Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
One Step Away


__ADS_3

...Sean Danial Warner POV...


Hari-hari berat masih merundung kehidupan pernikahanku. Franda, istriku yang selalu bergairah itu sedang kehilangan semangat hidupnya. Aku tidak mengira akan melihat dia sesulit ini dalam menghadapi permasalahan yang sedang terjadi di antara kami. Dan yang paling menyakitkan hatiku adalah kenyataan bahwa dia sedang berusaha menarik diri dari kemungkinan akan kehidupan luar biasa yang bisa di dapatkannya setelah berhasil mengalahkan rasa takutnya.


Dia memaksa terlihat kuat dan baik-baik saja dihadapanku sementara aku tahu dia sedang menderita seorang diri. Franda menghukum dirinya atas kesalahan yang sebenarnya tidak sebesar yang ada di pikirannya. Dia tidak memberiku kesempatan untuk mendekatinya sama sekali meskipun aku terus membujuknya.


Hatiku sakit setiap kali dia membalas perlakuanku dengan dingin, sama seperti yang kulakukan padanya beberapa minggu lalu. Aku nyaris putus asa dan menuruti kemauannya namun segera kutahan semata-mata aku tahu dia membutuhkanku untuk mengembalikan jiwanya. Aku yakin kehadiranku akan sangat berarti dalam hidupnya walaupun berulangkali dia mengatakan sebaliknya, aku tidak akan menyerah sedikitpun.


Masih dengan pikiran yang berserakan disana-sini, mataku sedang menatap sosok wanita yang begitu kucintai itu. Dia tengah tertidur disampingku. Wajahnya begitu damai dan tenang, namun kesedihan dan penderitaan terlihat jelas dari matanya yang memejam. Kantung mata tebal dan hitam, tulang pipi yang menonjol dan tulang selangka yang begitu kentara cukup membuktikan dia tidak sedang baik-baik saja.


Kondisi tubuhnya yang hancur 3 bulan lalu perlahan mulai membaik, Franda sudah bisa berdiri dan berjalan pelan menggunakan kruk untuk menyangga tubuhnya. Dia terus berupaya mengembalikan kekuatan kakinya yang remuk sementara hatinya masih berlarian tanpa tujuan yang jelas.


Aku menggeser tubuhku agar menempel padanya. Mataku sedang menatap wajahnya. Aku meperhatikan semua yang bisa kutangkap, dan dengan penuh cinta aku mendekatkan bibirku untuk mencium keningnya lalu turun ke matanya, turun lagi ke hidungnya, kemudian berbelok ke pipinya dan berakhir di bibirnya yang manis.


Dia menggeliat dan tak lama kemudian matanya membuka. Sudut bibirku terangkat untuk menyapanya dan dia membalasku dengan senyum tipis dan tertahan namun hatiku bersorak gembira. Aku seperti baru saja memenangkan lotere bernilai milyaran saat dia membalas senyumku karena ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum padaku setelah beberapa waktu.

__ADS_1


Sudut bibirku semakin melengkung dan mulutku terbuka. "Selamat pagi, Mrs. Warner." sapaku. Aku menggodanya dengan kerlingan mata dan senyum genit dan seketika hatiku sakit melihat responnya. Jika dulu dia akan langsung tersipu, sekarang tidak lagi. Franda tidak membalas sapaanku, dia justru mengangkat tubuhnya dan duduk bersandar di ranjang.


Aku mengikuti gerakannya dengan bangkit dan menempelkan tubuhku pada tubuhnya. Dia berpaling dan menatapku datar dengan wajahnya yang menggemaskan. Dan ketika dia menghembuskan napas kasar, aku pun mengikutinya. Aku melakukan apapun yang dilakukannya. Saat dia menarik selimut hingga sebatas dada, aku juga melakukannya dengan selimut di bagianku. Kemudian saat kedua tangannya saling meremas diatas pahanya, aku juga meremas tanganku. Sampai akhirnya dia menggerakkan kaki dan hendak turun, aku menahannya lalu menariknya kedalam pelukanku.


Franda sudah pasrah dalam dekapanku. Aku tersenyum dalam hati karena dia tidak menolakku. Aku bisa merasakan getaran ditubuhnya yang mengatakan bahwa dia masih bergairah ketika kulit kami bersentuhan. Matanya yang berkabut nyaris membuatku tak dapat menahan diri untuk menyerangnya. Tapi aku tidak mungkin melakukannya sekalipun menginginkannya. Kondisi tubuhnya masih terlalu lemah untuk menerima serbuan gairahku.


Aku menurunkan pandangan pada wajahnya yang selalu membuatku panas dan keras. Sementara tanganku mengusap lengannya, aku bersuara untuk pertama kalinya hari ini. "Aku ingin kita seperti ini selamanya. Tubuhmu yang mungil dan rapuh terkurung dalam dekapanku sementara kita membicarakan masa depan yang indah alih-alih saling menolak satu sama lain." gumamku dengan penuh harapan didalamnya karena memang itu yang kuinginkan.


