
...Mia Queen POV....
Aku membeku, berdiri seperti patung memandangi Jason dari balik dinding kaca rumah danau milik kakakku. Dia begitu tampan. Langkahnya anggun, wajahnya bersinar, tampak seperti malaikat yang tersesat di antara pohon-pohon yang menjulang tinggi.
Sekujur tubuhku mulai gemetar oleh daya tariknya yang panas membakar. Melihatnya lagi setelah beberapa waktu membuat darah berdesir. Ah, Jason.... aku mulai membayangkan malam-malam kami sebelum aku kembali Jakarta tiga bulan empat bulan yang lalu, dan aku merindukannya.
Tapi, hubungan kami belakangan memburuk. Aku tidak pernah menghubunginya sejak kakakku meneleponnya. Jason pria yang baik dan perhatian, dan dia tanpa ragu menerima usulan kakakku untuk segera menikahiku. Tapi aku belum siap, atau mungkin tidak akan pernah siap. Jadi, aku menolak ide itu dan mengabaikannya.
Untuk sebagian orang menikah mungkin merupakan sebuah impian besar dalam hidup mereka, dengan harapan kehidupan yang bahagia akan selalu menyelimuti. Tentu saja banyak orang yang bahagia dengan pernikahannya, tapi tidak sedikit juga di antara mereka yang salah mengambil keputusan. Alih-alih hidup bahagia hingga maut memisahkan, yang terjadi justru sebaliknya. Dan aku tidak mau menjadi bagian dari itu.
Ketika aku mengatakan pada kakakku bahwa aku tidak akan menikah, itu benar. Selain karena aku merasa perlu menjaganya, meski tak banyak yang bisa kulakukan untuk itu karena kehadiran kakak iparku sendiri sudah cukup membantunya, aku juga tidak yakin dengan gagasan menikah adalah suatu hal yang wajib dilakukan jika kau ingin bahagia.
Ah, omong-omong soal bahagia, aku teringat pada Taka. Kalian pasti bertanya-tanya sejauh apa sebenarnya hubunganku dengan pria itu. Well, kami memang terjebak dalam situasi yang sulit saat itu. Taka sebenarnya sudah berpisah dengan istrinya ketika kami berhubungan, benar-benar berpisah alias sudah resmi bercerai, tapi karena jabatannya sebagai walikota dan orang-orang sangat memujanya, Taka dan mantan istrinya sepakat untuk menyembunyikan perceraian mereka. Setidaknya sampai masa jabatannya berakhir.
Aku sangat bahagia saat bersama Taka. Dia pria yang luar biasa lembut dan sabar. Ada momen dimana seringkali aku merasa seakan jiwa ayahku hidup kembali dalam sosok Taka. Aku bisa bermanja-manja dengannya, bebas mengeluhkan apapun, dan dia tidak pernah menolak permintaanku.
Taka selalu menjadi pendengar yang baik. Dia sanggup menahan mulutnya untuk tidak berbicara saat aku mengomel berjam-jam. Bahkan pernah satu kali saat kami berdebat tentang hubungan gelap kami (well, sebenarnya tidak gelap sama sekali), dia hanya diam dan mendengar semua sumpah serapah yang keluar dari mulutku selama hampir dua jam lamanya. Tidak terhitung berapa kali aku mengumpatnya, tapi Taka tidak pernah membalasku.
Cara berpikirnya sangat dewasa, membuatku merasa dia adalah orang yang pantas untuk kujadikan suami jika aku memutuskan menikah suatu saat nanti. Tetapi kemudian semuanya hancur ketika foto kami tersebar di media. Aku memintanya membersihkan namaku dan menjelaskan kepada publik soal status pernikahannya, namun Taka menolak.
Taka membiarkan orang-orang merundungku, dia tidak peduli bagaimana perasaanku dan keluargaku, yang dia pikirkan hanya nama baik dan reputasinya sebagai walikota terkeren. Terkeren my ***!
Untuk alasan itulah aku meninggalkannya.
"Hei, love." Aku tersentak, nyaris melompat saat tanpa kusadari Jason sudah berdiri di depanku.
