Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Pulang Ke Rumah Besar


__ADS_3

AUTHOR


Satu jam perjalanan menuju rumah besar keluarga Saint. Moza sempat tertidur sejenak, dan saat bangun matanya disugukan pemandangan hijau nan asri.


Area hunian privat super luas dan mewah, memasuki gerbang utama langsung disugukan deretan pepohonan hijau yang menyejukkan.


Pepohonan tinggi di sisi kiri dan kanan sepanjang hampir satu kilometer.


Setelah deretan pepohonan tinggi yang terlihat rapi dan indah, selanjutnya terlihat sebuah taman besar, taman botani yang berkonsep healing garden .


Benar-benar cocok bagi orang-orang yang membutuhkan refreshing dari penatnya aktivitas sehari-hari.


Memasuki area utama, beberapa bangunan mewah tampak berjajar elegan dan menyilaukan mata.


Rumah mewah dikelilingi pepohonan dan beberapa taman bunga, juga ada kolam besar di depan bangunan yang terlihat paling besar dari semua bangunan. Sepertinya merupakan rumah utama.


" Kak, dimana ini ? " Tanya Moza sembari mengerjapkan pelan kedua matanya karena beru sadar sepenuhnya dari tidur lelapnya.


" Rumahku, dan akan menjadi rumah kamu juga nantinya. " Jawab Hega sambil tersenyum.


Glek.....


Memangnya yang seperti ini cukup hanya disebut sebagai rumah ? Ini lebih mirip hotel atau istana.


Dan kenapa kita kesini si ? Aku kan ingin pulang ke kamarku yang nyaman.


Kedua mata Moza mengerjap beberapa kali, memastikan apa yang dilihatnya bukan halusinasi.


Tenggorokannya kering seketika mendengar jawaban Hega yang tengah fokus mengemudi, namun tangan kirinya sesekali mengelus kepala gadis itu.


" Kenapa kita kesini ? Kenapa tidak mengantarku ke kosan saja ? " Tanya Moza penasaran.


" Memangnya ayah dan bunda tidak mengatakan padamu jika kamu akan tinggal disini ? " Dengan santainya pemuda itu menjawab dengan wajah datarnya.


" APAH ?! " Membuat gadis itu terpekik dan menoleh pada Hega.


" Aduh, jangan teriak dong Momo sayang. Telingaku bisa tuli. Kamu mau punya suami tuli ?! " Protes Hega dengan nada jahil andalannya, sembari menutup telinga kirinya dengan telapak tangannya.


" Ahhhh.... Jangan mengalihkan pembicaraan dong kak ! " Moza tampak semakin kesal, bersungut-sungut menggemaskan.


" Memangnya kenapa kalau tinggal disini ? Kamu keberatan ? "


Hega terkadang bisa benar-benar terlihat menjadi pria licik yang pintar berpura-pura, seolah dia tak tahu apa-apa perihal kepindahan kekasihnya ke rumah besar keluarganya.


" Tentu saja, kita kan bahkan belum menikah kak. Kenapa aku harus tinggal di rumah kakak si ? Ihh... Jangan seenaknya dong kak ?! " Protes Moza, kedua lengannya dilipat di dada, mata cantiknya melotot tajam ke arah sang kekasih.


" Apa yang kamu pikirkan di kepala kecilmu ini ? Aku kan bilang kita tinggal satu rumah, bukan satu kamar loh Momo sayang. Lagipula ada kakek juga dan banyak pelayan di rumah ini. " Ucap Hega gemas, menempelkan jari telunjuknya di kening gadisnya.


" Tapi kan..... " Moza sudah mulai kehabisan kata-kata untuk melawan Hega.


" Atau kamu mau kita langsung menikah saja supaya kamu tidak usah merasa tidak nyaman, sekalian kita bisa langsung tinggal sekamar. Ahhh.... Sepertinya itu ide yang sangat bagus. Aku akan segera membicarakannya pada kakek dan juga orang tua kamu. " Hega memotong kalimat Moza, menjahili gadisnya sambil mengerling nakal.


