Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Sean Danial Warner!


__ADS_3

"Bos, calon suamimu datang dan memaksa masuk!" Denise tiba-tiba membuka pintu ruanganku, diikuti seseorang dibelakangnya.


Pria ini, benar-benar! Dia datang secepat kilat, hanya berselang 15 menit sejak aku membalas satu dari ratusan email-nya dan mengatakan ingin bertemu. Entah apa yang membuatnya begitu bersemangat, wajahnya terlalu bahagia. Apakah sebesar itu pengaruh email yang ku kirim padanya tadi?


"Ya, biarkan dia masuk!" Lumayan menarik, dia datang dengan pakaian santai, celana jins panjang berwarna biru, t-shirt polos putih, dan sepatu kets yang juga berwarna putih. Rambutnya tidak tertata rapi sama sekali, berbeda dengan sebelum-sebelumnya. I mean, siapa yang sesantai itu di hari rabu, apakah dia tidak bekerja? Oh, whatever!


Satu hal yang tidak kusuka, aroma woody yang menyeruak seketika begitu dia masuk ke ruanganku, terlalu menyengat, dia pasti menyemprotkannya berkali-kali.


Pria itu mendekat, dia duduk dan melipat kakinya dihadapanku, jemarinya saling tertaut, menebarkan pesonanya kemana-mana melalui senyum manisnya. Hah, kenapa aku harus memperhatikan senyumnya?!


"Jadi, kau menerimaku sekarang?" Gila! Dia percaya diri sekali mengedipkan matanya padaku. Ewh!


"Sesenang itukah kau saat menerima email-ku?" Jangan terburu-buru! Aku harus santai menghadapi orang ini.


Dia tersenyum lagi, "Tentu saja, aku sudah menantikannya selama setahun! Ini hari terbaik sepanjang hidupku!" Klasik! Mungkin dia jujur, tapi terdengar berlebihan untukku.


"Sean, kau mengenalku dengan baik?" Apakah aku yang terburu-buru sekarang? Ah, masa bodo! Aku ingin memperjelas semuanya saat ini.


"Tidak sebaik orang-orang terdekatmu, tapi, ya aku mengenalmu cukup baik." katanya.


"Sebaik apa?" jawabannya belum cukup, harus lebih jelas lagi. Ayo, jelaskan!


Kulihat dia berpikir, wajahnya seperti ragu untuk menjawab, "Kau bodoh ketika mencintai seseorang."


Apa-apaan ini! Baru saja aku berniat membuka hati untuknya, tapi dia justru mengejekku. Bagaimana bisa aku berakhir dengan pria sepertinya? Tidak sopan!


"Apa maksudmu?" tanyaku dengan gusar, kata-katanya sangat keterlaluan.


Sean tertawa, Ya, Tuhan! Ini tidak lucu sama sekali! Aku tidak tahu wajahku seperti apa sekarang, yang jelas dia pasti menyadari ketidaksukaanku dan langsung menghentikan tawanya.


"Maaf kalau kau tersinggung, aku tidak mau berbohong untuk menyenangkanmu. Aku tidak jauh berbeda, kita sama bodohnya dalam hal itu." Sean mengatakannya begitu santai, seolah dia sudah menyiapkan kata-katanya sejak dulu. Aku masih bertahan dengan wajah kesalku, menunggu dia melanjutkan ucapannya.


Mata birunya menatap sekeliling kantorku, "Kantormu cukup nyaman, kau mendesainnya sendiri?" katanya mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


Aku mengangguk, ku ikuti arah pandangannya sambil memutar kursi, sejenak aku bangga pada apa yang telah kucapai. Tidak mudah bagiku untuk sampai dititik ini, banyak hal yang ku lalui sampai butikku mendapatkan tempat yang cukup baik dihati para pelangganku. Aku tersenyum bangga pada diriku sendiri.


