Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Lakukan satu hal, Jatuh Cintalah Padaku


__ADS_3

AUTHOR


" Uhuk.... " Tersadar dari pikiran mesum yang menjalar di kepalanya, segera dialihkan pandangannya ke sembarang arah.


Melonggarkan dasinya dan membuka satu kancing kemejanya yang paling atas. Mencoba mengilangkan pikiran yang dianggapnya tak pantas.


Mendengar suara terbatuk Hega, Moza mulai terbangun dari tidurnya. Kedua matanya mengerjap perlahan, tubuhnya menggeliat meregangkan otot-otot kaki dan tangan yang terasa kaku karena tidur dalam posisi setengah terduduk.


Perlahan mengusap kedua mata dengan dua tangannya, mencoba mengembalikan kesadarannya.


" Kamu sudah bangun ? " Tanya Hega dengan lembut sambil membantu mengembalikan sandaran kursi mobil seperti sedia kala agar Moza mendapat posisi duduk yang nyaman.


" Hn. Terima kasih. " Jawab Moza setelah Hega selesai mengatur ulang sandaran kursinya.


" Ini namanya kriminal apa kakak tahu ? " Lanjutnya protes setelah mendapati dirinya berada di tempat yang asing.


" Apa kamu mau menelepon polisi ? " Ucap Hega setelah melihat gadis itu tengah mengambil ponsel dari dalam tasnya.


" Mungkin saja. " Jawabnya acuh, nyatanya dia hanya sedang mengecek apakah ada notifikasi pesan atau telepon yang masuk ke ponselnya.


" Telepon saja, tidak akan ada gunanya. " Ucap pemuda itu santai.


" Memang kenapa ? " Ucapan Hega justru membuat Moza mengernyit keheranan.


" Mereka hanya akan berpikir kita sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Saya sih tidak masalah tapi kamu mungkin akan malu. " Ucapnya sambil tersenyum penuh arti.


" Kenapa kakak melakukan ini padaku ? Ayo cepat antar aku pulang. " Mendengar kalimat menggelikan pria itu, membuat hati Moza mencelos tak karuan.


" Sebentar lagi. " Gumam Hega sambil melipat kedua tangan di dada dan bersandar di sandaran kursi dan memejamkan matanya sejenak.


" Memang apa yang sedang kita tunggu ? " Tanya gadis itu sambil merapikan rambutnya yang sedikit berantakan dan kembali mengikatnya ala ekor kuda.


" Diam saja dan tunggu dengan tenang. " Jawab pemuda itu singkat.


Gadis cantik itu mulai kesal, mencoba membuka pintu. Namun dengan cepat dikunci otomatis oleh Hega.


Moza berusaha membuka kunci, tapi terus dihalangi oleh Hega. Membuat gadis itu menerka-nerka apa yang sebenarnya akan dilakukan pria tampan di sampingnya itu.


Sempat terjadi adegan saling berebut, Moza yang berusaha menekan tombol kunci otomatis di sebelah kanan Hega. Tetapi terus saja gagal karena terhalang tubuh gagah pemuda itu yang pastinya memiliki kekuatan fisik yang tidak bisa ditandingi oleh Moza.


Sampai akhirnya Hega menyentuh dagu gadis yang tengah cemberut menggemaskan. Mengarahkan wajah gadis itu menatap ke arah depan mobil, ke arah pantai.


Sunset


Tampak matahari perlahan tenggelam, semburat warna merah keemasan ketika matahari tenggelam menampakkan keindahan pantai yang luar biasa.


Gadis itu terpukau, menatap sendu ke arah pantai, lupa pada tujuannya yang ingin membuka pintu dan kabur dari pria disampingnya.

__ADS_1


" Indah kan ? " Hega mendaratkan dagunya di bahu gadis itu.


" Iya, sangat indah. " Ucapnya lirih.


Sekilas teringat terakhir kali melihat sunset, muncul kenangan saat dirinya dan kakak sulungnya bermain di pantai, berlarian dan kemudian bergandengan tangan. Kemudian duduk di atas pasir dan melihat matahari tenggelam.


" Sangat indah, sudah lama aku tidak melihat sunset seindah ini sejak..... " Lanjutnya, namun kalimatnya terputus dan air mata menetes di pipinya yang putih.


Hega sadar gadis itu tengah menangis.


" Kamu menangis....? " Tanya pemuda itu sambil mengangkat dagunya dari bahu gadis itu. Namun posisi mereka masih sangat dekat.


Mendengar suara lembut Hega yang begitu dekat dengan telinganya, reflek gadis itu menoleh ke kanan, sontak pandangan keduanya bertemu.


Terlalu dekat membuat gadis itu terlonjak kaget, berusaha menghindar dan menjauhi Hega.


Jauh-jauh dariku, kamu terlalu dekat.


~ Batinnya Moza ~


Tapi terlambat, lengan kiri Hega sudah merengkuh pinggang Moza, menahan tubuh gadis itu agar tak menjauh darinya.