Buru-buru aku mengerjap, mencoba mengusir perasaan gugup sementara kakiku mulai gemetar. Aku mengalih pandangan ke arah Maggie dan Matther, lalu melangkah melewati Jason tanpa mengatakan apapun. Aku tidak mau dia mengharapkan sesuatu yang lebih dariku. Bisa kurasakan Jason sedang menatap bingung padaku saat ini.
"Mags!" Aku setengah berlari mendekatinya dan membuka tangan. "Selamat Natal!"
Maggie membalas pelukanku. "Selamat Natal! Bagaimana kabarmu, girl?"
"Cukup bersyukur karena masih bisa bernapas." Aku bergeser memeluk Taylor. "Selamat Natal, Taylor."
"Selamat Natal, Mia."
Maggie dan Taylor memandangku dengan tatapan ingin tahu, kemudian secara bersamaan layaknya pasangan yang jiwanya terikat satu sama lain, keduanya menatap ke arah Jason yang masih berdiri di tempat aku meninggalkannya.
Mulut Taylor terbuka seperti ingin mengatakan sesuatu, dan aku bersyukur dengan kehadiran kakakku dan suaminya dari balik pintu ruang penyimpanan wine, membuat Matthew mengurungkan niatnya bertanya. Aku tidak tahu apa yang mereka lakukan disana sepanjang malam dan sampai sesiang ini.
"Mags, Matt!" serunya kegirangan, sembari melangkah lebih cepat bergabung bersama kami. "Selamat Natal!"
Aku membiarkan mereka mengobrol dan aku sendiri pergi ke kamarku. Sebisa mungkin aku harus menghindari Jason. Aku tidak akan sanggup berdekatan lebih lama dengannya, tatapan mata abu-abunya akan menyeretku sebelum aku sempat tersadar. Dan itu bukan yang kuharapkan.
Jason Parker. Namanya terdengar seperti kutukan yang tidak bisa hilang dari kepalaku sejak pertama kali aku bertemu dengannya. Aku tidak mencintainya. Aku belum mencintainya.
Sejujurnya aku masih berharap bisa bersama Taka, mungkin kami bisa memperbaiki hubungan kami suatu hari nanti dan aku tidak perlu repot-repot menata lagi perasaanku untuk orang lain. Aku nyaman saat bersama Taka. Aku merasa hidup setiap kali duduk berdekatan dengannya.
"Ah!" Aku mengacak-acak rambutku, pusing dengan kehidupanku sendiri.
"Apa sebenarnya yang kau inginkan dalam hidupmu, Mia?" Aku bertanya pada diriku sendiri.
Entah berapa lama aku mengurung diri di kamar sampai akhirnya aku bosan dan memutuskan keluar. Bicara pada yang lain dan abaikan Jason! Cukup hindari tatapan matanya. Anggap dia tidak berada disini.
__ADS_1
Tapi semua yang kau katakan di atas hanya angan-angan, karena begitu aku membuka pintu kamar, pria itu sudah berdiri disana. Menatapku sambil tersenyum seakan tidak ada yang terjadi diantara kami. Dia tenang dan santai.
"Love." gumamnya lembut berusaha meraih tanganku, tapi aku menggeleng sebelum dia sempat menyentuhku.
"Bapak dan Ibu sekalian, kita punya kue!" Taylor yang rupanya sudah datang mengumumkan, aku langsung berderap kesana bergabung bersama yang lain untuk menyaksikan pembukaan bungkus kue. Maafkan aku, Jason...
"Tolong katakan kepadaku itu kue Natal ibumu yang lezat itu." kata Maggie sambil bertepuk tangan dan bersorak ketika potongan kue buah yang melimpah dalam lapisan marzipan pucat dan gula putih terungkap.
Taylor tersenyum lebar. "Tepat sekali, selamat menikmati!"
Aku mengeluyur ke sofa putih gading selalu memeriksa pesan di ponselku. Aku sedang melihat-lihat email ketika Matthew duduk di sebelahku. "Jadi..."
"Jadi apa?"
Dia menepuk lututku. "Jadi ceritakan kepadaku tentang walikota itu."
