Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
United.


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV....


Suara raungan mesin mobil Jeep yang dikendarai Rudi terdengar memasuki halaman depan. Tidak sampai lima menit kemudian, derap langkahnya terdengar di sepanjang lorong, dia memasuki ruang tengah dengan diikuti dua orang anggota interpol lainnya. Entah kenapa wajahnya terlihat muram.


Aku mengamatinya dengan seksama. "Apakah ada masalah?" ujarku sambil menyandarkan punggung ke sandaran sofa.


Rudi menatapku sekilas, lalu berjalan mondar-mandir dan tampak gelisah. "Kau meneleponnya?" katanya setelah beberapa saat.


"Apa maksudmu?"


"Jangan pura-pura bodoh, Warner! Kau tahu maksudku, kau menelepon istrimu. Apa yang yang ada di pikiranmu? Apa kau tidak tidak ingat kami sedang menjaga keselamatannya?"


"Tentu saja aku ingat. Itulah alasannya aku berada disini." balasku sengit. "Aku hanya ingin mendengar suaranya..."


Aku sangat tahu konsekuensi dari tindakanku kemarin, tapi tidak ada hal lain yang bisa kupikirkan. Membiarkannya terus-menerus menangisi 'kematianku' sama sekali tidak membantu, itu justru membuatku semakin sulit melakukan semuanya. Aku tidak akan bisa berpikir dengan jernih selama Franda tidak baik-baik saja.


"Apa kau tahu istri dan adikmu menghubungi polisi dan menanyakan soal kecelakaan itu lagi? Dia bahkan menyebutkan soal benda penting yang harusnya ada di antara barang bukti yang ditemukan di tempat kejadian." Rudi menunjuk ke arah tanganku. "Cincin pernikahan bodohmu itu!" ujarnya tajam.


Aku tertunduk, menatap cincin yang melingkar di jari manisku. Entah kenapa aku mengirim foto cincin itu padanya kemarin, dan sekarang aku menyesalinya. Aku menyadari keadaan mungkin akan memburuk setelah ini.


"Kau tahu? Syaiful sangat dekat dengan Bagoes! Saat ini Bagoes pasti telah mendengar semuanya, jadi sebaiknya kau berharap dia tidak membeberkan hal ini kepada Syaiful, atau istrimu akan berada dalam bahaya. Dan kau akan menyesalinya."


***


Aku menatap keluar jendela dari kamarku, mengamati beberapa anggota interpol yang berjaga di bawah sana. Mereka terlihat menyebar di sekitar halaman serta bagian depan teras bangunan. Tapi tidak ada tanda-tanda kedatangan Erick atau Rudi yang meninggalkan tempat ini sejak kemarin malam.


Setelah Franda dan Dean membuat kehebohan kecil dengan pertanyaan mereka soal kecelakaanku, tim penyidik kepolisian mulai diterjunkan kembali untuk menyelidiki kasus ini. Dari kabar yang kudengar, mereka sudah membawa Dave kembali ke Jakarta untuk diperiksa. Dia akan menghadapi serangkaian tuntutan, soal kontrak palsu itu dan juga tentang dakwaan peredarab obat-obatan terlarang.


Aku tidak pernah merasa secemas ini, seolah semua ketakutanku selama berminggu-minggu sejak Syaiful menginjakkan kaki di Jakarta berkumpul menjadi satu. Dan yang lebih menakutkan dari semua itu adalah Syaiful belum tertangkap hingga saat ini.

__ADS_1


Irjen Bagoes saja sudah mengatakan sesuatu padanya walaupun aku belum yakin soal itu. Tapi jika memang benar begitu, maka berarti Franda tidak aman. Syaiful pasti akan memanfaatkannya untuk mengetahui keberadaanku. Kemudian pada akhirnya semua usahaku untuk melindunginya akan sia-sia.


