
...Mia Queen POV....
Kulepaskan sepatu satin merah jambu berhak tinggi yang kupakai dan menikmati desir kelegaan saat jari jari kakiku memanjakan diri di karpet wol berwarna krem yang tebal. Sepatu Itu tampak seperti ide yang bagus tadi pagi namun aku lupa berapa lama waktu berdiri yang terlibat dalam upacara seharian, dan kini persendian kakiku terasa remuk. Aku mengambil gelas berisi teh lalu melangkah keluar melalui pintu di ruang makan menuju halaman pribadi di di pondok keluarga Jason, berjalan ke tengah-tengah lapangan berumput.
aku sedang mencoba mengetik setangkai daisy dengan jari-jari kaki ketika sepasang sepatu hitam mengkilat muncul di area penglihatanku. aku mengangkat kepala dan berhadapan dengan Jason. Dia tersenyum tenang, lengan kemejanya yang tergulung cocok dengan suasana sekitar kami yang tentram.
"Penampilan siang ini bagus. Crystal suka sekali permainan saksofon-mu."
"Terima kasih. Omong-omong, permainan bongo-mu juga keren. Kapan kau mengaturnya?"
Jason menjatuhkan diri ke rumput lalu meneguk teh. "Minggu lalu. Hanya lewat telepon. Kami belum pernah latihan sampai hari ini ketika kalian sedang bersiap-siap. Valerie, si pemain cello, dia teman kuliah Crystal dan gagasannyalah untuk memainkan lagu Feeder itu karena adikku dan Will menyukainya." Dia memetik sebatang rumput lalu menganyam dengan jemarinya. "Kau tahu, buatku hal semacam itu tidak mudah."
Perubahan topiknya sekonyong-konyong terjadi begitu cepat sehingga otakku butuh beberapa saat untuk menangkap. Aku mengira dia masih membicarakan obrolan sebelumnya, aku tersenyum. "Yah, aku memang berpikir kau berani juga melakukannya, karena tahu betapa kau menyukai latihan-latihanmu."
"He? Oh, bukan soal main bongo. Maksudku..." Jason memberi isyarat ke sekitarnya. "Ini... pernikahan ini. Melihat adik kecilku Melakukan lompatan besar dalam hidupnya, sementara aku..." Suaranya perlahan mengecil lalu dia berdeham sekali. "Perubahan dan diriku tidak sejalan."
sikap blak-blakan seperti itu bisa dibilang bukan sesuatu yang aneh di antara kami, tapi sudah lama sekali sejak Jason seterbuka ini kepadaku. "Cepat atau lambat, kukira Kita semua harus melaluinya."
Bagus sekali. Sekarang aku terdengar seperti penasihat pada acara TV siang hari.
"Hmm."
Kawanan lebah di pagar tanaman sekitar kami sepertinya menaikkan volume pengeras suara mereka hingga sebelas saat kami berusaha mengobrol.
"Oi! Kalian berdua! Berapa lama waktu yang kita punya sampai perlu kembali ke paviliun?" seru Taylor dari ambang pintu bergaya Prancis.
Agak terkejut, Jason melompat berdiri, gerakannya terkesan seakan dia baru saja tepergok melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Cengiran Taylor menegaskan dia melihatnya dan insiden itu kemungkinan besar akan di singgung tanpa henti sejak hari ini.
"Semoga aku tidak mengganggu, ya?" kata Taylor.
"Tidak, Mia dan aku hanya mengobrol." Jason menepis rumput dari tungkai celananya. "Sepertinya kalau kita kesana pukul tujuh, kita masih punya cukup waktu untuk memeriksa semuanya sebelum resepsi malam dimulai."
"Bagus." Taylor mengedip kepadaku. "Silakan kembali seperti semula."
Jason membenamkan kedua tangan ke dalam saku lalu menunduk ke arahku. "Dasar menyebalkan." Dia kembali terdiam dan aku teringat keheningan berat di antara kami pada saat Natal, saat seolah ada gelombang tertahan yang tidak bisa dibicarakan.
Keheningan itulah yang bertanggung jawab atas penolakanku, meyakini sikapku sebagai penegasan akan perasaannya terhadapku. Namun asumsi-asumsi itu terbukti luar biasa keliru saat itu, dan sekarang aku sudah memikirkannya.
Aku merasakan lenganku mulai merinding, dan aku berdiri. "Sepertinya mungkin aku akan tidur siang dulu sebelum kita kembali bertugas."
"Bagus. Mungkin aku akan bergabung bersamamu..." Matanya membelalak kaget, "Hm... maksudku, tidurnya, bukan... hmm..."
Percobaan yang bagus, Jason. "Wajahmu memerah."
Tatapannya beralih. "Tidak, kok."
"Jangan khawatir, aku tidak menganggapnya sebagai undangan sekarang. Kau tahu, kita bisa saja melakukannya kalau kau ingin menghadiri pemakamanku besok pagi." Kegelian yang mengalir deras terasa nikmat, sekalipun itu hanya topeng yang buru-buru kukenakan untuk menutupi rasa maluku sendiri. "Omong-omong, tempat tidurnya single, jadi hanya ada tempat untukku..."
