Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Family Visit


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Tak henti-hentinya aku bersyukur dalam hati karena Franda benar-benar membaik. Perlahan tapi pasti, mentalnya menunjukkan kemajuan dan semua proses itu tentu saja tak lepas dari bantuan teman-temanku. Terutama Sam. Dia benar-benar membuktikan bahwa dia adalah terapis yang handal, kemampuannya dalam berbicara dengan Franda layak dipuji dan dia pantas mendapatkan bayaran yang setimpal untuk kerja kerasnya itu. Aku sendiri sudah menyiapkan hadiah untuknya sebagai ungkapan terima kasih karena telah membantu Franda sejauh ini. Semoga saja dia menyukai hadiahku nanti.


Aku baru saja selesai memanaskan mobil lalu mengulurkan tangan saat Franda menyodorkan jaket hitam kepadaku. Dia membantuku memasukkan jaket itu dan memastikannya terpasang pas dan rapi. Jemarinya yang kurus dan lentik bermain di bagian kerah sampai lipatannya benar-benar rapi dan sempurna.


Aku mengangkat sebelah alis. "Apakah aku sudah cukup tampan?"


"Kau bahkan terlalu tampan untuk gadis mana saja, Sean." gerutunya sambil berbalik dan berjalan ke arah pintu mobil sebelah.


Tapi aku mencegatnya, memeluk pinggangnya dari belakang. Wajahku terbenam sejenak di lekukan lehernya dan helaian rambutnya yang sewangi melati. "Jangan cemberut begitu. Kau tahu bahwa kaulah satu-satunya wanita yang membuatku luluh."


Franda mengulurkan tangan ke belakang menepuk-nepuk wajahku. "Well, tentu saja aku tahu itu. Ayo, kita berangkat sekarang."


Aku melepaskan Franda, membiarkan dia melenggang dengan ceria. Kabut dan kilat di matanya yang cerah sebelum dia masuk ke balil mobil menyiratkan bahwa dia tak sabar untuk segera menyerah dan di hadang olehku pada malam nanti. Sial, Franda, malaikatku, aku akan menyergapmu. Aku selalu menyergapmu di mana pun kau membutuhkanku.


Franda mungkin belum menyadari betapa bahagianya aku saat ini. Aku sudah cukup senang membayangkan bagaimana hari-hari kami berikutnya, dan gagasan membawa keluarganya kesini tentu saja akan membuat suasana hatinya semakin membaik. Sejujurnya aku sempat putus asa menghadapi dia yang kacau, tetapi aku kembali pada niatku menikahinya. Aku mencintainya, tak peduli apa dan siapa dia. Aku akan mendukungnya dengan segenap ketulusan yang kumiliki untuknya.


Aku melirik Franda yang sedang merapikan gaunnya, ketika pandangan kami bertemu, kami saling tersenyum. "Kau sangat cantik saat bersemangat seperti itu." gumamku, lalu kembali menatap ke arah jalan di depanku.


"Aku bersemangat karena tak sabar menantikan malam datang, Sean."


Mendadak darahku mendidih dan tubuhku panas mendengar pengumuman yang baru saja diucapkannya. "Franda," Aku berdeham serak menahan gejolak yang menyergapku. Aku berusaha menyetir dengan terkendali tetapi ucapan Franda yang mengingatkanku membuatku gila. Aku menyumpah dengan kasar dan yakin, "Aku akan menggempurmu habis-habisan, Franda. Jeritanmu akan membangunkan semua orang dan segenap penduduk hutan. Sebaiknya kau persiapkan suaramu, Franda."


Franda tertawa, lalu tersenyum padaku. Senyum yang paling membuatku pusing. Aku sudah ingin menepi untuk beberapa saat agar bisa mencium bibirnya. Tapi setelah menggodaku dengan rayuan lembut dan nakalnya, istriku yang istimewa itu tertidur. Demi Tuhan... Franda benar-benar seperti malaikat yang kutawan di bumi. Bukan hanya parasnya, hatinya bahkan lebih lembut lagi.


"Aku mencintaimu, Franda. Aku mencintaimu." bisikku padanya, mengusap-usapkan tanganku di puncak kepalanya agar dia terlelap lebih nyenyak lagi.

