Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Ruang Rahasia.


__ADS_3

No comment, no update๐Ÿ˜œ


Kalau kepo, silahkan komen๐Ÿ˜˜


***


Aku mengikuti langkah Sean yang menjauh melalui mataku. Setelah dia menghilang dan pintu benar-benar tertutup, aku menoleh ke arah Carla. Sekarang aku harus mengamankan suamiku dari ulat nangka pengganggu itu.


Kusandarkan bokongku pada pinggiran meja. Aku menghela napas dan bersedekap, berusaha terlihat tenang. Menghadapi wanita seperti Carla harus dengan cara yang elegan, tidak bisa bertindak ceroboh dan memaki dengan kata-kata kasar. "Carla, kau tahu Sean sudah menikah denganku, bukan?" kataku tanpa membuang waktu. Dia terlihat tenang. Menarik.


Carla tersenyum sambil kembali duduk ditempatnya tadi, "Kupikir semua orang sudah tahu kalau kalian sudah menikah."


Wow, aku terkejut dengan ketenangan yang ditampilkannya. Sebuah lagu lama dari seorang wanita yang ingin menghancurkan hubungan. "Kalau begitu, kau sudah cukup dewasa untuk memahami itu, Carla," cetusku, "Kau seharusnya berhenti mengejar suamiku sejak kau hadir dipernikahan kami." aku memiringkan kepala sedikit dan menaikkan sebelah alisku.


Carla mulai memancarkan aura persaingannya padaku, wajahnya menegang dan dia mendesah, "Franda, kau hidup di zaman moderen. Jangan terlalu naif. Kau tahu? Andai saja kau tidak datang padanya, pasti aku yang menjadi istrinya sekarang."


Aku tercengang tak percaya. Rupanya Carla memang punya tujuan besar untuk mendapatkan Sean, dan aku menyadarinya sekarang. Sebelumnya, aku berpikir dia hanya kagum pada suamiku, tapi melihat semangatnya, jelas sekali dia juga ingin memiliki Sean.


Aku menarik napas dalam, kemudian menatap Carla dengan serius. "Dengarkan aku, Carla. Aku tidak tahu hubungan apa yang pernah terjalin antara kau dan suamiku di masa lalu. Mungkin dia sempat membuatmu berbunga-bunga. Tapi ketahuilah, saat ini aku istrinya, bukankah kau sudah melihat Sean begitu mencintaiku?"


Carla tertawa, "Tutup omong kosongmu, Franda. Kau tidak mengenalnya. Kau tidak tahu bagaimana Sean tergila-gila padaku sampai kau datang dan mengacaukan segalanya."


"Sekarang dengarkan aku, Franda." sambung Carla, "Aku mengenal Sean dengan baik, sangat mengenalnya. Sean akan tetap tergila-gila padaku. Kalaupun kau berhasil merebut hatinya, itu hanya sementara. Kau hanya sementara baginya, Franda."

__ADS_1


Aku tidak tahu apakah wajahku memucat, yang jelas saat ini aku terganggu dengan kalimatnya, "Carla, aku peringatkan kau mundur sebelum aku menendangmu dari tempat ini dan kau akan berakhir dengan mencium aspal jalanan. Kau tahu, aku paling benci dengan spesies perusak rumah tangga orang sepertimu." aku berdiri tegak, lalu berjalan pelan mengelilinginya dengan tangan yang masih bersedekap. Sengaja kuhentakkan tumit high heels-ku lebih keras untuk mendominasi percakapan kami.


"Carla," sambungku, "Kau pasti beruntung jika kita bertemu beberapa tahun lalu, aku tidak akan sekeras ini padamu. Tapi keadaannya sudah berbeda, pengalaman membuatku paham cara mengusir hama sepertimu. Tidak sulit bagiku menghancurkanmu, Carla. Jadi, berhenti mengerlingkan matamu pada suamiku, atau aku sendiri yang akan mencongkelnya keluar."


Carla tersentak ditempat duduknya. Nyaris melompat. Aku hampir tertawa mendapati wajah garangnya yang memutih. Tatapan menantang yang tadi diperlihatkannya juga lenyap. Tapi aku belum puas, wanita ini harus dipukul dengan keras agar benar-benar mengerti.


Aku memutar kursinya agar berhadapan denganku, tanganku bertumpu pada kedua pegangan kursi, dengan sedikit membungkuk, aku berucap, "Kau cantik, Carla. Dengan kecantikanmu, kau bisa memikat pria manapun." telunjukku terulur untuk menaikkan dagunya. "Tapi, bukan suamiku." aku tersenyum lalu mengedipkan mata padanya.


Dengan langkah penuh percaya diri, aku berjalan ke arah kursi kebesaran suamiku, dan duduk dengan pelan disana. Aku bersandar, kakiku menyilang dengan cara yang paling seksi, aku memutar pelan kursi ke kiri dan kanan, menunjukkan kekuasaan dengan jemari yang saling tertaut di depan dada.


