Pertahanan Terbaik

Pertahanan Terbaik
Getting Worst.


__ADS_3

Tak ada yang lebih indah dari pada hari-hari yang dihiasi cinta dan tak ada yang lebih menyakitkan dari pada malam-malam yang penuh dengan ketakutan. Seperti itulah yang kurasakan sekarang. Aku bahagia sekaligus takut pada waktu bersamaan. Aku bahagia karena Sean begitu tulus membuktikan cintanya padaku, dan aku takut karena kenyataan diriku tidak akan bisa melakukan hal yang sama padanya.


Sean sibuk menunjukkan ketulusan dan kesabarannya sementara aku sibuk menenggelamkan diri dalam kekhawatiran tak beralasan. Ada hal yang takkan bisa dipahami oleh orang lain perihal diriku yang putus asa pada kehidupan. Berhari-hari aku nyaris menyerah dan berpikir lebih baik mati dari pada harus hidup menanggung kesakitan yang luar biasa. Setidaknya, aku akan mati dengan perasaan tenang tanpa harus memikirkan takdir pahit yang kini tengah merundungku.


Sean tak pernah mau mendengarkan apa yang keluar dari mulutku jika itu berhubungan dengan permintan maaf. Dia mengatakan berbicara bukanlah satu-satunya cara untuk mengerti perasaan antara dua jiwa. Bukanlah kata-kata yang keluar dari bibir dan lidah yang bisa memisahkan hati nurani. Tapi, perbuatan. Dan dia yakin aku masih sangat membutuhkannya meskipun berulangkali aku mengusirnya seperti dulu saat aku menolak untuk menerima cintanya. Aku tidak menyalahkannya dalam hal ini.


Usahaku untuk menerima semuanya tidak bisa dikatakan mudah, bahkan sangat sulit. Bayangkan saja, saat itu aku dengan keras kepala tak mendengarkan Pritta yang sudah melarangku turun padahal aku tahu dia melakukannya untuk kebaikanku. Akibat kecelakaan itu aku kehilangan bayi di kandunganku dan juga harus terbaring setiap hari di dalam kamar yang kini terasa hampa. Tak cukup dengan itu saja, aku juga harus menambah rasa bersalah kala teringat pada Pritta. Gadis itu ikut menanggung kemarahan Sean karena tindakan bodohku. Sean bukan hanya memecatnya, tapi juga membuangnya jauh entah dimana.


Satu persatu kepingan rasa kecewa itu menyerangku tanpa ampun. Menjerumuskanku kedalam jurang kematian yang tak berujung. Tubuhku tidak terhempas di dasarnya, tapi juga tidak terangkat kembali ke atas. Aku melayang dalam ketakutan dan kesunyian. Telingaku mendengar orang-orang berteriak memintaku mengulurkan tangan agar mereka bisa membantuku, tapi aku berpura-pura tuli. Aku tetap bertahan meratapi diri yang mengambang dalam ketidakpastian.


"Sean," kataku lirih. Mataku menatap birunya lautan di matanya. Seperti biasa, dia tersenyum padaku dan aku kesakitan karenanya. Dengan bibir bergetar, aku mengucapkan kata-kata yang selama ini kutahan. "Tinggalkan aku." sambungku lagi dengan air mata yang tak dapat kusembunyikan lagi. Aku menangis tanpa suara sementara Sean mundur dan menjauhkan dirinya dariku.

__ADS_1


"Akhirnya kau mengatakannya." gumamnya penuh putus asa sambil berjalan ke arah dinding kaca.


"Sean," panggilku lagi. Kini aku memaksa mengangkat tubuhku hingga duduk di ranjang sambil mataku menatapnya yang berdiri membelakangiku dan membuang pandangan keluar melalui dinding kaca dengan kedua tangannya tersimpan di saku celana pendeknya.


