
"Apa kau tidak ingin bertemu dengannya?"
Aku memutar kepala menoleh Sean yang sedang bertanya padaku dari tepi ranjang. Kami baru saja kembali menjemput Ben dan Lily di apartemenku dan sekarang mereka sedang tertidur.
Aku menarik napas berat, menyandarkan punggung ke sandaran sofa dan membuang pandangan lagi ke arah langit yang berawan. Satu tanganku menggenggam ponsel sementara satu tangan yang lain menahan kepala. Pikiranku melayang pada objek yang dibicarakan Sean. "Aku tidak tahu." sahutku cuek. Aku paham maksud pertanyaan Sean, tapi aku benar-benar tidak tahu jawabannya.
Apakah aku siap bertemu dengannya?
Sean berderap menghampiriku dan mendaratkan tubuhnya menempel padaku. Aku terpesona oleh wajahnya yang indah. Pemandangan yang begitu kurindukan selama dua bulan belakangan, dan sekarang aku bisa melihatnya lagi. Tidak ada yang lebih menggiurkan selain bisa menyaksikan sosoknya yang sempurna dan mendebarkan. Aku tidak mungkin rela melepaskan semua kewahan yang menyatu di tubuhnya yang indah.
"Apa kau tidak ingin melihat wajahnya, Franda?
Aku tidak menjawab pertanyaannya. Selain tidak ingin membahas tentang ibu kandungku, aku masih ingin memandangi wajahnya. Sudut mulutku melengkung tinggi saat bertemu dengan tatapan mata birunya, seakan dia sedang berusaha menenggelamkanku disana. Aku memutar tubuhku hingga kami berhadapan dengan posisi menyamping. Sebelah tanganku naik menangkup rahangnya yang keras, lalu aku mendengar suara geraman halus dari dadanya.
Kegerakkan jemariku menyusuri garis wajahnya yang sempurna. "Kenapa kau sangat tampan, Sean?" bisikku di depan bibirnya. Dia tersenyum malu-malu, sementara pipinya bersemu merah. Ah, aku lupa suamiku juga manusia yang bisa tersipu.
"Kenapa kau sangat cantik, Franda?" balasnya, menirukan gayaku sambil menyelipkan rambut yang menutupi sebagian wajahku ke telinga.
Aku terkikik pelan dan mencium bibirnya sekilas. "Jadi, apakah sekarang kita akan bermain lempar tanya?" Tanyaku genit seraya menggerakkan jemariku turun menyentuh satu nadi tebal yang menghiasi lehernya. Dan dia menggeram lagi.
"Franda," gumamnya serak, menahan hasrat.
"Hm?"
__ADS_1
"Berapa galon wine yang kau habiskan semalam? Aku yakin pemilik klub itu sedang berpesta sekarang mendapatkan pelanggan vip yang masih mabuk hingga saat ini."
Aku sontak tertawa merespon selera humornya yang menyenangkan. Kucium bibirnya sekilas sebelum aku menjawabnya. "Aku menggunakan uangmu, Daddy. Apa kau sudah melihat tagihan bank-mu?" kataku santai, mengusap lehernya.
"Franda," Sean membulatkan mata, tapi bibirnya tersenyum indah. "Selain nakal dan pembohong, ternyata kau juga pencuri."
"Aku tidak mencuri ya, Warner. Aku hanya memanfaatkan apa yang ada di depan mata." balasku riang, mengerling genit padanya.
"Gadis pintar," katanya sambil mencolek hidungku. "Sekarang, ceritakan padaku apa yang lakukan selama dua bulan ini?" dengkurnya tiba-tiba.
Aku mengangkat bahu. "Sudah kubilang, it's suck. I'm mentally exhausted. Just... tidak banyak yang bisa kulakukan karena wajahmu terus muncul di kepalaku." jawabku sambil mengamati perubahan wajahnya. Keningnya berkerut sementara matanya menyipit menatapku. "Kenapa?"
Sudur mulut Sean terangkat naik dengan cara yang amat mengagumkan. "Kita memang serasi, Franda. Aku sendiri nyaris tidak bisa bekerja selama kau merajuk." Kemudian dia menyentuh perutku dan menurunkan pandangannya sejenak menerjang mataku dengan matanya lagi. "Apakah masih sakit?" Sean terdengar cemas.
Aku terpejam menikmati sentuhan tangannya yang menenangkan di perutku, terasa sangat nyaman. Aku merasa terlindungi oleh sikapnya yang lembut dan perhatian. "Tidak."
Aku sudah sering melihatnya merasa bersalah, namun kali ini dia tampak sangat tersiksa. Aku bisa mendengar ketulusan dari suaranya, Sean benar-benar menyesali perbuatannya. Dan sekarang matanya mulai basah. Menyaksikan seorang pria menangis karena merasa bersalah merupakan sesuatu yang langka, dan aku patut bersyukur dia membiarkanku menyaksikan pemandangan itu lagi. Sean menangis untukku. God... terima kasih sudah menjadikan pria ini bagian dari hidupku.
