
...Sean Danial Warner POV....
Hujan sudah berhenti dan awan gelap yang menggantung rendah telah menghilang dari atas langit Jakarta ketika aku akhirnya tiba di bandara. Orang-orang suruhan Syaiful yang menyambut kedatanganku membawaku ke terminal 3, tempat dimana pesawat pribadi milik Syaiful sedang menunggu dan sudah siap untuk lepas landas.
Tidak ada pengunjung lain atau calon penumpang yang terlihat berkeliaran di arena ini, itu berarti mereka telah menerapkan protokol keamanan resmi untuk menetralkan area ini dan secara khusus menggunakannya untuk perjalanan pribadi. Dalam hal ini, tentu saja perjalanan putrinya dan aku.
Aku menelengkan kepala pada salah satu pria dengan setelan jas yang berjalan di sampingku. "Dimana Paula?" tanyaku padanya.
Dia melirikku sekilas. "Dia sudah berada di dalam pesawat." Pria itu memberi isyarat agar aku menghentikan langkah di depan pintu keberangkatan, lalu mengulurkan tangannya padaku. "Untuk alasan keamanan, tolong serahkan ponsel atau alat komunikasi lain yang kau bawa."
"Aku yakin kita semua cukup aman disini." ucapku seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling, memandangi pengawal yang tampak tersebar nyaris di setiap sudut area terminal keberangkatan.
Pria itu bergeming. Matanya mengecil ke arahku sementara tangannya belum beranjak dari depanku. "Mr. Eddie sudah memberi instruksi dengan sangat jelas bahwa selama bepergian dengan putrinya, kau tidak boleh membawa alat komunikasi apapun."
Aku menghembuskan napas sembari meraih ponsel dari dalam salu jaketku. "Tentu saja." gumamku malas sambil meletakkan ponselku ke atas telapak tangannya.
Dia mengambilnya, kemudian menyerahkannya pada salah satu rekannya yang berdiri di dekatnya lalu menyuruhku melangkah lebih dulu. Kami berjalan melintasi landasan pacu bandara menuju ke pesawat. Dua orang dari mereka berjalan di belakangku, sementara yang satu orang berada tepat di sampingku. Ciri-ciri mereka semua sama seperti kelompok marinir, dengan wajah seram dan rambut hanya beberapa senti panjangnya.
Dan kurasa tidak akan terlalu mengherankan jika ternyata mereka memang tentara bayaran atau semacamnya. Aku pernah mendengar hal ini sebelumnya, kalau Syaiful sering merekrut mantan anggota kavaleri untuk mengawalnya kemana-mana.
Pria yang berjalan di sampingku berhenti di depan anak tangga paling bawah yang mengarah ke kabin pesawat untuk membiarkanku naik lebih dulu. Setelah tiba di ambang pintu dan melangkah masuk ke dalam kabin, aku berhenti karena menyadari bahwa mereka mengikutiku hingga ke dalam.
Aku memandang mereka dengan alis bertaut. "Kalian tidak akan berada di ruangan yang sama dengan kami, kan?" kataku sinis sembari menghadang jalan ke arah suite-nya.
"Maaf, sir. Tapi Mr. Eddie ingin memastikan semuanya...."
"Ya, ya.. tentu dia menginginkannya." sergahku. "Tapi aku juga punya persyaratan sendiri,"
Aku melangkah maju, mendekatkan diriku, dan berbicara tepat di depan wajahnya. "Kau bisa mengambil ponselku, aku tidak peduli... tapi aku tidak akan membiarkan kalian memata-mataiku dalam satu ruangan selama dua jam kedepan seperti seorang tahanan. Jadi, kalian pindah ke ruangan lain atau kita bisa membatalkan perjalanan ini sekarang juga. Tapi aku yakin Syaiful tidak akan senang mengetahui bahwa kesempatannya mendapatkan benda yang sangat dia inginkan hilang karena kalian."
Aku bisa menangkap perubahan ekspresi pria di hadapanku setelah mendengar seluruh kalimatku, sangat jelas dia sedang mempertimbangkannya.
Pria itu melangkah mundur menjauhiku lalu berbalik menghadap ke arah dua orang rekannya yang lain dan berbicara pada mereka. Aku mengamati ketika mereka memandangku dengan tatapan waspada untuk beberapa saat, sebelum satu per satu mulai berjalan meninggalkan kabin suite dan menuju ke kokpit.
Kemudian aku mendengar tepuk tangan pelan dari arah belakangku dan aku berbalik untuk melihatnya.
