Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
bab 46


__ADS_3

Seorang dokter keluar dari ruang UGD, "Keluarga Ibu Franda Atmaja Wirawan..." panggilnya.


"Saya suaminya, dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Nino panik begitu mendengar dokter menyebut nama istrinya.


Dokter itu tersenyum tipis, "Semuanya baik-baik saja, beruntung cepat dibawa ke rumah sakit. Sepertinya istri anda sedang tertekan, tolong berikutnya lebih dipikirkan agar tidak membuatnya stress." jawabnya mengingatkan, membuat Nino merasa tertampar.


"Sebentar lagi sudah bisa di pindahkan ke ruang perawatan, suster akan memberitahu sisanya. Saya permisi." dokter itu pergi meninggalkan Nino dan Mia.


Mia menarik napas lega begitu mendengar penjelasan sang dokter, bersyukur kakak dan calon keponakannya baik-baik saja.


.


Franda terbangun, mengerjap beberapa kali, menatap sekeliling mencari tahu dimana dirinya.


"Sayang, kau sudah bangun? Ada yang sakit?" tanya Nino, suaranya mengejutkan istrinya yang terbaring lemah di hospital bed.


Franda bergeming, membuang pandangan dari wajah suaminya. Seketika sesak menyeruak di dadanya, wajahnya terasa mulai memanas menahan rasa marah, kecewa, dan juga air mata yang mulai muncul di pelupuk matanya.


"Sayang..."


Franda masih terdiam, tangannya bergerak melepaskan genggaman Nino. Lalu berbaring menyamping dan membelakangi suaminya.


"Sayang..." panggil Nino lagi.


"Kenapa kau tidak bersamanya? Untuk apa kau repot-repot mengurusiku disini?" kata Franda sinis.


"Sayang, ini hanya salah paham! Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengannya. Aku minta maaf karena tidak memberitahumu, tapi aku benar-benar sudah selesai dengan Jenny." ucap Nino membela diri.

__ADS_1


"Aku tidak perduli dengan alasanmu, yang aku lihat sudah cukup menjelaskan apa yang terjadi! Kau tahu, sekali bajingan akan selamanya bajingan. Aku menyesal pernah percaya padamu, menyesali kebodohanku dulu saat menerimamu kembali, seharusnya sudah ku tinggalkan kau dari dulu!" Franda berbalik menatap tajam suaminya yang menunduk. Dengan pelan berusaha bangun dan duduk di atas hospital bed, menepis tangan Nino yang ingin membantunya.


"Kalau dulu aku terlalu mudah untukmu, sekarang tidak akan lagi. Dua kali terjatuh di lubang yang sama tidak akan membuatku mengulangi cara naik yang sama pula, aku tidak tahu akan seperti apa ujungnya, mengingat ada anakku yang akan menjadi korban karena ulah memalukanmu. Tapi satu hal yang harus kau ingat, aku tidak akan melepaskanmu dan j*lang itu lagi. Kalian harus merasakan sakit yang ku terima lagi akibat perbuatan kalian!"


Nino tidak mampu mengucapkan apapun untuk membela diri, Ia menyadari bagaimana posisi Franda ketika melihatnya berpelukan dengan Jenny, istri manapun akan marah jika melihat pemandangan seperti itu, terlebih Ia dan Jenny pernah menjalin hubungan di masa lalu. Ingin sekali dirinya menjelaskan pada istrinya mengapa mereka bertemu di rumah sakit, tapi itu tidak memungkinkan karena Franda sedang marah sekarang. Pembelaan apapun tidak menguntungkan baginya, setiap kata yang keluar dari mulutnya hanya akan menjadi bumerang.


"Kau tahu? Dulu aku bukannya tidak menyadari Sean menyukaiku, aku sangat tahu, tapi aku menahan diri untuk tidak tergoda padanya padahal bisa saja aku lari dan mengejarnya, apalagi saat itu suamiku sedang tergila-gila dengan *'***** yang merangkap sebagai sekretarismu! Sean pria tampan, baik, dan dia menemaniku selama aku berpura-pura menjadi istri yang baik sebelum membongkar kebusukanmu, dia disana menghiburku setiap hari agar aku melupakan rasa sakit di hatiku." Franda menghapus kasar air mata yang terus mengalir di wajahnya, mengingat Sean membuatnya sedikit merindukan pria itu. Senyumnya sedikit mengembang.


"Aku tahu dia bukan detektif sungguhan, dia membantuku karena pernah menyukaiku dulu. Sean adalah laki-laki yang hanya menatapku bahkan sampai saat ini, jika aku mau sangat mudah bagiku untuk datang padanya, bahkan sekarang pun dia akan menerimaku dengan senang hati. Kami bisa hidup bahagia karena aku tahu benar bagaimana perasaannya padaku, setidaknya dia tetap menyimpan namaku sampai saat ini, dia tetap setia dengan rasa cintanya meskipun aku sudah menikah denganmu."


Nino terperanjat mendengarnya, mendongak dan menatap tak percaya pada istrinya.


Franda tersenyum lagi membayangkan bagaimana jika Ia menikah dengan Sean. Ya, fakta tentang Sean diketahui oleh Franda saat Dhea bercerita padanya di butik sehari sebelum Franda mempercayakan urusan mengenai usahanya pada wanita itu di hari terakhir Ia kesana setelah hamil.