Wajahnya semakin memerah padam. "Love! Aku tak percaya kau bicara seperti itu!"
"Santai sedikit, kenapa sih? Kita harus menertawakan soal Natal pada suatu waktu, dan akui saja, harusnya akulah yang lebih berhak kesal karenanya."
"Tapi kau hanya mengungkapkan perasaanmu. Itu bukan alasan untuk menyesali diri sendiri."
__ADS_1
Aku tidak tahu apakah dia sedang mencemooh atau tidak, tapi biar bagaimanapun nadanya membuatku jengkel. "Aku tidak menyesali diri sendiri atas apapun. Aku hanya berusaha kembali ke kondisi awal kita sebelum aku membentakmu hari itu."
"Oh."
"Ya. Jadi kasihanilah aku sedikit dan setidaknya biarkan aku bergurau tentang kekeliruanku." Aku mulai berjalan kembali ke dalam, namun Jason meraih lenganku.
"Bagaimana kalau itu bukan kekeliruan?"
Aku memelototinya. "Itu jelas kekeliruan!"
Suaranya melembut. "Tapi kau terlihat begitu yakin tentang itu saat Natal..."
Aku mengguncang lenganku hingga lepas dari genggamannya. "Jason, cukup! Sekarang kau yang tidak bisa menerima lelucon lagi, ya? Ini... ini tidak adil." Aku membungkuk untuk memungut gelasku yang sudah kosong, menegakkan tubuh kembali hingga wajahku hanya berjarak sekian senti dari wajahnya. "Kukira kau ingin kita kembali seperti sedia kala? Yah, Aku sedang berusaha melakukan itu."
Jason tidak menyahut. Mendadak dia terlihat rapuh, dengan cara yang belum pernah kulihat, seakan-akan satu kata lagi dariku akan menghancurkannya menjadi seratus juta keping.
Ini tidak akan menghasilkan apa-apa untuk sekarang. Jason mulai meragukan kejujuranku tentang perasaanku padanya. Aku melunak, menarik diri lalu menepuk ringan dadanya. "Maaf. Aku sungguh-sungguh butuh tidur. Sampai nanti." Aku berjalan menjauh dan dapat merasakan dia mengamati tiap langkahku.
***
"Mau roti bakar?" tanya Matthew, keesokan paginya. Saat itu pukul 07.30 dan aku memutuskan memberanikan diri ke dapur setelah semalaman tidurku terganggu. Aku terkejut mendapati Matthew sudah berada disana.
Aku menolak tawarannya, perutku terasa mual. "Teh saja, kalau ada."
Dia pura-pura tersinggung. "Kalau ada aku di dapur, selalu ada teh." Matthew mengangkat Poci teh bermotif mawar lalu menuangkan satu mug penuh untukku. Saat aku duduk di meja dapur yang besar, dia tampak khawatir. "Kau baik-baik saja, Mia?"
"Aku lelah sekali. Kurang tidur semalam."
"Kurasa karena tempat tidurnya asing. Aku juga begitu... makanya sarapan pagi-pagi sekali. Tapi kau kelihatan banyak pikiran."
"Tidak tahu. Maggie dan aku tidur sekitar jam dua dan sepertinya yang lain menyusul tidak terlalu lama setelah kami. Tapi Jason dan kakak iparmu masih terjaga jauh lebih lama. Aku bangun bangun jam empat untuk ke kamar mandi dan masih mendengar suara mereka di ruang duduk."
Tadi malam, setelah resepsi malam yang indah, kembali berjalan ke pondok kami yang hangat merupakan suatu anugerah. Jason membuka dua botol anggur untuk kami disertai piring-piring berisi sisa hidangan prasmanan dan kami bersantai, mengobrol dalam sisa kehangatan penampilan yang sukses.
Tentu saja, akan menjadi akhir yang sempurna untuk hari ini andai saja obrolanku bersama Jason tidak terus terulang di dalam benakku. Selama penampilan malam hari kami, tidak ada sesuatu dalam caranya berinteraksi denganku, seakan tidak terjadi apa-apa.
"Jam berapa kita harus pergi dari sini?" tanyaku kepada Matthew, aku butuh pengalihan pikiran dari masalah Jason.
"Tengah hari, sepertinya. Masih banyak waktu." Dia menunjukku dengan tepian roti bakarnya. "Kau harus makan sesuatu. Jangan sampai pingsan saat kita memasukkan barang ke van nanti."
Jason tidak muncul hingga pukul sembilan. Tampak luar biasa segar mengingat obrolan hingga larut malam nya bersama Sean, yang muncul tampak berantakan dan bersungut-sungut setengah jam kemudian. "Emtah bagaimana kalian melakukannya," gumamnya sambil beringsut ke dapur lalu membanting pintu pintu lemari sampai aku menyadarinya secangkir teh dan menggiringnya ke kursi.
Jason mengoleskan mentega ketiga lembar roti bakar lalu bergabung bersama kami di meja dapur. "Bagaimana kami melakukan apa?" Dia mengedip kepadaku dan serta-merta selera makanku kembali hilang.
