Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sharing the facts


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Aku bergegas melangkah memasuki ruangan Edward bersama Joe yang mengikuti di belakangku. Hari ini kuputuskan untuk memberitahu Edward semua informasi tentang kedua orang tua Franda yang sudah dikumpulkan oleh Joe, dan kami perlu membahas bagaimana cara menyampaikan kepada Franda tentang hal ini.


Sudah sebulan aku menyimpan masalah ini sendiri sambil menimbang-nimbang apakah aku harus membukanya kepada orang lain atau membiarkannya begitu saja, tapi rasanya itu tidak akan bisa bertahan lebih lama, mengingat Franda masih mendesakku tentang keberadaan tantenya. Aku tidak mau dia mengetahui hal ini dari orang lain dan akhirnya salah paham terhadapku.


"John!" Aku berseru begitu sekretaris Edward membukakan pintu untukku. Dia sedang duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa berkas yang ada di hadapannya, tampak sedang sibuk.


Edward mendongak menatapku, lalu berdiri dan menghampiriku. "Bro." balasnya sebelum memelukku.


Aku mengenalkannya pada Joe dan kami berbincang-bincang sebentar sebelum aku mengatakan tujuanku datang menemuinya. "John, ada sesuatu yang perlu kusampaikan tentang orang tua Franda. Kuberitahu kau, ini bukan berita baik, tapi kurasa kau berhak tahu karena aku juga butuh saranmu untuk mengatasi ini." kataku tanpa basa-basi dengan wajah serius.


Edward mengangkat alis, mengamatiku dan Joe bergantian selama beberapa saat, lalu berbicara. "Kenapa perasaanku tiba-tiba jadi tidak enak." ujarnya. "Ada apa?"


Aku menoleh Joe seraya menganggukkan kepala, memintanya agar menjelaskan kembali semua informasi yang didapatkannya tentang kedua orang tua Franda. Joe menjelaskannya persis seperti yang dia lakukan padaku saat dia mendatangi kantorku sebulan yang lalu.


Mulanya Edward tampak tidak terlalu antusias, namun saat Joe menyinggung tentang ibu kandung Franda yang masih hidup, matanya seketika membesar. "Ini tidak mungkin, ayahku sendiri yang sudah memastikan identitas keduanya. Dia bahkan melakukan tes DNA terhadap korban wanita yang ada di mobil itu, karena pada saat kecelakaan wajah tanteku memang sulit dikenali, dan hasilnya mengatakan bahwa wanita itu memang tanteku." kata Edward menjelaskan setelah Joe menyelesaikan ucapannya.


Aku mengedikkan bahu, tidak bisa menemukan kata-kata untuk menjawabnya. Kemudian Edward melanjutkan lagi. "Apa kalian yakin informasi ini akurat? Karena jika memang tanteku masih hidup, ini akan jadi masalah baru untuk Franda." ujarnya, menatapku cemas. "Sean, aku tidak bisa membiarkan dia mengetahui ini, jadi lebih baik sembunyikan ini darinya."

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, John." sergahku. "Cepat atau lambat dia akan tahu, dan aku tidak mau dia mendengarnya dari orang lain. Akan lebih baik jika kita yang menyampaikan masalah ini padanya."


"Tapi, bagaimana dengan kondisinya? Franda tidak mungkin bisa menerima ini dengan mudah. Aku tidak mungkin sanggup melihatnya kembali hancur, semua yang sudah kalian usahakan akan sia-sia. Dan satu lagi, jangan lupa bahwa Franda sedang hamil. Salah langkah sedikit saja, bukan hanya dia yang harus di khawatirkan, tapi juga bayi di dalam kandungannya."


Edward benar, itu juga yang ada di dalam pikiranku. Aku mencemaskan kejiwaan Franda sekaligus perkembangan anak kami, tapi aku juga tidak mau menyembunyikan masalah ini lebih lama darinya.


Aku membuang napas berat, memikirkan masalah ini benar-benar membuatku kehilangan akal. "John, selain menyembunyikan kenyataan ini darinya, apalagi yang bisa kita lakukan?" tanyaku putus asa, berharap Edward bisa mengatakan sesuatu yang masuk akal sebagai jalan keluar menghadapi masalah ini.


Tanpa pikir lama dia langsung menjawab. "Tidak ada. Sampai kapanpun dia tidak boleh mengetahui ini, biarkan saja ibunya berada disana. Kuanggap kita tidak pernah membicarakannya." katanya tegas.


