Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
What a Surprise


__ADS_3

Aku memandangi Sean yang menatap bingung padaku. "Kau tidak bisa mengajari Ben seperti itu, Sean. Dia masih terlalu kecil."


Sean mengernyit. "Hei, kau terlalu berlebihan, sayang."


"No, I'm not." sergahku. "Ben belum bisa mencerna arti motivasimu dengan baik, aku tidak mau dia salah menangkap maksud dari ucapanmu. He's even not three yet, beritahu dia dengan kata-kata yang mudah di terima anak seusianya."


"Whoa, kupikir disini kau yang salah menangkap maksudku, Franda." Sean menggoyangkan kepalanya, menatapku dengan sorot tak percaya. "Dengar, aku tahu bagaimana berbicara pada anak seusia Ben, dan aku tidak mungkin mengisi kepalanya dengan sampah. Kecuali kau tidak ingin aku ikut campur dalam perkembangannya." lanjutnya dengan nada sinis.


Aku membuang napas seraya memijat pangkal hidungku. Sekarang dia salah paham padaku. "Sean, kurasa kita perlu membahas ini nanti." kataku memutuskan, sebelum perdebatan kami lebih panjang dan Ben kembali ke dalam kamar.


Sean melirik ke arah pintu, memandangi Ben yang membawa sebotol air di tangannya dan menyerahkan padaku. "Here you go." katanya.


Aku memaksa melengkungkan bibirku. "Thank you, honey." Aku mencium pipinya menyatakan aku sungguh-sunggu berterima kasih untuk kebaikannya, dan dia membalas senyumku.


Untuk beberapa saat Sean hanya terdiam, menyaksikan Ben dan aku membicarakan tentang gadis kecil yang dilihatnya di supermarket, sampai suara ibu terdengar berteriak dari bawah.


"Makan siang sudah siap, kids!" serunya dengan suara dan nada yang sama persis seperti memanggil Ed, aku, dan Mia bersamaan ketika kami masih tinggal di rumah ini, saat aku belum menikah.


Lalu aku menjawab dengan cara yang sama. "Coming!" Aku sengaja berteriak lebih kencang untuk melampiaskan kekesalanku pada Sean.


Ban langsung berlari keluar sementara Sean masih di tempatnya. Kepalanya menunduk dan aku mendengar dia membuang napas berat. Aku menyibakkan selimut, lalu menurunkan kaki dan berdiri tepat di depannya. Kedua tanganku menangkup wajahnya. "Kenapa?" tanyaku saat dia menatapku.


Dia menaikkan bahunya sekilas. "Aku tidak suka bertengkar denganmu." ucapnya dengan suara lemah.


Aku tersenyum padanya. "Negosiasi, ingat? Kita hanya berdebat, bukan bertengkar. Lagi pula, kita memang belum membahas apapun soal pola asuh, jadi, this topic is on the table soon. Oke?"


Sean mengangguk, belum bersemangat. Kemudian dia menurunkan pandangan ke arah perutku, lalu mengusap dengan kedua tangan dan menciumnya. Mendadak dia menaikkan kembali pandangannya menatapku. Aku yakin ekspresi kami sama saat ini. Tersenyum ceria.

__ADS_1


"Dia menendangku." ujarnya senang, membuatku tertawa. Rautnya sangat menggemaskan, dan aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menciumnya.


"Ayo, kita harus turun sebelum..."


"Panda, lunches!"


Sean dan aku tertawa saat suara teriakan ibuku terdengar kembali sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Sean turun lebih dulu sementara aku berderap ke arah lemari pakaian untuk mengambil celana pendek dari sana dan mengenakannya. Kemudian langsung menyusul turun.


Tiba di meja makan, aku mencium pipi ibuku sekali sebelum duduk di tengah-tengah antara Sean dan Ben. Edward yang entah sejak kapan pulang juga bergabung bersama kami, dia duduk bersebelahan dengan ibuku di sisi lain meja makan.


Aku memandangi satu per satu makanan yang tampak lezat di atas meja. Ibu memasak sup kepiting, biasanya aku akan makan dengan rakus jika dia memasak itu. Lalu ada ikan goreng, ini juga salah satu kesukaanku. Dan yang terakhir ada gulaschsuppe, sup kental berisi potongan daging sapi, masakan yang paling kusukai di antara semuanya.


Aku tahu ibuku sengaja memasak semua makanan itu untukku karena beberapa hari belakangan selera makanku sangat kacau, namun tidak satu pun dari ketiga makanan itu yang membuatku merasa lapar. Aku tidak bisa makan apapun selain roti dan buah, dan hanya dua makanan itu yang lolos ke dalam perutku, selain itu semuanya akan kembali keluar dalam hitungan jari.