"Franda," desahnya pelan, bibirnya gemetar. "Aku belum pernah merasakan kasih sayang yang begitu besar setelah ibuku meninggal. Aku selalu hidup sendiri, tidak seorangpun yang memberikan sesuatu seperti yang kau berikan padaku. Kau sangat luar biasa, Franda. Sosokmu begitu ajaib dalam memikatku. Kau lembut, penuh kasih sayang, dan kau mencintaiku. Aku tidak akan mampu bernapas jika kau meninggalkanku." Air matanya menetes, mengalir melewati hidungnya hingga jatuh membasahi kausnya.
Aku tidak bisa membuang waktu lebih lama dan menyaksikan dia menangis seperti itu. Dengan kedua tangan kutangkup wajahnya. "Sean, aku tidak akan meninggalkanmu." kataku dengan suara halus, menyatakan kesungguhan dalam ucapanku.
"Kau satu-satunya orang yang paling kubutuhkan. You're my whole life. Aku tidak akan meninggalkan satu-satunya sumber semangatku. Terima kasih karena sudah mencintaiku sedalam itu, Sean. Terima kasih untuk kesabaranmu menghadapiku. Terima kasih untuk semua yang sudah kau hadiahkan padaku. Aku akan selalu bersamamu, Sean. Selamanya." gumamku menambahkan.
__ADS_1
Aku menggerakkan jemariku menyapu air matanya yang panas, lalu Sean memelukku erat sambil mencium keningku. Aroma tubuhnya yang manis seketika membuatku tenang dan damai, menghilangkan segala kekhawatiran yang memenuhi kepalaku. Kehidupan kami memang terlalu rumit dan menyakitkan, tapi aku bersyukur bisa melewati semua hari-hari itu bersamanya.
Setiap pernikahan akan selalu memiliki masalah di dalamnya, tidak peduli kita siap atau tidak, hantaman akan selalu datang tanpa mengenal waktu. Aku bukan seseorang yang mampu mengatasi masalah dengan mudah tetapi aku senang Sean ada membantuku dan dia selalu menguatkanku.
Dulu, saat aku masih menjadi istri Nino, aku di hadapkan dengan pengkhianatan. Tidak cukup sekali dia bahkan terus mengulanginya bersama orang yang sama. Saat itu aku seperti bertaruh pada kehidupanku sendiri namun aku kalah pada akhirnya. Dan ketika kami bercerai, aku meminta pada Tuhan, jika... suatu saat aku bertemu dengan seseorang yang akan menjadi bagian dari hidupku lagi... aku tidak ingin mengalami masalah yang sama seperti pernikahan pertamaku. Dan, ya... Tuhan mengabulkan doaku.
Tuhan menggiringku kepada Sean. Pria baik, lembut, dan setia. Tidak ada celah sedikitpun dalam pribadinya. Dia begitu sempurna, bahkan terlalu sempurna untuk diriku yang kacau. Kemudian masalah datang menghantam kami secara bertubi-tubi dan membabi buta. Membuat kami linglung dan nyaris kehilangan arah. Tapi, untuk kesekian kalinya, kami berhasil menyingkirkan ego masing-masing. Mengembalikan sesuatu pada tempat yang seharusnya. Aku kembali kepada suamiku, dan dia kembali kepadaku.
Sungguh menakjubkan perjalanan yang sudah kulalui bersamanya. Roller coaster dalam pernikahan kami sangat menegangkan, naik turun dengan cepat... terlalu cepat. Sebagian dari diriku mungkin tidak sanggup untuk melewati itu, maksudku, aku ini sekuat apa sih? Jika bukan karena Sean yang menemaniku, maka sudah dipastikan aku akan tersesat di suatu tempat dan mungkin tidak bisa menemukan jalan untuk kembali.
"Thank you, Husband." gumamku di dadanya sembari menikmati sentuhan tangannya di kepalaku. Aku menarik napas dalam hingga aroma tubuhnya yang menggiurkan tenggelam di dalam dadaku. Aku tergila-gila dengan pria ini.
"Aku mencintaimu, Franda."
"Mom, Dad, I got the millenium falcon! Did you buy it?"
Kami tersentak saat mendengar suara pintu kamar yang terbuka tiba-tiba dan Ben berteriak kegirangan dengan hadiah yang pasti baru saja dilihatnya. Dengan terpaksa momen romantis dan mengharukan itu harus berganti dengan tawa riang yang keluar dari mulut Sean dan aku. Kami masih berpelukan di sofa sementara Ben berlari dan langsung menyusup di tengah-tengah kami. Merebut perhatian Sean dariku.
"Do you like it?"
"Absolutely! I've been dreaming about it all the time. But last night was the last! Thank you, guys. I love you!" Ben mencium kami bergantian. Wajahnya sangat cerah dan matanya berkilat-kilat senang.
Aku mengulurkan sebelah tangan mengusap kepala Ben dengan bibir tersenyum bahagia, sementara Sean bertanya lagi padanya.
__ADS_1
"Ben, can you help me?" Ben menganggukkan kepala cepat. "Ayo, ikut Daddy."
Alisku terangkat sementara Sean memberiku tatapan aneh, dia bahkan mengerling padaku sebelum melangkah keluar dari kamar bersama Ben.