Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
City Lifestyle


__ADS_3

Mia dan aku sedang bersiap untuk acara 'menghibur Maggie' yang sedang galau. Aku sering bertukar pakaian dengan Mia sejak ukuran tubuhnya mulai menyamaiku. Dulu sewaktu masih kuliah, aku selalu membawa Mia untuk menemaniku bekerja. Tunggu, apakah aku belum menceritakannya?


Jadi, semasa kuliah aku pernah bekerja sebagai penyanyi kafe. Aku melakukannya bukan karena aku membutuhkan uang, tapi karena aku menyukai hal itu dan aku suka melihat orang lain terhibur dengan suaraku. Dan melewati hari-hari itu, mia selalu berada disampingku.


Ketika menyanyi, tidak peduli dimana aku tampil, seberapa banyak penontonnya, atau lagu-lagu apa yang akan kunyanyikan, momen itu selalu sama. Rasanya seperti berdiri di tepi jurang, menantang dirimu sendiri untuk melompat. Walaupun sudah tak terhitung berapa kali aku menunggu di samping panggung, masih tersisa elemen kecil yang tidak diketahui, yang hanya akan kutemukan saat aku berdiri di hadapan penonton. Suatu campuran antara resiko dan peluang yang memabukkan dan mustahil untuk tidak merasakan kobarannya.


Pada saat itu, berganti pakaian di toilet pub, pom bensin, dan lebih dari sekali di lemari penyimpanan sapu bukanlah hal yang asing bagiku. Aku pernah harus merias wajahku dengan posisi tubuh aneh di atas cermin bedak, duduk di toilet dengan satu kaki mengganjal pintu bilik yang tidak bisa di kunci, lebih sering daripada yang ingin kau percaya. Semua itu karena aku harus mengendap-endap saat keluar dari rumah agar tidak diketahui oleh Ed.


Selesai berpakaian, aku tersenyum memandangi pantulan di cermin besar berbingkai kayu putih sambil merias wajah. "Ingat toilet-toilet mengerikan tempat kita harus mengganti pakaian di Rock Cafe di Jakarta?" tanyaku pada Mia, yang sedang mengenakan pakaian di depan lemari.


"Dengan lampu berkedip-kedip yang tidak bisa di andalkan dan cermin yang terbuat dari baja poles? Bagaimana mungkin aku bisa lupa?" sahut Mia, dari arah lemari. "Kelihatannya jenis toilet tempat-tempat orang terbunuh di drama patologi Netflix. Kira beruntung bisa keluar hidup-hidup dari sana."


"He-eh. Maaf saja. Penontonnya juga tidak lebih baik. Ingat lelaki memalukan yang lebih dari sekedar mabuk, mendatangimu dan berjoget di depanmu?" Aku tertawa.


Derap langkah terdengar dan Mia bergabung bersamaku di cermin, dia mengeluarkan setube maskara dari pouch make-up. "Jangan ingatkan aku." sahutnya sinis. Dia mulai meniru gerakan penggoda wanita paruh baya mabuk yang selama penampilanku di Rock Cafe yang tidak meyakinkan itu dengan menggeliatkan pinggulnya, yang secara mencemaskan tampak seperti ular.


Aku mulai menjepit rambutku ke belakang, menyemprotnya dengan hairspray sekaligus. Sementara Mia dan aku berdiri bersisian, membuat aku berpikir kalau kami berdua tampak menarik malam ini. Mia dalam gaun koktail satin hijau kelamnya, rambutnya yang merah pudar karena belum sempat diwarnai lagi ditumpuk ke puncak kepala. Sementara aku dalam gaun midi tosca, rambut cokelat bergelombangku kini sudah tertata rapi menjadi gelungan di bagian bawah belakang. Walaupun kadang-kadang menyulitkan, khususnya ketika sedang terburu-buru, aku senang bisa berdandan untuk menunjukkan diri.


Aku punya atasan dan gaun berkilau lebih banyak daripada yang mungkin kubutuhkan, koleksi perhiasan yang terus bertambah jumlahnya seiring pernikahanku dengan Sean, dan puluhan pasang sepatu hak tinggi indah yang bisa kupilih. Tapi sayangnya semua itu tidak ada disini, di Queensland. Menyenangkan rasanya mentransformasi diri sendiri sebelum melangkah untuk bersenang-senang, belum lagi dorongan yang dihasilkannya pada rasa percaya diriku. Semuanya bagian dari ajaibnya kehidupan sebagai wanita, kurasa.


"Aku suka tatanan rambutmu, Panda."


