Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Is something happen?


__ADS_3

"Mom, I love you."


Aku berbaring sambil meringkuk di pelukan ibuku seperti anak kecil di kamarnya. Kami baru saja berbicara mengenai masalah terakhir yang membuatku menjauhinya. Aku meminta maaf dan ya... apalagi yang bisa kukatakan selain maaf.


Kehadirannya merupakan anugerah terbesar dalam hidupku. Tidak seperti ibu kandungku yang tega membiarkanku hidup besama orang lain. Kami seakan sedang melakukan permainan petak umpet terlama yang pernah kumainkan. Dia bersembunyi dan berpura-pura mati, lalu tiba-tiba muncul di sekitarku. What a mess!


"Maafkan dia, Panda." gumam ibuku lembut. "Tidak masalah jika kau belum siap bertemu dengannya, cukup jangan menyimpan dendam karena itu akan menyakiti dirimu sendiri."


Aku diam. Tidak ingin mengatakan apapun untuk menanggapi ucapannya. Ibuku benar, hanya saja aku belum bisa menerima apa yang sudah dilakukan wanita itu padaku. Aku bahkan tidak ingin memanggilnya mama.


"Apa kau dengar, sweetie?" tanya ibuku lagi.


"Tidak. Aku sedang membayangkan sushi, mom." cetusku asal. Sushi mungkin bukan sesuatu yang pantas untuk diselipkan dalam obrolan ini. Tapi aku sedang lapar.


Aku tidak mau membahas masalah ibu kandungku, setidaknya untuk saat ini, setelah aku mendengar kata-katanya yang kejam dan menyakitkan. Aku sudah bahagia memiliki ibu yang menjagaku sejak kecil dan aku tidak membutuhkan kehadiran wanita itu. Cukup ibuku dan saudaraku yang kukenal selama ini, tidak perlu tambahan lagi.


"Sweetie,"


"I want sushi." Aku terpaksa memohon dengan nada yang tidak akan bisa di tolaknya. Sikap ibuki tidak pernah berubah padaku, meskipun aku sudah menikah dan bahkan memiliki dua anak, dia tetap memperlakukanku sebagai Panda kecilnya yang manis.


Apakah aku senang? Well, dalam beberapa kesempatan... Ya, aku senang.


Ibuku mencium kepalaku dan sebelah tangannya mengusap wajahku. "Okay, let's go for sushi." dengkurnya menyerah.


Seketika senyumku mengembang lebar, mencium pipinya sekali. "Liebe dich, mama." kataku menggunakan bahasa Jerman. Ibuku akan sangat senang jika aku dan saudaraku mengucapkan itu padanya. Dia bilang itu mengingatkannya pada kampung halaman. "Aku akan mengajak Mia."


Dia tertawa saat aku turun dengan cepat dari ranjang dan langsung keluar dari kamar. "Mia!" Aku berseru memanggilnya sambil mendongakkan kepala menatap pintu kamarnya dari bawah tangga.


"Coming!" balasnya berteriak. Tak berapa lama wajahnya muncul dari balik pintu dan dia langsung menghampiriku. "What's up?" cetusnya cuek dengan rambut berantakan. Satu tangannya menjumput kentang goreng dari atas meja makan sementara matanya memandangi ponsel. Jangan mengharapkan sesuatu yang lebih dari Mia. Dia tidak akan rela melepaskan penampilan itu sepanjang hidupnya.


"Aku dan ibu akan ke restoran Jepang, kau ikut?"


Mia menggelengkan kepala cepat. "Aku harus ke kedai sore ini." katanya dengan mulut penuh kentang, tanpa mau melepaskan pandangan dari ponselnya.

__ADS_1


Kemudian tak sengaja aku melihat Sora keluar dari kamar kakakku, yang sekarang sudah menjadi kamarnya juga. Perutnya sudah mulai terlihat buncit. Sejak Edward mengumunkan kehamilannya, hari itu juga Sora berganti status di rumah kami. Dia bagian dari keluarga sekarang dan rencananya mereka akan menikah setelah Sora melahirkan.


"Kakak ipar!" Aku memanggilnya sambil melambaikan tangan. Dia tersenyum malu-malu, masih sungkan dengan status barunya. "Bersiaplah, kita akan pergi bersama ibu."


"Kemana?" tanyanya tanpa suara. Hanya mulutnya yang bergerak.


"Outbond." balasku bercanda, dan Sora mengerutkan kening sementara Mia menggelengkan kepala sambil memperhatikan Sora.


"Ed berada dalam masalah besar," kata Mia padaku.


"Mia," sergahku, sebelum mulutnya yang tajam itu semakin menyudutkan calon kakak ipar kami. "Don't!" Aku berbicara seraya menatap tajam padanya.


Mia mengangkat bahu dan aku bersyukur dia tidak mengatakan apapun lagi. Aku maju beberapa langkah mendekatinya, mengintip ke arah ponselnya. Seketika mataku melotot saat melihat isi percakapannya dengan Jason, "Oh, God..." Sekarang aku menyesali langkahku.


"What?"


Aku menarik dan membuang napas berkali-kali sebelum berbicara. "Sebaiknya kau minta dia menikahimu, atau aku akan menghajarnya." kataku tegas, menatap serius ke matanya.


Secepat kilat kuraih ponselnya dan langsung menelepon Jason. Mia ingin merebut kembali ponsel itu dariku. "Diam!" gumamku tajam, dan dia menyerah. Deringan pertama berlalu, belum ada jawaban, beberapa detik kemudian suara Jason terdengar riang di ujung telepon.


"Hei, love!"


