Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
A Plan.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku sedang mengobrol dengan teman-temanku di halaman belakang ketika Sam dan Maggie tiba-tiba datang dengan raut cemas. Wajah keduanya pucat dan mereka terlihat gemetar. Aku menoleh ke belakang dan mendadak aku seperti tersengat listrik ribuan volt. Sekujur tubuhku menegang, dadaku bergemuruh hebat, dan jantungku seakan melompar keluar.


"Franda." Aku langsung beranjak dari tempatku, berlari membabi-buta melewati Sam dan Maggie yang berdiri di ambang pintu, tanpa peduli lagi pada mereka yang tak sengaja kutabrak.


Sampai di depan pintu kamar, aku menarik napas perlahan-lahan, menenangkan diriku lebih dulu agar Franda tidak terkejut dengan suaraku yang mungkin sedikit tinggi. Aku tidak mau dia bertambah takut saat mendengar panggilanku. Setelah merasa sedikit tenang aku mengeluarkan suara dari tenggorokan. "Franda,"


Tidak ada jawaban untuk beberapa saat. Kemudian aku mengetuk pintu. "Franda, apa kau baik-baik saja?" panggilku lagi dengan suara bergetar. Hatiku dipenuhi ketakutan bahwa dia akan melakukan sesuatu yang buruk di dalam sana.


Aku berbalik, menatap semua orang yang tampak cemas. Pandanganku menajam pada Sam dan Maggie. "Apa yang kalian lakukan?" bentakku, tak sanggup lagi menahan diri untuk tidak marah pada mereka.


Sam dan Maggie terlonjak kaget, mulut keduanya terbuka lebar, namun tidak ada kata-kata apapun yang lolos dari sana. Sam meremas kedua tangan yang terjuntai di sisi tubuhnya dengan wajah seputih kapas, sementara ekspresi Maggie tak jauh berbeda dengan Sam. Dia menangis ketakutan dalam pelukan Matthew.


Aku berbalik lagi ke pintu, mengetuk dan memanggil Franda beberapa kali, dan tiba-tiba aku tersentak saat mendengar dia berteriak dari dalam.


Tak mau membuang waktu, aku pun mendorong pintu sekuat tenaga. Satu dorongan belum menghasilkan apa-apa selain sakit di lenganku dan itu membuatku mengerang. Dorongan kedua aku di bantu oleh Jason dan Taylor yang ikut menendang pintu dengan kaki mereka. Pintu masih belum terbuka. Dan pada dorongan ketiga, aku mundur lebih jauh untuk mengambil ancang-ancang, kemudian melesak secepat mungkin menerjang pintu sekuat tenaga.


Tubuhku nyaris tersungkur ketika pintu terbuka sepenuhnya.


Pemandangan pertama yang kulihat adalah Franda sedang berdiri di dekat nakas dengan tubuh gemetar sementara tangannya terjulur meraih sesuatu yang tak nampak dari tempatku berdiri, lalu dia berbalik dan langsung berlari ke arahku. "Tolong aku, Sean. Please... aku tidak mau melakukannya, dia yang menyuruhku, Sean. Tolong aku... Selamatkan aku, Sean. Selamatkan aku." Dia memelukku amat kuat, lengannya bahkan mencengkeram punggungku.

__ADS_1


Aku menunduk, mencium kepalanya berulangkali seraya balas memeluknya. "Tenanglah, Franda. Kau akan baik-baik saja. Aku disini bersamamu." gumamku, berusaha terdengar tenang agar dia merasa nyaman.


Aku melempar pandangan ke belakang, melirik teman-temanku dan meminta mereka keluar dengan gerakan kepala. Keadaan Franda bukanlah sesuatu yang layak untuk di jadikan tontonan, meski aku sendiri ragu teman-temanku akan menikmati tontonan ini. Mereka semua adalah orang-orang beradab yang pandai menjaga aturan dan tahu cara menghormati orang lain.


Aku terlonjak kaget ketika tiba-tiba Franda melepaskan diri dariku. Matanya menusuk ke dalam mataku. Dia tampak seperti sedang marah, namun ada ketakutan yang sangat jelas dari sorotnya. Aku meraih tangannya lagi tetapi dia menepis cengkeramanku. "Lepaskan aku."


Aku mendesah dan menarik napas berat. "Franda, aku tahu kau sedang cemas sekarang, kau sedang takut pada sesuatu yang tak kau ketahui dari mana asalnya. Tapi ada aku disini, Franda. Aku akan menemanimu, menjagamu dari apapun." Aku meraih lengannya lagi. Menariknya dengan lembut sampai dia menghadapku lagi. Hatiku ikut remuk redam menyaksikan ekspresinya yang putus asa. "Percaya padaku, hm? Aku tidak akan membiarkan siapapun atau apapun mengganggumu. Maafkan aku jika membuatmu kecewa, aku hanya ingin kau merasa lebih baik selama kita berada disini. Aku ingin kau berhasil melawan kecemasanmu. Kau membutuhkan pertolongan, Franda. Sam dan yang lainnya adalah orang-orang baik yang akan membantu kita menghadapi ini, mereka bukan musuhmu."


Franda membisu sejenak, dia melotot menatapku. Tanganku begitu ingin merengkuh tubuhnya yang rapuh dan menghiburnya dengan pelukan seperti yang selalu kulakukan selama ini. "Franda," panggilku lagi dengan nada memohon. "Aku tahu apa yang sedang kau hadapi, sudah kukatakan berkali-kali bahwa aku tidak akan meninggalkanmu, Franda. Kau tidak pernah sendirian, selalu ada aku dan orang-orang yang menyayangimu."