Paula Eddie, dia tersenyum padaku. "Sangat berani. Tapi kurasa ayahku tidak akan suka kalau dia tahu kau mengancam anak buahnya."
Dia duduk di salah satu sofa besar dengan meja kayu berwarna keemasan yang ada di depannya, yang dipenuhi oleh kudapan dan botol-botop kaca berisi cognac dan gin, semuanya edisi ekslusif yang cukup langka. Dia mengenakan... itu tidak penting. Pakaiannya bahkan lebih sedikit dari yang dipakai oleh para gadis saat berada di pantai.
Pintu kabin terdengar tertutup di belakangku, dan aku berjalan menyusuri lorong di antara sofa lalu duduk pada salah satunya yang ada di deret lain, berseberangan dengannya. "Jujur saja, saat ini aku tidak terlalu peduli dengan apa yang diinginkan oleh ayahmu, Paula."
Dia terkekeh pelan, lalu menyesap perlahan minuman dari gelas di tangannya. "Kau terlambat." Dia meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian beranjak dari sofa dan berjalan menghampiriku.
Paula tidak melepaskan tatapannya hingga dia berada tepat di hadapanku, lalu dengan serta merta dia menghempaskan bokongnya di atas pangkuanku.
Aku terkesiap. "Apa yang kau lakukan..."
"Apa kau tahu berapa lama aku menunggumu disini?" tanyanya, mengabaikan protesku sambil mengangkat kedua lengannya dan melingkarkannya di leherku.
Aku berusaha menjauhkan dia dariku, tapi dia mencondongkan tubuhnya dan berbisik di telingaku. "Mereka melihat dan mendengar, Sean." gumamnya, nyaris membuatku yakin dia sedang menggodaku. "Percayalah padaku, dan kita berdua akan mengatasinya."
__ADS_1
Dia menarik dirinya perlahan, bibirnya masih tersenyum namun aku melihat seberkas ketegasan dalam sorot matanya. Dan entah bagaimana, aku tahu aku bisa percaya padanya.
Aku menghela napas. "Ada masalah penting yang harus kuselesaikan sebelum datang kemari."
Mata Paula menyipit saat menatapku. "Apa masalahmu itu tingginya enam kaki, rambut cokelat bergelombang, dan... agak bodoh?" cemoohnya, seringai tipis muncul di sudut bibirnya.
Aku mendengus, tapi tetap memasang senyum di wajahku, mencoba untuk mengikuti arah permainannya. "Aku lebih suka kita tidak membahasnya."
Dia tersenyum senang. "Baiklah, kalau begitu, cuma kita berdua yang ada disini, kan?" ujarnya.
Paula memalingkan wajahnya lalu mendongak ke arah langit-langit kabin, dan aku melihat sebuah IP camera dengan titik merah kecil berkedip-kedip yang menempel di kedua sudut langit-langitnya. "Aku perlu privasi disini!" katanya lantang seraya menatap ke arah kamera-kamera itu. "Matikan semua kameranya, atau yang terjadi selanjutnya akan terlihat... itu tidak pantas menjadi tontonan kalian semua."
Untuk sesaat tidak ada yang terjadi, namun kemudian satu per satu titik merah itu padam. Mereka mematikan semua kameranya. Paula mengembalikan pandangannya padaku lagi, senyum puas terkembang di wajahnya. "Sekarang kita bisa benar-benar berbicara."
Aku mengamati Paula yang kini telah duduk di sofa yang berhadapan denganku. Dia melipat kedua kakinya seraya menopang kepalanya dengan sebelah tangan sembari menatapku sambil tersenyum.
Harus kuakui dia tampak berbeda. Aku tidak tahu kenapa, tapi instingku mengatakan dia sedang merencanakan sesuatu. Dan disitu masalahnya. Maksudku, dia Paula, dan sejauh yang kutahu dia hanya peduli pada pesta satu ke pesta lainnya, deretan mobil keluaran terbaru, dan segala barang mahal dan eksklusif yang dia pamerkan. Baginya tidak ada yang menarik selain dirinya sendiri. Jadi ide tentang dia merencanakan sesuatu itu terlalu... entahlah, aneh?
"Kau mau mengatakannya, atau kita akan terus seperti ini hingga tiba di Malaysia?" gumamku memecah keheningan.
Dia mengerjap, lalu menegakkan tubuhnya. "Aku hanya ingin tahu," Dia berkata dengan tenang seraya memiringkan kepala menatapku. Jenis pandangan yang belum pernah kulihat dari Paula sebelumnya. "Apa sebenarnya yang kau rencanakan dengan interpol dalam perjalanan ini, Sean?"