Aku mengamati dua orang yang berjaga di dekat pintu gerbang berjalan ke arah pos penjagaan, terlihat sedang berbicara dengan salah satu rekannya yang ada di dalam sana, lalu pintu gerbang yang menjulang tinggi perlahan terbuka dan kulihat mobil yang dikendarai Rudi dengan cepat memasuki halaman depan.


Aku berbalik dari jendela, bergegas melintasi ruangan dan keluar dari kamar. Terdengar keriuhan di sepanjang koridor saat aku berderap menuju ke ruang depan, seolah ada hal mendesak yang telah terjadi. Membuatku was-was dan tidak sabar untuk mendengar sesuatu dari mereka.


"Aku ingin kalian menyisir wilayah pinggiran Bandung, tempatkan beberapa orang di sekitar Lembang. Mungkin kita bisa mendapatkan informasi atau apapun dari situ." Aku mendengar suara Rudi berbicara serta bunyi langkah kaki yang berjalan menyusuri koridor.


Aku berdiri di ambang pintu ruang depan, melihat Rudi berhenti di tengah ruangan, dikelilingi oleh empat orang rekannya. Ketegangan jelas tersirat dari raut wajah mereka.


"Gunakan mata dan telinga dimana-mana," kata Rudi lagi. "Sekutu Syaiful yang masih setia padanya mungkin akan membantunya keluar dari negara ini, dan kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Syaiful harus ditangkap dalam kurun waktu dua puluh empat jam, sebelum mereka melakukan pergerakan."


Rudi memalingkan wajah dan menyadari keberadaanku. Dia menatapku sejenak sebelum kembali menoleh rekannya. "Tetap memberi kabar selama kalian berpencar. Aku ingin kalian melapor padaku setiap jam, kalian mengerti?" Mereka menjawab dengan anggukan. Kemudian Rudi membubarkan kerumunan itu.


"Apakah situasinya bertambah buruk?" ujarku sembari memandanginya berjalan ke arahku. Aku bisa melihat sesuatu yang lain dari ekspresinya. "Ada apa?" tanyaku was-was.


Rudi mengedikkan bahu. "Kami sedang berusaha menemukannya, tapi pria itu benar-benar licin seperti ular." Dia berdiri bertolak pinggang dengan tampang kesal.


Rudi beralih menatapku, sorot matanya diliputi kecemasan dan tampak sedih sekaligus. "Well, setiap hal memiliko konsekuensi." gumamnya pelan, terdengar hati-hati. "Kita sudah menebak apa yang akan terjadi sejak kau menghubungi istrimu tempo hari, efeknya akan berjatuhan seperti domino, hanya saja..." Dia menghentikan ucapannya dengan gusar, mengangkat sebelah tangannya dan mengusap rambutnya kasar.


Aku terdiam sembari mengangkat alis, meminta dia melanjutkan kalimatnya.


"Istrimu datang menemui Dave hari ini, dan dia bertanya tentang banyak hal padanya."


Aku terlonjak dengan mata membuka lebar, lalu menatap Rudi. "Apa? Kenapa kalian membiarkannya?" geramku.


"Kami tidak mengijinkan apapun, sir. Seseorang dalam kepolisian yang melakukannya. Mungkin itu Bagoes, tapi kami belum tahu pasti."


"Ya, tapi seharusnya kalian menghalanginya." Aku menggoyangkan kepala, sama sekali tidak mengerti arti penjagaan yang mereka maksud. "Istriku akan menjadi target Syaiful sekarang."

__ADS_1


"Aku tahu. Dengar, kami sedang mengawasinya. Bosku akan memastikan dia baik-baik saja, jadi tenangkan dirimu."


Aku baru saja akan membalas ucapannya, lalu tiba-tiba suara ponselnya menghentikanku. Rudi menatap layar ponsel sekilas sebelum akhirnya menjawab panggilan. Seketika raut wajahnya berubah gelap saat mendengarkan seseorang bicara dari seberang ponsel itu. Aku hanya mendengar dia mengatakan satu dua kata, kemudian memutus sambungan telepon.


