
"Dhea!" Aku memekik dan berlari untuk memeluknya. "Ya Tuhan... aku sangat merindukanmu."
Dhea terkekeh dan balas memelukku. "Aku juga merindukanmu, bos. Senang berjumpa denganmu lagi, mm... kakak ipar?" Aku tertawa mendengar nadanya yang menggodaku.
Aku menarik diri dari Dhea. Hatiku bersorak gembira dengan kehadirannya. Sudah lama sejak terakhir kali aku melihatnya, tiga tahun yang lalu kurasa. Saat aku memecatnya karena bekerja telah sama dengan Sean. Well, aku agak menyesali itu sekarang.
"Maaf tidak memberitahumu sebelumnya, dia berkeras ingin memberimu kejutan." Sean berdiri di sampingku setelah meletakkan makanan yang kami bawa di meja. Sebelah tangannya menempel di bagian bawah punggungku sementara dagunya maju menunjuk Dhea.
"It's okay... well, kau berhasil mengejutkanku, Dhea." kataku sambil tersenyum senang.
"Apa yang dia lakukan disini?" Dhea bergumam, kedua alisnya terangkat menatap seseorang di belakangku dan Sean. Aku bisa melihat raut tidak suka di wajahnya.
Sean berbalik menoleh seseorang yang melintas di ruang keluarga. "Aku yang mengundangnya." katanya menjelaskan. "Tidak ada maksud apapun," sambungnya ketika aku melihat siapa yang di maksudnya.
Nino sedang berjalan sambil memegang sebuket bunga mawar kuning di tangannya. "Nino!" Aku berseru, antara bingung dan antusias. Ketika dia melihatku, dia tersenyum seraya menghampiri kami.
Sean melilitkan sebelah lengannya di pinggangku saat Nino menyapa ibuku sejenak sebelum kembali menatap kami.
"Senang berjumpa dengan kalian lagi," Dia memberiku senyum hangat. "Kuharap kau tidak keberatan dengan kedatanganku."
Aku membalas senyumnya. "Oh, sama sekali tidak."
"Bunga yang indah, bung." dengkur Sean sedingin es tanpa membalas ucapan Nino. Aura persaingan mulai terlihat di rahangnya yang mengeras. Kenapa dia mengundang Nino jika dia tidak menyukainya? Aneh.
"Oh, mawar kuning untuk pertemanan." balas Nino, menyerahkan bunga itu padaku. "Aku berharap kita bisa memulai sesuatu yang baik hari ini."
Aku tahu Nino tidak nyaman dengan situasi ini, dimana semua orang memandangnya dengan tatapan lapar seakan ingin menerkamnya. Tapi aku tetap menghargai niat baiknya karena sudah menerima undangan Sean. Aku juga menghargai upaya suamiku untuk memperbaiki keadaan. Sudah kubilang, makhluk jantan yang satu ini tidak bisa di tebak.
Beberapa menit sebelumnya dia menggodaku dengan pertanyaan konyol tentang hubunganku dengan Nino, tapi lihat sekarang, dia malah memanggil sumber masalahnya.
Aku menerima bunga yang diberikan Nino. "Ini sangat indah, terima kasih." ucapku tulus, aku maju selangkah untuk memeluknya, menyatakan bahwa aku bersungguh-sungguh.
Nino tersenyum malu-malu. "Sama-sama, dan terima kasih sudah mengundangku, bung."
Sean tidak menjawab, hanya merespon dengan anggukan samar. Diam-diam aku menyikut perutnya, meminta agar dia bersikap baik.
"Aku tahu kau mungkin sibuk," kata Sean pada akhirnya setelah melihat mataku mengancamnya. "Tapi terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menerima undanganku." Kami mengobrol sambil berdiri selama beberapa saat sebelum aku meninggalkan mereka dan menemui Dhea.
Hingga beberapa jam kemudian aku mulai mabuk karena peresmian rumah dadakan yang di usung oleh Mia dan Denise, dan sekarang kami sedang duduk di ruang sofa sembari mendengarkan rencana pernikahan Dhea yang cukup mengejutkan.
"Aku ingin kau menjadi pengiring pengantinku." Dhea menggenggam tangan Mia yang duduk di sebelahnya.
Mia terlihat antusias dengan menganggukkan kepala. "Yes, yes, aku akan melakukannya."
__ADS_1
Sean muncul tiba-tiba muncul entah dari mana dengan membawa beberapa botol bir di tangannya. Aku menghembuskan napas seraya memijat pangkal hidungku sementara dia tertawa pelan. Sean sedang bersenang-senang dan dia sengaja ingin membuatku mabuk.
"Apa kau sudah mabuk, sayang?" gumamnya menggodaku selagi mendaratkan bokongnya di sofa.
"Dia sudah mabuk sejak menginjakkan kaki ke rumah ini." Tidak perlu kujelaskan siapa yang mengatakan itu, kalian pasti sudah tahu.
