
"Aku masih tidak bisa mendengar apa-apa, Taylor." kataku kepada Taylor.
"Kau butuh apa?"
"Jelas drum, sedikit bas, dan keyboard." Taylor membungkuk di atas mixer di bagian belakang ruang latihan band, memutar tombol dan memeriksa sambungan listrik.
"Aku tidak tahu kenapa kau tidak mendapat sinyal monitor, Non."
"Sudah di colok belum?" tanya Sean.
"Tentu saja sudah." tukas Matthew dari tempatnya sementara aku menahan tawa. "Aku sendiri yang mencolok semuanya."
Jason mengerang lalu meninggalkan drumnya untuk bergabung dengan Matthew di meja mixer. Sambil menempatkan buku lagu di penyangga partitur, kuamati salah satu kabel yang menghubungkan pengeras suara monitor agak renggang. Kudorong kembali penghubungnya ke dalam colokan dan sekonyong-konyong bunyi-bunyian mengalir deras keluar, membuat Matthew berseru kaget.
Jangan heran, aku masih tahu tentang alat-alat band berkat pengalaman menjadi 'penyanyi diam-diam' saat kuliah dulu. God bless me!
"Nah, itu kabel yang kau colok tadi." Aku mengedip sementara yang lainnya langsung melancarkan ejekan tanpa ampun.
Masing-masing dari kami sudah berada di posisi. Sam dan aku berdiri di depan partitur penyangga buku lagu, Sean dan Taylor dengan gitar mereka berdiri sekitar dua meter di samping kanan-kiri kami, sementara Jason dan Matthew di belakang, berhadapan dengan drum dan keyboard.
Inilah yang kami lakukan hari ini di studio band sewaan di tengah kota, dan seakan-akan ada suatu tombol yang dinyalakan untuk membuat ruangan itu hidup. Dengan gugup, aku memberanikan diri mengeluarkan suara yang disambut tepuk tangan antusias dari Maggie yang duduk di menjadi satu-satunya penonton sesi latihan perdana kami.
Di tengah-tengah lagu Living On A Prayer, Sean mendekatiku, jelas menyukai kesempatan tak terduga untuk memamerkan keterampilannya membawakan lagu-lagu Era 80-an, lalu berseru. "Ini sangat menyenangkan!"
Aku bahagia melihat sikap Sean yang begitu berubah. Sebenarnya sejak kemarin dia masih agak murung, dan aku bisa mengetahui itu meskipun dia berusaha menyembunyikannya. Sean benar-benar bukan pembohong yang baik di hadapanku, aku bisa mengetahui dia sedang berbohong bahkan sebelum dia menyadari itu.
Aku membolak-balik buku lagu untuk memilih lagu berikutnya ketika suara Matthew terdengar memberi saran. "Bagaimana dengan Don't Look Back In Anger? Kau bisa memimpin, tidak apa-apa kan, Sam?"
Sam tersenyum lebar. "Oke-oke saja. Aku juga tidak terlalu ingat liriknya."
"Oke, kalau begitu kau dan aku menyanyikan harmonisasinya." balas Matthew.
__ADS_1
"Uh dan ah standar saja, teman-teman." timpal Jason bergurau, menggoda Matt yang hanya bisa dipercaya menyanyikan bunyi-bunyian acak sebagai harmoni pada lagu pertama dan kedua, mengingatkan kami kembali bahwa Matthew kerap mengacaukan lirik yang akhirnya membuat orang lain bingung.
Matthew meringis. "Terima kasih." sahutnya datar, kemudian menoleh Jason. "Man, kau bisa memberi ketukan untuk kami di lagu ini, lagu berikutnya aku yang memimpin." Jason membuat gerakan hormat tanda setuju, lalu Matthew memeriksa daftar lagu. "Oke. Jadi, aku akan memulai dari Perfect, tapi bisakah kau memberi anggukan supaya kecepatanku tidak salah, bung?" Jason mengacungkan ibu jarinya.
"Mulai saja, Taylor! Kau terlalu cerewet untuk ukuran keyboardist band iseng-iseng." sela Sean tak sabar.
"Ini Hari Meledek Matthew Sedunia, ya?" protes Matthew.
Kami tertawa, lalu aku berusaha menghiburnya. "Tidak. Hanya Rabu biasa, sayang." kataku riang.
"Aku tidak pernah mendapat pujian..." Pemain keyboard kami yang lesu tidak sempat mengeluh lama-lama, karena kami semua menerjangnya dalam pelukan berkelompok dengan simpati berlebihan.
Setelahnya kami langsung memulai Don't Look Back In Anger, dan ketika sampai pada akhir refrein pertama, aku dapat merasakan segumpal emosi yang tak terduga melesak di tenggorokanku, dan dengan susah payah aku berusaha mengendalikannya sementara Matthew memainkan bagian instrumental lagu itu.
Menyanyikan lagu ini membuatku teringat pada mendiang ayahku. Ini lagu favorit yang paling sering kami nyanyikan bersama-sama. Siang atau malam, lagu ini akan terdengar menggema di rumah setiap kali ada kesempatan untuk memutarnya. Terkadang ayahku mengiringiku bernyanyi dengan gitar kesayangannya, dan di lain kesempatan dengan piano.
Kupejamkan mata saat sampai pada akhir refrein untuk kedua kalinya, dan kurasakan tangan Sean meraih tubuhku, mendekapku hati-hati seakan aku adalah berlian yang tidak ternilai harganya. Seketika ingatanku datang semakin jelas, sejernih cahaya matahari yang menerobos dinding kaca transparan membangunkan saraf-sarafku.
