Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Trouble Maker


__ADS_3

Aku sedang memeriksa beberapa sketsa rancangan gaun pesanan beberapa pelangganku saat Denise masuk kedalam ruang kerjaku. Siang tadi setelah suamiku merajuk aku memutuskan ke butik sebentar untuk menghilangkan kebosanan.


"Bos, Nyonya Daiva tadi menghubungiku, meminta agar pesanan gaunnya segera dikirim." Aku mengalihkan pandangan pada Denise. Gadis itu duduk di sofa ruang kerjaku. Kepalanya menunduk menatap layar laptop di atas meja. Aku mendesah pelan. Entah kenapa tubuhku terasa tidak baik-baik saja beberapa hari ini.


Ruang hatiku yang hampa sangat menyiksa. Kerinduan yang kurasakan benar-benar menyakitkan. Aku beranjak mendekati Denise dan menempelkan bokongku pada sofa disebelahnya. "Kau sudah memeriksa detailnya?" tanyaku. Aku bersandar sementara mataku ikut menatap layar laptop. Denise mengangguk.


"Sudah beres semua." dengkurnya.


"Baiklah, katakan pada Rania agar mengirimnya." Tumit high heels-ku bergerak menghentak lantai pelan-pelan. Mataku terpejam untuk menghirup aroma jasmine yang menguar dari leherku. Sekali lagi aku merasakan memang ada sesuatu yang tidak beres pada tubuhku. Tiba-tiba kepalaku terasa berat dan pusing. Aku baru saja berdiri hendak melangkah, namun kembali terduduk karena pandanganku berputar.


Masih sempat kulihat Denis terlonjak mendapati tubuhku yang tiba-tiba terhempas di sofa. "Bos..." Hanya itu yang kudengar sampai semuanya menjadi gelap dan aku tak sadarkan diri.


Entah berapa lama aku pingsan dan saat terbangun aku berada di ruang pemeriksaan klinik di dekat butikku. Perlahan aku bangkit dari brankar. Denise dan Pritta yang sedang mengobrol dengan seorang dokter wanita segera mendekat dan membantuku duduk. "Ada apa denganku, Denise?" tanyaku. Aku memaksa berdiri sambil berpegangan pada lengan Pritta. Dia menuntunku berjalan ke kursi di hadapan dokter itu.


Kulihat dokter itu tersenyum padaku, "Selamat, Nyonya. Anda hamil." Aku terkesiap. Kalimatnya membuatku gemetar. Aku tak menyangka diriku akan hamil secepat ini, mengingat pernikahanku sebelumnya aku harus menunggu selama delapan tahun untuk mendapatkan anak. Tentu saja aku bahagia, tapi ini terlalu mengejutkan. Aku bahkan belum pernah membahas mengenai kehamilan dengan suamiku.


"Aku... apa?" tanyaku sekali lagi untuk memastikan. Dia tersenyum lagi. Kedua aslisnya terangkat, mengatakan bahwa pendengaranku tidak salah.


Aku gemetar lagi. Menatap Denise dan Pritta bergantian. "Selamat, bos." seru Denise. Wajahnya terlihat bersemangat dengan kedua sudut bibir yang melengkung sempurna. "Pasukanmu bertambah satu lagi." sambungnya.

__ADS_1


Aku masih diam. Belum tahu harus bereaksi bagaimana menerima kabar ini. Namun perlahan aku tersenyum. Dengan tangan bergetar, aku menunduk dan mengusap lembut perutku yang masih rata. "Berapa minggu, dok?" tanyaku.


"Perkiraan enam atau tujuh minggu. belum bisa dipastikan. Tapi, ya. Anda hamil, Nyonya."


Sekali lagi aku gemetar membayangkan bagaimana reaksi suamiku saat aku menyampaikan berita bahagia ini padanya. Apakah dia akan senang atau tidak. Well, seharusnya dia gembira, tapi entah kenapa aku merasa tidak begitu. Sean sama sekali tidak pernah menyinggung masalah keberadaan anak dalam pernikahan kami meskipun aku tahu dia sangat menyayangi Ben. Kenyataan Ben yang merupakan anak dari pernikahan pertamaku mengharuskan dia untuk menerimanya. Pikiranku semakin menggila membayangkan apa yang akan terjadi nanti.


Aku tak banyak bicara selama di dalam mobil, hanya Denise dan Pritta yang berbincang ringan di jok depan. Dengan suasana hati yang masih tak tentu, aku melangkah turun dan tepat saat akan masuk ke butik, suara seseorang yang kukenal memanggilku. "Franda."


Aku berbalik dan mataku menatap mantan suamiku tengah mendekat. Aku melihat otot-otot di wajahnya mengencang sebelum dia berbicara. "Bisakah kita bicara sebentar?" tanyanya. Alisku bertaut merespon pertanyaannya.