"Terima kasih. Aku berpikir untuk mencoba sesuatu yang baru." sahutku riang.


Mia menatapku sekilas. "Jadi, apa kau sudah memberitahu suamimu bahwa kita akan keluar malam ini?" Dia melanjutkan lagi merias wajahnya.


"Aku sudah mengiriminya pesan." Aku menjawab tenang, lalu memoles bibirku dengan lipstik merah menyala.


Mia meringis. "Aku tidak mau dia sampai menyalahkanku karena mengira aku yang mengajakmu."

__ADS_1


"Jangan khawatir. Aku bisa mengendalikannya. Lagi pula, siapa suruh dia tidak mengangkat teleponku."


Mia melangkah mengambil tasnya dari nakas lalu kembali lagi untuk memasukkan barang-barang yang mungkin dibutuhkannya nanti, sementara aku melakukan hal yang mirip, namun tidak sebanyak Mia. Quilted bag-ku hanya berisi dompet, ponsel, bedak dan lipstik untuk berjaga-jaga siapa tahu aku membutuhkan kedua barang itu. Kemudian bersama-sama kami keluar untuk menemui Sam dan Maggie.


"Wow, Franda, kau terlihat seperti Kate Middleton!" Sam berseru dengan mata berkilat menatapku, diikuti anggukan kepala oleh Maggie. "Benar-benar sebelas-duabelas." katanya menambahkan.


Aku berputar sedikit lalu tersenyum kepadanya. "Kau sendiri juga kelihatan meriah."


"Tuh, kan. Apa kubilang, seleraku sudah lebih baik dalam memilihkan gaunmu, Sam." Sambar Maggie cepat.


Dan aku mengalihkan tatapanku padanya, mulutku menganga lebar, tak percaya dengan apa yang ada di hadapanku. Maggie Thomas, tampak berkilauan dengan gaun one shoulder abu-abu satin yang membungkus tubuhnya. "Ya Tuhan, Maggie!" Aku memandanginya dari ujung kepala sampai ke ujung kaki, mengamati penampilannya yang kalau boleh kubilang lebih anggun daripada The Duchess of Cambridge itu sendiri. "Dengar, apapun yang terjadi di antara kau dan Matthew, dia pantas menyesal karena telah melewatkan pemandangan seindah ini." gumamku bersemangat tanpa melebih-lebihkan.


"Ah, kau memang paling bisa." balasnya sambil mengibaskan tangan di depan wajah. Rona merah yang muncul di sekitaran pipinya menyatakan bahwa dia tersipu dengan pujianku.


Kami langsung berangkat menuju ke salah satu bar berkisar setengah jam perjalanan dari resort. Berbaris-baris mobil yang mengantre di lampu merah yang menyebabkan kemacetan menarik perhatianku. Seakan-akan tiap keluarga sedang berusaha meninggalkan kota saat itu juga, seperti adegan di film tentang bencana dimana semua orang mencoba melarikan diri dari kiamat.


Saat mencapai lahan parkir tujuan kami, aku tersenyum lebar seperti anak kecil, walaupun mataku perih akibat segala sesuatu yang putih menyilaukan.


Melangkah masuk ke dalam bar, kami disambut You Should Be Dancing oleh Glee, yang di putar melalui pengeras suara. Beberapa pasang mata memandangi kami dengan tatapan heran. Mungkin mereka berpikir kami salah masuk tempat karena gaun yang kami kenakan memang tampak berlebihan untuk bar sederhana bergaya era 80-an. Tapi siapa yang peduli? Kami memang mau bersenang-senang, baik itu dengan penampilan atau dengan minuman yang akan menghibur kami sebentar lagi. Sebuah kenikmatan hidup yang tidak bisa dipahami oleh semua orang.


"Bersulang!" seru Maggie sambil mendorong kursinya mundur lalu mengangkat gelas berisi martini.


"Apa kita sedang merayakan sesuatu?" Aku bertanya dengan mengeraskan suara untuk mengatasi musik, namun tetap ikut mengadu gelasku dengan mereka.


Maggie menghabiskan minumannya dalam satu tegukan, yang membuat Sam, Mia, dan aku melotot, lalu menaruh gelas itu dengan kasar ke atas meja seolah dia menghempaskan sesuatu secara bersamaan. Yang kuyakin itu kejengkelan terhadap Matthew.


"Ya, aku sedang merayakan hari bebasku dari pria tak berperasaan itu." Untuk beberapa detik wajahnya nampak marah, namun segera tersenyum ketika dia memandang kami bergantian.