Keningku berkerut mendengar pertanyaannya. Dari segala macam topik yang bisa kami bahas, kenapa dia memilih yang satu ini?
"Kau bukanlah satu-satunya orang yang didekati oleh interpol, Sean. Mereka mendatangiku lebih dulu."
Aku tersentak. Dia tidak mungkin serius. Aku memutar otak untuk memikirkan apa yang bakal terjadi padanya saat interpol mendapatkannya nanti, agar mereka tidak terlalu menekannya karena dia tidak tahu apa-apa. Tapi sepertinya dugaanku keliru. Aku pasti telah melewatkan sesuatu yang sangat penting dalam hal ini. Kuingat kami sempat bersama selama beberapa jam saat dia baru tiba di Jakarta, waktu itu seharusnya aku sudah menyadari ada yang berbeda.
Aku mengerutkan kening, menatapnya. "Itu berarti..."
"Itu berarti interpol merencanakan sesuatu di belakangku, dan juga di belakangmu, Sean! Aku tidak percaya pada mereka. Menurutku kita perlu melakukan sedikit perubahan rencana."
Untuk beberapa saat, kabin suite terasa hening. Aku melayangkan pandangan ke luar jendela dan mendapati pesawat yang kami tumpangi telah mengudara. Kulepas sabuk pengaman lalu menanggalkan jaketku dan meletakkannya di atas sofa di sampingku.
Paula mengulurkan gelas berisi cognac padaku, tapi aku menolaknya. Sebelah alisnya terangkat padaku. "Sejak kapan kau berhenti minum?"
"Setelah menikah, tapi sekarang aku mulai terbiasa." sahutku berbohong, aku tidak bisa percaya pada siapapun yang menaruh minuman itu disitu.
Dia tersenyum simpul. "Siapa yang mengira," selorohnya. "Dulu kau peminum yang hebat. Apa kau ingat saat kita masih berkencan? Kau sering menyelinap ke dalam apartemenku untuk menghindari orang-orang suruhan ayahku. Kau berpura-pura sebagai kurir pizza agar mereka membiarkanmu masuk, dan mereka tidak pernah sadar bahwa kau keluar keesokan harinya." Dia terkekeh pelan.
Hal terakhir yang kuinginkan adalah bernostalgia dengannya, dan mendengar dia membicarakan peristiwa yang sama sekali tidak ingin kuingat-ingat lagi.
"Sejak kapan interpol menghubungimu?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan.
Paula memutar pandangan ke langit-langit kabin, tampak seperti sedang berpikir. "Sekitar seminggu yang lalu, setelah aku sampai di Jakarta." sahutnya kemudian. Itu adalah saat aku mendekatinya untuk mencari informasi tentang ayahnya.
Jika Paula mengatakan yang sebenarnya, maka dari awal seharusnya interpol tak perlu bersusah payah memintaku untuk bekerja sama. Mereka bisa saja menyelesaikan kasus ini lebih cepat dengan bantuan Paula, tanpa harus melibatkanku dan keluargaku. Kecuali salah satu dari mereka telah berbohong padaku.
"Apa kau tahu kalau interpol bukan cuma berniat menutup bisnis ilegal milik para gangster itu? Tapi juga akan menangkap ayahmu karena dia telah bekerja sama dengan mereka."
"Tentu saja aku tahu." balasnya cepat.
__ADS_1
Aku mengernyit. "Dan kau tetap mau membantu?" tanyaku tak percaya.
"Dengan, Sean... para gangster telah membuat situasi memburuk dalam setahun terakhir. Interpol bukan satu-satunya pihak yang berusaha menghentikannya, ini hanya masalah waktu sebelum mereka berhasil melakukannya. Jadi, membantu mereka seperti kesempatan bagiku."
"Apa ayahmu tahu kau terlibat dalam kasus ini?"
Paula tidak menjawab, tapi sorot matanya mengatakan segalanya. Aku penasaran bagaimana sikap Syaiful saat mengetahui putri yang dia cintai ternyata mengkhianatinya. Kurasa itu takkan mudah diterima.
Paula menaikkan bahunya pelan. "Aku hanya mencoba melakukan hal yang benar." gumamnya, lalu meraih gelasnya dan menyesap minumannya perlahan.
"Jadi maksudmu tidak ada motivasi lain? Semua tindakan mulia ini, bahkan menyerahkan ayahmu sendiri ke tangan interpol hanya karena hati nuranimu mendadak berbicara?"
