
Franda berdiri dibalkon, berpegangan pada pagar besi sambil menerawang jauh. Pikirannya melayang pada kehidupan mereka akhir-akhir ini yang begitu dramatis. Entah kenapa semuanya terasa sulit sekarang, ketengangan yang terjadi belakangan ternyata cukup berdampak dalam hubungan mereka meskipun tidak terlihat secara jelas, namun keduanya sadar bahwa jarak diantara mereka semakin melebar. Franda tidak tahu kapan ini akan berakhir dan sebisa mungkin dirinya bertahan untuk menjaga apa yang mereka punya. Pernikahan, cinta, dan kehidupan manis yang berjalan selama 7 tahun ini.
Nino terbangun dan tidak mendapati keberadaan istrinya disampingnya, Ia melirik jam yang menunjukkan pukul 2 dini hari. Aneh, pikirnya. Tidak biasanya Franda terbangun tengah malam seperti ini. Nino turun dan berjalan untuk mencari keberadaan istrinya, kakinya yang terluka 2 bulan lalu sudah semakin membaik, meskipun terkadang masih terasa nyeri karena lukanya cukup dalam, namun tidak terlalu mengganggunya.
Nino mendekat ketika melihat istrinya yang tampak melamun sedang berdiri dibalkon, "Kenapa kau disini?" tanya Nino sambil memeluk istrinya dari belakang.
Franda terkesiap saat tiba-tiba suaminya memeluk dan membuyarkan lamunannya, namun Ia tersenyum lalu bersandar pada dada berotot suaminya, "Aku terbangun." jawab Franda singkat dengan suara serak.
Nino menangkap ekspresi wajah istrinya yang terlihat memikirkan sesuatu, "Apa yang kau pikirkan, hm?" tanyanya.
Franda menggeleng pelan, "Aku tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya," Franda berbalik, menatap wajah tampan suaminya. "Aku merasa kita semakin jauh, rasanya tidak seperti dulu lagi, seperti ada yang hilang tapi aku tidak tahu apa." Franda menunduk.
Nino terkejut dengan ucapan istrinya, "Hey, we're find, nothing is wrong with us! What do you mean?" tanya Nino heran.
"I don't know! I fell like everything's just going hard right now, I don't even feel comfortable with our live anymore. I feel like... Aku tidak tahu bagaimana menyampaikannya, semuanya berubah..." ucap Franda putus asa.
Nino menatap bingung pada istrinya, heran kenapa Franda bisa berpikiran seperti itu, "Honey, look... Aku tahu beberapa waktu terakhir banyak hal yang terjadi pada kita, but we just need to figure it out, ini bukan masalah pertama bagi kita. Aku yakin kau hanya membutuhkan waktu untuk tenang, lakukan sesuatu yang membuatmu bahagia, Sayang..." kata Nino menyarankan, kini dia tidak lagi membatasi istrinya, Franda boleh melakukan apapun selama tidak melupakan tanggung jawabnya sebagai seorang istri.
Franda tertunduk lesu, "Aku tidak yakin akan itu, aku merasa ada yang berbeda dengan kita. Maaf jika ucapanku membuatmu tidak senang, tapi itu yang ku rasakan." katanya pelan, pandangannya buram karena air mata yang mulai menggenang.
"Sayang, lebih baik kita masuk. Aku tidak mau membahas ini, Ayo!" Nino menarik Franda agar mengikutinya kembali ke kamar.
.
Nino terbangun saat mendengar bunyi ponsel, dengan malas diraihnya ponsel istrinya yang berdering dan mengganggu tidurnya. Terlihat nama Edward yang menelepon, Nino membangunkan Franda yang tertidur pulas disampingnya.
"Sayang, Edward menelepon." kata Nino sambil menepuk-nepuk lengan istrinya pelan.
__ADS_1
Franda tidak menanggapi, hanya bergerak pelan dan berdehem. Nino yang melihat itu langsung mengangkat panggilan Edward, tidak tega membangunkan istrinya yang terlihat sangat mengantuk karena baru tidur jam 5 subuh, sementara sekarang baru jam 6.17 pagi.
"Halo, Ed! Franda masih..."
"Ayah kecelakaan, kalian tolong kerumah temani Ibu dan Mia, aku sedang diperjalanan kerumah sakit. Tadi Ibu pingsan..." kata Edward memotong sapaan Nino.
Nino langsung membuka matanya lebar dan duduk, "Kenapa bisa?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu bagaimana kejadiannya, nanti saja kita lanjutkan. Sekarang tolong kerumah, aku titip Ibu dan Mia!" jawab Edward dan langsung mematikan sambungan.