Setelah beberapa saat aku pun menjawab. "Masuklah. Tapi tidak bisa lama-lama, suamiku akan mengamuk kalau tahu kau mendatangiku." Aku mengatakannya dengan tegas agar dia paham posisinya. Sembilan tahun hidup bersamanya membuatku sangat mengerti kebiasaannya. Pria itu tidak pernah menyerah sekalipun dia tahu aku sudah menikah. Dia masih menggangguku dengan menggunakan Ben sebagai alasan.


"Ada apa?" tanyaku tanpa membuang waktu begitu kami masuk ke ruanganku. Aku bahkan tidak ingin basa-basi menyuruhnya duduk. Mataku melirik dinding kaca sekilas, terlihat Denise dan Pritta duduk diluar sambil mengamati kami. Ya, dua orang itu selalu saja mengawasiku. Kalau Pritta, aku yakin memang suamiku yang menyuruhnya. Tapi Denise, rasa ingin tahunya terhadapku semakin tinggi sejak aku menikah dengan Sean.


Nino mendaratkan bokongnya di sofa, sikunya bertumpu pada kedua pahanya dengan kedua tangan saling menggenggam. Dia mengangkat kepala dan menatapku. "Mama sakit." lirihnya. Ucapannya menjelaskan kenapa wajahnya terlihat cemas sejak tadi.


"Dia memintaku menyampaikan padamu kalau dia ingin bertemu." Sambungnya lagi.


Kupejamkan mataku seraya menarik napas dalam. Aku ingin sekali egois dan mengatakan kalau itu bukan urusanku lagi karena aku sudah menikah dengan orang lain. Tapi kutahan semata-mata aku menganggapnya seperti ibuku sendiri. Aku berderap dan duduk disamping mantan suamiku. "Bagaimana keadaannya? Aku akan menemuinya dengan suamiku, tapi tidak sekarang. Sean sedang berada diluar negeri." dungkurku pelan.

__ADS_1


Dia menghembuskan napas berat lalu menatapku dengan kilat mata sendu. "Tidak bisakah sekarang? Aku tahu kau sudah menikah, tapi Mama ingin bertemu denganmu."


Aku tersenyum getir menatapnya. Sambil memegang lengannya aku mengeluarkan suaraku dari tenggorokan. "Nino," lirihku pelan dan lembut. "Aku tahu Mama menyayangiku dan aku juga menyayanginya. Tapi keadaan sudah berbeda. Aku memiliki suami dan aku membutuhkan ijinnya untuk bertemu Mama. Dia tidak akan membiarkanku pergi sendiri menemui keluarga mantan suamiku." cetusku.


Dia menunduk. Tak lama kudengar isak tangis pelan dari mulutnya. Pria ini, pria yang dulu sangat kucintai terlihat begitu hancur dan putus asa. Pundaknya berguncang seiring tangisnya yang semakin kencang dan menyedihkan. Aku tidak tahu bagaimana harus menghiburnya. Akhirnya kubiarkan dia menangis dan sesekali menepuk punggungnya.


Setelah cukup lama menangis, dia menghapus air matanya dan berdiri. Aku pun mengikutinya berdiri. "Baiklah. Aku akan mengatakan pada Mama kau akan datang menjenguknya nanti." Tiba-tiba dan tanpa kuduga dia memelukku dan menyembunyikan wajahnya di leherku. Aku berusaha melepaskan diri dengan mendorong dadanya, namun pelukannya terlalu erat.


Masih dengan tubuhku berada dipelukannya. Pintu ruanganku terbuka lebar dan aku melihat suamiku berdiri disana memandang kami dengan kilat mata membunuh. Aku sontak mendorong Nino lalu melangkah ke arah suamiku, namun belum sempat aku mencapai pintu dia berbalik dan meninggalkanku.


Aku berlari mengejarnya tetapi terlambat karena suamiku sudah masuk kedalam mobil, kemudian melaju kencang. "Sial". Aku mengutuk high heels di kakiku yang memperlambat gerakanku. Aku kembali ke dalam butik dan menatap tajam mantan suamiku. "Apa-apan kau?" bentakku. Namun dia terlihat tidak merasa bersalah sama sekali. Saat dia mendekat dan berusaha menyentuhku lagi, aku mengangkat tangan dan menamparnya.


"Jangan pernah muncul lagi dihadapanku kalau kau masih ingin bertemu Ben." sambungku dengan suara bergetar. Lalu aku mengambil tas tangan di meja kerjaku dan berjalan cepat keluar.


Didepan pintu, aku melihat Pritta dan Denise yang menatapku sedih sekaligus bingung. "Pritta, antar aku pulang sekarang." kataku tanpa berhenti.


Ya, Tuhan. Apa yang harus kulakukan sekarang. Suamiku pasti akan mencincang habis diriku. Mataku mulai panas menahan kesal sekaligus rasa bersalah. Suami yang begitu kurindukan tiba-tiba datang dan melihatku berpelukan dengan mantan suamiku. Sungguh sebuah penyambutan kurang ajar yang kuberikan padanya. Tapi, kenapa dia tiba-tiba berada disana? Bukankah seharusnya dia masih berada di jepang? Sejak kapan dia kembali?


"Ahhh."

__ADS_1


__ADS_2