali sambil menunduk, lalu mengangkat kepalanya sambil mendorong bagian dalam mulutnya dengan lidah. Tiba-tiba dia tertawa.
"Hahaha, kau sangat tidak tahu malu, kawan! Dulu kau menyakitinya dan sekarang kau mengemis lagi padanya, ckckck!"
Aku menatap tajam pria itu, memperingatinya agar tidak meladeni mantan suamiku yang saat ini memegang tanganku. Ya, Nino yang saat ini memegang tanganku. Pria itu tidak peduli, dia justru menaikkan kedua alisnya dan mengedikkan bahu. Lalu mengedipkan sebelah matanya, aku sontak membulatkan mata. Bisa-bisanya dia bersikap tenang melakukan itu!
"Itu karena kau yang terlalu pengecut dan menggunakan cara kotormu untuk memisahkan kami!" Nino mulai terpancing. Oh, ini sungguh tidak menguntungkan bagiku. Kenapa aku harus berada disini sekarang!
Lalu, siapa pria yang dimaksud Nino? Sudah pasti Sean! Dua orang ini yang dimaksud Denise terus mengejarku. Nino tidak terima karena dulu Sean yang memberiku foto-foto perselingkuhannya dengan Jenny, ralat, foto-fotonya bersama Jenny, namun mereka tidak selingkuh.
Nino sudah menjelaskan padaku bahwa dia membantu Jenny yang kesulitan masalah keuangan karena harus mengobati Mamanya yang bolak-balik masuk rumah sakit sejak Papanya meninggal, namun aku tetap memilih bercerai dengannya. Kejujuran adalah hal yang sensitif bagiku, aku tidak bisa hidup dengan seseorang yang mempermainkan kepercayaanku dan melakukan sesuatu secara diam-diam. Apakah aku menyesal karena tetap ingin bercerai? Tidak!
Sean tertawa lagi, "No, buddy! Aku memberitahunya karena dia memang harus tahu. Jika tidak, kau akan terus membohonginya dan Franda akan terjebak dengan pernikahan yang tidak sehat selamanya."
Cukup! Aku sudah tidak mau lagi mendengar apapun, ini harus dihentikan. Aku menarik paksa tanganku dari genggaman Nino, dan langsung masuk ke dalam mobil, tak lama aku melaju meninggalkan dua pria bodoh itu. Persetan dengan mereka, aku tidak peduli lagi. Terserah mau saling pukul atau saling bunuh, asal jangan dihadapanku.
Aku bernapas lega begitu mobilku berhenti di dan parkir di basement apartemen. Kelegaanku tak berlangsung lama, karena mobil mantan suamiku juga ikut terparkir.
"Ya, Tuhan! Lagi? Tolong berikan aku ketenangan sebentar saja! Aku sungguh lelah hari ini, no more drama, please!"
__ADS_1
Nino mengetuk kaca mobilku, aku tidak ingin melihatnya lagi, tapi tidak mungkin juga harus menghindar terus-menerus, dengan terpaksa aku membukanya.
"Kenapa lagi?" kataku tanpa menoleh, aku bersandar lemas pada jok dan memijat pelipisku.
"Bisakah kita bicara sebentar? Ku mohon, tidak akan lama." katanya, aku tidak yakin dengannya. Sebentar dalam kamusnya berarti aku harus menghabiskan waktu paling cepat satu jam untuk mendengar segala puisi dan nyanyian untuk membujukku yang tidak terdengar merdu sama sekali ditelingaku.
Aku menatapnya malas, sengaja kubuat selesu mungkin, "Katakanlah disini, aku tidak punya waktu banyak, Ben menungguku." kataku beralasan, padahal Ben sudah tidur sejak tadi.
"Ayo masuk kalau begitu, kita bicarakan didalam, sekalian aku bisa bermain dengan Ben sebentar."
"Tidak, bicara disini saja. Aku lelah, cepat katakan ada apa?" kataku menolak.