Aku melayangkan tatapan tidak percaya pada Edward sambil menggelengkan kepala. "John, itu tidak mungkin. Franda berhak tahu karena ini tentang orang tuanya, dia terus mendesakku dengan bertanya tentang tantenya, dan aku tidak bisa berbohong lebih lama lagi. Franda mengenalku, aku bukan pembohong yang baik di hadapannya." Nada putus asa terdengar lagi dari suaraku.


Edward terdiam, kedua sikunya bertumpu pada masing-masing lututnya sementara sebelah tangannya memijat pangkal hidungnya. Dia tampak frustasi, sama sepertiku. Aku tahu dia mencemaskan kejiwaan Franda, aku juga mengkhawatirkan hal yang sama, tapi semakin kupikirkan, semakin dekat aku pada kesimpulan; Franda harus tahu. Dia berhak tahu.


Aku mengangguk, setuju dengan perkatannya. Ya, ibu memang harus mengetahui semuanya. "Dimana ibu? Apakah kita bisa menemuinya sekarang?" Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama, secepatnya masalah ini harus di selesaikan.


"Ya, kurasa dia di rumah. Ayo."


Aku, Edward, dan Joe bergegas melangkah keluar dari kantor Edward dan langsung menuju ke rumahnya. Sepanjang perjalanan aku membayangkan efek terburuk yang mungkin terjadi jika Franda mengetahui bahwa ibu kandungnya masih hidup. Tak perlu diragukan, kesehatan mentalnya sudah pasti akan terganggu, dan keselamatan anak kami juga akan terkena dampaknya.

__ADS_1


Tapi di luar itu, ada juga kemungkinan Franda akan senang mendengar kabar ini. Well, setidaknya ibunya masih hidup dan dia bisa bertemu dengannya, namun tentu saja setelah semua drama penolakan yang akan dia lakukan.


Ditinjau dari sisi manapun, ibunya tetap salah. Tidak seharusnya dia bersembunyi selama itu dan meninggalkan anaknya bersama orang lain, meskipun aku sendiri sangat yakin ibunya pasti memantau keadaan Franda. Karena dari beberapa hal yang disampaikan oleh Joe aku bisa mengetahui bahwa ayah tiri Franda bukan orang sembarangan. Dia cukup berkuasa untuk memerintahkan seseorang mengawasi Franda.


"Kita sudah sampai, sir." suara Ameer dari kursi pengemudi menarik pikiranku kembali.


Aku melemparkan pandangan dan mendapati kami sudah berhenti di depan rumah Edward, namun aku melihat mobil Franda terparkir beberapa meter dari mobilku dan Black berjalan menghampiriku.


"Apa istriku sudah lama disini?" tanyaku begitu dia berdiri di hadapanku.


"Sekitar dua jam, sir." sahut Black.


Aku nengangguk, lalu berderap ke dalam rumah menyusul Edward yang sudah masuk lebih dulu. Sampai di dalam, aku melihat Ibu sedang duduk di ruang keluarga dengan memegang sebuah buku di tangannya. "Mom," sapaku.


Dia menoleh dan tersenyum padaku. "Hei, mau menjemput istrimu? Dia sedang tidur di kamar." katanya seraya mendorong dagu ke arah atas, menunjuk ke arah kamar Franda.


Aku mengikuti arah pandangannya sekilas sebelum memandangnya lagi. "Aku akan melihatnya sebentar." gumamku, lalu langsung melangkah begitu ibu menganggukkan kepala.


Dengan pelan aku berjalan menaiki satu per satu anak tangga sampai berhenti di depan kamar. Tak ingin mengganggunya, aku pun membuka pintu perlahan. Seketika aku merasa tenang melihat dia sedang pulas di sebelah Ben. Sebelah tangannya berada di bawah kepala, sementara sebelah tangannya yang lain menempel di perut buncitnya. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya.

__ADS_1


Aku berdiri di ambang pintu selama beberapa saat mengamatinya. Dia terlihat sangat tenang dan damai, dan ketenangannya itu dengan cepat menular kepadaku, meskipun hanya sementara karena pikiranku masih dipenuhi bayangan-bayangan menakutkan yang akan terjadi di masa depan.


"Sean, ibu sudah menunggu di ruang kerjaku."


__ADS_2