" Aahh... Kakak menyebalkan. Aku tidak mau bicara lagi dengan kakak. " Jawaban Hega sukses membuat kekasihnya kesal setengah mati, membuat Moza terlalu malas menanggapi lagi kalimat menyebalkan pemuda itu.


" Hehe, padahal aku serius loh tentang tinggal sekamar. " Goda Hega membuat Moza benar-benar terlongo, speechless.


Sekamar ? Dengan kak Hega ? Melihat wajahnya tiap pagi ? Aaaa.... Gila gila gila.... Aku belum siap...


" Kak. " Moza menggelengka kepalanya menyadarkan dirinya dari lamunan menggelikan yang barusaja terlintas di kepalanya, kemudian mencubit lengan Hega, pipinya merona merah karena begitu malu mendengar kata sekamar.


" Eh... Maksudku tentang menikah. " Ralat pemuda itu sambil meringis dan mengelus lengannya yang menjadi korban cubitan gadis di sampingnya.


" Ih... Hentikan !! " Terus mencubit bagian tubuh hega secara acak, kesal karena Hega masih tak mau berhenti menggodanya.

__ADS_1


" Hehehe... Iya aku menyerah. Aduh, berhenti mencubitku, ayo turun, semua orang sudah menunggu. Atau kamu minta digendong seperti seorang putri. "


Moza melihat ke jendela mobil ternyata Hega sudah menghentikan mobilnya.


Terlihat sang ayah dan bunda serta adiknya sudah tiba lebih dulu.


Hega mengeluarkan kursi roda dan membantu Moza duduk di sana. Kemudian mendorongnya perlahan mendekati pintu utama yang sudah berbaris rapi beberapa orang pelayan rumah besar tengah menyambut mereka.


" Selamat datang Tuan Muda dan Nona. " Benyamin menyambut ramah, diikuti beberapa pelayan yang tampak ikut membungkuk dan tersenyum ramah.


Ahhhh.. Apa-apaan ini ? Kenapa semua orang ini memandangku si ?


Moza terlihat canggung saat Paman Ben menyambut kedatangan dirinya dan keluarganya. Apalagi saat me ndengar sebutan 'nona' dan beberapa orang yang berbaris rapi itu malah menatapnya dan tersenyum.




🍁🍁🍁


Moza memasuki rumah besar yang terasa asing baginya. Dengan desain eksterior bergaya modern tampak sangat mewah.



Memasuki ruangan, disugukan tampilan interior rumah yang elegan, beberapa furnitur antik, serta beberapa lukisan tampak menghiasi beberapa sudut dinding.


Semua orang sudah berkumpul di ruang keluarga Moza berusaha bersikap biasa, padahal hatinya sangat kesal.


Kenapa mereka memutuskan sepihak jika dirinya akan tinggal di rumah keluarga Hega ?


Kenapa tidak ada seorangpun yang meminta pertimbangan darinya ?


" Bun, kenapa bunda dan ayah tidak mengatakan kalau Moza akan tinggal di sini ? " Bisik Moza saat sang bunda sudah duduk di sampingnya.


" Loh bukannya kata nak Hega kamu sudah setuju ?! " Jawab sang bunda heran dan sedikit terkejut pada pertanyaan putrinya.


" Bukankan kita sudah membahasnya kemarin waktu bunda sedang istirahat di hotel, kamu lupa ? " Sambar Hega dengan cepat duduk disamping Moza dan memotong kalimat gadis itu seenaknya sendiri kemudian tersenyum pada sang calon ibu mertua.


" Kapan aku.... ? " Moza memekik sembari melotot ke arah Hega.


" Kita bicarakan nanti oke ?! " Potong Hega setengah berbisik, menggenggam erat tangan Moza mengisyaratkan untuk tak lagi mendebat dirinya.


Ahhh.... Apa lagi yang kakak rencanakan si ?!


Gadis itu mendengus kesal, tapi tetap berusaha tersenyum di depan semua orang. Memutuskan mengalah pada pemuda menyebalkan disampingnya.


Apalagi ada kakek Suryatama dan juga Papa Arya disana, malu rasanya jika baru saja datang sudah membuat keributan.