__ADS_1


Aku sudah tiba di kota dan ingar-bingar langsung mengelilingin kami. Rasanya sudah lama sekali aku tidak mendapati pemandangan seperti ini. Kendaraan lalu lalang, orang-orang berjalan di trotoar, dan barisan bangunan yang berdiri menghiasi di sisi jalan, membuatku sedikit merindukan Jakarta. Tapi aku harus bertaham lebih lama disini sampai keadaan Franda benar-benar baik.


Dan sekarang aku sudah memarkirkan mobil di area bandara. "Franda," Aku mengguncang dengan lembut bahu malaikatku yang sedang terlelap sampai matanya terbuka. Cokelat dalam matanya seketika menghantam hasratku. "Kita sudah sampai di bandara."


"Hmm..." Dia menggumam lembut dan halus. Dia tidak langsung bangkit, dia meringkuk di kursi sambil memandangiku dengan senyum manisnya. Pipinya merah dan mengundang. Matanya indah dan merayu. Gerak-geriknya seksi dan membujuk. Aku sendiri terkaku dengan tubuh yang mengeras. "Franda... kita sudah sampai." ulangku sekali lagi dengan gugup.


"Ya," bisiknya padaku. "Terimakasih sudah membiarkanku tidur, Sean."


Kami turun dari mobil lalu berjalan cepat ke arah bandara. Franda menggandeng sebelah lenganku sementara sebelah lenganku yang lain tersimpan di saku celanaku. Dia melangkah dengan ceria dan penuh cinta. Aku bisa merasakan bahwa aku adalah satu-satunya yang berharga di hidupnya. Satu-satunya yang akan dimilikinya. Satu-satunya yang akan bercinta dengannya sepanjang hari dan malam.


Tentu saja aku sangat bersemangat dengan semua hal itu, merasa seistimewa itu baginya, membuatku tak berkutik. Aku menunduk dan menelan ludah berkali-kali berdiri di ruang tunggu bandara. Sialan, wajahku bisa saja memerah kali ini. Aku benar-benar merasa malu karena membayangkan panasnya percintaan kami di tengah hari bolong di tempat seperti ini.


Kami baru saja akan duduk di salah satu kursi besi panjang, namun segera tertunda karena mendengar suara Edward berseru dari belakang. Kami berbalik, dan mendapati Edward melambaikan tangan tak jauh dari tempat kami berdiri.


"John!" seruku sambil menggenggam tangan Franda. "Kupikir kalian baru akan sampai setengah jam lagi." kataku setelah kami benar-benar dekat dengannya.


Franda mengarahkan pandangan ke belakang Edward, mencari-cari keberadaan anggota keluarga yang lain. "Dimana Ibu?" tanyanya.


"Mereka sedang makan di restoran di dalam bandara." jawab Edward seraya melangkah lebih dulu, menuntun kami ke arah restoran.


Kami bertiga berjalan santai. Franda tetap menggandeng lenganku, tapi sangat jelas terlihat dia sudah tidak sabar untuk bertemu keluarganya yang lain. Sesekali dia menoleh padaku sambil tersenyum, dan aku dengan senang hati membalas senyumnya.


Aku tersentak saat dia tiba-tiba berteriak lalu melepaskan tanganku dan berlari ke arah Ben. Kedua tangannya terbentang menyambut tubuh mungin Ben. Mereka berpelukan dan saling mencium untuk melepas rindu selama beberapa saat sementara aku menyapa Ibu dan Mia lebih dulu, kemudian memandangi Franda dan Ben yang masih berceloteh.


"Sepertinya ada kemajuan." Aku mengalihkan pandangan pada Edward, dia melirikku dengan sebelah tangan bertengger di pundakku sementara dia menunjuk Franda dengan memajukan dagunya.


Aku tersenyum padanya. "Ya. Dia sudah lebih baik." Aku menatap Franda lagi. Sekarang dia mencium Ibu dan Mia bergantian sambil menggendong Ben di sisi kiri tubuhnya.

__ADS_1


Aku bergeser mendekati Franda dan langsung meraih Ben darinya. "Hei, boy. You miss me?" Ben tertawa, menunjukkan barisan giginya yang putih dan bersih lalu kedua tangannya naik dan melilit leherku. Dia mencium pipiku beberapa kali sampai aku merasa begitu beruntung karena dia sangat menyayangiku.


"I miss you a lot." Aku terkekeh mendengar suara khas anak-anak yang keluar dari mulutnya. Aku mengusapkan hidungku di hidungnya lalu mencium pipinya.