Harus kukatakan bahwa sulit membayangkan kalau seseorang seperti dia, secara sukarela mau mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain. Maksudku, orang mungkin bisa berubah, tapi tidak secepat itu.
"Ya," sahutnya singkat.
Aku mendengus dan menyeringai padanya. "Setelah semua ini berakhir kurasa kau pantas diberi medali penghargaan karena kontribusimu yang luar biasa." kataku bercanda.
Dia mengabaikan komentarku. "Seperti yang kukatakan tadi, interpol tak pernah mengatakan apapun soal kehadiranmu di Malaysia bersamaku, itu menggangguku."
"Mungkin saja bagi mereka kau tak perlu tahu."
Paula menggeleng keras. "Pasti ada yang disembunyikan. Kalau tidak, kau tidak akan berada disini."
Aku mengertakkan rahang, lalu memajukan tubuhku ke arahnya. "Aku ada disini karena ayahmu mengancam akan menyakiti istriku jika aku tak menuruti keinginannya." ujarku geram dengan mata menatap tajam ke arahnya.
Paula membulatlan mata menatapku dan dia beringsut mundur perlahan lalu melempar pandangan keluar jendela. Kurasa kini aku mulai menyadari satu hal, bahwa Paula juga memiliki motif tersendiri yang dia tutupi dalam masalah ini. Atau mungkin dia sedang mencoba mengulur waktu. Tapi untuk apa?
"Bagaimana dengan Dave?" Dia berpaling menatapku. "Kenapa kau sangat ingin menemuinya? Jangan bilang karena tuntutan kontrak palsu itu, karena meskipun jumlah kompensasinya cukup besar aku yakin kau masih sanggup membayarnya. Jadi, aku menduga kepergianmu kali ini mungkin juga bagian dari rencana interpol."
Sepertinya Paula memang tidak tahu apa-apa. Tapi dia terus saja berusaha meyakinkanku bahwa kami berdua berdiri di perahu yang sama. Menarik. Jika teroriku benar, hanya satu hal yang akan membuat dia menunjukkan niatnya.
Aku menghela napas, mencoba tersenyum. "Kau benar, aku memang punya tujuan lain untuk pergi ke Malaysia."
Paula menggeser duduknya dan memusatkan perhatian padaku. "Apa itu?"
Aku mengangkat kepalaku, tanpa benar-benar menatap ke atas, dan melihat dari sudut mataku bahwa semua kamera kini telah menyala kembali. Aku bersorak dalam hati dengan untuk waktu yang sempurna ini.
"Kau tahu? Data yang di inginkan oleh ayahmu hanya bisa di akses pada koordinat tertentu di suatu wilayah di Malaysia. Segera setelah aku membuka enkripsi-nya, aku harus mengirimnya kepada ayahmu. Dia sudah berjanji akan meninggalkan Jakarta beserta semua anggota gangster yang datang bersamanya setelah data itu berada di tangannya."
"Well, kalau begitu ini cukup mudah." sahutnya ringan, nadanya terdengar senang. Matanya berbinar menatapku, seakan dia baru saja mendapat pencerahan. "Berikan datanya padaku, dan aku akan memastikan setelah kita mendarat nanti, interpol akan mendapatkan semua informasi tentang seluruh lokasi markas para gangster tanpa terkecuali."
"Mereka bisa bergerak leluasa karena ayahku hanya memusatkan pengamanannya pada kita. Lalu, interpol akan menangkap mereka, semuanya akan berlangsung sangat cepat dan istrimu akan baik-baik saja."
"Kecuali jika ayahmu tahu..."
"Dia tidak akan tahu," potongnya tajam. "Sean, di dalam data itu terdapat rekening fiktif yang menampung aliran uang dari seluruh penjualan obat-obatan terlarang di berbagai negara di asia, kita tidak boleh membiarkan ayahku memilikinya."
Aku mengerutkan kening. "Bagaimana kau bisa tahu isi datanya?"
Raut wajahnya mendadak kosong saat mendengar pertanyaanku, dia terdiam selama beberapa detik sebelum sinar matanya kembali seperti semula. "Kurasa aku pernah mendengar ayahku membicarakannya dengan seseorang." katanya sambil memajukan tubuhnya.
__ADS_1
"Dengar, pokoknya serahkan saja datang padaku dan kita bisa memberikan data yang salah padanya, dia tidak akan menduganya. Kebetulan aku punya file yang mirip seperti yang kita butuhkan di dalam Ipad-ku. Ini akan berhasil, Sean. Lalu setelah semuanya selesai, aku berjanji padamu, aku sendiri yang akan menyerahkan data itu pada interpol."