🍁 Epilog 🍁


Satu jam sebelumnya.


Sebelum melajukan kendaraanya, Hega menyodorkan sebutir obat pada Moza lalu membuka sebotol air mineral.


" Minumlah ! "


" Apa ini kak ? " Tanya Moza mengernyit curiga.


" Vitamin. " Jawab Hega datar.

__ADS_1


" ? " Tatap Moza ragu.


" Kamu mencurigaiku ?! " Menatap balik ke arah mata coklat yang terlihat curiga padanya.


" Kata Derka, mungkin kamu akan merasa tidak nyaman berkendara karena efek benturan ringan di kepalamu saat jatuh kemarin. Jadi untuk antisipasi saja, minumlah. Aku tidak mau kamu merasa tidak nyaman. Lagipula ini kan juga salah satu obat yang kamu minum dua hari ini. " Sambungnya berusaha meyakinkan Moza.


" Oh, baiklah. "


Moza akhirnya menurut, meminum sebutir pil yang memang terlihat tak asing baginya.


Hega tersenyum penuh arti, dan mengelus pucuk kepala kekasihnya.


Dan setelah sekitar 15 menit perjalanan, sepertinya efek pil yang diminum Moza mulai muncul.


Moza merasa sangat mengantuk dan akhirnya jatuh tertidur dan Hega menghentikan sebentar kendaraannya, dan mengatur sandaran jok mobil yang diduduki kekasihnya agar gadis itu nyaman dalam posisi tidurnya.


Hega tersenyum dan mengecup kening Moza kemudian melanjutkan perjalanannya.


" Tidurlah, jangan memikirkan hal lain, aku melakukan ini untuk keselamatan dan keamananmu. Cukup percayakan semuanya padaku, aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. " Ucap Hega lirih.


Sebenarnya pil yang diminum Moza tadi memang benar salah satu resep obat dari Derka, hanya dosisnya lebih tinggi yang berefek mengantuk.


Hega hanya ingin membawa Moza pulang ke rumah besar dengan aman dan tenang tanpa perdebatan. Karena Hega tahu jika gadis itu tidak akan setuju dengan mudah untuk pindah dari kos nya.


Sedangkan jika gadis itu tetap tinggal di kos, Hega cemas pada keamanan dan keselamatan sang kekasih.


Tapi untuk menceritakan alasan kepindahannya yang sebenarnya, Hega belum siap. Pemuda itu tak ingin membuat Moza cemas apalagi ketakutan jika sampai dia mengetahui penyebab kecelakaan yang dialaminya adalah suatu kesengajaan dari seseorang.


Hega tahu jika gadis itu berhak tahu yang sebenarnya, tapi bukan sekarang waktu yang tepat.


Hega harus memastikan dulu siapa orang dibalik insiden tersebut dan apa motifnya. Barulah ia bisa memberi penjelasan kepada Moza.


💜🧡💛💚💙❤💜🧡💛💚💙❤


Serius nanya ya. Yang masuk CRAZY UPDATE itu menurut kalian berapa episode ?


Banyak pokoknya thor....


Ya banyak tuh berapa atuh....


Berapa ya ?!


Kalau 5 episode masuk kategori Crazy Up gak ?


Boleh thooorrr....Mayan puas bacanya kagak nanggung....


Okeh kalau begitu.... Ntar kucoba ngebut buat 5 episode kalau mampu sih hehe....


Horaaayy..... Gue tunggu thooorrr...


Tapi ntar 5 hari ke depan jangan minta up lagi ya, akuh mau istirahat alias hiatus bentaran..


Yaelah... Sama juga boong thorr.... Lu up 5 episode sehari eh hiatus 5 hari....


Hahahaha..... Gitu ya .... Pinter situ ya 🤣🙊🙊


Duileh lu mau ngakalin gue ya, kagak bakal bisa thorrr....


Hahahaha.... Santai dong jan ngegasss ....


👇👇👇


Akuh UP lagi hari ini

__ADS_1


Besok libur yah tanggal merah akuh istirahat dulu...


Terima kasih sudah membaca episode ini. Jangan lupa like dan komentar 😊🤗😘👍


__ADS_2