Sekali saja menatapnya sudah menegaskan ketakutan terburukku. Aku melirik kakakku yang sedang berdebat seru dengan Sam dan Taylor, dan mengerang dalam hati. "Kapan dia memberitahumu?"
"Beberapa hari yang lalu, saat dia menelepon dan mengatakan kalian akan merayakan Natal disini."
"Bagus sekali." balasku datar.
"Kakakmu mengkhawatirkanmu."
Aku mendengus pelan. "Ya, aku berharap dia menyimpan sendiri kekhawatirannya."
"Hei, santai dong. Sejauh yang kutahu dia hanya memberitahuku. Dan Maggie, tentu saja. Tapi hanya kami berdua."
"Oh, kalau begitu tidak apa-apa. Hanya setengah dari kalian yang tahu soal itu."
Aku menatap ponselku lekat-lekat. "Yep."
Matthew menyikutku lembut. "Menurutku itu ide yang buruk."
"Oh, ya? Kenapa?"
"Tentu. Setidaknya pria itu akan mengalihkan pikiranmu dari rencana ajakan menikah Jason."
"Apa kakakku juga memberitahumu soal itu?"
Matthew menggeleng cepat. "Tidak, itu Jason." senyum Matthew hangat dan menenangkan, sementara dalam hati aku semakin panik. "Kau pantas bahagia, Mia. Dan jika walikota itu bisa membuatmu bahagia maka menurutku kau harus mempertahankannya. Sekalipun itu membuatmu terlihat seperti orang yang putus asa. Lagi pula, Baginda Jason jadi punya dorongan untuk menunjukkan keseriusannya."
Ini membuatku tersentak. "Apa maksudmu?"
Matthew mengulurkan tangannya lalu menepuk pundakku. "Tidak usah dipikirkan. Ikuti saja kata hatimu, Mia. Dan hati-hati, ya."
Tahu bahwa kakakku sudah membocorkan tentang hubunganku dengan Taka kepada Matthew dan Maggie membuatku jengkel, tapi saat aku memikirkannya, aku sadar cepat atau lambat mereka semua akan tahu. Kalau aku harus melakukannya dengan layak, aku perlu mengumumkannya dengan bangga sejak awal.
Saat aku sedang merenungkan ini, Jason mendongak dari sisi lain ruangan dan menangkap tatapanku, membuat hatiku berlompatan. Senyumnya begitu kilat hingga bahkan kamera gerak lambat akan kesulitan menangkapnya, tapi setidaknya itu senyuman.
Saat hari sudah semakin sore, kami memutuskan ke kota untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan diperlukan untuk merayakan hari ulang tahun kakak iparku besok.
Aku berjalan lebih dulu ke mobil dan berniat menunggu mereka di sana namun Jason tiba-tiba melewatiku, sengaja menyenggol bahuku dengan lengannya, hingga aku nyaris terjungkal. Tersulut kekasaran tanpa suaranya, dia membuatku merasa seakan dilecehkan. "Mungkin seharusnya kau tidak perlu datang kesini. Aku benar-benar tidak mengharapkan kedatanganmu." bentakku kasar.
__ADS_1
Kepala Jason tersentak. "Apa?"
"Aku tidak tahu apa tujuanmu kesini. Jika kau ingin mengacaukan hariku, sebaiknya kau berhenti sekarang."
"Aku tidak sadar kalau aku melakukannya."
"Yang benar saja. Sungguh, Jason, aku tidak tahu mana yang lebih buruk, sikapmu yang kekanakan atau kau sepenuhnya tidak mendengar apa yang kukatakan."
Raut wajah Jason mendadak berubah, dia mendekatiku dengan amarah yang berkobar dalam dirinya. "Maling teriak maling."
Aku mengerutkan kening. "Maaf?"
"Kau mendengarnya."
Jason berbalik lalu menghentakkan kaki dengan kasar kembali berjalan ke arah mobil, meninggalkanku mendidih di tempatku berdiri. Bagaimana bisa dia berbicara seperti itu? Seakan akulah yang bersalah. Sikapnya yang kasar itulah yang menyebabkan ketegangan ini, bukan aku. Dan jika dia berpikir aku akan menerima tuduhan itu, maka dia benar-benar keliru.
