Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Crazy Morning


__ADS_3

Aku bangun dan melompat turun dari ranjang, setengah berlari ke arah kamar mandi karena merasakan mual hebat yang mengguncang perutku. Aku memuntahkan semua sisa makanan yang kusantap semalam ketika kami merayakan kehamilanku. Untuk kedua kalinya dalam hidup aku merasakan momen bahagia sekaligus menyiksa. Perutku terus bergejolak walaupun tak ada lagi sisa makanan yang bisa kukeluarkan.


Aku merasakan tangan Sean memijat bagian belakang leherku sambil menanyakan keadaanku. "Hei, babe. Are you okay?" katanya dengan nada cemas dan khawatir. Jemarinya dengan lembut meraup rambutku agar tidak terkena muntahan.


Setelah beberapa saat aku mulai tenang dan mengangguk lemas. Kedua tanganku berpegangan pada tepian wastafel dan ketika aku mengangkat wajah, kulihat pantulan tubuh kami yang tak mengenakan apapun di cermin. Aku tersenyum padanya. "Aku baik-baik saja." kataku meyakinkan. Wajahnya yang terlihat begitu khawatir membuatku semakin mencintainya.


Aku membalikkan badan untuk memeluknya. Perasaanku semakin tenang saat mencium aroma tubuhnya yang menenangkan. "Oh, so good." lirihku sembari terpejam menikmati aroma manis yang tertangkap hidungku.


Aku mengendus aroma tubuhnya yang membuatku tergila-gila. Kedua tanganku melingkar erat membelit hingga ke punggungnya dan mengusapnya perlahan. Hatiku begitu damai dan tenang, berharap tidak ada yang mengacaukan saat-saat indah seperti ini sampai Sean tertawa halus dan menggodaku.


"Franda, kau memang sangat tergila-gila padaku." godanya dengan suara serak dan berat. Sudut bibirku melengkung indah sembari tanganku mencubit punggungnya yang keras. Dia hanya bergerak sedikit lalu menuntunku ke bak mandi. "Ayo, aku akan membantu menggosok punggungmu." dengkurnya lagi.


Dengan lemas aku menurutinya. Kakiku yang kurus bergerak melangkah ke bak mandi lalu duduk disana. Mataku memperhatikan setiap gerak-geriknya yang anggun sekaligus tegas. Sean begitu cekatan dalam melakukan apapun, dia terlalu sempurna untuk diriku yang biasa saja. Entah dengan cara apa lagi aku harus mengatakan betapa aku bersyukur memiliki suami sepertinya. Dia memanjakanku dengan penuh cinta. Cinta yang tak pernah kurasakan sebelumnya, dengan mantan suamiku sekalipun.


Aku memejamkan mata ketika merasakan air hangat didalam bak mandi sementara Sean menggosok sekujur tubuhku. Sesekali dia menggodaku dengan menyentuh bagian tubuhku yang disukainya. Aku hanya tersenyum dan tertawa halus. Tenagaku terlalu habis untuk membalasnya, aku terlalu lemah untuk melayani dirinya yang tak pernah lelah bercinta.


Tadi malam dia menggempurku sampai menjelang subuh. Bergerak liar menguasai diriku yang rapuh. Dimulai dari ranjang, berpindah ke sofa, lalu ke meja rias, dan berakhir kembali di ranjang. Beruntung dia tak terlalu beringas karena aku sudah mengatakan padanya kalau terlalu beresiko untuk kehamilanku jika dia menghentakku kuat-kuat. Sean tidak bosan-bosan menikmati cita rasa diriku yang istimewa. Ya, aku sedang berbangga karena suamiku memujaku segila itu. Siapa lagi yang akan memuji diriku kalau bukan aku sendiri?


Aku melirik jam yang menunjukkan angka sembilan pagi. Dengan mata membuka lebar, aku mengeluarkan suara- nyaris berteriak. "Kau tidak ke kantor?" tanyaku padanya. Dia terlihat santai dengan kaus dan celana pendek yang membungkus tubuhnya. Membuatku semakin bingung. Tidak seperti biasanya, pikirku.

__ADS_1


Sean mendekat padaku. Tangannya yang kekar merebut handuk dari tanganku dan membantuku mengeringkan rambut. "I'm the boss, sayang." katanya dengan bangga memamerkan kekuasaannya.


Aku tertawa halus dan menyikut pelan perutnya. Membiarkan tangannya mengurus rambutku, aku membalikkan badan untuk menghadapnya. Mataku lagi-lagi terpaku pada pemandangan dihadapanku. Tanpa sadar tanganku yang menyusup ke dalam kausnya gemetar saat bersentuhan dengan otot perutnya yang keras. Sudah berkali-kali aku menyentuh dan merasakannya, namun tetap saja tubuhku menunjukkan reaksi yang sama. Aku gemetar dan berdebar.


Senyumnya tersimpul tetapi aku bisa merasakan dia sedang gelisah melalui napasnya yang memberat saat berbicara padaku. "Aku tidak pernah melarangmu menciumku, Franda." dengkurnya tanpa menatapku. Mata dan tangannya tetap fokus pada rambutku.


Aku mendadak bersemangat sekaligus gemetar dan bagian kewanitaanku mulai berdenyut, tersiksa. Aku mengutuk diriku sendiri. Perlahan aku berjinjit untuk menciumnya. Sean membalasku, dia membuka mulut dan membiarkanku mereguk setiap rasa manis di mulutnya. Bibirku menciumnya lembut sementara tanpa kusadari kedua tanganku mulai naik meraba dadanya yang berdebar keras. Suamiku yang luar biasa itu terdengar mengeluarkan erangan panas.


