Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Crazy fate


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


"Kau harus bertemu dengannya, Bianka. Panda tidak bisa melupakan kematianmu dan suamimu. Dia masih membutuhkanmu."


"Maaf, aku tidak bisa melalukan itu."


Aku memandangi dua orang wanita paruh baya yang sedang berbicara di hadapanku dan Edward saat ini. Keduanya adalah ibu dari istriku, artinya ibu mertuaku. Yang satu ibu kandungnya, sementara yang satunya lagi adalah ibu yang merawatnya sejak kecil.


Ya, setelah Edward membujuk ibu kandung Franda--aku tidak tahu bagaimana Edward bisa meyakinkan wanita itu untuk kembali ke Indonesia--pada akhirnya dia mau mengikuti permintaan Edward.


Setelah tiba di Indonesia tadi malam, kami memutuskan untuk mengajaknya berbicara mengenai masalah ini, dan disinilah kami sekarang.


"Kenapa kau tega berbuat sekejam itu padanya? Apa yang sudah dia lakukan sehingga kau tidak mau bertemu dengannya? Apa kau pernah memikirkan bagaimana kehidupannya selama ini? Kau tidak akan tahu karena kau tidak peduli padanya. Tapi semuanya sudah cukup, kau harus bertemu dengannya." Ibu mertuaku menggelengkan kepala tak percaya. Air matanya mulai menggenang.


"Tidak, Marissa, jangan memberitahunya. Dia tidak perlu mengetahui bahwa aku masih hidup. Franda tidak akan memaafkanku, dan aku yakin dia tidak mungkin bisa menerimaku kembali." Sekarang giliran wanita itu yang berbicara. Aku tidak tahu harus memanggilnya dengan sebutan apa. Perbuatannya terlalu kejam dan menyakitkan.


"Kesalahanku terlalu besar. Tidak hanya membunuh suamiku, aku bahkan menelantarkan putriku satu-satunya. Tidak ada alasan apapun yang bisa membenarkan perbuatanku. Aku tahu apa yang dilaluinya selama ini, dia menderita karena kematianku dan papanya. Tapi sekarang dia sudah baik-baik saja, setidaknya aku bersyukur dengan kenyataan itu." Dia melanjutkan, dengan suara bergetar dan air mata juga tampak mengalir di pipinya.


Aku menghela napas berat, menyaksikan dua wanita sedang berdebat seperti ini bukan hal yang menyenangkan. Tapi memang harus dilakukan karena ini menyangkut istriku. Aku ingin menyelesaikan masalah ini secepatnya agar tidak ada lagi badai yang akan menerjang kehidupan kami. Sungguh, aku ingin hidup dengan tenang dan tanpa ada masalah rumit seperti ini.


Aku melirik ibu mertuaku. Dia terlihat putus asa dan tak percaya pada wanita yang ada di hadapannya. "Bianka," suaranya bergetar. "Panda berhak tahu bahwa kau masih hidup, tidak peduli bagaimana reaksinya nanti. Aku bisa mengerti alasanmu membunuh suamimu, dan aku yakin Panda juga akan paham jika kau memberitahunya. Hanya saja aku tidak tahu kenapa kau harus bersembunyi selama ini, kau bisa membawanya bersamamu kalau memang kau menyayanginya." Dia berusaha meyakinkannya sekali lagi, tapi tentu saja tidak akan semudah itu.


"Itu tidak mungkin kulakukan." balas wanita itu cepat. "Waktu itu Franda masih terlalu kecil, dan aku tidak bisa membawanya sementara aku berada dalam pelarian. Kumohon, Marissa, biarkan dia tetap menganggap bahwa aku sudah mati."


Ibu mertuaku menggelengkan kepala lagi, dia terlihat benar-benar kehabisan akal. Raut frustasi dan putus asa sangat jelas terlihat di wajahnya. Dia menunduk sementara wanita itu berusaha meraih tangannya.


Aku baru saja ingin berbicara saat tiba-tiba kudengar suara istriku dari arah pintu. Mendadak aku merasa seperti terkena serangan jantung, lalu tanpa menunggu lebih lama aku langsung berlari ke arah pintu dan mendapati Franda berada disana.

__ADS_1


Dia tampak seperti menahan sakit. Kedua matanya terpejam kuat, kepalanya mendongak sementara kedua tangannya mencengkeram lengan Black. Wajahnya memerah dan aku bisa merasakan betapa dia kesakitan saat ini dari rautnya.


"Franda," Aku meraih tubuhnya dari Black, namun cengkeramannya di lengan Black terlalu kuat. "Sayang, aku disini. Buka matamu, Franda."


Dia tidak membuka matanya, sekujur tubuhnya gemetar. "Sean..." Aku menangis saat mendengar suaranya yang lemah. "K-kumohon... tolong aku."


"Franda, aku akan menolongmu. Buka matamu, sayang. Ayo, buka matamu." Aku menepuk-nepuk pipinya pelan, berharap dia membuka mata. Namun yang terjadi berikutnya adalah sekujur tubuhnya menegang, mulutnya membuka, dan dia terlihat berusaha meraup udara.


Setelah Black berhasil melepaskan lengannya dari cengkeraman Franda, aku langsung menggendongnya masuk ke dalam rumah. "John, katakan pada Ameer untuk menghubungi dokterku." kataku sambil berjalan.


Aku membaringkan tubuhnya di atas sofa. Matanya masih terpejam dan wajahnya semakin memerah. Kedua tangannya kini mencengkeram kuat lenganku sampai jemarinya memutih. "Ss-sean..." Dia berbisik dengan napas tercekat. "Aa-aku takut, kumohon..."


