
HEGA
Dua hari aku bekerja ektra menyelesaikan tumpukan berkas penting dan beberapa jadwal meeting penting yang tidak bisa ditunda. Terasa badanku begitu lelah tidak seperti biasanya, yah aku sadar telah melalaikan tugasku selama seminggu terakhir ini, dan aku harus menanggung konsukuensi karena menunda semua tanggung jawabku.
Segera kubereskan meja kerjaku setelah selesai memeriksa dan menanda tangani berkas terakhir. Kemudian berjalan keluar ruangan sambil memakai kembali jas kerjaku yang sedari tadi kuletakkan di sandaran kursi.
" Lo langsung berangkat ? " tanya Bara dari arah belakang, tampak berdiri di depan ruangannya yang berada di samping ruanganku.
" Pulang dulu. " jawabku singkat sambil melirik sekilas ke arahnya.
" Anita, bereskan ruanganku, jangan biarkan siapapun masuk kesana, setelah itu kamu boleh pulang lebih awal karena dua hari kedepan kamu akan sangat sibuk." ucapku lagi kali ini pada sekretarisku.
" Baik Pak. " jawabya penuh hormat.
" Gue langsung ikut ke tempat lo ya, gue udah siap berangkat. " kata Bara sambil menjajarkan langkahnya disampingku.
" Oke, pake mobil gue. Mobil lo tinggal di tempat gue. " putusku kemudian.
" Sip. " jawabnya.
Sampai dirumah kumasukkan beberapa baju dan perlengkapan pribadiku di sebuah tas hitam berukuran sedang. Sengaja tidak membawa banyak barang toh hanya tiga hari, dan jika butuh sesuatu bisa beli nanti pikirku. Selepas mandi dan menyegarkan badanku kupakai sebuah polo shirt putih dengan celana selutut berwarna hitam.
Kuraih dompet dan ponsel diatas nakas disamping ranjangku, lalu membuka laci dan mengambil sebuah kunci. Kemudian langsung beranjak turun dan memberikan kunci tadi pada seorang penjaga rumah dan memintanya menyiapkan kendaraan yang akan kupakai.
" Yuk Bar, berangkat. " kataku sambil berjalan ke arah pintu.
" Bi, kalau kakek datang tolong bilang saya di villa Bara. " ucapku lagi pada kepala pelayan yang mengurus rumah.
" Baik tuan muda. " jawabnya patuh sambil menundukkan kepala.
" Pake ini Ga ? " tanya Bara keheranan setelah melihat Range Rover Velar berwarna putih yang sudah siap di depan pintu, karena memang aku hampir tidak pernah memakai mobilku yang satu itu, dan lebih memilih memakai Porsche yang memiliki warna sama sebagai kendaraanku sehari-hari.
" Ya, lebih leluasa. " jawabku kemudian sambil masuk melalui pintu penumpang di sebelah kiri, mengisyaratkan agar dia yang mengemudi.
" Are you sure ? " tanyanya bersemangat.
" Masuk, sebelum gue berubah pikiran. " jawabku dengan nada pura-pura mengancam, diikuti gerakan cepatnya memasukkan tasnya dan masuk dari pintu pengemudi sambil tersenyum lebar.
Kulihat jam tangan di pergelangan tangan kiriku, masih jam empat, " Kita makan dulu Bar, tadi gue gak makan siang. " kataku kemudian sambil melirik temanku yang tengah asyik mengemudi.
" Nantilah ya, gue lagi sayang-sayangnya nih. " katanya tanpa menoleh dan tetap fokus mengemudi sambil sesekali mengelus kemudi yang tengah dia pegang.
" Satu jam lagi ada resto langganan gue, kita makan disana aj. " jawabnya lagi meyakinkanku.
" Terserah lo. " jawabku pasrah membiarkan Bara menikmati mengemudi, yang memang aku tahu sudah sejak lama dia ingin mencoba kendaraanku yang satu ini. Sambil memainkan ponsel, sesekali aku mengalihkan pandangan ke arah luar jendela mengamati jalanan, dari padatnya gedung-gedung bertingkat selang beberapa lama menjadi rumah-rumah biasa dengan banyak pepohonan asri diantaranya.
__ADS_1
" Yuk turun Ga, udah sampe. " kata Bara sambil melepaskan safety belt nya. Dan aku baru sadar kalau kami sudah sampai di resto yang dimaksudkannya tadi.
" Selamat datang. " tampak seorang pria paruh baya datang menghampiri kami.
" Mas Bara hanya berdua saja ? " tanya pria itu lagi yang membuatku sedikit mengangkat alis keheranan.
" Ya berdua saja pak Toni, ini sahabat saya sekaligus Boss saya di kantor. " jawab Bara kemudian sambil memperkenalkanku pada pria tersebut yang ternyata adalah pemilik restoran.