Nino langsung membangunkan istrinya, "Sayang, bangun..." katanya sambil mengguncang tubuh istrinya yang tertutup selimut.
Franda menarik selimut semakin tinggi hingga menutupi kepalanya, "Hmmm... Aku masih mengantuk..." jawab Franda yang tidak ingin diganggu saat ini.
"Kita harus kerumah orangtuamu, Ayah kecelakaan..." kata Nino cepat.
"Ya, Ed sedang diperjalanan kerumah sakit, dia meminta kita untuk menemani Ibu dan Mia dirumah, tadi ibu pingsan katanya." jawab Nino, lalu berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Franda yang belum yakin kembali bertanya, "Bagaimana bisa?" katanya mengikuti suaminya ke kamar mandi.
"Tidak tahu, Edward juga belum tahu pasti bagaimana kejadiannya. Ayo, kita mandi bersama untuk menghemat waktu." Nino menarik istrinya agar masuk dan mandi bersama.
.
Franda langsung melompat turun dari mobil saat tiba didepan rumah orangtuanya bahkan sebelum mobil yang dikemudikan suaminya berhenti sempurna.
"Mom!" ucap Franda pelan dari depan pintu kamar Ibu saat mendapati Ibunya terbaring lemah ditemani Mia yang tertunduk sambil memegang kedua tangan Ibunya.
__ADS_1
"How was her?" tanya Franda pada Mia setelah mendekat tanpa mengalihkan tatapan dari Ibunya.
"Belum sadar." jawab Mia lemas, tidak tega melihat kondisi Ibunya.
"Sudah berapa lama?" tanya Franda lagi, kali ini memandang wajah adiknya yang sembab akibat menangis.
"Sekitar satu jam, tadi sudah sadar sebentar tapi pingsan lagi." ucap Mia sambil terisak pelan.
Franda memeluk adiknya, air matanya ikut menetes untuk pertama kali. Sejak tadi dirinya berusaha untuk tidak menangis, saat ini Ibu dan adiknya membutuhkan seseorang yang bisa menemani mereka dan Franda tidak ingin mereka semakin bersedih jika melihatnya menangis juga. Kejadian ini sangat mengejutkan mereka semua, terutama Ibu pastinya.
Nino mendekat, "Ayo berbicara diluar, jangan membahas apapun didepan Ibu." katanya pada dua wanita muda itu.
Franda dan Mia mengangguk dan mengikuti Nino yang berjalan keluar.
Nino memberi segelas air minum pada Mia yang tadi dimintanya pada Mbak Marni, "Minumlah dulu, tenangkan dirimu. Ayah pasti baik-baik saja." ucap Nino menguatkan sembari memberikan air pada Mia.
Mia mengangguk, "Ya, Ayah harus baik-baik saja!" Mia menerima air dari Nino dan meminumnya dengan tangan yang sedikit gematar.
Nino duduk disamping istrinya dan merangkul istrinya, isyarat menguatkan yang berusaha disampaikannya. "Bagaimana kejadiannya? Maksudku, bagaimana bisa Ayah kecelakaan sepagi ini?" tanya Nino yang merasa heran.
"Aku tidak tahu, Edward membangunkanku dan mengatakan Ayah kecelakaan, Ibu sudah pingsan saat aku kekamarnya. Belakangan Ayah biasa lari pagi di taman yang tidak jauh dari rumah." Mia menjelaskan.
Franda menyembunyikan wajahnya diceruk leher Nino, mengalihkan pandangan dari Mia. Ia tidak mau adiknya melihat tangisnya, dirinya harus kuat agar bisa menguatkan Mia dan juga Ibu. Nino menyadari istrinya sedang menahan tangis sekarang, dan Ia menenangkan dengan menepuk-nepuk pundak Franda.
"Sebaiknya aku ke rumah sakit dan menemani Edward. Sayang, kau tidak apa-apa aku tinggalkan?" tanya Nino meminta persetujuan pada istrinya.
Franda mengangguk, "Ya, pergilah. Kabari aku begitu sampai disana." jawab Franda berusaha terlihat baik-baik saja, meskipun Nino sangat tahu istrinya juga sedang bersedih.
__ADS_1
Nino memeluk Franda sebentar namun erat, "Ok, aku akan meminta dokter datang dan memeriksa keadaan Ibu. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja. Mia, tenanglah..." katanya sambil menepuk pundak adik iparnya itu. Mia hanya mengangguk.