Aku tahu dia sedang marah dan Sean tidak akan menerima ucapanku. Tapi aku berkeras, menurutku ini yang terbaik untuk kami. Sean harus melanjutkan hidupnya dengan bahagia alih-alih bertahan mengurusi diriku yang entah sampai kapan akan seperti ini.


"Pergilah... tinggalkan aku. Kau pantas mendapatkan kehidupan yang lebih baik. Aku tidak ingin egois dengan menahanmu terus menerus. Aku tidak tahu akan berapa lama sampai keadaanku membaik, dan kau tidak perlu membuang waktu untuk mengurusku."


Aku menyentuh dadaku yang terasa sesak dengan tangan kiriku dan meremas sekuat tenaga kaus yang kukenakan. Hatiku begitu sakit mendengar kata-kata yang keluar dari mulutku sendiri, tapi aku tidak bermaksud menariknya. Keputusanku sudah bulat, aku ingin Sean meninggalkanku.


Sean berbalik, kilat matanya begitu gelap menandakan kemarahan yang luar biasa tengah disimpannya. Dan ketika dia maju selangkah, bibirnya menyeringai. Bukan seringai genit yang biasa ditunjukannya untuk menggodaku, melainkan seringai jijik. Tentu saja dia jijik padaku yang tak tahu diri. Dia pantas marah dan bahkan cukup layak untuk memukul atau membunuhku sekalipun. Dia pantas untuk melakukan semua itu. Dan aku pantas mendapatkannya.

__ADS_1


"Franda," Aku menelan ludah saat dia mengucapkan namaku dengan berat sementara matanya memerah dan rahangnya mengeras. Seketika aku gemetar, tatapannya membuatku tak dapat merasakan sakit di sekujur tubuhku lagi.


"Apakah kau berusaha mengatakan bahwa aku salah berpikir bahwa kau mencintaiku selama ini?" Aku menelan ludah lagi sementara dia lanjut berbicara. "Kau tahu? Dari ucapanmu aku baru menyadari kalau kau tidak menginginkanku sebesar aku menginginkanmu. Semua yang keluar dari mulutmu yang manis itu membuatku berpikir kau tidak sungguh-sungguh mencintaiku."


Sean mendekat, sebelah tangannya terangkat dan meremas rahangku kuat-kuat sampai aku meringis. Astaga, apakah dia benar-benar akan membunuhku?


Aku terpejam merasakan cengkeramannya. Membiarkan dia meluapkan semua kemarahannya padaku. Menerima semua sumpah serapah yang akan keluar dari mulutnya dan berharap dia akan melepaskanku setelahnya. Sean mendengus kasar. Cengkeramannya semakin kuat seiring suaranya kembali tertangkap oleh telingaku.


"Kau sudah menghancurkan harapanku dengan membunuh anakku, dan sekarang kau ingin aku melepasmu? Oh, jangan bermimpi, sayang. Kau harus tetap bersamaku untuk membayar semua kesalahanmu. Kau harus merasakan sakit yang sama seperti yang kau torehkan padaku."


"Aku sudah sangat berbaik hati mau menerima kehilangan atas anakku dan berusaha memaafkanmu, tapi kau benar-benar tak tahu di untung. Dan kau harus tahu kalau aku sangat muak dengan kelakuanmu sekarang, Franda."

__ADS_1


Tubuhku terhempas di ranjang ketika Sean melepaskan cengkeramannya di wajahku lalu mendorongku. Aku memekik merasakan sakit yang teramat sangat saat leherku berputar dan tangan kananku yang patah tertimpa oleh tubuhku. Aku ingin sekali meminta tolong padanya, memohon agar dia membantuku. Tapi aku sadar Sean tidak akan melakukannya karena dia langsung menjauh dariku.


Akhirnya dengan susah payah dan air mata yang membanjiri wajahku, aku mampu bergeser ke samping. Mulutku menggeram dan aku menahan napas sementara Sean keluar dan menarik pintu kamar kuat-kuat.


__ADS_2