"Hei, aku belum tahu nama lengkapmu." kataku memecah keheningan. Ya, yang kutahu namanya hanya Sean, dulu Dhea juga selalu menghindar saat aku bertanya lebih tentang kakak sepupunya itu.


"Sean Danial Warner."


"Oh, jadi Warner nama keluarga?" tanyaku penasaran. Pantas saja nama perusahaannya Warner Enterprise, ternyata Warner adalah nama belakangnya.


"Yes!"


Oke, cukup basa-basinya. Sekarang harus membahas tujuanku mengundangnya kesini.


"Sean, aku belum yakin dengan apapun saat ini. Tujuanku mengundangmu kesini untuk memperjelas semuanya, aku tidak ingin kau menyia-nyiakan waktumu menungguku. Aku bukan seseorang yang kau harapkan, masih banyak wanita lain yang pantas untukmu." kataku memancing.


"Aku tahu apa yang pantas untukku." katanya sambil tersenyum.


"Aku janda." Sean terlihat biasa saja, wajahnya tidak berubah sedikitpun.


"I know."


"I love kids."


Aku menunduk, memikirkan ucapanku selanjutnya. Ada sedikit kekhawatiran untuk mengatakannya, aku berharap dia tidak mundur meskipun aku mengatakannya. Wait, apakah aku menyukainya sekarang? Oh, crazy! Apa yang harus kulakukan jika dia tidak mundur?


Setahun belakangan aku tidak pernah menatapnya seperti ini, meskipun dia selalu datang dan menggangguku, namun tidak sekalipun aku menganggapnya pria yang layak untuk mendekatiku. Bukannya aku sombong, hanya saja aku belum memikirkan sesuatu yang berhubungan dengan pria. Perceraianku dengan Nino membuatku kehilangan kepercayaan pada laki-laki.


"Aku tidak mencintaimu." Kutatap matanya, namun lagi-lagi wajahnya tidak berubah, masih santai dan tersenyum, tidak ada raut sedih atau terkejut disana.


"Aku mencintaimu." jawabnya cepat. Aku tahu itu, sudah tak terhitung berapa kali dia mengatakannya padaku, tapi tetap saja tidak mudah bagiku menerimanya, biar bagaimanapun Nino belum keluar sepenuhnya dari hatiku. Apakah aku bodoh? Ah, tidak!


Aku menarik napas sebentar, kulipat kedua tanganku diatas meja untuk menghilangkan rasa gugup yang menyerang saat dia menatapku. Ah, kenapa sekarang aku tidak sanggup beradu mata dengannya, kemana sikap kerasku yang bertahan sampai kemarin?


"Baiklah, aku akan mencoba denganmu." ucapku pada akhirnya, aku rasa apa yang dikatakan Mia dan Denise ada benarnya. Aku tidak bisa terus terpaku pada masa lalu, kehidupan terus berjalan, tidak peduli sesulit apa, aku harus melewatinya.

__ADS_1


Sean memajukan badannya lalu berdiri mengitari meja dan langsung berlutut disampingku. Dia mengeluarkan sesuatu dari saku celana jinsnya dan menyodorkannya padaku. Hah, cincin?! Apa itu cincin? Ya, itu cincin!


"Ayo menikah!" Apa aku tidak salah dengar? Menikah? Oh, God!


Aku membulatkan mata, ini terlalu cepat! Bukan ini tujuanku memintanya datang, aku tidak siap untuk ini. Pikiranku mulai melayang, aku tidak tahu harus melakukan apa sekarang, ini sungguh diluar rencanaku. Tadinya aku hanya ingin mengenalnya lebih dekat, melihat apakah aku bisa menerimanya atau tidak. Kenapa dia justru memberiku cincin? Sean, kau benar-benar gila!


"Aku tidak bisa! Aku bukan memintamu menikahiku, lagipula aku belum mengenalmu. Banyak yang harus ku pertimbangkan. Kau tidak bisa..." dia menghentikanku lagi! Sial! Sial! Sial!