"Panda, kenapa kau tidak makan?" suara ibuku menarik pikiranku kembali.


Ibuku mengernyit, memandangi Sean dan aku bergantian, aku tahu dia berpikir bahwa aku sedang memiliki masalah dengan Sean hingga membuat selera makanku hilang. "Mom, please," gumamku padanya seraya menahan tawa. "Jangan menakuti suamiku, dia tidak melakukan apapun."


"Daddy was trying to kill mommy."


Aku dan Sean terlonjak saat suara Ben mengalun dengan riang. Sekarang aku mengerti kenapa ibuku memandang Sean seperti itu, Ben menceritakan kejadian yang dilihatnya di kamar tadi.


"Ben, itu tidak benar. Bukankah mommy sudah bilang kami hanya bercanda?" kataku tegas kepada Ben, tatapan mataku menyiratkan bahwa aku tidak main-main dengan ucapanku. Orang bisa saja salah paham dengan apa yang disampaikannya dan mengira bahwa Sean benar-benar berbuat kasar padaku.


Ben terdiam dan menunduk, perlahan menurunkan tangannya dari atas meja. Dia sedang takut padaku. Seketika aku tersadar bahwa aku terlalu keras padanya, lalu dengan cepat aku meraih tubuhnya ke dalam pelukanku. "I'm sorry, mommy tidak bermaksud begitu."


Dia mengangguk, namun masih diam. Aku membiarkannya untuk sementara karena tidak ingin yang lain terganggu. Momen seperti ini sudah jarang terjadi terutama di rumah kami. Sejak ayahku meninggal, ibuku lebih sering tinggal bersamaku dan baru beberapa bulan belakangan dia kembali ke rumah ini, maksudku ibuku benar-benar memutuskan untuk kembali tinggal di rumah ini.

__ADS_1


"Buka mulutmu, sayang?" Aku menoleh Sean, lalu memandang sesendok makanan yang disodorkannya ke depan mulutku dan aku menggeleng pelan.


"Aku tidak mau,"


"Tapi kau harus makan sesuatu, Franda. Think about the baby."


"I do, aku akan makan yang lain." Aku berdiri, mencium pipi Sean sekali sebelum melangkah ke dapur untuk melihat apa yang bisa kutemukan disana.


Di dapur aku mendapati Sora baru saja mengeluarkan sesuatu semacam daging dari microwave. "Apa itu, Sora?" Aku tersentak saat dia nyaris melompat karena terkejut dengan suaraku. "Maaf, aku tidak bermaksud menakutimu." kataku buru-buru.


Dia mengangguk sambil mengusap dadanya pelan. "Ini ubi, kak." sahutnya. Oke, bukan daging. Aku bahkan tidak bisa membedakan a ubi dan daging. Kau benar-benar hebat, Franda.


Aku memandangi ubi yang tampak seperti daging itu untuk beberapa saat sebelum berbicara. "Boleh kucoba?" Aku memotong sedikit ubi menggunakan pisau setelah Sora menganggukkan kepala, lalu memakannya.


Aku tidak tahu apakah sebelumnya aku sudah pernah memakan ubi jenis ini dan melupakannya atau ini memang pertama kali aku memakannya, tapi yang pasti rasa ubi ini benar-benar baru di lidahku. Dan aku ingin memakannya lagi. Lebih banyak. Tidak, sangat banyak.


Tanpa mengatakan apa-apa, aku berbalik dan melangkah kembali ke meja makan. "Sean, aku mau ubi seperti yang di masak oleh Sora." Karena terlalu antusias dan tak sabar, aku berbicara dengan nada yang agak tinggi dari ambang pintu dapur, membuat semua orang yang ada di meja makan terkejut dan menatapku.


"Ubi?" tanya ibuku. Aku menganggukkan kepala dengan cepat. "Dari mana Sora mendapatkan ubi?" Kali ini aku hanya menggeleng.


Ibuku berdiri dan berjalan melewatiku masuk ke dapur. "Sora, kapan kita membeli ubi?" Sora terdiam, tidak ada jawaban yang keluar dari mulutnya.


"Aku yang membelinya." Aku, ibuku, dan Sora serentak menoleh ke arah sumber suara. Edward sedang berdiri di belakangku dengan raut yang sulit kujelaskan.


Ucapannya tentu membuat kami penasaran, sejak kapan dia mau repot-repot membeli ubi? Namun kata-kata yang berikutnya yang dia ucapkan adalah jawaban dari rasa penasaran kami, sekaligus menghantam kami.


"Sora sedang hamil. Anakku."

__ADS_1


__ADS_2