Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Trap


__ADS_3

Nino langsung menjalankan mobil setelah Franda tenang. Tidak ada percakapan diantara keduanya selama perjalanan pulang kerumah mereka. Nino fokus mengemudikan mobil sambil sesekali melirik Franda yang membuang wajahnya keluar jendela, sesekali Ia terlihat menghapus airmatanya yang tidak bisa berhenti mengalir.


Setelah 35 menit kemudian mereka sampai dirumah, Nino langsung turun dan berjalan kesebelah membukakan pintu untuk Istrinya.


Franda turun dengan malas, Ia tidak ingin kembali ketempat itu sekarang karena kemarahannya akan hilang saat bersama suaminya didalam, dan Ia belum mau memaafkan Nino.


"Sayang, aku ke ruang kerja sebentar." kata Nino setelah masuk, Franda tidak menjawab. Ia langsung masuk ke kamar, duduk bersandar disofa, melipat tangan dan memejamkan mata.


Franda menangis, Ia tidak mampu menahan rasa sakit didadanya. Rasa sesak semakin menjadi kala Ia melihat foto pernikahan mereka yang menempel di tembok, tepat diatas kepala ranjang. Franda menangis kencang, melepaskan segala rasa sakit dihatinya, berharap semuanya akan hilang ketika Ia berhenti.


Suaran Franda yang menangis kencang membuat Nino terlonjak di ruang kerjanya, Ia langsung berlari ke kamar dan memeluk istrinya untuk menenangkan.


"Sayang... Sudah, Sayang... Kumohon, jangan seperti ini..." kata Nino sembari menciumi kepala istrinya.


"Aku harus bagaimana sekarang? Aku tidak tahu harus berbuat apa, Nino! Kau menghancurkan semuanya, kau merusak apa yang kita miliki selama ini, kau merusak hidupku, Nino!" bentak Franda dengan airmata yang terus turun.


"Sayang, maafkan aku... Maaf... Aku minta maaf atas semuanya, Sayang... Jangan menangis lagi, aku tidak sanggup melihatnya... Aku mohon..." Nino memohon, Ia sangat sedih melihat keadaan istrinya sekarang.


"Kau yang membuatku menangis, Sayang... Kau mengacaukan segalanya!" Franda memukuli Nino dan mendorong jauh suaminya.


"Yes!... Aku sangat menyadari kesalahanku, tapi kumohon jangan menangis seperti ini..." Nino terdiam, menarik napas sebentar.

__ADS_1


"Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkan maafmu... Kau ingin bercerai? Baik, aku akan mengabulkannya kalau itu bisa membuatmu senang. Aku akan menceraikanmu!" lanjut Nino, membuat Franda terdiam dan melongo.


"Aku akan menyiapkan semua dokumennya, soal harta aku akan memberikan hakmu, semuanya akan menjadi milikmu begitu kita resmi bercerai..."


"Aku tidak membutuhkan hartamu! Kau gila? Jangan samakan aku dengan wanita itu!" bentak Franda.


"Franda, stop! Aku akan menceraikanmu, kalau itu yang kau inginkan. Jangan mengatakan apapun tentang Jenny, dia tidak seperti itu! Kau salah mengenainya..." Nino menatap tajam pada Franda, yang membuat wanita itu kembali meradang.


"Wah, suami macam apa yang kumiliki ini? Kau sungguh luar biasa, Sayang... Hahahhaha, apa yang diberikannya padamu sampai kau membelanya seperti itu?" tanya Franda.


"Franda, hentikan! Aku tidak akan memaksamu lagi, aku akan menceraikanmu!" Nino berjalan kearah pintu namun berhenti saat mendengar kata-kata Franda.


"Apa lagi yang kau inginkan? Aku sudah meminta maaf dan mengakui semuanya, aku juga sudah mengikuti keinginanmu untuk bercerai, sekarang apa lagi?" Nino mulai frustasi menghadapi istrinya itu.


"Mengapa kau mengatakannya semudah itu? Apakah karena aku terlalu lembut padamu selama ini? Kau pikir aku tidak bisa melakukan sesuatu untuk menghancurkanmu?" kata Franda berapi-api. Kemarahannya benar-benar berada dipuncak sekarang.


"Lalu aku harus bagaimana, Sayang? Kau tidak mau memaafkanku, dan kau juga marah ketika aku akan menceraikanmu padahal kau yang menginginkannya. Apa yang harus kulakukan sekarang?" Nino mendekat meraih tangan Franda dan menggenggamnya erat.


Franda terdiam, Ia tidak tahu harus berkata apa karena yang dikatakan oleh Nino memang benar. Ia sendiri tidak yakin dengan pikirannya saat ini, memaafkan Nino bukan hal mudah, tapi bercerai juga rasanya Ia tidak akan mampu.


"Aku...tidak tahu!" Franda menjawab pelan, tubuhnya melemas, airmatanya yang tadi berhenti kini mengalir kembali.

__ADS_1


Nino memeluk tubuh istrinya yang terguncang, menciumi seluruh wajah Franda. Ia mengusap bibir Franda dengan ibu jarinya, bibir yang sangat diinginkannya. Perlahan mendekatkan bibirnya kesana dan mencium dengan lembut, Franda tidak merespon, Ia hanya diam dengan mata terpejam. Namun tak lama kemudian Ia membuka mulutnya, membiarkan Nino melakukannya.


Nino yang tahu bahwa istrinya juga menginginkannya dengan senang hati memanjakan istrinya, Ia benar-benar ingin meminta maaf pada Franda dengan sentuhannya. Berharap Franda akan sedikit melunak setelah ini.


"Slow, baby! Aku tidak akan kemana-mana, hehehe" kata Nino menggoda istrinya yang sudah tidak bisa lagi menahan lebih lama.


"Diam!" jawab Franda dengan napas memburu menahan hasrat yang memuncak, membuat Nino lagi-lagi tersenyum.


"Katakan kau memaafkanku, Sayang! Aku akan memberikan hal terindah untukmu malam ini, katakan kau memaafkanku." kata Nino yang tidak mau kehilangan kesempatan, tangannya tetap aktif memancing.


Franda yang sedang berada dipuncak gairahnya tidak bisa berpikir jernih, mendapatkan kesenangan adalah hal yang dibutuhkannya sekarang.


"Lakukan! Aku memaafkanmu! Cepat!" Franda mengatakannya dengan asal. Ia tidak ingin memikirkan apapun sekarang.


Nino langsung berdiri dan menuntun Franda agar menunduk dimeja rias lalu dengan cepat mengulangi kegiatan mereka. Tidak perduli dengan peralatan make-up milik Franda yang berantakan dan berjatuhan dari meja.


Franda terus meracau, Ia melambung merasakan suaminya berada didalamnya.


"Sayang..."


Franda setengah berteriak saat merasakan gelombang pertamanya datang, tubuhnya bergetar hebat. Franda mengerang menikmati pelepasannya. Ia langsung melemas diatas meja rias, napasnya masih terengah-engah saat Nino menariknya untuk berdiri dan memulai lagi.

__ADS_1


__ADS_2