Rudi menatapku dengan cemas. "Dari bosku," nadanya tegang. "Dia mengatakan dua orang suruhan Syaiful baru saja menerobos ke rumah kakak iparmu, tapi untungnya orang kami sudah lebih dulu berada disana dan menangkap mereka sebelum sempat melukai keluargamu. Sekarang bosku sedang membawa istrimu kesini."


***


Aku melipat kedua tanganku dengan gelisah, benar-benar waspada terhadap setiap bunyi yang kudengar. Setiap orang bergantian keluar masuk ke dalam kamarku untuk sekedar mengecek keadaanku atau memastikan aku memiliki semua yang kubutuhkan. Tapi satu-satunya orang yang kutunggu belum juga datang. Membuat kecemasan semakin menerjangku.


Aku menajamkan telinga ketika mendengar suara langkah kaki berjalan ke arah pintu kamarku, lalu seseorang terdengar berbicara.


"Dia ada di dalam, kau bisa menemuinya." Itu suara Erick. "Aku masih harus melakukan sesuatu." katanya lagi, namun tidak sahutan yang membalas ucapannya.


Aku menunggu dengan perasaan tak sabar saat mendengar suara kenop pintu yang dibuka. Dengan cepat aku melangkah menuju ke depan pintu yang memisahkan ruang tamu dan kamar, dan berdiri disana. Menunggunya.


Aku melihat dia berjalan masuk ke dalam kamar. Wajahnya pucat, pasti karena peristiwa yang baru saja di alaminya, namun mata cokelatnya bersinar penuh harapan. Menyaksikan dia berada tak jauh dari tempatku, mendadak aku merasa tenggorokanku tercekat. Dadaku sesak karena rasa rindu yang begitu menyakitkan, lebih sakit dari yang pernah kurasakan seumur hidupku.


Dia berdiri menghampiri tepi ranjang, lalu berhenti sejenak dan melihat sekeliling ruangan. Seolah sedang berusaha menenangkan dirinya. Aku tidak percaya bisa melakukan hal sebodoh itu dan membuatnya berada dalam kesulitan ini. Franda-ku.


Karena tidak sanggup menahan diri lebih lama, aku melangkahkan kakiku mendekatinya. Langkahku pelan, namun cukup jelas terdengar ditelinganya. Franda berbalik. Tubuhnya membeku, matanya menatapku, menelusuri setiap inci tubuhku seolah aku tidak nyata.


Aku berhenti tepat di hadapannya dan memberinya senyuman lembut. Kemudian dengan tangannya yang gemetar, dia menangkup kedua wajahku sambil memandang kedua mataku secara bergantian.


Rautnya terguncang, bibirnya bergetar menahan tangis. "Ini benar-benar kau..."


Aku menariknya ke dalam pelukanku, lalu mencium kepalanya berkali-kali. Detik itu juga dia menangis sampai bahunya bergetar hebat. Sebelah tangannya menutup wajah sementata tangannya yang lain memeluk leherku dengan erat.


Aku membiarkan dia menumpahkan semua perasaannya sembari mengusap punggungnya berkali-kali. "Maafkan aku, sayang." gumamku pelan, nyaris berbisik.

__ADS_1


Setelah beberapa saat, dia mulai tenang dan menarik diri lalu mendongak menatapku. Kedua tangannya bergerak naik menyusuri wajah hingga rambutku. "Sean..." gumamnya lirih, memandang ke dalam mataku. "Kumohon, jangan lakukan itu lagi, aku tidak bisa menghadapi sesuatu seperti itu."


Aku tersenyum padanya, dengan sebelah tangan menyelipkan rambut ke belakang telinganya, kemudian mengusap pipinya dengan ibu jariku. "Aku berjanji." Kepalaku perlahan maju untuk mencium pipinya. "Aku tidak akan meninggalkanmu, Franda."


__ADS_2