Aku baru saja akan bersuara menggodanya, tapi dia sudah lebih dulu menggumam. "Daddy, I want lollipop. A rainbow lollipop." Kami sontak tertawa mendengar permintaannya, bahkan belum beberapa menit kami bertemu, dia sudah meminta lollipop.


Aku mencium pipinya sekali. "You'll get it. But... promise me that you will be a nice boy." Aku mengulurkan jari kelingking di depan wajahnya dan dia menyambut dengan menautkan jari kelingkingnya.


"I'm promise."


Kami berjalan menuju mobil. Sebelah tanganku menggenggam tangan Franda sementara sebelah tangan lainnya menggendong Ben. Aku begitu menyukai suasana hangat ini. Aku dan keluargaku, berjalan berdampingan menuju arah yang sama. Rasanya sangat hangat dan menyenangkan, lebih menyenangkan lagi karena Franda sedang bahagia sekarang. Aku tahu bahwa dia masih bisa kacau sewaktu-waktu, tapi aku aku yakin Franda mampu mengatasi itu jika kami terus menjaga suasana hatinya, setidaknya sampai dia menjadi lebih kuat.


Aku menjalankan mobil menuju resort yang menjadi tempat bulan maduku bersama Franda dulu, dan dia belum mengetahui itu. Aku siap mendengar semua makian yang akan keluar dari mulutnya saat mengomeliku nanti karena tidak mengatakan apa-apa padanya. Bukan apa-apa, aku tidak mungkin membawa mereka tinggal bersama kami di hutan sementara niatku meminta mereka datang adalah untuk berlibur. Lagi pula, rasanya kurang pantas jika aku memaksa mereka menginap disana sementara aku memiliki tenpat lain yang lebih baik.


Aku melirik Franda yang juga menatapku, namun tatapannya tajam sekaligus menyelidik. Aku yakin dia sudah menyadari kemana aku membawa mereka karena bangunan resort sudah tampak dari jarak kami saat ini.


"Kau berada dalam masalah besar, Sean." bisiknya saat semua orang sudah turun dari mobil lalu melongok keluar bersama Ben. Aku bergidik ngeri sambil membuka pintu mobil.


Tatapannya benar-benar tajam dan sinis. Franda pasti akan mengumpatku habis-habisan karena telah berani membohonginya. Tapi aku buru-buru membuang perasaan khawatir itu karena dia sendiri yang akan luluh padaku begitu aku menyentuh lengannya. Apakah terlalu percaya diri?


Hm... kita lihat saja nanti.


Franda dan yang lainnya sudah masuk lebih dulu ke dalam sementara aku dan Edward menurunkan barang-barang dari mobil. Aku menepuk tangan memanggil salah satu pekerja resort untuk membantu membawa barang kami ke dalam, dan tepat saat pekerja itu berlalu dari hadapan kami, Edward menepuk pundakku sekali. "Terima kasih karena sudah membantu adikku, Sean." gumamnya tanpa menatapku, namun dua detik berikutnya matanya terarah ke mataku. "Aku tidak tahu bagaimana jadinya dia jika kau tidak menemaninya sampai hari ini."


Aku tersenyum padanya, menunduk sebentar sambil menggaruk hidungku yang tidak gatal sama sekali. Rasanya agak sedikit canggung mendengar seorang pria seperti Edward berbicara setulus itu padaku, meski aku tahu dia adalah orang yang memang benar-benar baik. "Aku melakukannya karena dia istriku, John. Franda membutuhkan dukunganku, dan aku harus memberikan itu padanya. Jadi, jangan sungkan." balasku, lalu kami berjalan masuk ke dalam resort.


"Tetap saja, aku harus mengucapkan terima kasih sebagai kakaknya. Aku tahu posisimu sangat sulit ketika berhadapan dengannya saat dia tiba-tiba berubah kacau, tapi kau tetap bertahan dan setia berada di sampingnya. Mendukungnya dan membangkitkan semangatnya lagi. Sampai hari ini aku melihat dia semakin membaik meski kita sendiri belum tahu berapa lama dia akan bertahan." Edward mengembuskan napas berat. "Sekali lagi, terima kasih, bro."

__ADS_1


Aku tersenyum lagi padanya sambil mengibaskan tangan ke udara. "Sudahlah, aku suaminya dan aku harus bertanggungjawab mengurusnya." kataku sebelum membuka pintu dan kami benar-benar masuk ke dalam.


__ADS_2