Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga

Presdir Jutek, Jodohku Dari Surga
Spekulasi


__ADS_3

๐Ÿ’•Akuh lagi baik nih, tanggal merah tetep UPDATE. Jadi jangan pelit like dan komentar ya sayang. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜๐Ÿ˜


Selamat Membaca ๐Ÿค—


๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป๐ŸŒป


AUTHOR


Tok tok tok....


" Mo, ini gue. "


Moza membuka pintu, dan gadis di depan pintu langsung masuk tanpa dipersilahkan. Diikuti Amira dan Renata di belakang.


Ketiga gadis itu tampak terkesima dengan kamar sahabatnya, bukan berarti kamar mereka tidak bagus si.


Tapi pemandangan hijau menyegarkan mata yang langsung terlihat di balik jendela besar itu benar-benar membuat kamar itu tampak lebih istimewa.


Mereka berhambur ke balkon kamar Moza, Renata semakin masih asyik berselfie. Entah sudah berapa banyak foto yang diambilnya serta diunggah di akun indagram miliknya.


Setelah beberapa saat puas melihat-lihat, Deana menarik lengan Moza.


Mendudukkan gadis itu di sofa kemudian meletakkan kedua tangannya di bahu Moza, menatap mata sahabatnya dengan menyelidik.


" Mo.... " Deana menggantung kalimatnya.


" Hm. "


" Lo sama Julian pasti ada sesuatu kan ?! "


Mendengar pertanyaan Deana, Amira ikut duduk di sofa begitu pula dengan Renata yang sama penasarannya dengan kedua sahabatnya itu.


" Apa maksud kalian kalau aku dan Julian ada sesuatu ?! "


Aahhh...gadis ini sepertinya tertular penyakit kekasihnya, menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. (Author prustrasi ๐Ÿคฃ)


" Maksudnya kita apa lo dan Julian pacaran ?! " Renata to the point didukung tatapan Amira dan Deana yang masih fokus pada Moza.


Bola mata Moza menyipit, lalu menggigit bibirnya dan menatap ketiga temannya bergantian.


Seolah mengatakan, Apa kalian tidak salah bicara ?!


Tidak ada yang bersuara, tampak ketiga sahabatnya masih menatap menunggu jawaban darinya.


Yang berarti memang ketiga gadis itu benar-benar menanyakan sesuatu yang terdengar tidak masuk akal itu.


" Aaaahhh... Jangan gila dong kalian ! " Teriak Moza reflek terlonjak dari duduknya.


Moza masih memandangi ketiga sahabatnya bergantian.


" Ya... Gak mungkin si sebenernya, lagipula juga Julian bawa pacar barunya. " Ucap Amira disertai anggukan setuju dari Deana dan Renata.


" Nah itu kalian tahu. " Cicit Moza.


" Tapi kalian berdua tuh aneh banget tau gak ? ! " Ujar Amira sambil mengusap-usap dagunya sendiri.


Deana dan Renata lagi-lagi mengangguk-angguk setuju dengan perkataan Amira.


Haish....Bisa gila aku jika kesalahpahaman ini terus berlanjut. Lagipula darimana si datangnya kesimpulan konyol mereka itu ?!


Moza bergumam dalam hati.


" Sebenernya ada yang mau aku ceritain sama kalian bertiga. " Moza kembali duduk, memasang ekspresi seriusnya kemudian menarik nafasnya sedalam mungkin dan menghembuskannya.


Hening beberapa saat, ketiga sahabatnya menatap penasaran.


" Apaan ? Lo bikin kita penasaran si. " Deana memegang bahu Moza dan menggoyang-goyangkannya.


" Ish... Tunggu dong Dea. " Deana melepas tangannya dari bahu Moza tapi tetap menatap penasaran, menunggu kalimat selanjutnya dari bibir sahabatnya.


" Aku dijodohkan dengan anak dari teman bunda. " Ucap Moza akhirnya, tampak gadis itu memejamkan mata sejenak dan menunggu reaksi sahabatnya.


5 detik


10 detik


Masih hening.


Moza membuka mata, kalimatnya tadi bukannya mengakhiri rasa penasaran ketiga sahabatnya.


Apa yang diucapkannya itu justru membuat mereka semakin penasaran.

__ADS_1


Amira, Deana dan Renata sejenak terbengong, mulut mereka ternganga tak percaya dengan apa yang mereka dengar.


Bahkan Deana terlihat mengorek telinganya seolah memastikan jika pendengarannya sedang tak bermasalah.


Kemudian tiga dara itu saling menatap satu sama lain memastikan jika mereka mendengar kalimat yang sama, dan bukannya salah dengar.