Ketika dia mengangkat wajahnya, tangannya menangkap rahangku dengan lembut dan segenap jiwa. Sampai aku tertunduk karena menahan gairah.


"Pergilah dariku, Sean. Aku tidak akan pernah menyalahkanmu. Itu adalah perasaan paling murni yang kumiliki untuk suamiku. Aku bersyukur karena kau sangat tulus mencintaiku. Tapi kita harus mengakhiri ini bukan karena aku tidak mencintaimu. Aku merasa tak pantas berada disampingmu dan menerima segenap perasaanmu yang tulus. Aku bukan wanita yang pantas menerima semua itu."


Aku menarik diri. Pernyataan Franda membuat darahku mendidih dan terbakar. Ada kejujuran, harapan, gairah, dan kasih sayang dalam nada bicaranya dan sinar matanya. Yang membuatku semakin waspada pada diriku sendiri agar tidak menekan tubuhnya di ranjang. Tapi aku juga tidak bisa menahan desiran kuat di dadaku mendengar bahwa dia juga mencintaiku. "Jangan mengatakan apapun lagi, Franda."


Tapi Franda menarik wajahku lagi sampai aku dipaksa menatap mata cokelatnya sementara dia tersenyum padaku. Kali ini aku benar-benar melihat senyum yang paling kurindukan. Aku hanya bisa mengertakkan gigiku. Aku bisa gila apabila menghadapinya lebih lama lagi karena tubuhku sudah mengeras untuknya.

__ADS_1


Aku menggeram lirih sedetik sampai akhirnya tak sanggup lagi menahan hasratku. Aku menciumnya dengan serakah sampai punggungnya melengkung. Sebelah tanganku menahan tengkuknya, tak membiarkan sedetikpun untuk tidak melahap bibirnya yang polos dan manis. Aku membiarkan agresiku keluar sedikit, membiarkan Franda merasakannya kembali. Tapi kali ini aku sadar kondisi tubuh istriku yang sedang kucumbu.


Franda menerimanya. Kami terengah-engah begitu bibir kami terpisah. Pipinya bersemu merah dan entah kenapa aku aku selalu tergila-gila menyaksikannya seperti ini. "Sean... apakah aku terlalu serakah jika berharap padamu? Apakah aku terlalu jahat jika menahanmu disisiku? Sungguh, aku ingin kau berada disampingku selamanya. Menghabiskan waktu bersamamu sementara mataku menyaksikan semua keindahan yang ada padamu." Aku tersenyum ceria sekaligus haru sementara menatap matanya yang berair saat dia berbicara.


Aku terdiam cukup lama karena tersipu dengan isyarat penyerahan dirinya yang begitu jelas sampai dia menegurku kembali. Tangannya mengusap dadaku seiring tatapannya yang turun. "Aku tidak tahu apa yang kurasakan sekarang, Sean. Aku ingin sekali menikmati hidup bersamamu, tapi... aku takut keadaanku akan membuatmu jenuh dan meninggalkanku pada akhirnya."


Aku tidak bisa mengeluarkan suara sementara telingaku mendengar Franda menangis pilu di hadapanku. Aku ingin menenangkannya dan mengatakan bahwa apapun yang terjadi aku tidak akan meninggalkannya. Tapi segera kutahan, aku ingin membiarkannya menikmati tangisannya untuk terahir kali karena aku tidak akan membuatnya menangis seperti ini lagi.


Setelah tangisnya mereda dan dia sedikit tenang, aku menyambar bahunya dan menatap matanya dalam. Berusaha menunjukkan bahwa aku tidak main-main dalam mencintainya. Aku menghembuskan napas pelan lalu berbicara. "Franda, tatap mataku dan dengarkan ucapanku baik-baik." ucapku lirih dan penuh penekanan.


"Aku mencintaimu. Aku bukan tipe pria yang tega meninggalkan wanitaku saat dia terpuruk dan membutuhkanku. Perasaanku tidak hanya sebatas tubuhmu, aku menyukai hatimu yang lembut dan sikapmu yang tangguh. Aku tidak mungkin berbalik dan mencari kesenangan dengan wanita lain sementara aku sudah memilikimu. Kau segalanya, sayang."


"Sudah cukup kau menyiksa dirimu dengan ketakutan yang sebenarnya tak pernah ada. Percayalah padaku, Franda. Tidak ada yang bisa menjauhkanku darimu kecuali kematian. Aku akan berada disampingmu, memberimu cinta sementara aku juga menerima cintamu. Hati kita tidak bisa terpisah hanya karena fisik, cinta kita lebih kuat dari apapun."


Aku menutup kalimatku dan menariknya kembali ke dalam dekapanku. Menguatkan hatinya yang masih rapuh sementara aku sedang menikmati bunga-bunga yang kembali bersemi dihatiku.

__ADS_1


__ADS_2