Ku dengar dia membuang napasnya kasar, mungkin dia juga frustasi karena belum berhasil meluluhkanku lagi, "Baiklah, setidaknya ijinkan aku masuk ke mobilmu sebentar."
Aku mengangguk, percuma menolaknya. Lebih baik ikuti dan pura-pura mendengarkan apa yang dikatakannya. "Waktumu hanya 10 menit," kataku setelah dia masuk.
"Ck! Jangan memanggilku begitu!" kataku memotong ucapannya, mantan suamiku ini sungguh keras kepala. Berkali-kali aku melarangnya, tapi tetap saja dia memanggilku seperti dulu. Tidak ada perubahan sedikitpun dalam hidupku, kecuali tempat tinggal yang bersebelahan dengannya.
Dia sudah muncul di unitku begitu membuka mata, dan akan berada disana saat aku pulang. Alasannya selalu Ben. Aku tidak bisa menghentikannya untuk menemui Ben karena Ben juga putranya.
"Baiklah, tolong pertimbangkan lagi. Aku sungguh ingin kita kembali bersama seperti dulu, aku merindukanmu."
Lagu yang sama!
Aku melirik jam tanganku, "Waktumu tinggal 8 menit," kataku memperingatkan.
"Beri aku satu kesempatan, hanya satu kesempatan. Aku tidak akan menyia-nyiakanmu lagi,"
Aku melirik sekilas wajah memelasnya, ada sedikit rasa iba yang terlintas, namun dengan cepat kusingkirkan. Jangan sampai aku luluh dan mengabulkan permintaannya.
__ADS_1
"Ayolah, setidaknya lakukan demi Ben!"
"Ayolah, setidaknya lakukan demi Ben!"
Kami mengucapkannya bersamaan. Jika dia terdengar bersungguh-sungguh, aku justru mengatakannya dengan nada mengejek. Aku sungguh hafal syair ini. Hah!
Nino menyerah, ku tebak kali ini dia akan mengeluarkan senjata pamungkasnya.
"Apa kau tidak mencintaiku lagi?" Apa ku bilang, senjata pamungkasnya baru saja keluar.
Aku tidak ingin menjawabnya, aku memilih diam dan mendengarkan sisa puisinya. Setahun berpisah pasti ada yang berbeda, aku tidak menampik bahwa aku masih memiliki perasaan padanya, hidup bersama selama sembilan tahun bukan hal yang mudah untuk ku lupakan, menghilangkan rasa cinta tidak semudah itu.
Aku menatapnya, memperhatikan semua gerak-geriknya yang terlihat gelisah. Sungguh aneh, kenapa mantan suamiku bisa segugup ini di hadapanku?
Kulirik lagi jam tanganku, "Waktumu, tinggal 5 menit!" kataku.
Dia menunduk sambil meremas rambutnya, keputusasaan sangat jelas disana. Aku yakin dia akan menyerah kali ini, semua senjatanya sudah habis, alunan syairnya juga akan terhenti setelah satu bait terakhir.
"Aku akan tetap menunggumu!"
The End!
Kini aku tidak perlu lagi mendengarkan apapun, semua usahanya sudah berakhir, setidaknya untuk hari ini, dia pasti akan mengulanginya besok. Aku tidak peduli, sekarang aku hanya ingin masuk ke kamarku dan bergulung dalam selimut sampai terbangun besok pagi dengan harapan yang sama, 'Semoga dua pria pengacau tidak muncul dan merepotkanku lagi'.
Aku keluar dari dalam mobil, membiarkannya meratapi diri disana. Ku langkahkan kaki menuju unit apartemenku dilantai 17, aku benar-benar lelah hari ini, jangan sampai ada yang menggangguku lagi. Tunggu, kunci mobilku? Ahh, jangan khawatir, besok pagi pasti sudah ada diruang tamu.
"Aahh... Sungguh melelahkan!"
***
__ADS_1