Dan terakhir menatap kembali ke arah Moza, mencari-cari apakah ada ekspresi mencurigakan dari gadis itu.


Bisa jadi kan sahabat mereka itu sedang bercanda atau mengerjai mereka.


Ahh... Tapi Moza kan bukan tipikal gadis yang seperti itu, candaan dan kejahilan sangat jauh dari sifat dan pribadi seorang Moza Artana.


Mereka menatap intens menunggu jika mungkin ada perubahan ekspresi di raut wajah Moza.


Tapi hasilnya NIHIL.


Wajah cantik itu tetap terlihat datar dan serius, menandakan jika memang apa yang tadi diucapkannya bukanlah gurauan semata.


" APA ?! " Dan saat tersadar mereka bertiga malah serempak berteriak, membuat Moza reflek menutup kedua telinganya dengan kedua tangan.


" Heiii.... Kalian mau membuatku tuli ya ?! " Omel Moza kesal.


" Coba lo ulangi lagi ucapan lo tadi ?! " Pinta Deana.


" Aku di..... "


Tok tok tok


Lagi-lagi suara ketukan pintu sudah bagaikan iklan terlaris yang muncul tanpa kenal situasi.


Moza membuka pintu dan ternyata adalah Julian yang datang.


" Ayo turun, makan siang dulu. " Ajaknya sambil mengintip ke dalam kamar.


" Eh... Ngapain kalian pada disini si ? Buruan turun makan siang. Yang lain udah nungguin. " Lanjutnya saat melihat ketiga sahabatnya yang lain juga ada di sana.


Mau tak mau mereka harus menjeda dulu sesi tanya jawabnya.


" Nanti kita lanjutkan. " Bisik Moza merespon tatapan penasaran sahabatnya.


โ€ข


๐Ÿ๐Ÿ๐Ÿ


Menu di atas meja benar-benar membuat hampir semua orang terpana. Berbagai macam lauk dan sayur serta beberapa dessert tertata rapi disana.


Tak lupa aneka buah-buahan segar yang sudah terpotong dan tertata di atas piring.


" Jul, nih makanan gak terlalu banyak ya ?! Udah seperti mau jamuan makan untuk puluhan orang. " Bisik Moza pada Julian.


" Bu As, nanti masaknya tidak perlu terlalu banyak seperti ini. " Bukannya menaggapi pertanyaan sahabatnya, Julian malah langsung mengatakannya pada wanita paruh baya itu.


Dan tentu saja itu membuat Moza reflek menepuk lengan Julian.


" Hei kenapa kamu malah langsung mengatakannya tanpa basa-basi begitu si ?! " Lagi-lagi Moza berbisik.


" Yah kan itu kemauan nyonya boss, gue harus patuhi dong. " Cengir Julian berbisik dengan watadosnya.


Dan kali ini Moza menginjak kaki pemuda itu di bawah meja membuat Julian meringis menahan sakit.


" Sakit Mo. "


" Rasakan, salah sendiri kenapa kamu jadi menyebalkan. " Acuh Moza sembari menahan ekspresinya.


Interaksi kedua sahabat ini tentu saja tak luput dari tatapan mata semua orang yang ada di ruang makan.


Dan menarik perhatian mereka yang seolah berfikiran hal yang sama.


Ada hubungan apa diantara mereka berdua ?


" Tidak apa Tuan, kami sudah dipesan harus menjamu tamu sebaik mungkin apalagi yang datang juga calon nyonya muda kami. "


" Uhuk...." Mendengar kata nyonya muda benar-benar membuat Moza bergidik.


" Pffft.... " Julian berbeda, pemuda itu malah terkikik.


Respon bersamaan dari kedua orang itu menimbulkan spekulasi di kepala Amira, Deana dan Renata.


Julian sedari awal terlihat seolah punya hubungan khusus dengan Moza. Ditambah perlakuan spesial Julian pada Moza, antar jemput dan juga perhatiannya.


Bahkan villa ini juga disiapkan oleh Julian, belum lagi para pekerja yang ada di Villa tampak hormat dengan pemuda itu.

__ADS_1


Mereka mengambil kesimpulan jika villa itu adalah milik keluarga Julian.


Dan apa yang baru saja mereka dengar tadi saat di kamar Moza, ditambah pernyataan Bu As tentang calon nyonya muda pemilik tempat mereka bekerja.


Siapa yang tidak akan salah paham jika pemuda yang dijodohkan dengan Moza adalah Julian.


Dan dugaan itulah yang ada di kepala Deana, Amira dan Renata saat ini.


Mereka bertiga kembali saling pandang, kemudian kompak melirik ke arah Moza yang tengah menikmati makananya.