Setelah bersalaman, pak Toni membawa kami ke sudut restoran miliknya, dengan meja bulat berukuran sedang dan empat kursi berwarna coklat berbahan kayu jati dengan model klasik yang tampak elegan.
Dari tempatku duduk bisa melihat sebuah taman bunga kecil dengan air mancur di tengah taman, tampak beberapa anak kecil sedang bermain disana.
" Pesan apa mas Bara ? " tanya beliau kemudian setelah kami duduk.
" Menu seperti biasanya saja Pak, untuk dua orang saja. " kata Bara kemudian.
" ". aku masih mencoba mencerna setiap percakapan mereka, bertanya-tanya sendiri seberapa sering sebenarnya bocah ini makan disini ? Sehingga pemilik restoran akrab dengannya dan bahkan sempat bertanya kenapa kami hanya berdua, tapi kemudian aku mulai paham, mungkin dia datang bersama para kekasihnya.
" Emang seberapa sering lo datang kesini ? " tanyaku iseng.
" Hnn. " jawabnya sambil tampak mengingat-ingat.
Melihat ekspresinya aku yakin sepertinya sudah tak terhitung berapa kali dia datang kesini. " Apa semua wanita yang lo pacari selalu lo bawa ke villa ? " tanyaku kemudian dengan nada menyindir.
" Yah, beberapa kali bersama keluarga gue, ... " jawabnya.
" Hahahaahaha*." tawa kami kemudian sambil kemudian menikmati kopi yang sudah datang lebih dulu.
Tidak lama kami mengunggu makanan datang, sepiring ayam bakar dan udang goreng, sambal dan nasi dengan tambahan sayur tumis yang aku tak tahu sayur apa itu, tak lupa dua gelas jus jeruk.
Sedang asyik menikmati makanan seseorang memeluk Bara dari belakang membuat paha ayam yang hendak disantapnya nyaris terlempar.
" Bang Bara gak bilang-bilang sih mau ke villa. Kan bisa barengan ? " kata gadis yang ternyata adalah Deana, adik sepupu Bara, sambil mendaratkan pantatnya di kursi disamping Bara kemudian menyruput jus jeruk milik Bara.
" Uhuk... uhuk... Ngagetin aja lo dek, minuman abang tuh. " katanya sedikit kesal.
" Sama siapa lo dek ? " tanyanya kemudian setelah meminum jus jeruk milikku.
" Tuh... " jawab Deana singkat sambil menatap ke arah rombongannya.
" Uhuk....uhuk.... " responku terkejut melihat ke arah jari telunjuk Deana, dan tatapan mataku bertemu dengan gadis itu, sial pikirku. Maksud hati menenangkan pikiran, kenapa malah ketemu orang yang bikin pikirannku berantakan.
^^ Bagaimanapun caranya dihindari, sosok yang ditakdirkan bertemu pada akhirnya akan dipertemukan juga dengan cara yang tak pernah terduga. ^^ ( Sherinanta )
❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤
__ADS_1
🌟 IKLAN 🌟
Pembaca : Gak sabar kapan cinta-cintaanya thor ?
Me : Sabar lah.
Pembaca : Yah tinggal tulis ajah thor " akhirnya mereka saling jatuh cinta ". instan gitu biar cepet.
Me : Yaelah, cinta mah butuh proses lama, emang indamie instan masaknya 5 menit habisnya 5 menit.
Pembaca : Tapi laku keras tuh indamie, siapa tahu novel lu juga bakal laku keras macam dia ? 😒😒
Me : Cinta Mah dari mata turun ke hati,
Pembaca : kan deketan thor mata ke hati ?
Me : Coba deh situ pikirin kalo habis makan masuk mulut dikunyah, ampe masuk perut dan keluar lagi butuh berapa lama coba ? lama kagak ?
Pembaca : Idih jorok lu thor.. Lagian tadi ngomongin mata sama hati, kenapa tiba-tiba jadi mulut dan perut coba ??
Me : Kan mata deket mulut, hati deket perut. hehehe Maapkan, perumpamaan aj. Lagian kalo langsung jatuh cintrong novel gue bakalan pendek dong episode nya.
Pembaca : Biarin thor, cepet tamat.
Me : Episode dikit yang baca dikit, gak like dan comment pula, hatiku hancur....😭😭😭😭
Pembaca : lebay lu thor....
Me : biarin 🤪🤪🤪
Pembaca : Yey marah, ya udah gak gue kasih like dan comment.
Me : Emang dari tadi situ ngapain bambank ? curhat ?
gpp gak kasih like and comment, dikasih poin aj juga boleh. 😍😍😍😍
Pembaca : Like and comment aja ogah, apalagi poin ? double ogah. 😋😋
Me : Pelit lu....
Pembaca : Biarin, gue kasih poinnya kalo udah ada cinta-cintaan nya.
Me : Serah situ ajah.....
➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤
__ADS_1
PLEASE DON'T BE SILENT READER......💔