"It's me, Franda." jawabku dengan nada dingin, kemudian tanpa basa-basi aku langsung menyampaikan tujuanku meneleponnya sebelum dia sempat mengatakan sesuatu. "Jason, dengar... Aku tahu kau teman dekat suamiku dan aku juga tahu kau sedang berhubungan dengan adikku. Tapi, perlu kusampaikan padamu... menjauh dari adikku jika kau hanya berniat main-main. I don't want to say this, but... Aku tidak suka caramu mendekati adikku."


Jason terdiam selama beberapa saat sementara aku memandangi Mia yang menatapku frustasi. "Franda, aku tidak tahu apa yang terjadi disana, tapi aku tidak pernah main-main dengan adikmu. I love her and I mean it." kata Jason, terdengar bersungguh-sungguh. Sayang sekali aku tidak bisa melihat ekspresinya.


"Okay, kita akan lihat nanti." Aku mematikan sambungan telepon lalu melemparkan ponsel Mia ke pangkuannya. "You better listen to what I said. Umurmu sudah tidak muda lagi, Mia. Kau bukan anak remaja yang sedang mencari jati diri, you're almost 30! Kumohon, lakukan sesuatu yang membuat hidupmu lebih baik." ujarku mengakhiri, Kemudian aku beranjak ke dapur, namun langkahku terhenti saat aku mendengar ponselku berbunyi.


Aku berbalik untuk meraih ponsel dari meja sofa di ruang keluarga dan mendapati nama Ben. Alisku berkerut, Ben sedang bersama Nino dan sebelumnya dia tidak pernah menelponku selama dia bersama ayahnya. "Ya, Ben?"


"Mom, please help... daddy was faint." katanya sambil menangis, dan terdengar ketakutan, yang membuatku ikut ketakutan.


"Apa yang terjadi, Ben? Kenapa daddy bisa pingsan? Ada siapa saja disitu?" tanyaku panik.

__ADS_1


"I don't know, mom. Nobody's here. Please come and help him, I'm so scared..." Kepanikan semakin menyerang saat aku mendengar suara anakku yang putus asa. Kenapa tidak ada orang disana?


Dengan tangan yang gemetar aku mencoba menenangkan diri, sebelum menenangkan Ben. "Ben, listen... tenangkan dirimu, sayang, mommy akan datang. Take a deep breath and release, daddy akan baik-baik saja." Aku menoleh Mia. "Aku harus ke apartemen Nino, ayo ikut." kataku sambil menariknya, mengabaikan wajahnya yang kebingungan.


Sebelum keluar rumah aku menghampiri ibuku. "Mom, sesuatu terjadi pada Nino dan aku harus pergi. Nanti kujelaskan." Aku mencium pipinya sekilas lalu langsung keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. "Black ke apartemen Nino."


Aku kembali menempelkan ponsel ke telinga sementara mobil mulai melaju. "Ben, mommy sedang di perjalanan kesana. Bisa ceritakan pada mommy apa yang terjadi?" tanyaku pelan dan lembut sementara tanganku gemetar.


Ben terisak. "Aku tidak tahu, mom. Kami sedang bermain dan tiba-tiba dia pingsan."


"Apa kau berada di dekatnya?"


"Ya, aku disampingnya."


"Okay, tetap disitu dan..." Mia merebut ponsel dari tanganku yang gemetar dan berbicara dengan Ben.


"Ben, it's me, aunt Mia. Bisakah kau melihat apakah daddy-mu masih bernapas? Arahkan tanganmu ke hidungnya," Hening sesaat selagi Ben melakukan apa yang dikatakan oleh Mia. "Sudah?... Good, sekarang apa kau merasakan udara keluar dari sana?"


Aku tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Ben, tapi raut wajah Mia mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi. "Ada apa, Mia?" tanyaku gemetar.


Mia mengarahkan telapak tangannya padaku, memintaku diam. "Ben, keep calm... kami akan sampai sebentar lagi."


Selama hampir lima belas menit perjalanan diliputi kepanikan dan ketakutan. Aku tidak pernah membayangkan sesuatu yang buruk akan terjadi kepada mantan suamiku dan selama ini dia terlihat baik-baik saja. Apakah dia sakit? Jika tidak, lalu kenapa dia bisa pingsan saat bermain dengan anaknya? Nino bukan orang yang akan melewatkan jadwal makannya, dia hidup sehat, bahkan terlalu sehat ketika masih menikah denganku.


Aku larut dalam ketakutanku. Mia terus mencoba menenangkan Ben sementara sebelah tangannya menggenggam tanganku kuat-kuat hingga mobil kami berhenti di lobi apartemen. Dan disaat yang bersamaan aku melihat seorang wanita yang tidak akan pernah kulupakan, setengah berlari memasuki gedung apartemen. Jenny.


Sejujurnya aku tidak ingin turun, tapi kemudian pikiranku teringat pada anakku. Dia disana bersama Nino, dan dia membutuhkanku. Tanpa berpikir lebih lama, kulangkahkan kakiku menyusul wanita itu.


Dia tampak terkejut saat melihatku tiba di depan lift yang masih tertutup. Aku melirik Mia yang masih berbicara dengan Ben, dia belum menyadari siapa wanita yang ada disampingku. Tidak ada suara yang terdengar selain suara Mia sepanjang kami berada di depan lift sampai tiba di depan unit apartemen Nino. Unit yang sama, bersebelahan dengan milikku yang saat ini kosong.


"Ben!" seruku sambil bergegas mendekati anakku yang duduk gemetaran dan menangis di samping ayahnya yang terbaring lemah. Ponselnya masih menempel di telinganya. Aku meraih tubuh Ben dan membawanya ke ruang tamu, sementara Black dan Mia memeriksa keadaan Nino.


"It's okay, honey. I'm here, he'll be fine."

__ADS_1


__ADS_2