Membuat gadis yang punya kepekaan dengan level maksimum itu tentu saja menyadari tatapan mata mereka.


Apa ?! Kenapa kalian melotot padaku begitu ?! ~ Moza ~


Ketiga gadis itu menunjuk ke arah Julian dengan ekor mata mereka seolah memberikan isyarat.


Apa yang dijodohkan sama lo itu Julian ? ~ Dea, Amira, Rena ~


Moza malah balik memelototi ketiga sahabatnya dan menggeleng cepat, kemudian melirik ke arah Viola.


Apa ?! Tidaaakkk ! Kalian jangan mikir sembarangan. Dia sudah punya pacar tahu.


Entah berapa lama adegan bahasa kalbu antara Empat Dara itu terjadi di ruang makan.


Setelah makan siang, masing-masing memutuskan asyik dengan kegiatan mereka.


Julian dan Dimas sedang berada di ruang tengah, seperti biasa mereka menghabiskan waktu untuk main playstation.


Aliza dan ketiga gadis yang bersamanya bersantai di kursi yang ada di kolam renang.


Sedangkan Moza sedang duduk di kursi dekat taman bersama ketiga temannya ditambah lagi satu gadis, siapa lagi jika bukan pacar Julian, Viola.


Karena kehadiran Viola, mereka terpaksa menunda lagi sesi curhatan Moza. Lagipula mereka masih punya banyak waktu untuk mendengarkan kelanjutan cerita sahabatnya itu.


" Eh... Kak Moza sudah punya pacar belom si ? " Tanya Viola yang memang sangat supel, mudah akrab dan beradaptasi dengan lingkungan baru.


" Ah.... " Moza yang tengah asyik menggambar di layar ipadnya terlihat kikuk mendengar pertanyaan ceplas-ceplos gadis itu.


" Kak Renata keren loh, semua postingannya di indagram ituh aku sudah like semua. Aku suka banget sama Kak Rena, dan baju-bajunya juga cantik. Aku suka. Siapa si yang desain baju-bajunya H-Mo ?Aku penasaran bisa ya buat baju seelegan itu, membuat orang cantik jadi makin cantik. Aaa...Aku mau ketemu saya desainernya H-Mo. " Viola mengoceh tanpa henti.


Sudah hampir setahun memang eksitensi H-Mo, dan sengaja Moza tidak mempublikasikan dirinya.


Dia ingin berkarya dalam ketenangan, tidak mau wajahnya dikenal dimana-mana karena popularitas akan membatasi ruang geraknya.


Cukup karyanya saja yang dikenal dan dicintai, itu sudah membahagiakan dan membanggakan.


Sudah satu jam berlalu dengan ocehan Viola yang entah kapan akan berakhir.


Gadis ini benar-benar mirip seseorang, cerewet tanpa batas. Ya tentu saja yang dimaksud adalah Renata.


Bahkan kadar kecerewetan Viola berada satu tingkat di atas Renata.


" Aaarrrrhh.... Kenapa tuh bocah gak bisa diem si ? " Omel Renata yang sedari tadi tak henti-hentinya terperangah melihat kecerewetan Viola.


Renata mendadak jadi kalem saat ada Viola, gadis itu merasa bahwa pacar Julian itu sangatlah berisik.


" Lihat dia berasa lihat lo 2 tahun dua tahun lalu. " Bisik Amira pada Renata yang tentu saja membuat gadis cantik dan senantiasa modis itu terperangah.


" Apa bener gue seberisik itu ?! " Tanya Renata akhirnya saat Viola pamit untuk ke toilet.


Dan jawaban ketiga sahabatnya tentu saja anggukan kepala yang mantap dan jelas.


Membuat Renata speechless, dan kepalanya ambruk di meja berbantal lengannya.


" Tapi kita suka kok sisi kamu yang seperti itu Rena. " Moza menepuk punggung Renata.


Amira dan Deana mengangguk setuju dengan ucapan Moza.


Tengah adegan mengharukan, ada saja iklan yang muncul mengganggu.


Tapi kali ini bukan ketukan pintu ya. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜


" Kak Hega. "


Jika kalian mengira itu suara teriakan dari Moza, maka kalian salah besar ya.


Tapi suara itu berasal dari gadis lain yang berlari dari arah kolam renang.


Mungkin dia bisa jadi bibit petunor. ๐Ÿ˜๐Ÿ˜—


๐Ÿ’œ๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค๐Ÿงก๐Ÿ’›๐Ÿ’š๐Ÿ’™โค

__ADS_1


Tapi tenang saja author tak akan membiarkannya merajalela. ๐Ÿ˜๐Ÿคฃ


Hega dan Moza selamanya.... ๐Ÿ˜˜


__ADS_2