Carla terlihat pucat, mungkin dia mengira aku tidak akan sekeras itu tadi. Aku yakin, dipikirannya aku pasti perempuan lemah yang mudah disingkirkan. Tapi dia salah, Franda yang begitu sudah mati. Tidak ada lagi tempat untuk spesies ulat nangka sepertinya yang akan mengacaukan rumah tanggaku. Tidak Carla yang dihadapanku, atau Carla-Carla lainnya, jangan ada yang berani menggangu istanaku.


Setelah cukup lama terdiam dan mengamatinya, kurasa dia sudah paham maksud ucapanku, "Sepertinya tidak ada lagi yang ingin kusampaikan padamu, Carla. Kau boleh melanjutkan pekerjaanmu." usirku halus.


"Baiklah, Franda..."


Sebelum dia menyelesaikan ucapannya, aku menyela, "Mrs. Warner." cetusku. "Kau bisa memanggilku Mrs. Warner." nadaku sengaja kutekan agar dia benar-benar paham posisinya yang hanya pekerja suamiku.


Carla mengangguk, "Aku permisi, Mrs. Warner." dia berbalik tanpa menunggu balasanku.


Satu ulat nangka berhasil kusingkirkan. Hatiku bersorak gembira menikmati keberhasilanku. Berurusan dengan orang seperti Carla ternyata tidak sulit, andai saja aku melakukan hal yang sama sejak dulu, mungkin aku tidak akan bercerai dengan Nino. Tapi, rasa syukur dihatiku lebih besar dibandingkan penyesalan. Kini aku sudah bahagia bersama Sean, tidak diragukan lagi. Sosok Sean membuatku semakin berani dan bijak dalam menghadapi sesuatu. Well, tentu saja, Sean bukan hanya mencintaiku, dia juga mengerti hal-hal kecil yang membuatku merasa dihargai sekaligus.


Berada didalam ruangan dimana suamiku bertempur, aku tertarik untuk melihat-lihat. Ruangan itu tidak banyak berubah. Nuansa yang sama masih terasa saat pertama kali aku menemuinya disini. Dekorasi dan pemilihan warna menunjukkan keselarasan dengan pemiliknya, furnitur yang tidak terlalu banyak dan warna yang tidak mencolok, sangat cocok dengan gaya Sean yang terkesan sederhana, maksudku sikapnya.

__ADS_1


Sesuatu di rak buku paling bawah berhasil menarik perhatianku. Aku berjalan mendekat, alisku menyatu bersamaan dengan kedua mataku yang mengecil. Karena penasaran, kusentuh sesuatu yang terlihat seperti tombol itu. Aku terlonjak saat rak buku dihadapanku bergerak, kakiku refleks mundur beberapa langkah.


Mataku terbuka lebar saat rak buku itu berhenti. Dengan langkah pelan dan hati-hati, aku berjalan maju. Tepat saat aku akan masuk ke ruangan lain dibalik rak buku, suara berat dan keras menghentikanku. "Apa yang kau lakukan, Franda!"


Aku berbalik, didepan pintu masuk suamiku sedang berdiri dengan tangan mengepal dikedua sisi tubuhnya. Dari tempatku, aku bisa melihat tubuhnya gemetar dan tatapannya benar-benar gelap dan tajam. Aku bingung sekaligus panik dengan reaksinya, seolah aku sedang mengganggu kesenangannya.


"Sss-Sean..." ucapku gemetar. Detik selanjutnya Sean berjalan cepat meraih tubuhku dan meremas bahuku dengan kuat. "Apa yang kau lakukan?" Tatapannya menusuk mataku dan membuat hatiku sakit. Napasnya menggebu dan aku merasa Sean akan menghancurkanku saat itu juga.


Sean menghentak bahuku namun aku hanya bisa pasrah dengan mata pedih dan hati sakit, aku menelan ludah, "Sean," lirihku gemetar, merasa bersalah.


Sean menelengkan kepala ke rak buku, beberapa detik kemudian kembali menatapku. Matanya lebih gelap dan aku merasakan cengkeramannya pada bahuku semakin kuat, "Apa yang kau lakukan didalam sana, Franda?"


Tubuhku gemetar hebat saat menatapnya, aku takut dan bingung. Sisi lain dalam diriku berteriak dan memaksaku untuk berontak, aku tidak bersalah. Aku menghela napas, kupejamkan mataku sebentar, lalu balas menantang matanya, "Kenapa? Apa yang kau sembunyikan disana?" tanyaku.


Aku salah jika mengira Sean akan melunak dengan protesku, sebaliknya dia mendorongku ke samping, membuatku terhuyung dan perutku membentur sudut meja kerjanya dengan keras. "Ahh..." Napasku tercekat sementara menahan sakit yang di perutku.


"Pergi dari sini sekarang juga!"


***


Komen, komen, komen!๐Ÿ˜œ


Like, like, like!๐Ÿ˜˜

__ADS_1


__ADS_2