"Kau wanita yang hebat. Lebih hebat dari apapun. Kau tidak mungkin bisa dikalahkan oleh rasa takutmu, itu tidak ada apa-apanya dibanding kekuatan yang ada dalam dirimu. Kau jauh lebih kuat dari yang kau kira, semua yang ada padamu merupakan sesuatu yang ajaib, sesuatu yang spesial, hingga takkan ada satu hal pun yang bisa membuatmu terlihat buruk. Tidak juga PTSD-mu itu."


Franda melunak, bahunya melemas, dan dia menunduk sembari memejamkan mata. Dengan cepat aku menariknya ke dalam dekapanku, menciumi kepalanya sampai dia merasa tenang. Aku tidak percaya dia berubah secepat ini. Belum lama aku mendengar dia tertawa di dapur bersama Sam dan Maggie, lalu beberapa menit kemudian dia berubah hancur. Entah apa yang mereka bicarakan, tapi apapun itu, pasti ada sesuatu yang memancing reaksinya.


Franda menatapku. Sorot matanya tetap murung, menunjukkan betapa remuk perasaannya saat ini. Mulutku melengkung amat tinggi padanya, dengan segenap jiwa ragaku kuperlihatkan melalui senyum bahwa aku benar-benar menyayanginya. "Tenanglah, oke? Aku selalu bersamamu." Dia mengangguk lemah.


Aku membaringkan tubuhnya di ranjang, menciumi keningnya lagi beberapa kali, dan menunggu sampai dia tertidur. Lalu aku beranjak keluar dari kamar untuk menemui Sam dan yang lainnya.


"Apa yang terjadi?" tanyaku pada Sam begitu aku menutup pintu kamar. Mereka semua sedang duduk di ruang tengah. Tidak ada suasana asik seperti sebelumnya, wajah mereka murung dan tampak khawatir.


Sam menghela napas. "Kondisinya sangat parah, Sean. Kau harus membawanya ke psikiater."

__ADS_1


Aku tersentak mendengar perkataan Sam. Dia tidak menjawab pertanyaanku, tetapi malah mengatakan sesuatu yang tidak masuk akal, tapi aku sangat sadar bahwa yang dikatakan Sam memang benar. "Sam, aku tahu separah apa kondisinya, tetapi Franda tidak mau berhubungan dengan psikiater dan semacamnya. Apa kau mengatakan tentang pekerjaanmu padanya?"


Sam terdiam cukup lama, kemudian mengangguk pelan. Detik itu juga tubuhku melemas, tulang-tulangku seakan meleleh. Anggukan Sam menjelaskan kenapa Franda mendadak berubah linglung dan kacau. Aku tidak percaya dia mengatakan itu pada Franda, padahal aku sudah mengingatkannya untuk tidak mengungkapkan tentang pekerjaannya. "Sam," desahku putus asa.


"Kau tidak bisa menghadapinya seorang diri, Sean. Kau membutuhkan orang lain yang ahli dalam hal ini. Istrimu tidak akan sembuh jika kau bertahan merawatnya sendiri, dan kemampuanmu juga tidak sebaik itu dalam menolongnya."


"Tidak." sergahku. "Aku tidak akan melakukan itu. Franda tidak menginginkannya dan aku tidak akan memaksanya. Lagi pula, bukankah kau sudah bersedia membantuku? Kau sudah berjanji padaku, Sam. Tolong tepati janjimu." Sam memutar bola matanya.


"Please, Sam..."


Sam tertunduk. Dia tak yakin dengan permintaanku yang mungkin terlalu berat untuknya. Tapi hanya itu jalan yang bisa kucoba saat ini. Aku tidak tahu seberapa bagus dia dengan pekerjaannya, namun tetap saja Sam pasti mengerti bagaimana cara berhadapan dengan Franda, dan itu sudah cukup membantuku. Aku hanya ingin Sam berbicara pada Franda seperti dia berbicara pada pasiennya.


Sam menghembuskan napas berat. "Baiklah." desisnya, membuatku merasa lega. "Aku akan membantumu. Tapi jangan mengatur atau melarangku jika aku melakukan sesuatu padanya. Maksudku, aku mungkin akan memberinya obat sesekali saat dia berada dalam keadaan paling kacau. Apakah kau tak masalah dengan itu?"


Aku terdiam sejenak. Memikirkan apakah aku harus membiarkannya atau tidak. Seberkas kekhawatiran lain muncul di kepalaku ketika membayangkan bagaimana reaksi Franda jika dia mengetahui rencana bari ini. Tapi segera kusingkirkan semua ketakutan itu semata-mata aku ingin dia benar-benar sembuh. "Baiklah. Lakukan saja semua yang kau rasa perlu. Aku percaya padamu."


Aku mengedarkan pandangan pada yang lainnya. "Aku minta maaf karena aku membuat kalian terkejut." kataku.


"Santai saja, man. Kami paham situasimu saat ini. Katakan saja jika kau membutuhkan sesuatu, aku dan yang lainnya akan berada disini untuk membantu kalian." sahut Matt.


"Ya. Kami akan menemani kalian disini." Taylor menyambar dengan cepat.

__ADS_1


Aku mengangguk dan tersenyum. "Terima kasih."


__ADS_2