Aku membuang napas, bermaksud membiarkan masalah ini sementara waktu dan memutuskan untuk kembali ke rumah, persis ketika Jason berjalan lagi ke arahku. "Nah, masalahnya, Mia... aku tidak mengerti. Maafkan aku, tapi aku benar-benar tidak paham caramu berpikir."
Kalau dia mencari pertengkaran, dia pasti mendapatkannya sekarang. Waktu habis... ronde kedua... "Oh, tolong beri aku pencerahan."
Tatapan mata abu-abunya membara saat menusuk ke dalam mataku. "Aku tidak mengerti kenapa kau terus mengharapkan pria itu sementara seseorang yang seharusnya kau butuhkan sudah berada tepat di hadapanmu."
Mendadak dunia di sekitarku berhenti berputar. Amarahku meledak, membuatku membuatku sekaligus tak berdaya. "Apa maksudmu?"
"Pria yang kaupikir mencintaimu itu tidak akan pernah kembali padamu. Hanya ada aku disini." dia menunjuk keningnya. "Kau memintanya menjadi seseorang yang bukan dirinya. Dia tidak bisa menjadi orang yang kau inginkan karena dia tidak mengenalmu dengan baik, Mia. Bukan dia yang kau butuhkan dan kau tahu itu." suaranya mulai melembut. "Jauh di dalam dirimu, kau tahu siapa yang kau butuhkan. Menurutku kau sudah tahu sejak pertama kali kita bertemu."
Apa yang sedang dia bicarakan sekarang? Dia tahu aku sudah meninggalkan Taka, dan jelas-jelas aku sendiri sudah menceritakan masalah hubunganku dengan Taka padanya. Lalu kenapa dia berpikir aku masih mengharapkan Taka?
"Jangan sekali-sekali mencampuri urusan masa laluku," balasku, rasa sakit dan bingung bercampur dengan amarah untuk yang seakan berubah menjadi cocktail yang mudah terbakar dalam darahku. "Kau tidak punya hak untuk..."
"Aku punya hak!" Jason balas membentak. "Kenapa kau masih mengharapkannya, Mia? Kenapa kau tidak mau mengakui perasaanmu padaku?"
"Baiklah, aku akan mengungkapkannya! Dia bisa menerimaku apa adanya... dan ya, meskipun hanya sebentar, tapi saat itu aku merasa nyaman. Itulah kenapa aku masih mengharapkannya."
"Tapi dia tidak pantas mendapatkanmu seperti..." Jason tidak menyelesaikan kata-katanya.
"Seperti siapa, Jason?"
"Seperti aku."
Aku terkesiap oleh pukulan tak terduga ini, sesaat aku limbung kemudian berhasil mengendalikan diri. "Ini konyol! Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak ingin bersamamu. Aku tidak menginginkanmu, Jason."
"Tapi aku menginginkanmu!"
Dan begitulah, teriakan terakhirnya bergema diantara pohon-pohon yang mengelilingi kami saat kami saling berhadapan. Sekarang kilatan amarah sudah hilang dari matanya, berganti tatapan kerapuhan yang tertuju padaku. Tapi apa yang harus kukatakan? Apa dia berharap aku akan jatuh ke pelukannya sekarang?
"Aku tidak tahu harus mengatakan apa lagi padamu, Jason. Kita sudah membahas ini."
Bahunya melemas. "Kumohon, Mia... pikirkan aku sekali saja. Aku tahu kau mungkin bingung dengan sikapku saat ini, tapi aku benar-benar menginginkanmu. Pikirkan permintaanku, oke?"
Aku terdiam selama beberapa saat, menunduk dan membuang napas berat, lalu mengangguk lemah. "Oke."
***
__ADS_1
Aku sengaja menyelipkan sedikit kisah Mia, Taka, dan Jason. Dan mungkin akan ada beberapa POV Mia lagi selama mereka di Queensland, yang akan menceritakan kilasan tipis tentang Mia dan Jason.