"I love this," dengkur Dhea sambil menyeringai memandangku.
Aku membiarkan mereka mengobrol sementara berjuang mengalihkan pandangan dari Sean. Dia terlihat sangat nyaman, sama sekali tidak merasa bersalah dengan pesonanya yang brengsek menarikku. Sean sangat menggiurkan... semua yang ada padanya terlalu kejam menyiksaku. Membuatku tubuhku berdenyut mendamba. Oh, ini terjadi karena aku sedang mabuk.
Aku tidak sanggup lagi mendengarkan apa yang mereka bicarakan. Mataku sudah tertutup sementara kedua tanganku memeluk Sean, dan tanpa sadar aku mengusap dadanya. "I want you." bisikku dengan sisa-sisa kesadaran yang kumiliki.
Aku mendengar Sean tertawa halus, lalu dia pamit pada Mia dan Dhea sebelum membawaku ke kamar. Begitu pintu kamar kami tertutup, dia menurunkanku dan mendorong tubuhku ke dinding. "Kau benar-benar kacau, Franda." gumamnya, napas dan bibirnya yang panas perlahan menyapu leherku, membuatku tersiksa. Tubuhnya yang keras menekan tubuhku ke dinding.
Aku menggerakkan jemariku menyusuri rambutnya selagi berupaya menahan kakiku yang melemas gemetar. "Aku menginginkanmu, Sean..." kataku dengan suara bergetar, dan aku mendesah saat dia membelai leherku dengan lidahnya yang lihai.
"Apakah kau rela memohon agar aku menidurimu, Franda?" Sean menggigit pelan leherku. Kejantanannya yang sudah penuh mendesak perutku dari balik celananya. Membuatku semakin gila.
"Yes, please... aku menginginkanmu, Sean." balasku sambil mengusap dadanya yang keras dan berdebar indah, dengan mata yang masih tertutup. "Sean," Aku mendorong tubuhnya agar bisa melihat matanya yang menghanyutkan.
"Ya, Franda?"
Kuarahkan mataku menatap sekeliling kamar baru kami. Kamar yang berada di gedung tertinggi di antara semua gedung yang ada. Dua sisi dinding terbuat dari kaca, menampilkan pemandangan kota sejauh yang bisa kulihat. Sebuah ranjang dengan ukuran luar biasa besar terletak di tengah-tengah kamar, ditutupi seprai abu-abu dan selimut dengan warna yang sama.
"Aku dan kehidupanku yang rumit selalu membuatmu kerepotan. Tapi kau, dengan semua kelembutan yang ada dalam dirimu, tetap menerimaku. Terkadang aku berpikir apa yang kau lihat dalam diriku hingga merasa aku pantas menerima semua kebaikanmu, kau bisa mendapatkan seseorang yang lebih dariku, Sean. But, once again... aku bersyukur kau memilihku. Terima kasih, Sean."
Sean menyapukan ibu jarinya mengusap air mataku yang menetes. Mata birunya yang penuh tekad menyerbu ke dalam mataku, menarikku masuk lebih jauh ke dalam dirinya yang mempesona. "Franda," dengkurnya halus dan serak. "Aku melakukannya karena itu kau, aku melakukannya untukmu, sayang. Sudah kubilang kau merupakan hadiah yang dikirimkan oleh Tuhan. Kau pemberian terhebat dalam hidupku, Franda. Aku jatuh cinta sejak pertama kali aku melihatmu di gedung kesenian kampus, dan itu satu-satunya hari yang paling kusyukuri sepanjang hidupku."
Kami tersenyum, kemudian dia memajukan wajahnya mencium bibirku. Dia membelaiku dengan cara yang amat menggiurkan, lidahnya yang ahli melilit lidahku sementara tangannya bergerak menyusuri dadaku. Dia tersenyum di mulutku saat mendengar aku mendesah menikmati sentuhan tangannya. "Sean," bisikku di mulutnya.
"Ya, Franda?"
Aku menatapya lagi. "Kiss me." gumamku.
Sean menyeringai genit, kemudian perlahan melepas gaun dan pakaian dalamku hingga semuanya tergeletak di lantai. Lalu dia menciumi dadaku, memberi gigitan pelan pada puncak dadaku sebelum menyapukan lidahnya dengan cara yang paling nikmat.
Sean melakukannya dengan lembut, membuatku melambung. Aku mendesah dengan mata terpejam sementara kedua tanganku meremas pelan rambutnya. Pria jantan yang satu ini memang benar-benar tahu cara menghibur wanita.
Sean menyapukan mulutnya turun ke perutku lalu mencium dua bekas luka operasi yang ada disana. Dia berlutut, satu tangannya menyusuri pahaku sementara satu tangannya yang lain menggoda dadaku. Mendadak aku tersengat oleh kenikmatan yang membuat napasku nyaris berhenti ketika mulut dan lidahnya merayu kewanitaanku yang berdenyut tersiksa.