Aku dan Sam saling bertukar lirikan sambil menahan tawa. Menyaksikan Maggie, 'si bisu' kalau kata Taylor, bertingkah seperti ini adalah hal yang menggelikan.

__ADS_1


"Minumlah sampai puas, Mags. Kami akan menemanimu." Kepalaku berputar ke arah Mia yang sedang mengisi lagi gelas Maggie.


Kami minum dan mengobrol dengan tenang sampai tiba-tiba Taylor, Jason dan Matthew muncul di dekat kami.


"Para cewek sepertinya sedang berpesta tanpa kita, bung." Taylor berkata kepada Jason dengan sengaja menyindir kami.


"Ya, sayangnya salah satu personil kita sedang tidak disini. Kalau dia ada, maka malam kita akan lebih panjang dari mereka." balas Jason sambil menyeringai lebar. Sementara Matthew masih diam melihat ke arah Maggie yang menatapnya tajam.


Aku sontak memutar bola mata mendengar perkataan Jason yang sengaja ditujukan untukku. Sebenarnya aku juga kesal karena Sean tidak ada disini sekarang, tapi tidak ada yang bisa kulakukan untuk itu. Dia perlu membereskan segala sesuatunya lebih dulu untuk bisa kembali kesini, atau setidaknya menjemputku. Well, sebenarnya aku bisa saja pulang dan memberinya kejutan, namun tidak semudah itu mengingat ada Mia yang harus kujaga. Aku tidak mungkin meninggalkan dia sendiri disini meskipun aku tahu Sean pasti menaruh beberapa pengawal tak kasat mata di sekitar kami, bahkan aku yakin salah seorang dari mereka sedang berada di bar ini sekarang. Dan membawanya kembali ke Jakarta adalah hal mustahil untuk dilakukan. Kasus skandal yang menjeratnya bersama walikota itu masih menjadi perbicangan hangat disana.


Aku mengembuskan napas putus asa lalu meneguk sedikit minumanku sambil memandangi orang-orang di sekelilingku. Mereka terlihat santai, kecuali Matthew tentunya. Wajahnya masih murung, sementara Maggie tak mau berhenti mengosongkan gelasnya.


"Mags, kau akan mati jika minum seperti itu." suara Matt terdengar untuk pertama kalinya.


Maggie mendengus, matanya setajam samurai menatap ke arah Matt. "Apa pedulimu, sialan?" bentaknya, lalu meneguk lagi minumannya.


Matthew mengusap wajahnya kasar, jelas sekali dia sedang frustasi menghadapi kemarahan istrinya. Kami belum mengetahui penyebab pertengkaran mereka karena tidak ingin terlibat lebih jauh ke dalam urusan yang menyangkut hal pribadi, namun sepertinya masalahnya cukup besar.


Mengalihkan perhatian dari pasangan Thomas yang sedang perang dingin, aku menatap Mia yang sedang tersenyum di seberang meja. Matanya beradu pandang dengan Jason yang juga sedang tersenyum. Dia sepertinya menyukai sesuatu yang dilontarkan oleh Jason, entah apapun itu. Dan aku senang melihat sikap adikku begitu berubah ketika bersama Jason, nyaris seluruhnya.


"Lihatlah mereka, sepertinya posisi Sean dan kau sebagai pasangan terpanas di kelompok kita akan segera tergeser."


Aku tersenyum geli mendengar bisikan Sam di telingaku. Dia bicara padaku namun matanya tertuju pada Mia dan Jason.


"Tidak masalah, selama bukan kau dan Taylor yang menggantikan kami." Aku tertawa.


Sam memundurkan kepalanya sedikit, mengeryit sambil menepuk pelan lenganku, lalu melirik suaminya yang duduk di antara Mia dan Matthew. "Itu tidak akan pernah terjadi!"


"Kenapa? Kalian pasangan serasi kok."

__ADS_1


Sam meringis. "Yeah, kau belum tahu saja."


Menyaksikan beragam ekspresi orang-orang disekitarku, membuatku lagi-lagi mengingat suamiku yang hilang bagai ditelan bumi. Aku merindukannya, dan entah kenapa sulit sekali berhenti memikirkan segala sesuatu tentangnya. Maksudku, harusnya aku bisa sejenak bersantai bersama orang-orang ini tanpa membayangkan sosoknya yang luar biasa mendebarkan. Aku tidak tahu lagi harus berapa lama aku menunggunya, namun jika dia datang nanti, dia harus membayar semua penantianku dengan pantas.


__ADS_2