Sean menggaruk-garuk rambutnya yang berantakan. "Kau tahu apa? Kau terlihat terlalu segar setelah minum-minum semalam, dan itu menyebalkan! Kau minum lebih banyak daripada aku, Jason."
"Pasti berkat gen yang bagus," sahut Jason. "Kau lihat seberapa banyak yang diminum orang tuaku tadi malam? Kujamin mereka akan sesegar bunga daisy pagi ini, mungkin malah sedang membuatkan sarapan untuk semuanya."
Kutinggalkan mereka mengobrol lalu kembali ke kamarku untuk menyelesaikan mengemas tas.
"Roti bakar mungkin menjadi pilihan yang lebih baik, tapi terserah masing-masing, sih." Jason bersandar pada kusen pintu. Seringai menyebalkannya sudah kembali menempel di wajahnya.
"Oh, lucu sekali," balasku sinis. "Bukankah ada pemain gitar yang harus kau hibur?"
__ADS_1
"Sean akan baik-baik saja setelah mandi dan menemukan kembali jimatnya." Dia melangkah ke dalam ruangan. "Aku lebih mencemaskan dirimu."
Aku memejamkan mata sambil berharap sekuat tenaga dia akan menangkap isyarat itu dan menyingkir. "Tidurku tidak nyenyak semalam, itu saja."
Wajahnya muram. "Oh? Kok bisa?"
"Entahlah."
"Kelebihan adrenalin dari tadi malam mungkin? Atau kau salah makan sesuatu?"
"Jason, aku tidak tahu!" bentakku, kemudian buru-buru mengembalikan ekspresiku. "Maaf. Aku tidak ramah kalau sedang kurang tidur."
"Oh, begitu," Dahinya berkerut. "Aku, hmm... akan pergi..."
Aku mengawasi langkahnya ketika dia bergerak meninggalkanku, hatiku terasa berat. Kemarin aku yakin kami sudah kembali baik-baik saja, tapi sekarang rasanya seakan-akan kerumitan baru sudah mengantre untuk bertumpang tindih.
Berselang sekitar sepuluh menit sejak Jason keluar dari kamarku, kakakku datang menghampiri dengan raut kesal.
Aku berdecak. "Masalahku saja tidak ada habisnya, sekarang harus membantu masalah orang." Aku sengaja mengeraskan suara untuk menyindirnya, namun tampaknya dia tidak peduli.
Panda menggigit roti bakar di tangannya seakan-akan kegiatan itu bisa menghilangkan kekesalannya, yang kutebak berhubungan dengan kakak iparku.
"Pria memang tidak bisa di harapkan!" Dia mendengus. "Roti apa ini? Kenapa semuanya mengesalkan sepagi ini?"
Aku mengamati gerak-geriknya saat melempar roti ke keranjang sampah kecil yang ada di ruangan, lalu mengoceh lagi. "Aku tidak percaya ini! Bayangkan saja, aku menunggunya sampai tertidur dan saat aku bangun... kau tahu apa, sissy? Bekas muntahan dimana-mana. Ini benar-benar hari paling buruk!"
"Oh."
"Mia!"
"Apa?" balasku datar.
Mendadak rautnya menciut dan dia menggeleng. "Tidak."
"Bagus. Jangan menggangguku."
"Okay."
"Okay."
Kami saling memandang selama beberapa saat, lalu seakan mengerti satu sama lain, Panda dan aku saling berpelukan.
"Mia, aku menyayangimu. Satu hal harus kau ketahui soal hidup adalah... bahwa dunia ini sangat luas, indah, dan mengagumkan. Ada begitu banyak hal yang bisa kau temukan, tapi yang terpenting merupakan perjalanan dalam dirimu, untuk menemukan kebenaran yang ada padamu, untuk menemukan apa yang membuatmu bahagia. Aku ingin kau bahagia. Aku ingin adikku menemukan kebahagiaannya. Buat dirimu bahagia, Mia. Jangan lagi terbebani oleh keadaanku, karena aku sudah baik-baik saja. Sungguh, aku baik-baik saja, sissy."
"Sudah ada Sean yang akan menemaniku. Kau, ibu, dan Edward sudah cukup repot mengurusku selama ini dan sekarang waktunya kalian menikmati hidup. Aku ingin kalian bahagia. Kalian pantas bahagia. Kita pantas bahagia. Dan percayalah, aku benar-benar sudah bahagia."
...~TAMAT~...
***
Hi, guys! Ini sudah end ya ceritanya. Semua masalah sudah clear dan kalau soal Jason dan Mia, kupikir gak perlu di update lagi. Atau kalian masih mau tau kelanjutannya?
By the way, aku udah rilis buku baru. Judulnya My Love Journey's, silahkan buka profilku. Tapi untuk sementara masih slow update.
__ADS_1
Terima kasih untuk yang sudah like dan komen selama ini. I appreciate that! Dan kuharap kalian menyukai buku ini dan buku-buku berikutnya yang akan kutulis di platform ini. Last but not least, Thank's again!!!
Much Love!😘