Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Something Happen.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


"Bagaimana dengan psikiater, John? Bisakah kita mencobanya?" Aku akhirnya membuka suara, memecah keheningan yang mendera selama beberapa saat.


Edward menggeleng lemah, matanya terpejam sementara tangannya mengusap wajah. Sebelum menjawabku, dia membuang napas putus asa. "Panda tidak akan menerimanya. Dia sudah muak dengan pertemuan-pertemuan semacam itu."


Aku mengangkat sebelah alis mendengarnya. "Tapi dia membutuhkan pertolongan. Apakah kita hanya akan menunggu dan menyaksikan setiap kali dia kembali bermasalah?" ujarku kesal. Aku mengertakkan gigi, lalu berusaha mengatur emosiku kembali. "Sial, aku tidak akan melakukan itu, John. Bagaimana mungkin aku sanggup membiarkannya seperti itu? Melihatnya dalam keadaan kacau sementara aku hanya diam dan menontonnya, bersikap cuek seakan aku sudah terbiasa dengan pemandangan itu? Demi Tuhan, aku tidak sanggup." Aku menyadari suaraku bergetar ketika aku berbicara, mataku juga buram akibat air mata yang mulai muncul.


"Memangnya apalagi yang bisa kita lakukan? Kami sudah berulangkali mencoba membawanya ke psikiater, bahkah Ayah sempat mengatur jadwal konseling di rumah, tapi Panda menolak. Dia tidak mau menemui psikiater itu walau hanya semenit, lalu setelahnya dia akan bungkam berhari-hari, marah, dan pada akhirnya membuat kondisinya semakin parah." Edward terisak. Membahas sesuatu yang tidak menyenangkan di masa lalu memang menyakitkan, akan terasa seperti mengulanginya lagi.


"Percayalah... kami sudah mencoba semua jalan yang kami yakin bisa menolongnya, tapi... nihil. Satu-satunya cara untuk menyelamatkannya adalah dengan membuatnya menerima keadaan, dia yang harus menolong dirinya sendiri. Karena apapun yang kita lakukan akan sia-sia jika Panda tidak bisa menerima kenyataan bahwa dia memang bermasalah. Panda sendiri yang harus sadar, Sean."


Aku diam dan menyimak sambil berusaha mengerti maksud perkataannya. Semua yang di katakan Edward sangat memusingkan, namun aku tahu dia sepenuhnya benar. Dalam kasus ini, memang hanya Franda yang bisa menolong dirinya sendiri.


Aku baru saja akan mengatakan sesuatu saat pintu terbuka. Kami serentak menoleh dan disana Mia berdiri dengan gemetar, terlihat ketakutan saat menatapku, lalu mendadak bersedih ketika pandangannya berpindah pada Franda. Mia menutup mulutnya yang menangis dengan sebelah tangan sementara sebelah tangannya yang lain meremas ujung sweater-nya kuat-kuat.


Aku melirik Edward sekilas, dia menaikkan kedua alis yang menyatakan dia sedang meminta ijinku, kemudian aku meresponnya dengan anggukan. Dia beranjak mendekati Mia dan langsung menariknya ke dalam pelukan.

__ADS_1


Menyaksikan dua kakak-beradik yang sedang bersedih itu, membuatku sedikit melunak. Berusaha melupakan semuanya dan melewati ini bersama-sama. Aku tidak mungkin menghindari Mia selamanya, bagaimanapun dia tetap keluarga Franda, yang berarti bagian dari keluargaku juga.


Aku pun menyadari jika Mia tak sepenuhnya bersalah mengingat dia sendiri memiliki kesilapan dalam mengartikan kehadiran Franda dalam keluarga mereka. Persis seperti yang di katakan Edward, Mia terlalu kecil untuk mengerti keadaan dan tidak ada yang membantunya saat itu. Pengaruh Edward juga tidak mungkin sebesar itu hingga mampu membuatnya benar-benar paham akan situasi.


Aku berdiri untuk menyambut Mia, tersenyum padanya dan memeluknya. Dia tidak membalas pelukanku, tubuhnya masih gemetar, lalu aku mengusap kepalanya, menyatakan permintaan maaf yang tulus. "Aku tidak akan membunuhmu, Mia. Franda akan mengirimku ke neraka jika aku benar-benar melakukannya." gumamku, sedikit bercanda agar dia merasa tenang.


Aku menarik diri darinya. "Sapalah dia. Franda pasti merindukanmu." kataku lagi, kemudian bergeser sedikit ke kiri, memberinya jalan.