Ya, Tuhan! Dia memasangkan cincin itu ke jari manisku, aku bahkan belum sempat menyelesaikan ucapanku. Bagaimana ini? Kenapa dia begitu percaya diri aku akan menerimanya? Bukankah aku sudah mengatakan tidak mencintainya tadi?


"Aku menunggumu selama 16 tahun untuk menikahimu, bukan untuk berkencan selama setahun atau tiga tahun dan berakhir putus. Aku tidak bisa menjanjikan pernikahan yang selalu bahagia dan menyenangkan, itu mustahil, tapi aku akan selalu menemanimu setiap saat, berada disampingmu, dan mencintaimu dengan caraku sendiri. Percaya padaku, aku tidak akan meninggalkanmu sedetikpun."


Sean begitu yakin mengatakannya, tidak ada keraguan disana, aku bisa melihat kesungguhannya. Entah sadar atau tidak, aku menangis, Ya, Tuhan! Aku menangis? Kenapa aku terharu mendengar ucapannya, bukankah aku tidak mencintainya? Apakah dia benar-benar mencintaiku sedalam itu? Ah, kenapa dia harus semanis ini?


"Tapi, aku..." ucapanku terpotong saat Sean menggeleng dan menyentuh bibirku dengan telunjuknya, lalu menangkup kedua pipiku.


"Tidak ada penolakan lagi! Mulai hari ini aku tidak akan membiarkanmu berjalan dalam ketakutan, aku akan menemanimu dan kita bisa melaluinya bersama-sama. Berbagilah denganku, jangan menanggung semuanya sendiri, aku bersedia menjadi pendengar yang baik untukmu. Bisakah kau percaya padaku?"


Haruskah aku percaya padanya? Tapi aku belum yakin dengan perasaanku sendiri, bagaimana dengan Ben? Bagaimana dengan Nino? Aku tidak siap menghadapinya, Nino pasti akan sangat kecewa nanti. Aku merasakan jari Sean menghapus air mataku, begitu lembut dan hangat. Aku bahkan terpejam menikmatinya, begitu menenangkan.


Aku membuka mata begitu sadar sesuatu menempel dibibirku. Tunggu, apa Sean menciumku? Ya, dia menciumku. Bangsat!!! Aku ingin menolak, sungguh, tapi kelembutan yang diberikannya sangat menenangkan. Aku tidak merespon beberapa saat, lalu entah karena dorongan darimana, aku melilitkan kedua tanganku dilehernya, aku menerima perlakuannya. Sial! Kau bodoh, Franda!


Sean menghentikan aksinya ketika kami berdua hampir mati kehabisan napas, lalu jarinya mengusap bibirku, dia tersenyum, begitu manis! Aku yakin wajahku sudah seperti kepiting rebus sekarang. Aku malu! Sungguh memalukan sekali! Kenapa aku tidak bisa menahan diri dan mengikuti permainannya? Bodoh!!! Ah, persetan dengan malu, toh aku juga menikmatinya.


"Kita akan menikah minggu depan!"


"Apa? Kau gila?! Tidak bisa secepat itu, aku harus memberitahu keluargaku, dan juga Nino."


Ya, aku memang harus memberitahu Nino, jika tidak dia pasti akan menggila dan mengacau, aku tidak mau itu terjadi. Setidaknya dia harus mengerti dan menerima keputusanku, biar bagaimanapun dia tetap Daddy untuk Ben. Hubungan kami harus tetap berjalan baik demi Ben.


Sean menatapku dengan tersenyum, seperti mengerti kekhawatiranku, "Tenang saja, kita memberitahunya bersama-sama, aku akan menemanimu." suaranya begitu lembut, seakan menghipnotisku. Aku mengangguk, ini lebih baik daripada aku bertemu Nino sendiri.


"Ganti parfummu, aku tidak menyukainya!"

__ADS_1


***


Komen dong, kasih semangat!!


__ADS_2