"Panda, ini mommy. Apa kau dengar?" ibu mertuaku berbicara dari belakang sandaran sofa, kedua tangannya menepuk-nepuk pipi Franda. "Tenanglah, sweetie. Tarik napas dan hembuskan. Semuanya akan baik-baik saja." gumamnya tenang, tapi ketakutan terdengar sangat jelas di nadanya.


Franda belum merespon, sementara cengkeraman tangannya semakin kuat di lenganku. "Franda, sayang... aku disini. Buka matamu, sayang." Aku semakin kalut saat melihat air mata mengalir dari sudut matanya.


"Ya Tuhan, darah..." Aku mengangkat kepala menatap ibu mertuaku, lalu mengikuti arah pandangannya. Disitulah kami baru menyadari sesuatu telah terjadi pada kandungan Franda.


Aku membeku. Mataku terpaku pada darah yang terlihat di paha Franda. Mendadak otakku tidak bisa mencerna apapun, telingaku tidak bisa mendengar apapun. Kedua tanganku gemetar. Lalu aku tersentak saat Edward mendorongku dan mengangkat tubuh Franda.


Aku masih diam di tempatku tanpa melakukan apapun, pikiranku kosong, dan napasku terasa terputus, hingga Ameer mengguncang-guncang bahuku dengan sangat keras. Aku terkesiap, mengerjap, dan kebingungan.


"Sir, kita harus segera ke rumah sakit. Mereka sudah membawanya kesana."


Pada akhirnya aku berhasil meraih kesadaranku kembali, lalu dengan cepat aku langsung berdiri dan bergegas keluar rumah. Ameer dengan sigap berjalan mengikutiku dan langsung mengambil tempat di belakang kursi pengemudi mobil.


Sepanjang perjalanan air mataku tidak bisa berhenti mengalir. Tidak ada suara yang terdengar dari mulutku, namun aku tidak bisa menghentikannya. Perasaanku dipenuhi oleh ketakutan. Rasanya seperti de javu. Sepanjang pernikahanku bersama Franda, sudah dua kali aku harus menyaksikan dia bertaruh dengan nyawanya.

__ADS_1


Dan ini adalah yang ketiga kalinya.


Lagi-lagi, ini akibat kecerobohanku. Andai saja aku mengikuti saran Edward dan tidak memaksakan diri membawa ibu kandung Franda kesini, hal ini pasti tidak akan terjadi. Franda akan baik-baik saja.


Tapi, bukan ini yang kurencanakan. Aku hanya ingin ibu kandung Franda bertemu dengan ibu mertuaku, aku tidak menduga Franda akan datang dan mendengar semuanya. Aku benar-benar tidak tahu harus melakukan apa sekarang. Jika sesuatu terjadi padanya atau pada anak kami, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.


Aku menghembuskan napas putus asa, memandangi jalanan dengan perasaan bingung dan takut. Sekali lagi, bukan ini akhir yang kuharapkan terjadi.


"Ya Tuhan, maafkan aku, Franda." Aku bisa mendengar suaraku sendiri berbisik pelan.


Tidak ada lagi yang bisa kurasakan saat ini, semuanya berjalan begitu cepat. Pikiranku belum sanggup mencerna apapun selain ketakutan yang meresap hingga memenuhi setiap sel-sel tubuhku. Rasanya begitu menyakitkan. Menyadari akulah yang menjadi penyebab dia harus mengalami hal seperti ini lagi.


Berkali-kali aku berjanji akan melindunginya, tapi yang kulakukan selalu membuatnya berada dalam bahaya. Aku tidak tahu apakah ini kutukan atau apa. Tapi jika mengulang semua perjalanan kami, aku menyesali setiap detik yang kuhabiskan saat memintanya menjadi istriku.


Franda, istriku yang malang. Kenapa harus kau yang mengalami semua kejadian pahit ini? Oh Tuhan, apakah aku tidak boleh hidup bahagia bersamanya? Tidak adakah ketenangan yang bisa kau berikan pada kami? Kumohon, Ya Tuhan... biarkan aku damai bersamanya.


"Kita sudah sampai, sir." Suara Ameer membuyarkan pikiranku.


Aku menatap ke depan dan menyadari kami sudah berhenti di area parkir rumah sakit. Dengan perlahan aku berjalan memasuki gedung rumah sakit, aku tidak ingin terburu-buru untuk mendengar berita yang mungkin saja bukanlah sesuatu yang ingin kudengar.


"Dokter sedang memeriksanya." kata Edward padaku setelah aku berdiri di dekatnya. "Dia akan baik-baik saja."


Aku tidak mengatakan apapun untuk merespon ucapannya. Mulutku terkunci, tidak ada kata-kata yang bisa kuucapkan. Perlahan kupandangi semua orang yang ada di dekatku saat ini. Wajah-wajah penuh harap yang menanti dengan cemas. Raut mereka menunjukkan ekspresi yang tak jauh berbeda. Termasuk ibu kandung Franda yang sedang menangis di kursi paling ujung.


Dia terisak menunduk, kedua tangannya tertaut menopang keningnya, tampak sangat merasa bersalah. Dia memang bersalah, tapi aku bahkan tidak sanggup untuk membencinya. Kalaupun ada orang yang berhak melakukan itu maka dia adalah Franda.


Kemudian seorang dokter keluar dari dalam ruangan gawat darurat, membuat kami semua memandanginya.

__ADS_1


"Dia kehilangan banyak darah, dan tekanan darahnya terlalu tinggi, jadi kami harus melakukan tindakan operasi untuk menyelamatkan ibu dan bayinya."


__ADS_2