Aku gemetar meremas rambutnya, dan saat pandanganku turun, matanya yang dipenuhi gairah seketika menerjangku. "Ah, Sean..."
"Enjoy, baby. Let me hear your groans."
__ADS_1
"Oh, fvck!" Aku meremas rambutnya kuat-kuat sementara kakiku gemetar lemas menerima sapuan lidah dan mulutnya.
"Good," katanya sambil menyeringai nakal, menyapukan lidahnya kembali.
Aku mendesah dan mengerang, Sean menyenangkanku dengan kenikmatan yang amat memabukkan, dia terus membelaiku sampai beberapa menit kemudian. "Ahh..." Aku mengerang keras, mataku terpejam, punggungku melengkung, dan pahaku gemetar hebat sementara kedua tanganku semakin kuat meremas rambutnya. Sean baru saja melempar bom ke dalam tubuhku, membuatku meledak dalam kenikmatan.
Aku masih berusaha mengatur napasku yang memburu dan mendadak tubuhku melayang saat Sean mengangkatku. Dia melangkah perlahan lalu menghempaskanku di ranjang. "Welcome to heaven, baby." katanya seraya tersenyum genit.
Makhluk seksi itu masih berdiri di tepi ranjang. Aku memperhatikan setiap detil gerak-geriknya saat dia membuka seluruh pakaiannya hingga tubuhnya yang indah menyilaukan di mataku. Aku gemetar menahan napas, memandangi Sean dalam keadaan seperti ini bukan sesuatu yang mudah kukendalikan, tubuhnya yang keras dan mendebarkan itu membuatku bergerak dengan gelisah.
Kemudian dia merangkak mendekatiku dengan gerakan anggun. Matanya dipenuhi hasrat dan dia menggeram. "Franda,"
"Ya," balasku gemetar menelan ludah. Dia membuka pahaku lebar-lebar, lalu dengan liar menyapukan kejantanannya yang keras dan penuh di kewanitaanku. Aku mendesah.
Lalu tanpa peringatan dia mendesak masuk ke dalam tubuhku. "Oh, God... wait a second." Aku tidak percaya tubuhku masih butuh waktu untuk menerima serbuannya. Kami bercinta nyaris setiap malam, tapi entah kenapa selalu terasa seperti pertama kali. Dia terlalu besar dan nikmat. "Move." bisikku tercekat.
Sean mulai bergerak pelan, menghujamku dengan lembut. Aku mengulurkan kedua tanganku menyentuh dadanya, membuatnya menggeram. Kemudian tanganku naik hingga menyentuh lehernya, aku menariknya untuk menikmati bibirnya yang seksi. Di mulut Sean, aku mendesah.
"Franda," desahnya berat. "Kau sangat nikmat sayang. You're freakin' tight!" katanya seraya mendesakku tanpa ampun, membuat tubuhku berguncang hebat di bawah kendalinya yang ahli.
"You like it, then." balasku nakal, tersengal-sengal menantang matanya.
"You have no idea... you're the best. I'm gonna fvck you all night long."
"That's all I want."
"I love you, peri seksiku." Sean menggeram seiring desakannya yang semakin serakah.
Aku mengerang dan menjerit sepanjang malam. Sean menghujamku tak kenal ampun. Sampai sekujur tubuhku bergetar hebat berkali-kali. Dia memberiku banyak kali pelepasan, membuatku puas seperti yang selalu di lakukannya. Dia memujaku gila-gilaan. Aku memujanya dengan cara yang sama.
"Sean... I'm close..."
"Ya, aku juga." Gerakannya semakin cepat dan liar, hingga beberapa detik kemudian tubuh kami meledak bersamaan. Aku memeluknya kuat-kuat dan menggigit pundaknya sementara Sean membenamkan wajahnya di leherku. Kedua kakiku gemetar melilit bokongnya.
Aku bisa merasakan bagian dirinya yang hangat tumpah di dalam diriku, kehangatannya menyebar hingga ke setiap sel-sel tubuhku. Membuatku merasa semakin dicintai dan di butuhkan.
Aku membiarkan Sean menikmati sisa-sisa pelepasannya sambil menciumi pundaknya. Tubuh kami penuh oleh keringat. Mesin pendingin tidak cukup ampuh untuk menghentikan panas yang mengalir deras dari darah kami, dimanapun kami berada, panas itu akan selalu menyertai.
"Aku mencintaimu, Sean. Terima kasih untuk semuanya." kataku bersungguh-sungguh menyatakan.
"Aku mencintaimu, Franda. Terima kasih untuk semuanya." balasnya mengikuti gayaku.
Seketika tawa kami menggema di udara.
__ADS_1
Tuhan... Terima kasih sudah mengirimkan salah satu malaikatmu kepadaku. Kumohon jaga dia selamanya untukku.