Tidak ingin berlama-lama menyiksa diriku dan juga dirinya, aku menyudahi ciumanku kemudian meletakkan wajahku di dadanya yang masih berdebar keras. "Terimakasih, Sean." bisikku tulus dan masih tersengal-sengal. Aku berterimakasih untuk menunjukkan betapa aku mencintainya, betapa aku menggila setiap saat dia membalas rasa cintaku. Ucapan terimakasih yang akan selalu kusampaikan padanya setiap hari sampai dimana mataku tertutup dan jantungku berhenti berdetak.


Aku memekik saat dia tiba-tiba mengangkat dan membawaku ke ranjang. Dengan terburu-buru dia melepas pakaian yang baru beberapa saat lalu dikenakannya lalu menindihku bahkan sebelum aku sempat mengeluarkan suara untuk protes. Dia membungkam mulutku dengan mulutnya sementara tangannya tergesa-gesa menarik ikatan tali bathrobe-ku. Napasnya memburu, wajah dan dadanya memerah, sementara mulutnya mengerang tertahan di mulutku. Ya Tuhan, aku baru saja membangunkan singa yang kelaparan.


Ketika aku mulai terbuai dengan sentuhannya, dia menegakkan tubuhnya kemudian menarik lepas seluruh pakaianku. Aku mendesah dan pinggulku terangkat ketika ibu jarinya menyentuh bagian tubuhku yang berada dibawah sana sementara sebelah tangannya menahan pahaku agar tetap membuka lebar.


Entah untuk ke berapa kalinya aku kalah dengan permainannya, aku menyerah dengan kelihaiannya. Sean melakukannya dengan lembut namun tidak mengurangi sensasi kenikmatan yang kudapatkan. Tubuhku bergerak gelisah sementara tanganku meremas seprai sampai terlepas dari kasur. Mataku menangkap senyum puas di bibirnya begitu bagian dalam diriku meledak dan tubuhku bergetar.


Namun belum sempat aku mengatur napas, dia menyerangku kembali dengan kejantanannya yang panas dan penuh. Tenggorokanku tercekat ketika dia menenggelamkan segenap hasratnya padaku. "Apakah kau menginginkan ini, Sayang?" dengkurnya sambil menggerakkan pinggulnya perlahan, membuatku merasa tersiksa.


Tanpa menjawab ucapannya, aku mengangkat tubuhku dan mendorongnya sampai terbaring di ranjang lalu dengan cepat mendudukkan bokongku di atas kejantanannya. Aku menggodanya dengan cara yang sama, menggerakkan pinggul perlahan sampai dia mengerang tak sabar. Aku menurunkan wajah untuk mencium dadanya yang keras, merayu dan menggodanya dengan sesekali menggigit pelan pucuk dadanya. Membuatnya semakin menggeram.

__ADS_1


Merasa cukup puas menyiksanya, tanganku menjulur ke belakang dan mengarahkan gairahnya yang sangat penuh dan keras ke dalam diriku yang berdenyut. Ketika dia terbenam, aku menggerakkan bokongku perlahan. Kedua tanganku bertumpu di perutnya sementara tangannya membantu menggerakkan bokongku. "Sean," Aku mendesah dan dia menjawab dengan suara menggeram.


"Apa, sayang?" desisnya masih menggerakkan pinggulnya di bawahku dan tangannya mencengkeram erat bokongku. Aku menunduk untuk melihat wajahnya yang memerah dan tegang dengan bulir-bulir keringat yang membuatnya semakin terlihat seksi dan menggairahkan.


"Ah, kau memang brengsek!"


Dia menggeram dan mendesis, matanya menatapku dalam seraya menjawab umpatanku. "Hm, ya, aku brengsek. Dan kau menyukainya, bukan? Katakan kalau kau menyukainya, Franda." Dia menghentakku lebih keras dan dalam membuatku tubuhku berguncang-guncang di atasnya sampai kepalaku mendongak.


"Katakan, Franda. Katakan kalau kau menyukainya." dengkurnya lagi. Kini sebelah tangannya menangkup dadaku dan meremasku kuat-kuat, mengatakan dia menunggu aku menjawab kalimatnya.


"Ya, aku menyukainya, babe. Sangat menyukainya." balasku jujur.


Ketika aku menurunkan kepala, dia tersenyum penuh kemenangan dibawahku. Tak berapa lama kemudian aku merasa akan mencapai puncak lagi dan Sean segera membenamkan tubuhnya lalu menghujamku lebih dalam. Bersamaan dengan tubuhku yang bergetar hebat, dia juga meledakkan tubuhnya dan menyalurkan hasratnya yang panas padaku seraya menggeram liar.


"Ah, Franda."


"That's crazy, Samson! You'll get a punishment later."


***

__ADS_1


Para pembaca yang budiman, tolong ya, anda hanya perlu membaca saja! Kalau tidak suka dengan apa yang saya tulis, silahkan baca novel yang lain. Tidak usah berkomentar aneh-aneh apalagi tidak baik. Saya tidak memaksa kalian untuk menyukai karya saya. Jadi, jaga jarimu Nona dan Tuan. Kalau tidak senang, silahkan angkat kaki dari karya saya! FYI, saya menghabiskan sekitar 3-4 jam untuk menulis 1 bab. So, sekali lagi, tolong perhatikan gerakan jarimu.


__ADS_2