"Sean pria yang hangat, selain tampan dan juga kaya. Bahkan kekayaannya jauh di atasmu. Dia bisa memberikan segalanya padaku. Tapi aku tidak menerimanya, aku justru menjauh darinya dan tetap bertahan padamu, aku menjaga diriku sendiri agar tidak melakukan hal yang mungkin menjatuhkanmu, aku menghargaimu sebagai suamiku! Tapi kau justru menghancurkanku berkali-kali disaat aku selalu mengagungkanmu, lagi dan lagi kau menghempaskanku sampai hancur berkeping-keping! Kau tahu bagaimana hatiku saat ini, aku bahkan tidak bisa lagi merasakannya. Dua kali kau mengulanginya pada orang yang sama, dua kali, Sayang..." Franda menekankan kata-kata terakhirnya agar suaminya mengerti rasa sakit dihatinya.


Franda menarik napas dalam, rasa pusingnya kembali menyerang. Ia menaikkan kepala brankar dan bersandar disana. Pandangannya tertuju pada perut buncitnya, diusapnya perlahan dan lembut, air matanya terus mengalir deras meskipun tanpa suara tangis dari mulutnya.


"Aku tidak tahu akan bagaimana kita kedepannya, yang jelas berpisah tidak mungkin dilakukan saat ini. Aku tidak mau anakku hidup tanpa Ayah, biarkan aku saja yang menanggungnya, aku akan hidup dengan rasa sakit yang kau berikan demi anakku. Jadilah Ayah yang baik setidaknya untuk anakmu, tidak usah berusaha memperbaiki apa yang terjadi diantara kita, kedepannya cukup pikirkan anak kita, dia tidak pantas menjadi korban kesalahanmu. Tolong, belajarlah menjadi Ayah yang baik." ucap Franda dengan tenang.


Rasa yang berkecamuk dihatinya saat ini tidak bisa membendung air matanya. Wanita itu terus menangis sampai terdengar bunyi pintu ruangan yang terbuka, terlihat Ibu yang tidak tahu pemasalahan mereka menatap heran pada keduanya. Franda buru-buru menghapus air matanya, dan tersenyum pada Ibunya.


"Bagaimana? Sudah baik-baik saja?" tanya Ibu menghampiri purtinya, diliriknya Nino yang tertunduk lemas di seberangnya.


Franda mengangguk, "I'm fine, Mom!" jawabnya sambil memaksakan senyumnya. Bagaimanapun Franda tidak ingin masalahnya dengan Nino diketahui semua orang, tidak sekarang. Mungkin nanti ketika dia siap untuk membaginya.


"Apa yang terjadi?" tanya Ibu menatap putri dan menantunya, menuntut jawaban. Pasalnya selama ini Franda baik-baik saja, kalau putrinya sampai mengalami pendarahan pasti ada sesuatu yang menjadi pemicunya.

__ADS_1


Franda mengelus tangan keriput Ibunya, tersenyum manis menenangkan, "Tidak ada apa-apa, aku hanya kelelahan, Mom!" jawab Franda tanpa menghilangkan senyumnya.


Ibu Marissa tidak membalas lagi, dirinya sangat mengenal putrinya itu, Ia sangat yakin ada yang disembunyikan oleh Franda. Ibu membiarkannya dan mengeluarkan sekotak makanan jepang yang dibelinya saat di perjalanan tadi. "Ini, makanlah. Kau sudah melewatkan makan siangmu, jangan lupakan kandunganmu, Sweety. Dia tetap harus makan meskipun kau tidak berselera." kata Ibu sambil menyodorkan makanan yang di bawanya.


Nino tersentak mendengar ucapan Ibu, istrinya bahkan tidak makan siang dan itu pasti karena kejadian dirumah sakit tadi. Nino tertunduk, tatapannya kosong ke arah lantai, berpikir bagaimana caranya untuk meyakinkan istrinya.


Susah payah Franda memaksa agar makanan yang di bawa Ibunya masuk ke perutnya, Ia tidak ingin wanita yang selama ini merawatnya itu khawatir dengan kondisinya, terlebih bayi yang ada di perutnya sekarang membutuhkan asupan gizi. Diletakkannya kotak makanan itu di meja setelah menghabiskan setengahnya.


"Aku sudah kenyang, Mom!" katanya saat Ibu memaksanya menghabiskan makanannya.


Ibu mengalah, ditutupnya kembali kotak makanan itu dan memasukkanya ke dalam bungkusan plastik.


"Dimana Mia?" tanya Franda pada Ibu.


"Mia sedang mengambil beberapa keperluanmu, Sayang." jawab Nino cepat sebelum Ibu, berusaha mencairkan suasana agar mertuanya itu tidak curiga.


Franda tidak menanggapi, Ia hanya diam dan mengangguk tanpa mengalihkan pandangan ke suaminya.


Suara dering ponsel Nino mengagetkan ketiganya yang sedang sibuk dengan pikiran masing-masing, Franda melirik sekilas dan mendapati raut wajah suaminya yang berkerut memandang ponselnya, membuatnya curiga. Nino mematikan ponselnya dan kembali memasukkanya ke saku celananya.


Tak lama ponselnya kembali berdering, merasa penting Nino pamit pada istri dan mertuanya untuk keluar mengangkat telepon. Franda semakin curiga, tak biasanya Nino menjauh untuk mengangkat telepon sekalipun urusan pekerjaan.


"Siapa yang menghubunginya? Apakah j*lang itu lagi?" tanya Franda dalam hatinya.


"Hah..." Franda membuang napas kasar sambil menghempaskan kepalanya ke sandaran hospital bed.


Ibu yang mendengar itu langsung panik, "Kenapa? Ada yang sakit?" tanya Ibu dengan raut cemas.

__ADS_1


Franda menggeleng cepat, lalu tersenyum kikuk. Ia tidak sadar jika desahannya terdengar oleh Ibu. "Tidak, Mom, hehehe" jawabnya.


__ADS_2