Aku menghembuskan napas, lalu membuka mata dan tersenyum pada Sean. "Terima kasih." kataku sambil mengusap lengannya. Aku begitu bersyukur karena Sean sangat mengerti apa yang kubutuhkan tanpa perlu kuberitahu. Dia selalu ada di saat-saat paling penting.
Dia membalas senyumku seraya menganggukkan kepala, kemudian melempar pandandan ke teman-teman kami yang lain. "Bagaimana kalau kita istirahat sebentar?" katanya dengan nada lebih ke pernyataan dibanding pertanyaan.
Jason memukul drumnya antusias. "Kalau begitu kita butuh Spicy Fried Chicken dan bir." Dia melompat dari kursinya. "Aku menawarkan diri sebagai kurir, ada yang mau membantu?"
Sam bersiul menoleh Taylor dan Matt bergantian. "Oke. Aku ikut." kata Taylor.
***
"Ini," kata Sean sambil mengangkat sebotol bir dengan gaya seakan itu adalah pedang Raja Arthur. "Secara resmi adalah Bir Yang Paling Pantas Didapatkan di Dunia."
"Tentu saja. Ditemani santap siang Ayam Goreng Pedas Paling Enak di Dunia." Aku mengiyakan sambil menunjuk tiga kotak makanan siap saji yang dibeli oleh Jason dan Taylor.
__ADS_1
"Yah, mengingat kemarin Jason baru mendapatkan uang saku tambahan untuk Natal dari ayahnya, yaitu Tuan Parker Sr., maka kita kecipratan perlakuan istimewa sebagai penambah semangat latihan band perdana hari ini."
Maggie menangkupkan kedua tangannya lalu memejamkan mata. "Tolong, Tuhan... biarkan Jason mendapat lebih banyak kebaikan dari ayahnya seperti hari ini! Aku perlu mengurangi tagihan kartu kreditku!"
"Aku mendengarmu, saudaraku!" kata Sean dengan logat ala Pastor. "Dan semua berkata..."
Kami mengangkat tangan, lalu bersama-sama berkata, "A...min!"
Setelah makan aku melangkah keluar studio, membawa sebotol bir di tanganku dan duduk di kursi kayu panjang yang berada di bawah pohon mapel. Aku membutuhkan waktu untuk mengembalikan suasana hatiku sebelum sesi kedua. Kemudian sekitar dua menit aku duduk disana, Sam datang menghampiriku.
Dia tersenyum saat mendaratkan bokongnya di sebelahku. "Mau bercerita?" tanya Sam setelah beberapa saat kami hanya diam.
Aku menunduk menatap bir di tanganku. "Ini tentang ayahku," gumamku berat. Setelah semua masalahku berlalu, entah kenapa aku semakin sering merindukannya. "Aku hanya merindukannya." Aku meneguk sedikit birku.
Sam tersenyum lebar, seketika membuatku merasa lebih tenang. Harus kuakui dia cukup hebat sebagai terapis. Dia tahu kapan harus berbicara dan kapan harus mendengarkan. Hanya dengan senyumnya saja aku bisa melihat Sam tahu seperti apa perasaanku saat ini. Aku tidak bermaksud cengeng, hanya saja merindukan seseorang yang kita sayangi itu rasanya amat menyakitkan, apalagi jika kita tidak bisa bertemu dengannya lagi. It sucks!
"Kau tahu? Aku suka Franda baru yang kulihat sekarang." kata Sam. Perubahan topiknya yang cepat membuatku terkejut beberapa detik. "Aku bersungguh-sungguh, Franda. Sejak kita bertemu lagi aku melihat kau sudah berbeda. Percaya diri, positif... dan aku yakin mereka semua juga melihatnya. Jangan memandangiku seolah-olah aku gila, aku sedang berusaha memujimu."
"Terima kasih. Tapi menurutku aku tidak berbeda."
"Yah, tapi kau sudah berubah ke arah yang lebih baik. Aku tidak akan mengatakan itu kalau Taylor tidak menyadarinya. Biasanya kalau dia belum berhasil menciptakan resep olahan daging tikus dia tidak akan menyadari apa-apa." gumamnya bergurau meledek semangat suaminya dalam menciptakan resep baru.
Aku tertawa mendengar kata-kata Sam. "Benarkah? Aku tidak percaya Taylor bisa sesemangat itu saat memasak."
Sam mendengus. "Uuh, kau belum tahu saja, si Gordon Ramsey itu nyaris membuat rumah kami berubah menjadi kandang ternak. Setiap hari ada saja hewan aneh yang dia bawa pulang." gerutu Sam dengan nada terdengar sangat kesal. "Aku tidak yakin akan bertahan lebih lama dengannya. Tunggu saja sampai dia membawa kepala babi ke rumah, maka detik itu juga aku akan memenggal kepalanya."
"Katakan saja lebih keras, sayang. Babi yang kau maksud belum mendengarnya." suara protes Taylor terdengar tiba-tiba, diikuti gelak tawa yang lain dari belakangnya.
Maggie ikut terkekeh sambil mengangkat botol birnya. "Taylor Jones, aku salut denganmu. Kau satu-satunya orang yang kukenal bisa berpikir bahwa binatang menjijikkan seperti tikus bisa diolah menjadi makanan enak. Berikutnya apa? Cicak?"
Taylor mengangkat bahu cuek. "Sudah bulan lalu."
__ADS_1
Ombak tawa tidak berhenti menggulung kami semua. Kelucuan-kelucuan lain masih terjadi sepanjang hari itu sampai akhirnya kami memutuskan pulang dan menjadwalkan pertemuan dua hari kemudian.