" Saya tidak tahu kenangan apa yang baru saja muncul di ingatanmu, yang membuatmu tiba-tiba menangis. Meskipun saya tidak akan mampu menghapusnya kenangan sedih itu, tapi saya pastikan saya akan memberikan banyak kenangan indah saat kita bersama, sehingga bisa menutupi semua kenangan sedih kamu. " Ucap Hega dengan nada penuh kasih, dengan tangan kirinya masih melingkar di pinggang Moza dan tangan kanannya menghapus air mata yang mengalir perlahan di pipi gadis itu.


Merasa takut ketahuan jika degup jantungnya saat ini begitu tak beraturan, Moza kembali mengalihkan pandangannya ke arah pantai. Mencoba menghindari tatapan mata pria di sampingnya.


Namun Hega tak kehilangan akal, kembali di pegangnya pipi kanan Moza, memutar kepala kepala gadis itu perlahan ke arahnya.


Deg deg deg


Gawat... !!! Aduh siapapun, tolong selamatkan jantungku....


Batin gadis itu sambil membelalakkan kedua matanya.


" Aku ingin menjadi orang yang bisa membuat kamu tertawa dan tersenyum setiap hari. Ijinkan aku membuatmu bahagia selamanya. Kamu hanya perlu melakukan satu hal, jatuh cintalah padaku. " Mendadak Hega berbicara dengan gaya bicara santainya.


Memutuskan menghapus jarak diantara mereka dan tak lagi menggunakan kata 'saya' saat berbicara dengan gadisnya.


" Selamat ulang tahun Moza Artana, aku mencintai kamu. " Lanjut pemuda itu dengan nada sangat lembut, sambil memasang perlahan sebuah kalung di leher Moza.


Moza terbelalak mendengar kalimat memabukkan yang keluar dari bibir pria itu. Jarak mereka masih terlampau dekat, membuat gadis itu semakin berdebar tak karuan. Bahkan tak menyadari saat ini sebuah kalung indah telah menggantung di leher jenjang miliknya.


" Kakak bicara santai sama aku ? Dan darimana kakak tahu hari ini aku berulang tahun ? " Tanya Moza mengalihkan pembicaraan dan menghindari tatapan mata pemuda dihadapannya.


Heran darimana pria itu tahu hari ulang tahun yang bahkan dirinya sendiri lupa karena akhir-akhir ini terlalu sibuk di butik.


" Bukankah kita sudah cukup akrab untuk tidak menggunakan kata 'saya'. Lagipula kamu yang lebih dulu memulainya sejak lama. " Jawab Hega gemas melihat pipi gadisnya bersemu merah seperti tomat.

__ADS_1


" Aku.... " Bingung mau membela diri seperti apa, membuatnya semakin gugup menghadapi pria yang sangat pandai bicara ini.


Dia pintar sekali bicara sih ?


Kembali Moza bergumam dalam hati.


" Dan untuk ulang tahunmu, bukankah itu hal yang mudah untuk aku ketahui. " Lanjutnya sambil mengedipkan satu matanya nakal.


" Pasti Deana, dasar gadis mengerikan. Aku akan buat perhitungan denganmu nanti. " Gumamnya pelan sambil meremas-remas tangannya sendiri.


" Untuk apa yang aku katakan tadi, kamu tidak perlu menjawabnya sekarang, aku akan tunggu sampai kamu siap. " Lanjut Hega sambil meraih dan menggenggam kedua tangan gadis itu, mencium punggung tangan gadis itu bergantian.


Moza hanya mengangguk perlahan, menutup sejenak kedua bola matanya dan menarik nafas dalam kemudian menghembuskannya perlahan.


Dirangkuhnya pundak Moza mendekat padanya, mendekap tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya.


Akhirnya aku bisa memelukmu. ~ Hega ~


Hangat dan nyaman. ~ Moza ~


Moza terhanyut dalam rasa tenang dan nyaman dalam pelukan pemuda yang baru saja menyatakan cinta padanya itu.


Aku juga sudah jatuh cinta padamu kak. Batinnya lagi.


Untuk pertama kalinya dirasakannya ungkapan seorang pria yang terasa membuat hatinya meledak-ledak bahagia.


Sejenak dirasakannya Hega mengecup pucuk kepalanya dengan lembut. Membuatnya tersadar dan mulai bergerak-gerak mencoba melepaskan diri dari pelukan Hega.


☘☘☘


☘☘☘☘


^^ Ada waktu yang tepat untuk mengungkapkan cinta, tapi bukan berarti kita bisa memilikinya saat itu juga.


Hanya kesabaran yang akan membuat segalanya indah pada waktunya. ^^ ( Sherinanta )


☘☘☘


☘☘☘☘


❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤


➡️➡️ Ditunggu LIKE & COMMENT NYA YAH ....❤


PLEASE DON'T BE SILENT READER......🌹🍁☘.


Bantu VOTE agar karya ini UP yah....

__ADS_1


Terima kasih 😊😘😘😍


Jangan ragu tinggalkan jejak kritik dan saran ya 😊😘😍💕💕


__ADS_2