Sebaris senyum tipis muncul di sudut bibirnya, dia melihatku sekilas, menganggukkan kepala, lalu duduk di samping Franda.


Untuk sesaat Mia hanya diam, matanya menatap Franda dengan penuh rasa bersalah, dan detik berikutnya dia menangis tersedu-sedu. Rasa bersalah sekaligus sedih ikut menerjangku kala menyaksikan dia seperti itu. Rasa takut akan kehilangan Franda yang menyerangku beberapa hari lalu sempat membuatku hilang akal dan melampiaskannya pada Mia, dan tanpa sadar aku sedang mencari kesalahan orang lain untuk membuat diriku sendiri merasa lebih baik.


Mia masih menangis, sementara aku dan Edward terus menghela napas berkali-kali. Pemandangan yang tampak di hadapan kami bukan sesuatu yang menyenangkan untuk di lihat, ini lebih menyiksa dari segala macam permasalahan yang pernah ada. Dua wanita yang kami sayangi tengah menderita dan saling menyalahkan diri satu sama lain atas kenyataan pahit yang menerpa.


Yang satu tersadar dan menangis histeris, sementara yang satunya lagi terbaring tak berdaya dengan tubuh di penuhi alat-alat yang menunjang kehidupannya. Sungguh, tidak ada yang lebih memilukan dari pada ini.


Kalau pun memang ada yang harus di salahkan saat ini, maka aku akan menyalahkan Tuhan karena dia yang memberikan kami kehidupan serumit ini. Ini semua tidak akan terjadi jika Tuhan membiarkan kedua orangtua Franda hidup bersamanya. Tapi, aku tidak mungkin menyalahkan Tuhan karena aku sendiri merasakan bahagia bersama Franda karena itu. Semua kenyataan pahit itu yang akhirnya membuat kami bertemu dan menikah.

__ADS_1


Terlalu banyak yang harus kujelaskan dalam kasus ini, dan tidak semua orang akan paham pada apa yang menimpa kami, juga tidak semua orang akan sanggup melewati ini seperti kami. Berpikir bijak dan realistis, mengambil pelajaran yang ada di dalamnya, lalu melangkah kembali bersama-sama. Bersatu menghalau semua rintangan sampai kami tiba di garis finish dan merayakan kemenangan setelahnya. Entah kapan kami akan mencapai garis itu, tapi aku yakin saat itu pasti akan datang.


Aku kembali menatap Mia yang masih tersedu-sedu, belum ada kalimat yang keluar dari mulutnya, sampai akhirnya dia berhenti menangis.


Mia meraih tangan Franda dengan tangannya yang gemetar hebat. "Panda," katanya, suaranya bergetar lalu dia menangis lagi.


"Maafkan aku."


Hanya itu yang terdengar keluar dari mulutnya. Selebihnya Mia hanya menangis, memilih meluapkan rasa bersalahnya melalui tangisan, berharap Franda akan mendengarnya, sama seperti apa yang kuharapkan sekarang.


Lalu tiba-tiba aku terkesiap saat mataku menangkap sesuatu di wajah Franda. Dengan terburu-buru aku mendekat untuk memastikan. Seketika itu mulutku melengkung lebar.


Franda menangis. Dia baru saja mengeluarkan air mata, dan perlahan-lahan air matanya semakin deras mengalir. Ini merupakan saat paling membahagiakan yang pernah terjadi sepanjang hidupku, aku tidak berharap ada hari lain yang lebih menggembirakan dari hari ini.


"Hei." Aku, Mia, dan Edward serentak menyapanya ketika dia benar-benar membuka matanya. Membuatnya sedikit terkejut dengan suara kami yang tiba-tiba kencang.


Franda mengerjap. Aku berpindah ke sisi lain hospital bed sementara Edward melangkah keluar untuk memanggil dokter. Aku langsung mengenggam tangannya, menciumnya beberapa kali. "Apa kabar, sayang?" tanyaku tak sabar, menunggu dia menjawabku atau sekedar tersenyum membalas sapaanku.

__ADS_1


Tapi sesuatu yang aneh terjadi, dia tidak menjawabku. Franda menatapku bingung, keningnya berkerut. Hal yang sama terlihat di wajahnya saat dia berpaling menatap Mia. Lalu tiba-tiba aku tersentak. Bagai di hantam sebongkah batu dengan berat puluhan ton, mendadak jantungku terasa berhenti berdetak dan darahku berhenti mengalir. Sekujur tubuhku membeku ketika dia bersuara untuk pertama kalinya. Aku melemas dengan cara yang paling alami.


"Siapa kalian?"


__ADS_2